Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 37. Menginap


__ADS_3

Sore hari di kediaman Atmajaya.


"Mama pergi dulu ya kalian baik-baik sama aunty, uncle dan opa."


"Iya Ma. Mama berapa lama di sana?"


"Paling lama seminggu mama di sana."


"Lex, Net , Ayah kami nitip mereka ya?"


"Iya Mbak."


"Iya Sya."


"Iya kamu hati-hati ya Nak!"


"Iya Yah."


"Kalian kok nggak sedih mama tinggal?"


"Buat apa sedih Ma kan mama ke sana buat kerja lagian mama pergi untuk kembali kan?"


"Iya sayang mama pasti kembali. Kalian jadi anak yang baik ya nggak boleh merepotkan semua orang di sini."


"Iya Mama."


Mereka semua kecuali Atmaja lalu mengantar Isyana ke Bandara. Seperti biasa Lexi lah yang menjadi sopir mereka.


"Nanti kalau mama pulang kita ke showroom aja ya biar nggak selalu ngandelin mobil rental."


"Asyik kita beli mobil!" Mereka berteriak kegirangan.


"Ma kapan apartemen Mama bisa di tempati?" Beberapa hari yang lalu Isyana sempat membeli apartemen. Walaupun belum punya niatan untuk menempati apartemen Isyana memutuskan menggunakan uang kedua anaknya untuk membeli apartemen sebagai investasi.


"Kapan saja bisa ditempati. Kalau diantara kalian mau menempati silahkan saja. Mungkin Annete atau Lexi bolehlah kalau mau tinggal di sana. Ini kode pintunya." Isyana memberitahukan password pintu apartemen kepada keempat orang tersebut.


Sampai di bandara mereka menunggu sampai keberangkatan Isyana. Setelah pesawat yang Isyana tumpangi sudah take off barulah mereka meninggalkan bandara.


"Uncle karena mama tidak ada di sini kami mau nginap di rumah paman Zidane ya?"


"Kalian tuh ya suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pantas saja bukannya sedih ditinggal mamanya malah senang."


"Hehe...." Mereka tertawa. "Kapan lagi Uncle kita bisa bebas seperti ini."


"Emang kalian pikir bisa bebas? Padahal di rumah ada opa kalian."


"Kalau opa kami serahkan sama Uncle aja."


"Ada-ada aja nih kalian nambahin tugas uncle aja."


"Please Uncle!" Tristan menangkupkan keduanya tangannya di depan dada. Wajahnya dibuat semelas mungkin.


"Iya deh iya." Lexi paling tidak tahan dengan rengekan Tristan.


"Tapi sekarang kita pulang ke rumah dulu ya izin sama opa. Biar uncle yang cari alasannya."


"Oke Uncle. Uncle memang yang terbaik," puji Tristan.


"Dih kalau ada maunya."


Nathan tersenyum melihat interaksi antara Lexi dan saudara kembarnya.


"Oke uncle telepon dulu paman Zidane. Emang kalian tahu alamatnya?" Lexi mengambil ponselnya dan menghubungi Zidane.


"Belum Uncle."


"Gimana Uncle?" tanya keduanya saat Lexi telah menutup panggilan teleponnya.


"Bisa, paman kalian ada di rumahnya."


"Sip."


Lexi pun melajukan mobilnya ke rumah Atmaja. Sesampainya di sana dia mendekati Atmaja dan memintakan izin untuk si kembar. Dia memberikan alasan bahwa kedua anak-anak itu ingin menginap di apartemen mamanya dan Atmajaya tidak keberatan.


"Tapi mereka akan tinggal bersama siapa?"


"Tenang Pak kan ada Annete."


"Baiklah kalau begitu tapi sebelum berangkat kita makan dulu sepertinya Annete sudah menyiapkan makan malam kita."


"Baiklah saya akan memanggil anak-anak dulu."

__ADS_1


Setelah makan malam usai Lexi mengantarkan kedua anak tersebut ke rumah Zidane tidak lupa dia membawa Annette.


Sampai di depan rumah Zidane mereka di sambut hangat oleh Zidane dan oma Laras. Ketika dipersilahkan masuk Lexi menolak untuk masuk sedangkan Annete ikut masuk bersama si kembar.


Sampai di dalam mereka sudah disambut dengan berbagai macam makanan yang telah terhidang di meja makan.


"Sebelum ngobrol-ngobrol kita makan dulu yuk!" ajak Oma Laras.


"Kami sudah makan malam tadi Oma," tolak Nathan secara halus karena mereka memang sudah makan malam tadi.


"Pokoknya kalian harus makan lagi! Emangnya kalian tidak kasihan apa sama oma udah bela-belain masuk dapur bantuin si bibi masak nggak dimakan. Kamu juga ya Annete harus makan!" Oma Laras sudah kenal sama Annete ketika di mall kemarin.


"Iya Tante."


Mereka terpaksa makan malam lagi karena takut oma Laras tersinggung. Setelah makan mereka mengobrol. Setelah lama mengobrol akhirnya si kembar diantarkan ke kamar mereka.


"Oma ini kamar siapa?" Nathan dan Tristan terkejut kala diantar ke sebuah kamar yang bernuansa biru muda dan di desain khusus untuk anak-anak. Ada beberapa gambar kartun di dinding kamar tersebut dan banyak mainan anak laki-laki di kamar itu."


"Oma memang menyiapkan ini untuk kalian."


"Buat kami?"


"Iya karena oma yakin suatu saat kalian akan menginap di sini. Ternyata benar kan kalian sekarang menginap di sini?" ujar oma Laras padahal dia menyiapkan semua itu ketika Zidane memintanya untuk melakukan tes DNA. Dia yakin bahwa si kembar adalah cucunya.


"Ayo masuk kalian istirahat aja di dalam."


"Tapi kami maunya tidur dengan Paman Zidane Oma."


"Biar nanti paman temani kalian di kamar ini," kata Zidane.


"Ma antarkan Annete ke kamar tamu."


"Tidak usah Pak. Saya mau pulang saja."


"Kamu yakin? Ini kan sudah malam?"


"Ya Pak tidak apa-apa."


Annete pamit kepada si kembar, Zidane dan oma Laras sedangkan Nathan dan Tristan masuk ke dalam kamarnya.


"Paman tidur di tengah-tengah kami aja ya," pinta Tristan.


"Oke boy." Zidane naik ke atas ranjang dan mengambil tempat di tengah-tengah.


Mereka terlelap dengan tubuh yang memeluk Zidane dari depan dan belakang sehingga membuat Zidane kesulitan bergerak dan sedikit sesak namun hal itu tidak dia pedulikan karena saat ini hatinya menghangat dan dia merasa bahagia.


...****************...


Sampai di luar Annete kelimpungan karena Lexi tidak dapat di hubungi. Namun dia bernafas lega karena teleponnya kini diangkat Lexi.


"Lex kenapa tidak menjemput ku?"


"Emang kamu tidak nginap di sana?"


"Ya nggaklah aku kan merasa tidak enak kalo tinggal di sini."


"Kalau begitu kamu balik ke apartemen Syasa aja!"


"Kok ke apartemen? Aku mau pulang ke rumah aja."


"Kamu tidak boleh ke sini aku bilangnya ke pak Atmaja Nathan dan Tristan nginap sama kamu di apartemen."


"Ck." Annete berdecak. "Terus aku baliknya sama siapa?"


"Kamu naik taksi aja dulu ya!"


Annete menutup telepon dengan perasaan kesal dan menggerutu dalam hati.


Gini nih kalo orang seenaknya aja ngambil keputusan nggak ada bilangnya sama sekali kalo tahu begini kan aku terima tawaran pak Zidane sama Tante Laras tadi. Kalau sudah begini kan aku malu kalau harus balik lagi ke dalam.


Annete melangkahkan kakinya ke jalan raya sambil menelpon taksi online. Tiba-tiba muncul sebuah mobil dan berhenti di depannya.


"Ayo aku antar!" ucap pengendara mobil itu menawarkan diri.


"Tidak terima kasih saya naik taksi saja."


"Sudah malam tidak baik buat perempuan keluyuran malam-malam."


Siapa yang keluyuran? Aku kan mau pulang.


"Ayo aku antar!" ulangnya.

__ADS_1


Annete menggeleng.


Karena Annete tetap bersikukuh tidak mau pengendara tersebut turun dari mobil dan pengendara mobil yang masih berpakaian dokter itu menghampiri Annete.


"Ayolah aku antar. Tenang saja aku bukan orang jahat."


Akhirnya Annete mengangguk daripada menunggu taksi online yang tidak tahu kapan datangnya pikirnya. Ia masuk ke dalam mobil yang telah terlebih dulu di bukakan pintunya oleh pemiliknya.


"Kemana?"


"Ke apartemen A."


"Oke."


Dokter tersebut melajukan mobilnya ke arah apartemen yang dimaksud sambil melirik wajah Annete.


"Anisa."


"Maaf Dok nama saya Annete bukan Anisa." Memilih memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan dokter karena menilik pakaiannya.


"Oh maaf."


"Tidak apa-apa."


"Sudah sampai."


"Terimakasih ya Dok!" Annete keluar dari mobil dan menuju apartemen sedangkan dokter Adrian masih terdiam di dalam mobil. Dia masih memikirkan apakah wanita tersebut memang bukan Annisa.


Setelah sampai di depan pintu apartemen Annete tiba-tiba lupa dengan kode pintu tersebut. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Isyana namun ponselnya tidak aktif.


Iya ya kok aku lupa mbak Isyana kan masih dalam pesawat.


Kemudian dia beralih menelpon Nathan namun hingga tiga kali teleponnya belum diangkat juga.


Barangkali mereka sudah tidur.


Ingin menelpon Lexi tapi dia masih kesal dengan orang itu. Akhirnya ia turun kembali dan memutuskan akan menginap di hotel saja.


Sampai di bawah ia melihat mobil dokter Adrian masih ada namun dia melewati mobil tersebut pura-pura tidak melihat. Ia tidak ingin merepotkan dokter itu untuk yang kedua kalinya namun sayang dokter Adrian melihatnya.


"Annete kamu kok keluar lagi?"


Annete menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lupa sama kode pintunya."


Dokter Adrian geleng-geleng kepala. "Kok bisa lupa?"


"Soalnya apartemen itu milik majikanku jadi pas dia ngasih tahu kodenya aku tidak begitu mendengarkan. Aku pikir aku tidak akan pernah ke sana sendirian nyatanya sekarang majikanku pergi ke luar negeri dan aku harus ke sana sendirian," tutur Annete panjang lebar.


"Emang majikan kamu tidak punya rumah?"


"Punya sih tapi untuk sementara aku tidak boleh tinggal di sana dengan alasan tertentu. Maaf tidak bisa menceritakan."


"Baiklah tidak apa-apa. Terus sekarang kamu mau kemana?"


"Ke hotel saja."


"Ke hotel? Baiklah aku antar."


"Tidak aku tidak akan merepotkan dokter untuk yang kedua kali."


"Siapa yang repot? Ayo cepat masuk!"


Annete pun masuk ke dalam mobil.


"Hotel mana ?"


"Terserah yang dekat dari sini aja."


Dokter Adrian pun melajukan mobilnya kembali tetapi tujuannya bukan hotel tapi rumahnya sendiri.


"Lo kok ke sini?"


"Iya ini rumahku. Daripada tinggal di hotel mending untuk sementara kamu tinggal di sini aja!"


"Tapi...,"


"Sudah nggak apa-apa disini ada beberapa pembantuku yang perempuan jadi kamu tenang saja aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu."


Annete mengangguk dan turun dari mobil. Ia mengikuti dokter Adrian ke rumahnya. Sampai di depan pintu ada anak kecil yang kira-kira seumuran Nathan namun tubuhnya tampak kurus


membukakan pintu.

__ADS_1


"Ayah!" Anak tersebut berhambur ke pelukan ayahnya. Matanya memicing tatkala melihat Annete lalu merosot dalam gendongan ayahnya dan menghampiri Annete.


"Bunda!"


__ADS_2