Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 120. Masih di Masa Lalu


__ADS_3

'Plak-plak-plak.' Ayah Johan lalu menampar wajah Johan berkali-kali.


"Jangan harap aku akan merestui hubunganmu dengan wanita murahan itu," tuding Ayah Johan terhadap Tasya lalu berjalan keluar meninggalkan keduanya.


Mendengar perkataan ayah Johan, Tasya menunduk, air matanya bertambah deras saja. Dia tahu dia bersalah, dia sadar dia murahan tapi hatinya hancur melihat Johan terpuruk. Dia berjanji pada dirinya sendiri setelah ini dia akan menjauh dari kehidupan Johan.


"Hans, maafkan aku aku telah menghancurkan masa depanmu," ucap Tasya dengan air mata yang masih meleleh.


Johan menghampiri Tasya lalu memeluk erat wanita itu. "Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi mu dengan atau tanpa restu ayahku." ujarnya.


Tasya menggeleng. "Jangan Hans aku tidak mau hubunganmu dengan ayahmu renggang hanya gara-gara aku."


"Haah." Johan menghembuskan nafas berat. "Soal ini nanti aku pikirkan, sekarang kamu lebih baik pulang. Ayo aku antar!"


Tasya mengangguk dan turun dari ranjang. Johan menggandeng tangan Tasya keluar dari tempat itu tanpa memperdulikan tatapan mata orang-orang yang memandang aneh ke arah mereka.


Sedangkan Laurens setelah berlari ke luar hotel dia bertemu dengan sosok lelaki yang selama ini pernah menjadi teman joggingnya.


Abraham berlari mengejar Laurens yang sedang berlari keluar hotel sambil mencucurkan air mata.


"Hei ada apa? Mengapa kamu menangis?" tegur Abraham.


"Dia berselingkuh Kak," ucapnya sambil berhambur ke dalam pelukan Abraham. Mereka memang sempat dekat setelah sering bertemu saat lari pagi. Bahkan Laurens sering curhat masalah pribadinya selama ini karena telah menganggapnya seorang Kakak namun berbeda dengan Abraham yang menyimpan perasaan suka yang berbeda pada Laurens. Namun hampir sebulan ini mereka tidak bertemu karena Abraham harus ke London menangani perusahaannya.


"Bukankah kamu hari ini menikah?" tanya Abraham tidak mengerti. Dia memang menyempatkan untuk pulang setelah mendengar Laurens akan menikah.


Laurens mengangguk. "Hari ini aku menikah dan hari ini pun aku bercerai karena suamiku ketahuan selingkuh."


Abraham terbelalak mendengar penuturan Laurens bagaimana bisa dihari yang sama ada pernikahan sekaligus perceraian pada satu pasangan namun kemudian Abraham tersenyum lalu menarik tangan Laurens. "Ikut aku yuk!" ajaknya.


Laurens menggeleng. "Aku lagi stres Kak!" tolaknya.


"Justru aku mau mengajak mu jalan-jalan biar tidak stres."


"Kemana Kak?"


"Sudah ikut aja." Akhirnya Laurens mengangguk dan mengikuti langkah Abraham.


Laurens pikir Abraham akan membawanya jalan-jalan ke pantai atau ke taman atau kemanapun yang bisa membuat dirinya lupa dengan peristiwa tadi nyatanya Abraham hanya membawanya ke sebuah cafe.


"Kok ke sini sih Kak? Mau ngapain disini?" protes Laurens.


"Namanya juga cafe ya mau makan lah," jawab Abraham.


"Nggak selera," tolak Laurens. Namun Abraham tetap saja memesan makanan untuk mereka.


"Ayo dimakan!"


Laurens menggeleng.


"Kamu tahu aku kalau lagi stres itu suka meluapkan ke makanan. Pada saat seperti itu aku suka makan banyak. Dan percaya deh setelah itu kamu akan merasa puas dan lega."


"Masa sih?"


"Iya coba aja."


Laurens masih menggeleng. "Nanti bisa gendut."


"Tidak akan asal dibarengi dengan olahraga. Olahraga juga bagus buat mengendalikan stres. Kamu lihat badanku tidak gendut kan?"


Laurens meneliti tubuh Abraham tidak gendut hanya kekar saja tapi itu justru membuatnya terlihat Tampan.


Abraham menyendok makanan ke mulut Laurens. "Ayo dicoba! Aaaa!"


Laurens masih menggeleng.


"Ayolah!" ucap Abraham sambil menatap Laurens penuh harap. Akhirnya Laurens mengangguk juga dan menganga menerima suapan dari Abraham.


Satu sendok, dua sendok, tiga sendok akhirnya Laurens mengambil sendok itu dari tangan Abraham dan menyendok makanannya sendiri.


Abraham hanya diam menyaksikan Laurens makan. Wanita itu memang hari ini kelihatan rakus entah karena belum makan atau karena memang meluapkan kekesalannya pada makanan yang pasti beberapa menu yang terhidang di meja sudah tandas.


"Kamu nggak makan Kak?" tanya Laurens yang tersadar bahwa Abraham tidak ikut makan.


Abraham tersenyum. "Nggak biar kamu yang habiskan saja."

__ADS_1


"Sudah kenyang!" ucap Laurens manja.


"Aku heran sama kamu, kamu tuh stres apa kelaparan sih?" goda Abraham.


"Katanya tadi disuruh meluapkan kekesalan pada makanan, tapi ia juga sih aku kelaparan soalnya sedari tadi siang aku belum makan."


"Oh ya, sudah makan lagi sana!"


"Udah kenyang."


"Kalau begitu aku antarkan kamu pulang saja."


"Aku masih belum mau pulang, aku takut ingat masalahku lagi. Kakak temani aku disini ya sampai aku ngantuk jadi pas pulang aku langsung tidur."


Abraham mengangguk. "Baiklah kalau itu mau kamu."


Akhirnya malam itu mereka menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol terutama Abraham memanfaatkan momen tersebut untuk menghibur Laurens agar tidak lagi terpuruk.


Sedangkan Ronald panik karena tidak menemukan Laurens di manapun. Di hotel ataupun di rumah tidak ada. Bertanya pada teman-temannya tidak ada yang tahu. Dia takut Laurens akan melakukan hal yang tidak wajar seperti bunuh diri misalnya.


"Jack tolong perintahkan anak buah ku agar mencari kebenaran Laurens!" perintahnya pada Jack, asisten pribadinya.


"Sudah Tuan aku sudah menyuruh mereka untuk mengikuti Nona Laurens tadi."


"Hasilnya?"


"Mereka mengatakan Nona Laurens sedang makan malam bersama seorang pria yang pernah ia jumpai saat jogging."


"Kirimkan Videonya kepadaku!"


Jack pun menyuruh anak buahnya untuk merekam kebersamaan mereka.


Ronald bisa bernafas lega karena melihat Laurens bisa tertawa kembali. Ternyata laki-laki yang ada di depan putrinya tersebut bisa diandalkan untuk menghibur Laurens dan Ronald pun tertarik pada laki-laki tersebut karena melihat sangat cocok dengan anaknya.


"Jack, cari tahu indentitas pria itu!"


"Baik Tuan."


Tidak butuh waktu lama untuk Jack bisa mendapatkan informasi tentang pria itu.


"Tapi apakah dia sudah punya kekasih?"


"Belum Tuan dia masih singgel."


"Apakah ada yang bermasalah dengan kepribadiannya?"


"Tidak ada Tuan."


"Bagus kalau begitu."


"Tuan apakah Tidak sebaiknya Tuan tidak ikut campur dalam urusan percintaan Nona Laurens aku takut hal yang terjadi hari ini terulang kembali." Jack sudah dapat menebak arah pikiran Ronald pasti tuannya itu ingin menjodohkan Laurens dengan pria tersebut.


"Kamu jangan khawatir Jack aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja kalau sampai Laurens tertarik pada pria tersebut tapi kalau tidak, aku tidak akan memaksanya, biarlah kali ini dia menentukan pilihannya sendiri."


"Saya pikir itu lebih bijak Tuan."


Ronald mengangguk. "Awasi dia sampai dia pulang ke rumah."


"Baik Tuan."


Setelah itu Ronald beranjak ke kamarnya.


Hari demi hari Laurens semakin dekat dengan Abraham dan sepertinya dia mulai menyukai pria itu. Ya Laurens merasa nyaman jika berada di samping Abraham karena selain pemikirannya dewasa Laki-laki itu begitu perhatian pada Laurens.


Suatu hari Abraham mengajak Laurens bertemu di cafe yang sama dengan waktu itu. Mereka pun kini sudah sama-sama duduk di kursi. Bahkan Laurens sekarang sudah menyantap makanannya.


"Rens, ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Bicara aja lah Kak, serius banget sih," kelakar Laurens.


"Aku memang serius Rens," ucap Abraham sambil menatap tak berkedip ke arah Laurens.


Melihat tatapan Abraham yang memang serius Laurens menghentikan aktifitas makannya. Dia meletakkan sendoknya begitu saja.


"Mau bicara apa sih Kak?"

__ADS_1


"Aku mencintaimu dan aku mau melamar kamu," ucap Abraham to the poin.


"Kakak serius?"


"Ya aku serius."


Mendengar perkataan Abraham hati Laurens berbunga-bunga. Rupanya dia juga mencintai pria itu. Laurens tersenyum lalu kemudian senyum itu menghilang tatkala mengingat sesuatu yang lebih penting dari hanya sekedar perasaan mereka. Abraham menyadari perubahan raut wajah Laurens.


"Kenapa Rens apa kamu tidak menyukai dengan yang ku sampaikan tadi?"


"Bukan begitu Kak, tapi kita tidak mungkin bisa bersatu."


"Kenapa? Apakah kamu tidak mencintaiku?" Abraham tahu mungkin Laurens belum bisa melupakan mantan suaminya tapi dia tidak masalah selama Laurens mau berusaha untuk mencintai dirinya.


"Itu jauh melebihi dari hanya sekedar perasaan Kak."


"Apakah menyangkut restu orang tuamu?"


Laurens menggeleng. "Ini soal agama. Agama kita berbeda Kak dan dalam agamaku seorang wanita tidak diperbolehkan menikah dengan laki-laki di luar agama kami."


"Aku akan ikut agamamu." Dengan tegasnya Abraham mengatakan itu. Laurens terbelalak mendengar perkataan Abraham lalu dia menggeleng.


"Jangan Kak jangan kau korbankan agama mu hanya untuk sebuah cinta. Lebih baik Kakak cari wanita lain yang seagama karena aku yakin di luaran sana pasti banyak wanita yang menyukai Kakak." Akhirnya kata-kata itu keluar juga walau saat mengatakannya ada yang sakit di dalam dada.


Abraham menggenggam tangan Laurens. "Aku serius Rens, sebenarnya selama ini aku sudah mempelajari agamamu dan aku mulai tertarik tapi aku masih perlu bimbingan. Aku mohon kalau nanti kita hidup bersama ajari aku ya!"


"Kak, Kakak serius?" Tatap Laurens wajah Abraham.


"Seribu persen," ucap Abraham terkekeh. "Mau ya!"


Laurens berpura-pura berpikir. "Kira-kira terima nggak ya?"


"Ayolah diterima, apakah kau masih ragu denganku? Mau ya!" ulangnya.


Laurens mengangguk tidak ada yang perlu diragukan lagi dari Abraham bahkan laki-laki itu rela mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan dirinya.


"Iya Kak." Sontak Abraham memeluk erat tubuh Laurens.


"Terima kasih ya Rens."


"Iya Kak tapi lepas dulu pelukannya, aku tidak bisa bernafas ini."


"Oke, sebentar!" Abraham melepaskan pelukannya dari Laurens dan berjalan menjauh darinya menghampiri salah satu pelayan di sana. Lalu mengikuti pelayan itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Laurens berpikir Abraham akan memberinya bunga atau cincin atau apalah semacamnya seperti pasangan romantis pada umumnya.


Namun Laurens merasa kecewa ketika Abraham keluar dengan tangan kosong tanpa membawa apa-apa. Rupanya Abraham bukanlah seorang lelaki yang romantis.


"Ngapain cemberut?" tanya Abraham melihat wajah Laurens yang terlihat masam.


"Ngapain Kakak ke belakang tadi?"


"Aku beli cafe ini untukmu."


"Apa?"


"Iya aku beli cafe ini karena cafe ini adalah saksi kalau kau menerima cintaku."


Laurens geleng- geleng kepala. "Kakak, Kakak! Sampai segitunya sih."


"Itu tandanya kalau aku sangat serius sama kamu."


"Benar Kakak serius?" Abraham mengangguk.


"Mau ikut agamaku?" Abraham mengangguk lagi.


"Kalau begitu siap-siap itunya dipotong!" tunjuk Laurens pada sesuatu di balik celana Abraham.


"Apa?!" Abraham terbelalak sambil memegang senjatanya. Sepertinya dia sayang kalau benda itu ditumpulin.


"Kalau nggak mau ya udah nggak usah nikah," goda Laurens sambil cekikikan.


"Iya-iya deh demi cinta apapun kulakukan."


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak baik berupa like, vote, komentar maupun hadiahnya.๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2