Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 22. Rencana Nathan dan Tristan.


__ADS_3

"Apakah Nyonya belum tahu kalau anak nyonya sekarang lagi viral di media sosial?"


"Apa?"


"Kejutan!" ucap si kembar sambil bersedekap dada.


Isyana menatap ragu kedua putranya sambil berkata, "Benarkah apa yang di katakan orang-orang ini?"


"Benar Ma. Sebenarnya kami sudah lama terkenal di medsos karena permainan musik Tristan yang memukau," ucap Nathan.


"Main musik?" Isyana menatap Nathan tidak percaya.


"Iya Ma."


"Jadi uang yang masuk ke rekening mama dulu itu uang kalian?"


"Iya Mbak." Tiba-tiba Annete datang dengan beberapa gelas minuman.


"Silahkan di minum."


Setelah meminum minuman yang di suguhkan kedua orang tersebut melanjutkan pembicaraannya.


"Bagaimana Nyonya apakah nyonya mengizinkan mereka hadir di acara televisi kami?"


Isyana menatap kedua putranya dan berkata, "Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian mau menghadiri acara tersebut?"


"Itan mau banget Ma," jawab Tristan antusias.


"Kamu?" sekarang Isyana bertanya sama Nathan dan Nathan pun hanya mengangguk.


Kedua orang utusan dari stasiun televisi tersebut tersenyum.


"Kalau Anda setuju silahkan anda tanda tangan surat ini sebagai persetujuan putra anda akan hadir di acara tersebut."


"Baiklah." Isyana mengambil kertas tersebut dan membacanya.


"Minggu depan jam 7 malam?"


"Iya Nyonya. Apakah Nyonya punya acara lain?"


"Iya tapi tidak masalah acara yang lain jadwalnya siang kok."


Isyana menandatangani kertas tersebut dan menyerahkan kembali pada kru televisi tersebut.


"Ini alamat stasiun televisi kami. Apakah kalian perlu kami jemput?"


"Tidak usah kami bisa datang sendiri."


"Oke kalau begitu kami pamit dulu terima kasih atas kerjasamanya."


"Sama-sama."


Setelah kedua orang tersebut pergi Tristan mulai ngoceh.


"Ma kalau begitu Itan perlu seseorang untuk menjadi manager. Kalau begitu Tristan telepon uncle Leksi aja ya!"


"Terserah kamu aja yang penting jangan sampai ganggu kerja uncle Lexi, mengerti?"


"Ngerti Ma."


"Cih emang kamu artis?" ledek Nathan.


"Calon artis," ucap Tristan sambil menepuk dada."


"Cih."


"Sudah kalian nggak usah berdebat. Ayo tidur sudah malam!


Dan mereka pun beranjak ke kamar. Sampai di kamarnya Tristan menghubungi Lexi sedangkan Nathan mengambil ipadnya.


Selesai menelpon Tristan menghampiri Nathan.


"Ngapain kamu Atan?" tanya Tristan penasaran.

__ADS_1


"Katanya mau cari ayah kita."


"Beneran?"


"Iyalah ayo sini!"


"Kalau mendengar cerita dari mama berarti ayah kita adalah seorang pengusaha," ucap Nathan sambil tangannya mengetikkan sesuatu di ipadnya.


"Wah banyak banget nama pengusaha di negara tersebut," ucap Tristan ketika di layar banyak muncul wajah-wajah pengusaha.


"Terus gimana caranya kita mengetahui yang mana ayah kita?" lanjut Tristan.


"Mama tadi ada ngomong nama perusahaan tempat mama kerja nggak?"


"Kayaknya nggak deh Atan. Gimana kalau kita telepon opa aja di Jakarta? Kita tanya aja opa dimana mama dulu kerja."


"Jangan Itan nanti kita malah ganggu opa."


"Terus gimana kita menentukan ayah kita yang mana?"


"Aku ada ide bukankah nama belakang kita adalah Alberto pasti mama ngambil dari nama ayah kita soalnya nama belakang daddy Edward kan Anderson."


"Ide bagus." Tristan memberikan dua jempolnya untuk ide Nathan.


"Itan lihat ini! Bukankah wajah pria ini mirip kita?"


Tristan melihat foto yang ada di layar kemudian melihat wajah Nathan.


"Benar Atan wajah orang ini mirip kamu. Coba cek profilnya!"


Dengan lihai Nathan menggerakkan jarinya.


"Ketemu. Namanya Zidane Alberto dan perusahaannya bernama Dirgantara group."


"Yes!" Keduanya saling beradu telapak tangan.


"Terus rencana selanjutnya bagaimana Atan?"


"Penampilan kamu nanti ketika tampil di televisi harus memukau Itan. Nanti akan banyak yang ngundang kamu dan kamu jadi terkenal. Nah saat itu kita minta uncle Lexi untuk mencarikan job di Jakarta. Bagaimana oke?"


"Sudah kalau begitu sekarang kita tidur aja besok kan harus sekolah."


Dan keduanya pun tidur dan bermimpi indah.


...****************...


Pagi menjelang jam setempat sudah menunjukkan jam 5 pagi.


"Bangun sayang!" Isyana membangunkan kedua anaknya dengan cara mengguncang tubuh dan menciumi kedua pipi anak tersebut.


"Eugh." Mereka hanya melenguh kemudian membenarkan letak selimutnya lagi.


Melihat mereka masih tidak ingin bangun Isyana terus menciumi wajah mereka hingga akhirnya,


"Geli Ma," ucap Nathan.


"Makanya bangun udah pagi nih udah waktunya sholat subuh." Isyana selalu menanamkan keagamaan pada anak-anaknya


"Iya Ma bentar lagi." Nathan masih merasa mengantuk karena semalam tidurnya ketika sudah larut malam.


"Mama tidak mau tahu ya pokoknya kamu harus bangun dan bangunin juga tuh si Tristan mama tunggu di ruang sholat."


"Baik Ma." Dengan malas Nathan beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi namun sebelumnya dia membangunkan Tristan namun Tristan tidak bangun-bangun juga.


Nathan kembali dengan membawa gayung yang berisi air lalu ia teteskan ke wajah Tristan.


"Banjir...." Tristan langsung bangun dari tidurnya.


"Atan! Ngapain kamu nuangin air ke wajah aku!" gerutu Tristan.


"Abisnya kamu tuh dibangunin nggak bangun-bangun jadi terpaksa deh saya teteskan air di wajah kamu. Sudah sana cepat mandi mama sudah nunggu kita di ruang sholat!"


"Baiklah."

__ADS_1


Selesai sholat mereka membuka buku pelajarannya sedangkan Isyana berkutat di dapur membantu Annete.


Jam 6 pagi mereka sudah berkumpul di ruang makan dengan si kembar yang sudah siap dengan seragamnya.


"Mama gimana persiapan ikut lombanya?"


"Persiapannya udah 85 persen kemarin mama udah mengajukan desain rancangan bajunya dan bajunya tinggal dikit lagi akan selesai di jahit."


"Semoga mama sukses ya."


"Amin."


"Oh ya Ma apakah tuan James sudah mentransfer uang bagi hasil yang dia janjikan?"


"Belum."


"Bukankah dia berjanji akan memberikannya setiap bulan, ini malah sudah tiga bulan dari sejak perjanjian itu."


"Yasudah nanti siang mama akan ke kantor tuan James untuk menanyakannya."


"Mama tunggu kami pulang sekolah ya! kami mau ikut."


"Iya deh mama akan menunggu kalian tapi sekarang mama ke butik dulu ya kalian biar aunty Annete yang mengantar."


"Iya Ma."


...****************...


Di kantor tuan James.


"Permisi apakah tuan James ada?" tanya Isyana kepada seorang wanita yang mungkin saja adalah sekretaris tuan James.


"Tuan James ada di dalam apa Nyonya sudah membuat janji untuk bertemu?"


"Tidak, katakan saja Isyana mau bertemu dengannya!"


"Baik kalau begitu saya akan menelpon tuan James dulu."


Setelah menutup teleponnya wanita tersebut menyuruh Isyana untuk masuk.


"Silahkan tuan James sudah menunggu di dalam!"


"Terima kasih."


Isyana pun masuk ke dalam ruangan tuan James disertai kedua anaknya namun sampai di dalam kedua anaknya dilarang masuk.


"Kalian tunggu di luar saja ya saya akan berbicara dengan mama kalian berdua saja. Ini tentang bisnis kalian tidak akan mengerti."


"Baiklah Tuan."


Akhirnya kedua anak tersebut dipersilahkan duduk di sofa di depan sekretaris tuan James.


Tristan duduk sambil bermain games di ponselnya sedangkan Nathan membuka ipadnya dan mulai menyadap cctv di ruangan tuan James. Entah mengapa dirinya merasa ada yang janggal.


Isyana dipersilahkan duduk di sofa dan terlihat mulai berdiskusi dengan tuan James.


"Saya bisa membayar hasil bagian Anda bahkan tiga kali lipat dari yang sudah dijanjikan asalkan...,"


"Asalkan apa tuan James?"


"Asalkan kamu mau memberikan tubuh kamu untuk saya."


"Tidak perlu tuan James lebih baik kau bayar sesuai janji saja aku bukan perempuan seperti yang Anda pikirkan yang bisa menukar diri dengan uang."


"Ayolah jangan menolaknya! Aku tahu kamu itu single parents, pasti kamu butuh belaian. Iya kan?" ucap tuan James sambil memegang dagu Isyana.


"Cuih." Isyana meludahi wajah tuan James.


"Berani-beraninya kau ya meludahi wajah saya!" Tuan James mendorong Isyana ke dinding dan menguncinya hingga tidak dapat bergerak, tangannya pun di tekan dengan kuat.


Isyana kemudian mengingat masa lalunya dengan Zidane. Dia memejamkan matanya sambil berkata, "Ini tidak boleh terjadi lagi padaku."


Melihat Isyana yang terpejam tuan James tersenyum dia berpikir Isyana sudah menyerah dan mau bercinta dengannya seperti wanita-wanita yang ditemui sebelumnya. Kemudian dia mendekatkan wajahnya untuk menciumi wajah cantik yang ada di hadapannya tapi....

__ADS_1


"Buk." Isyana menendang ************ tuan James dan mencoba berlari ke luar tapi sayang pintunya sudah terkunci.


__ADS_2