
Isyana dan Zidane sampai ke rumah utama pada tengah malam. Rumah sudah nampak sepi hanya menyisakan security dan pelayan yang bertugas malam. Isyana langsung menerobos masuk ke kamar si kembar. Setelah membuka pintu kamar pemandangan yang sama seperti semalam kembali tersuguhkan.
Dengan perlahan dia menghampiri kedua anaknya yang terbaring di ranjang dan mengambil kain Kompres yang masih menempel di kedua kening anaknya dan membasahi kembali kain tersebut dengan air lalu mengompres mereka kembali. Naura sudah tertidur di samping Nathan dan Tristan mungkin karena kelelahan.
"Enggak salah aku menitipkan kedua anakku pada gadis ini," pikir Isyana.
Naura memang terlihat tulus dan telaten kepada keduanya. Seolah dia juga menyayangi kedua anak tersebut.
Perlahan kedua anak tersebut membuka mata kala merasakan dahinya kembali dingin akibat dikompres.
"Mama," ucap keduanya terkejut mamanya telah ada di samping mereka.
"Ia sayang mama sudah pulang," ucap Isyana sambil tersenyum kepada keduanya.
Kedua anak tersebut bangun dan memeluk mamanya. "Kami kangen Ma."
"Ia mama tahu makanya mama segera pulang." Isyana tahu keduanya pasti sakit karena menahan rindu kepadanya. Sebab jika tidak biasanya kalau mereka demam tidak akan lama tapi sekarang sampai tiga hari pun suhu tubuh mereka masih panas.
"Kalian sudah ke dokter?"
"Udah Ma, Oma yang memanggil dokter ke sini."
"Apa kalian sudah bisa menelan obat?" Isyana tahu keduanya bisa hebat dalam segala hal tapi tidak untuk menelan obat.
"Belum Ma tapi Kak Naura yang membantu kami menumbuk obat dan memberikan gula pada obat tersebut."
"Ternyata kalian tidak berubah ya, susah kalau disuruh minum obat. Yuk pindah ke kamar mama!"
"Tapi Kak Naura gimana Ma?"
"Sudah biarin dia istirahat di situ kasihan pasti Kak Naura capek ngurusin kalian. Mama gendong ya!"
"Enggak Ma kita jalan aja."
"Ya sudah ayo." Kedua anak tersebut berjalan diikuti Isyana di belakang.
Sampai di kamar Isyana dan Zidane berbagi tugas merawat kedua anaknya. Walaupun lelah akibat perjalanan panjang mereka harus menahannya bagaimana pun kedua anaknya sedang membutuhkan mereka apalagi rasa khawatir terhadap kedua anaknya lebih mendominasi.
"Sayang apakah mereka selalu bersamaan sakitnya dan apakah kau dulu kerepotan menjaga mereka pas lagi sakit?"
"Ya begitulah Mas tapi aku bersyukur dulu mereka jarang sakit."
"Maafkan Mas ya sayang!"
"Sudah Mas jangan diingat lagi yang penting kita semua sudah berkumpul sekarang."
Zidane mengangguk namun rasa bersalah masih terlihat di wajahnya.
Benar saja pagi harinya ketika Isyana meraba tubuh kedua putranya ternyata demam mereka sudah mulai reda.
Sore harinya Adrian bertandang di kediaman Zidane.
"Nyonya ada tamu," lapor bi Ina.
"Siapa Bi?"
"Dokter Adrian," jawabnya.
"Eh kamu Dri? Mas Zidane nya masih di kantor.
"Ia Om dokter papa belum pulang," sambung Nathan yang kini sudah sembuh.
"Om nggak mau ketemu papa kamu. Naura ada di sini ya?"
"Ia Dri emang ada apa?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu sama dia."
"Tumben dia ingin bicara sama Naura," pikir Isyana meskipun penasaran dia tidak berani bertanya karena tidak ingin ikut campur urusan orang lain.
"Atan kamu panggil kak Naura biar mama buatin minum dulu buat Om dokter."
__ADS_1
"Baik Ma." Nathan berlari ke taman belakang mencari Naura. Dari jauh terlihat Naura sedang menyuapi Lana.
"Kak Naura!" teriak Nathan sambil terus berlari ke arah Naura.
"Ada apa Nathan? Jangan lari-lari kamu kan baru sembuh!"
"Dicari Om dokter tuh!"
"Om dokter? Ngapain nyari Naura?"
"Mana Atan tahu Kak, Kakak temui saja dulu om dokternya."
"Baiklah, Bi bisa minta tolong gantiin aku nyuapin nyonya Lana?"
"Baik Non."
"Nggak usahlah Bi biar Itan aja yang nyuapin Oma," ujar Tristan yang sedari tadi hanya diam menemani kak Nauranya.
"Emang Tuan kecil bisa?" tanya si bibi.
"Bisa lah Bi."
"Baiklah kalau begitu nanti kalau butuh sesuatu panggil bibi aja."
"Siap Bi."
Sedangkan Nathan memilih ikut bersama Naura menemui Adrian.
"Diminum dulu Dri!" ucap Isyana sambil meletakkan gelas berisi minuman di atas meja.
"Makasih Sya," ucap Adrian sambil meneguk minumannya.
"Ada apa Om mencari saya?" Naura muncul dari balik pintu.
"Boleh minta tolong tinggalkan kami berdua," pinta Adrian pada Nathan dan Isyana.
Isyana mengangguk lalu menggandeng tangan Nathan kemudian mengajak Nathan pergi.
"Kamu tahu Lexi sekarang dimana?" tanya Adrian memulai pembicaraan.
"Dia sudah pulang ke negaranya Om."
"Om Adri boleh minta tolong sama kamu?"
"Minta tolong apa Om?"
"Katakan padanya aku ingin bertemu."
"Kalau begitu Om ngobrol aja sendiri dengannya, ini nomor telepon om Lexi," ujarnya sambil menyodorkan ponsel ke arah Adrian.
"Tidak Naura om tidak bisa mengobrol di telepon. Kamu tahu sendiri kan hubungan ku dengan Lexi tidak begitu baik. Aku minta tolong kamu suruh Lexi ke sini ya!"
"Mana mungkin Om saya menyuruh om Lexi jauh-jauh ke sini hanya untuk mengobrol dengan om Adrian. Apa sebegitu pentingkah yang ingin om sampaikan padanya sehingga harus bicara langsung?"
"Ini penting Naura. Ini masalah masa depan mereka."
"Masa depan mereka? Maksudnya?"
"Ini menyangkut hubungan antara Annete dan Lexi. Om sadar Om salah telah memaksakan Annete untuk selalu berada di samping kami padahal saya tahu mereka saling mencintai. Sekarang Om sadar bahwa cinta mereka kuat. Om pikir kebersamaan Annete dengan keluarga kami akan mengikis rasa cinta di hatinya dan akan tumbuh cinta baru untuk ku. Nyatanya om Adri salah, Annete masih mencintai Lexi. Untuk itu aku ingin bertemu langsung dengan Lexi untuk meminta maaf sekaligus mengembalikan Annete padanya."
Mendengar pengakuan Adrian, Naura jadi ingat tujuan Lexi dekat dengannya dulu. Entah mengapa sekarang hatinya terasa teriris mengingat orang yang dicintai Lexi adalah Annete. Mungkin benar-benar kata teman-temannya dia bukan hanya tertarik pada Lexi karena telah menolongnya tapi dia mulai mencintai laki-laki itu.
"Apakah om yakin untuk menyatukan mereka, bukankah Om masih mencintai Tante Annete?" Pertanyaan yang serupa yang harus dia tanyakan pada dirinya sendiri.
"Justru karena saya mencintai Annete aku ingin dia bahagia bersama orang yang dia cintai."
Entahlah apakah dirinya bisa sebijak Adrian?
"Adel nya bagaimana Om?"
"Aku sudah memberikan penjelasan pada Adel bahwa tidak baik memaksakan kebahagiaan diri sendiri dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Adel pun paham karena selama ini melihat Annete yang jadi pendiam dan suka melamun."
__ADS_1
"Hufft." Naura menarik nafas kemudian berkata pada Adrian, "Om benar, baiklah Om nanti Naura akan menghubungi om Lexi. Kapan dia bisa saya akan mengabari Om Adri."
"Baiklah terima kasih atas kerjasamanya."
Dret~ dret~dret.
"Halo ada apa?" Kini Lexi sedang berada di meja makan bersama kedua orang tuanya. Karena fokus menyantap makanannya ia sampai tidak melihat siapa yang menelpon.
"Om kapan ke sini lagi?"
Mendengar suara orang yang menelponnya Lexi jadi tersadar siapa yang menelpon dirinya.
"Kamu? Apa kabar? Udah lama ya kita tidak saling memberi kabar."
"Baik Om, maaf Naura akhir-akhir ini sibuk jadi nggak sempat telepon Om Lexi."
"Ia nggak apa-apa Om juga sibuk. Ada apa ya kok tumben kamu telepon saya?"
"Om kapan ke sini?" ulangnya.
"Kenapa? Kangen ya!" godanya sambil terkekeh. Lexi memang suka menggoda gadis itu.
"Ada yang perlu aku bicarakan sama Om tapi pengennya bicara langsung."
"Kalau begitu nanti Om atur jadwal dulu kapan Om bisa ke sana nanti Om kabari kamu."
"Baik Om Naura tunggu ya!"
"Ia."
Sambungan telepon ditutup oleh Naura.
"Siapa sayang?" tanya mommy Laurens ketika melihat Lexi menaruh ponselnya ke saku jasnya kembali. Wajah anaknya terlihat khawatir.
"Naura Mom katanya dia ingin berbicara langsung sama Lexi. Ada apa ya? Tidak biasanya dia seperti itu, meminta Lexi menemuinya. Lexi jadi khawatir Mom takut terjadi sesuatu sama dia."
"Dia nggak ngomong mau bicara tentang apa?"
"Tidak Mom," ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Apa ada yang penting ya? Tapi dalam minggu ini sepertinya Lexi benar-benar sibuk mengurusi perusahaan Daddy jadi nggak mungkin bisa menemui dia."
"Sudah kamu temui saja gadis itu biar Daddy ambil alih pekerjaan kamu lagi untuk sementara waktu."
"Mommy!" protes Tuan Abraham sambil memandang istrinya tidak suka. Padahal beberapa bulan ini dirinya sudah bisa bersantai ria tapi kali ini harus pergi ke perusahaan lagi, berkutat dengan pekerjaan yang seolah tiada habisnya gegara istrinya yang menyuruh Lexi pergi.
"Sabar Dad demi calon mantu. Emang Daddy enggak kepengen apa cepat-cepat punya cucu."
"Astaga Mommy udah tahu aku sama Naura tidak ada hubungan apa-apa masih mikirnya begitu."
"Kamu begitu khawatir begitu masih mikirnya tidak ada apa-apa? Ya udah kalau memang enggak ada apa-apa mommy doain aja supaya ada apa-apa."
Lexi menggaruk kepalanya. " Terserah Mommy deh mau ngomong apa. Udah Lexi mau berangkat ke kantor aja."
"Eits enggak boleh, langsung terbang saja temui si Naura biar daddy yang ke kantor!"
"Mommy!" ucap Lexi sambil memandang wajah daddy-nya seolah meminta persetujuan. Tidak disangka daddynya malah mengangguk.
"Ya sudah sana demi cepat punya cucu Daddy ngalah aja deh."
"Ya Tuhan ternyata mereka sama saja, kalau udah ngomongin cucu jadi gercep," batin Lexi.
Mendengar perkataan suaminya Laurens bangkit dari duduknya dan mencium pipi suaminya.
"Makasih Dad," katanya sambil tersenyum manis.
"Ya ampun mommy! Ya udah deh Lexi siap-siap sekarang," ucapnya sambil berlalu ke kamarnya, gerah melihat sang Mommy yang suka memamerkan kemesraan.
"Ia sayang biar Mommy telepon Rafael untuk mengurus segalanya." Bicara dengan suara keras.
"Tapi Mommy jangan kecewa ya kalau tak sesuai dengan ekspektasi Mommy," ucap Lexi dari atas tangga kemudian menghilang dari pandangan Laurens.
"Akan ku pastikan kalau kamu yang salah sayang," gumam mommy Laurens dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1