
Hari ini seharusnya menjadi kebahagiaan buat Yuna dan Andy karena hari ini adalah hari pernikahan mereka. Apalagi semua teman-temanny sudah standby semua di tempat.
Namun bukannya kebahagiaan yang terpancar di wajah Yuna tapi justru kesedihan. Seharusnya jam delapan acara ijab qabul sudah dilaksanakan kalau menurut jadwal mereka, namun harus diulur karena sudah jam sembilan Robert sebagai walinya belum hadir juga.
"Kalau papa nggak bisa datang kenapa nggak nelpon dan serahin ke pak penghulu saja?" ucap Yuna dengan mata yang berkaca. Hatinya ketar-ketir, bagaimana kalau pernikahannya harus gagal lagi. Apalagi melihat tamu undangan gelisah dan sudah tidak sabar menunggu.
"Kapan acaranya ini dimulai?" tanya salah satu dari mereka.
"Katanya jam delapan, ini sudah jam sembilan kok tidak dimulai juga? Buang-buang waktu saja."
Ingin rasanya Yuna beranjak dari tempat itu dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang lalu menangis sepuasnya. Dia sudah terlalu lelah bukan fisik tapi batinnya yang lelah dan itu membuat tubuhnya dua kali lipat menjadi penat.
"Sabar, sebentar lagi papa pasti datang," ucap Andy meyakinkan Yuna sambil mengelus-elus punggung calon istrinya itu.
"Tapi sampai kapan? Apakah sampai orang-orang pada bubar?"
"Tidak apa mereka bubar toh ada teman-teman kita yang pasti akan setia menunggu. Kita tidak butuh banyak saksi, beberapa pun juga boleh yang penting pernikahan kita sah dimata agama dan negara."
Yuna mengangguk kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Yakinlah bahwa buah kesabaran akan menghampiri kita," ucap Andy sambil menggenggam erat tangan Yuna.
Di sudut lain teman-teman Yuna tampak lebih gelisah. Adrian dan Dion tampak menghubungi Robert beberapa kali namun sayang panggilannya tak terjawab.
"Mana sih om Robert ini, pingsan kali dia ya hingga tidak bisa mengangkat telepon kita," ujar Dion.
"Huss ngomong apa sih kamu Dion," protes Zidane.
"Abisnya apalagi kalau bukan pingsan?"
"Bagaimana bisa dimulai acaranya? Soalnya jam sepuluh nanti saya ada acara di tempat lain," ucap pak penghulu.
"Tunggu sebentar lagi pak, nunggu mertua saya datang," pinta Andy.
"Baiklah tapi kalau sampai jam setengah sepuluh belum datang juga terpaksa saya harus pergi," jawab pak penghulu.
"Baik Pak," jawab Andy sedangkan Yuna merasa malu pada tamu undangan yang dari tadi banyak yang menebak-nebak bahwa hubungan mereka tidak direstui.
"Kita harus menjemput om Robert sekarang!" ucap Adrian sambil merogoh kunci mobil di dalam saku celananya.
"An, aku pergi dulu. Del kamu sama bunda dulu ya. Kalau perlu kamu temani Juju tuh di samping tante Ara dan si kembar. Hibur dia agar tidak ikut tegang."
"Iya Mas hati-hati."
__ADS_1
"Iya Yah, yuk Bun ke sana."
"Ayo!"
"Ikut Lex!" pinta Adrian.
"Oke Dri."
Adrian dan Lexi keluar dari area pernikahan namun ketika baru sampai di depan pintu gedung mereka berbalik karena melihat Robert sudah tiba.
"Ayo Om cepat, acara sudah telat satu jam, kasihan Yuna."
"Iya ayo Dri!" Robert berjalan dengan setengah berlari menghampiri Yuna dan Andy.
"Tuh papa kamu datang," ujar Andy. Yuna menoleh lalu air matanya keluar tak tertahan. Dia langsung berdiri dan memeluk Robert.
"Aku pikir papa nggak akan datang," ujarnya.
"Papa pasti datang cuma tadi ada gangguan sedikit," ucap Robert sambil tersenyum.
"Gangguan apa pa?"
"Biasa mama kamu ngamuk. Papa dijebak kemudian dikunci dalam kamarmu. Sialnya papa tidak bawa ponsel jadi papa tidak bisa menghubungi siapapun. Jadi terpaksa papa mencongkel jendela kamarmu agar bisa keluar.
"Ya ampun kasihan Papa."
"Ah iya Pa, ayo!"
"Bisa dimulai sekarang Pak acaranya?"
"Oh iya Pak silahkan."
Pak penghulu pun memulai acara. Hingga beberapa saat kemudian terdengar kata sah dari segala penjuru gedung.
"Alhamdulillaah." Yuna langsung mencium tangan Andy dan Andy segara mencium kening istrinya. Kemudian penghulu membacakan doa untuk kedua mempelai.
Semua teman-temannya ikut merasa lega. Akhirnya kedua sahabatnya kini benar-benar menikah juga.
Mereka berdua lalu menyalami Robert sambil mengucapkan banyak terima kasih.
"Terima kasih ya Yah telah merestui kami."
"Iya. Ayah harap pernikahan kalian langgeng dan penuh berkah."
__ADS_1
"Amin."
Setelah selesai menyalami Robert mereka beralih kepada Lana, Laras dan Alberto. Kemudian mereka naik ke pelaminan. Saat itu teman-teman dan para tamu undangan bergilir mengucapkan selamat.
Hingga sampai pada giliran Edrick. "Selamat ya Dy. Selamat ya Yun ternyata penantian Lo berbuah manis. Patah hati gue," goda Edrick.
"Makasih Rick."
"Alah sekarang mah patah hati bohongan Paling dua hari lagi patah hati beneran," ucap Dion.
"Emangnya kenapa?" tanya Andy kepo.
"Si Louis mau nikahi Angel." Annete yang menjawab. Dia memang ingin melihat Edrick sakit hati mengingat Edrick telah menyakiti hati sahabatnya.
"Serius Louis mau nikah?" tanya Andy lagi.
"Iya benar," jawab Adrian.
"Wah ternyata insyaf juga dia."
Edrick tidak menggubris perkataan Annete dan yang lainnya. Dia hanya melirik sekilas ke arah Angel yang berjalan menuju pelaminan dengan tangan yang digenggam oleh Louis. Sedangkan Angel yang menyadari dirinya ditatap oleh Edrick hanya menunduk. Edrick langsung berpaling ketika Louis memandang dirinya. Kemudian ketika Louis naik ke pelaminan, Edrick memilih untuk segera turun.
Ada rasa tidak nyaman di hati Louis. Bagaimanapun Edrick itu sahabatnya dan akhir-akhir ini dia malah menghindari dirinya hanya karena seorang wanita.
Louis menatap Angel yang masih saja menunduk. Dia tahu dan yakin Angel masih mencintai Edrick. Rasa tidak enak menyeruak dalam dirinya. Bagai buah simalakama dia tidak punya pilihan ketika dihadapkan dengan cinta dan sahabatnya sendiri. Apalagi wanita itu juga mencintai sahabatnya.
Aku harus apa? Mengapa aku jadi galau seperti ini? Akh...mengapa aku harus memikirkan itu lagi. Louis menepis kekhawatiran dalam dirinya. Dia tidak ingin mengecewakan Angel lagi dengan membatalkan pernikahannya. Pasti wanita itu akan selalu menganggap dirinya hina jika Louis menghentikan pernikahan ini. Bagaimanapun Louis harus bisa menjaga perasaan Angel walaupun menjaga perasaan sendiri saja terasa susah. Apalagi persiapan pernikahan sudah 90% rampung.
Kun fayakun, batinnya.
"Selamat ya Yun. Selamat ya Dy." Akhirnya Louis mengulurkan tangannya memberikan selamat kepada mempelai begitupun Angel.
"Terima kasih Lou, Gel."
"Wah ternyata gadis ini toh yang membuat kamu insyaf Lou. Sudah menemukan belahan hatimu ternyata," ucap Andy yang memang tidak tahu akan kisah hidup mereka.
"Benar kalian akan menikah juga?" lanjutnya.
"Iya dua hari lagi. Kalian hadir ya! Maaf aku lupa bawa undangannya."
"Nggak apa-apa yang penting dikasih tahu kami pasti hadir kok meski nggak ada undangannya."
Louis mengangguk sedangkan Angel langsung turun dari pelaminan dan berlari mencari kamar mandi karena mual-mual dan ingin segera muntah.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐