Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 208. Kekhawatiran


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah melahirkan ketiga anaknya Ara terlihat diam di samping tempat tidur sedangkan ketiga anaknya terdengar menangis saling sahut menyahut.


"Kamu kenapa sih sayang kok diam begitu? Itu si Leonard nangis pengen nyusu kali," protes Lexi sambil menggendong Leona di tangannya sedangkan Leoni Lana yang mengangkatnya. Tidak biasanya Ara membiarkan anak-anaknya menangis tanpa menggendong ataupun menyusuinya.


Ara tidak menjawab dia terlihat menangis. Karena tidak ada yang mengangkat terpaksa Reyhan yang menggendong cucunya sedangkan baby sister baru saja izin keluar sedang Laurens dan Abraham belum pulang dari kantor.


"Nak katakan kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri," nasehat Reyhan sambil mengusap punggung putri satu-satunya. Namun Ara sama sekali tidak merespon.


"Bik buatkan susu buat bayi kami!" Lexi memanggil salah satu pembantunya.


"Dimana susunya Tuan?"


"Tanya sama pengasuhnya baby L, kenapa dia lama sekali sih?" Andai saja Ara mau anak-anaknya diasuh oleh dua atau tiga baby sister sekaligus kondisinya tidak akan seperti ini. Namun sayang Ara menolak menggunakan banyak baby sister. Selain ingin belajar merawat bayinya sendiri dia juga merasa risih karena baby sister yang mertuanya sewa terlihat selalu mencari perhatian Lexi. Satu saja bikin ribet apalagi banyak pikir Ara.


Melihat Ara tak bergeming Lana mendekat. "Nak kamu kenapa sih, ngomong sama mama ada apa?"


"Tuan susunya tidak ada," lapor pembantu tadi.


"Mana Alesha?"


"Dia masih di toilet Tuan, katanya perutnya masih mulas."


"Ya Tuhan," keluh Lexi sambil memijit kepalanya. Dia mendadak pusing, apalagi tangisan ketiga bayinya semakin kencang. Lana dan Reyhan tampak menimang-nimang cucunya agar bisa diam.


"Apa bibi tidak tanya dimana dia meletakkan susu dan botolnya?"


"Sudah Tuan tapi katanya tidak ada stok sebab nyonya Ara tidak mengizinkan bayinya diberikan susu formula."


Ya ampun. Kepala Lexi semakin terasa pening. Ternyata Ara masih saja keras kepala. Beberapa hari yang lalu dia menolak saat Lexi dan Laurens ingin agar ketiganya dibantu susu formula saja.


"Nggak pokoknya ketiga bayiku harus asi eksklusif," tolaknya kala itu pada Lexi dan Laurens.


"Tapi sayang bayimu kan kembar takutnya asi kamu kalah dan ujung-ujungnya mereka jadi kelaparan."


"Mommy jangan khawatir Ara akan melakukan apapun asal ASI-nya lancar. Ara akan minum pelancar asi atau jamu sekalipun. Iya kan Ma?"


"Ara lebih baik kamu jangan ngotot, mending turuti saja saran mertua kamu."


"Mama dukung Ara dong! Ara ingin memberikan yang terbaik untuk mereka agar mereka bisa pintar kayak Nathan dan Tristan. Kata Mbak Isyana mereka waktu kecil asi eksklusif. Kalau Mbak Isyana bisa Ara pasti juga bisa."


"Tapi Ara mereka kan cuma dua orang nah bayimu kan tiga."


"Ara mau coba Ma."


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Mommy pasti akan mendukung." Akhirnya Laurens pasrah.


Apa yang dikhawatirkan Lexi terjadi, mungkin Ara sekarang sudah berada di fase lelah merawat dan menyusui ketiga bayinya. Meskipun dengan bantuan baby sister sekalipun tetap saja merawat tiga bayi sekaligus akan merepotkan dan menyita banyak waktu. Padahal sudah ada Lana di sana yang ikut membantu.


"Oa...Ia...Oa...." Tangisan Leonard semakin kencang yang kini sudah dalam gendongan salah satu asisten rumah tangga.


"Ayo dong sayang susui dia!" Ara tetap saja membisu kepalanya kini sudah menyandar pada sandaran ranjang.


"Bi cepat beli susu formula!"

__ADS_1


"Baik Tuan." Asisten yang ia perintahkan berlari ke luar.


"Ada apa ini?" tanya Laurens yang baru saja sampai.


"Nggak tahu Mom, Ara nggak mau nyusui baby L malah nangis dari tadi tanpa ngomong apa-apa. Kan Lexi jadi bingung Mom."


Laurens mendekati Ara dan memeriksa keadaannya. "Sudah Lex tidak usah keras-keras sama dia. Biarkan dia istirahat dulu. Mommy takut dia terkena baby blues. Kita harus bisa menjaga perasaannya."


"Ia Mom."


"Jeng Lana jangan pulang dulu ya!" pinta Laurens dia takut terjadi sesuatu sama menantunya.


"Ia jeng.


Alesha, si baby sister dan pembantu yang ia perintahkan tadi datang dengan tergesa-gesa sambil membawa botol berisi susu formula.


"Tuan ini sudah siap."


"Lex bawa baby-nya keluar biar Alesha yang ngasih susunya. Jangan biarkan Ara melihat mereka dikasih susu formula."


"Iya Mom."


Lexi pun menyerahkan Leona pada baby sister tersebut untuk dibawa keluar. Leoni dan Leonard pun ikut dibawa keluar dan sama-sama diberikan susu formula.


Di dalam Laurens terus berusaha mengajak Ara untuk berbicara meskipun tidak direspon.


"Kenapa sayang? Ayo dong cerita sama mommy." Laurens terus saja membujuk.


"Ya sudah nggak usah sedih kan bisa bagi sedikit-sedikit buat mereka nanti dibantu susu formula," ucap Laurens dengan halus.


Ara hanya mengangguk. "Mana mereka Mom?"


"Ada di luar."


"Bik bawa bayinya ke sini!"


"Baik Nyonya."


"Nih Leona kan sudah anteng habis minum susu."


Ara hanya mengangguk lemah.


"Kalau ada masalah ngomong ya sayang, jangan ditanggung sendiri," ucap Lexi sambil membelai rambut Ara.


"Iya Mas tapi aku malu sama Mommy." Ara malu karena kemarin dia sok percaya diri bisa memberikan asi kepada baby L tanpa bantuan susu formula, nyatanya dua tidak mampu.


"Nggak usah malu," ujar Laurens terbuat aja sama mommy.


"Iya Mom."


"Lex mommy mau ngomong," bisik Laurens.


"Ngomong apa Mom?"

__ADS_1


"Kita bicarakan di luar," ujar Laurens lalu berjalan ke luar kamar.


"Oke."


"Bentar ya sayang," pamit Lexi pada Ara.


"Iya Mas."


"Ada apa Mom?"


"Sepertinya Ara butuh sahabat-sahabatnya. Apa tidak sebaiknya kamu membawa mereka kemari? Ara tidak punya teman curhat di sini. Mommy lihat dia tidak ada sahabat atau kenalan di negara ini. Kan kasian Lex."


"Iya mom tapi akhir-akhir ini mereka masih sibuk daftar kuliah."


"Apa tidak sebaiknya mereka kuliah di sini?"


"Mereka tidak mau Mom."


"Ayolah Lex usahakan agar mereka mau. Kamu tahu sendiri kan mertua kamu tidak bisa lama-lama di sini karena menantunya juga lagi hamil. Takutnya Lana dibutuhkan di sana."


"Iya Mom."


Dua hari kemudian Mita dan Rachel datang ke Paris.


"Assalamualaikum Ara." Rachel mengangetkan Ara yang lagi menggendong Leoni.


"Rachel, Mita?" Kapan kalian sampai? Kenapa tidak bilang-bilang sih mau ke sini."


"Kami akan tinggal di sini."


"Benarkah?"


"Iya bantu-bantu kamu ngerawat keponakan kami yang cantik-cantik dan ganteng. Mana yang lainnya kok hanya dia?" tanya Mita sambil mengelus-elus pipi Leoni yang mungil.


"Mereka berdua lagi tidur. Serius kalian mau tinggal di sini?"


"Ia sekaligus kuliah di sini."


"Ah kalian pasti bercanda."


"Nggak aku yang minta mereka tinggal dan kuliah di sini biar ada yang nemenin kamu."


"Aaakh benarkah?" Ara terlihat sumringah dia berusaha memeluk sahabatnya tapi tidak berhasil karena sedang memegang Leoni.


"Benarlah," ucap keduanya sambil memeluk tubuh Ara.


"Juga bantu-bantu jaga si kecil lah Om."


"Emang kalian bisa? Kalau bisa lumayan biar aku nggak perlu cari baby sister lagi," kelakar Lexi.


"Bisa sedikit-sedikit, lumayanlah biar kami belajar untuk bekal masa depan nanti." Rachel cekikikan menertawakan kata-katanya sendiri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2