Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 77. Dikelilingi Orang-orang Baik.


__ADS_3

Perlahan Naura membuka mata dan spontan memeluk Lexi dengan erat. Tubuhnya masih terasa bergetar karena takut.


"Om jangan tinggalkan aku, aku takut!" ucapnya pada Lexi dengan pipi yang masih basah karena air mata.


"Tenanglah om ada di sini. Om tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu lagi. Minum dulu ya biar om ambilkan!"


Naura menggeleng. "Jangan pergi!" ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.


"Tidurlah om tidak akan kemana-mana."


Lexi membaringkan tubuhnya di samping Naura sambil membalas pelukan tubuh mungil itu. Sebentar kemudian terdengar nafas halus dari Naura yang menandakan dirinya sudah tertidur namun sesekali masih terdengar suara isakan dari mulutnya.


Lexi membelai rambut Naura dan memandangi wajah gadis itu.


"Sebenarnya kamu cantik Naura seandainya kau sedikit lebih dewasa," batinnya. Tanpa sadar dia mencium kening Naura namun tiba-tiba terkejut dengan tindakannya sendiri.


"Apa yang ku lakukan?" Lexi meriksa gadis itu untunglah gadis itu masih tertidur.


"Kau benar Naura lama-lama aku bisa menyukaimu," ucapnya namun tiba-tiba amarahnya muncul kembali ketika menyadari bibir Naura yang bengkak dan masih ada sedikit bekas tamparan yang memerah di kedua pipinya.


"Brengsek, apa yang sudah mereka lakukan pada Naura!"


Dia meraih ponselnya kembali dan menghubungi seseorang.


"Halo Tuan." Terdengar suara dari balik telepon.


"Habisi mereka semua!"


"Baik Tuan."


Setelah meletakkan ponselnya dia mencoba memejamkan kedua matanya. Tak lama kemudian dia pun ikut tertidur. Namun kemudian dia terbangun tatkala mendengar bel apartemennya ada yang menekan.


'Ting tong ting tong.'


"Lex! Lex, ini aku Yuna." Terdengar samar-samar suara Yuna dari balik pintu. Lexi mencoba melepaskan tangan Naura namun gadis itu terbangun.


"Om jangan pergi!"


Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuna.


"Halo Lex aku sudah di luar."


"Masuklah Yun pintunya tidak dikunci! Aku tidak bisa bergerak ini karena Naura masih tidak mau lepas dengan ku."


Yuna melangkah memasuki apartemen Lexi dan segera berjalan ke arah Naura yang masih menempel dengan Lexi.


"Bagaimana keadaannya Lex?" tanyanya.


"Sepertinya dia masih trauma Yun. Bisa minta tolong ambilkan air minum?"


"Baiklah saya akan ambilkan."


Beberapa saat kemudian Yuna kembali dengan segelas air dan sebuah paper bag di tangannya.


"Apa yang kau bawa?"


"Tadi ada yang mengantar ini, katanya kau yang memesannya," Yuna menyodorkan benda itu ke tangan Lexi dan Lexi memeriksanya.


"Ia benar ini baju untuk Naura. Saya harap kamu bisa membantunya berganti pakaian karena baju yang dipakainya sudah robek."


Yuna mengangguk.

__ADS_1


"Naura kamu minum dulu," ucap Lexi sambil membantu Naura duduk lalu menyodorkan gelas berisi air ke mulut Naura. Dengan terpaksa Naura meneguknya.


"Kamu ganti baju dulu ya sama Yuna?"


Naura menggeleng.


"Ya sudah kalau tidak mau kamu tidur lagi aja," saran Lexi dan Naura menurut, merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur.


"Yun kalau kamu mau istirahat, tidurlah di kamar sebelah. Aku tahu kamu pasti juga capek kan?"


"Nggak Lex biar aku tidur di sofa ini aja barangkali Naura membutuhkan aku."


"Baiklah kalau begitu."


Yuna akhirnya membaringkan tubuhnya di sofa depan ranjang Naura mencoba memejamkan kedua matanya walaupun tidak bisa.


Dret-dret-dret. Tiba-tiba ponsel Lexi bergetar.


"Halo."


"Halo Tuan penerbangan anda besok pukul 6 pagi tiketnya biar aku antar di depan bandara nanti."


"Batalkan aku tidak bisa pulang sekarang, ada sesuatu yang lebih penting yang harus aku urus saat di sini."


"Tapi tuan Nyonya...."


"Biar aku yang ngomong sama mommy nanti. Untuk masalah cafe biar aku serahkan sama Rafael dulu."


"Baik Tuan."


Dret-dret-dret. Ponsel Lexi bergetar kembali.


"Halo Do bukankah sudah kukatakan aku...."


"Sudah tapi Naura nya lagi shock sekarang?"


"Shock kenapa Om?"


"Dia hampir saja jadi korban pemerkosaan."


"Apa?! Katakan padaku dimana dia sekarang!"


"Dia aku bawa ke apartemenku untuk sementara karena tidak mungkin membawanya pulang dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mau neneknya akan khawatir. Untuk itu aku minta tolong kabarkan kepada neneknya bahwa Naura ada bersama kalian dan baik-baik saja. Katakan untuk beberapa hari ini dia tidak bisa pulang, terserah kamu mau ngasih alasan apa saja yang penting neneknya tidak mengkhawatirkannya."


"Baiklah Om nanti aku akan menelpon Sheila untuk mengabari neneknya karena kebetulan rumah Sheila yang paling dekat dengan rumah Naura. Eh Om tolong kirimkan alamat apartemen om biar aku langsung ke sana."


"Nanti aku kirimkan tapi sebaiknya kamu jangan datang sekarang karena ini sudah larut malam. Aku tidak mau kamu bernasib sama seperti Naura."


"Tapi Om siapa yang akan menemani dia di sana, masa cuma om sendiri?" ujar Mita dengan suara yang terdengar khawatir.


"Tenanglah di sini sudah ada Yuna. Lebih baik kamu ke sini besok dengan yang lainnya, siapa tahu dengan kedatangan kalian semua bisa membuat Naura terhibur."


"Baiklah Om tapi bolehkah aku bicara sama tante Yuna?"


"Sebentar!"


"Yun Mita ingin bicara denganmu."


"Oke."


"Halo Mit ada apa?"

__ADS_1


"Tante, Mitha minta tolong temenin Naura ya! Besok pagi-pagi saya ke sana."


"Ia pastilah Mit tanpa kau minta pun aku akan menjaganya."


"Baiklah Tante sampai jumpa besok."


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Mita, Rachel dan Sheila sudah ada di apartemen Lexi. Mereka mencoba mengajak Naura untuk bicara hal lain agar tidak selalu mengingat kejadian tadi malam namun sepertinya tidak berhasil Naura tetap terdiam tanpa sepatah katapun bahkan Naura hanya menatap nanar ketiga sahabatnya.


"Naura kamu yang sabar ya ini semua sudah takdir. Yang namanya takdir tidak akan bisa dihindari. Mau kemanapun kamu pergi dia akan mengejar mu seperti halnya kematian. Aku yakin kamu kuat karena Naura yang ku kenal adalah gadis yang paling kuat diantara kami semua."


"Kamu tahu Naura melihat mu seperti ini kami seolah tidak punya semangat untuk hidup, karena melihat mu hancur kami pun merasa hancur."


"Naura bukankah kamu sering mengingatkan kami bahwa dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya."


Mendengar perkataan ketiga sahabatnya Naura melepaskan pelukannya pada Lexi dan beralih memeluk ketiga sahabatnya sambil menangis sesenggukan. Ketiga sahabatnya pun ikut meneteskan air mata.


"Aku hancur Mit, aku hancur. Dia, lelaki bejat itu telah berani mencuri ciuman pertamaku. Kamu lihat! Kalian lihat! Bibirku sampai bengkak seperti ini. Laki-laki brengsek itu telah berani ******* bibirku, hiks hiks hiks ... aku benci wajah ini." Naura berkata sambil memukuli wajahnya sendiri. Ketiga sahabatnya itu berusaha menahan tangannya namun Naura memberontak dan terus memukuli dirinya sendiri.


"Kalian tahu tidak akan ada lelaki yang mau denganku kelak kalau tahu aku telah ternoda."


"Naura hentikan!"


Melihat Naura yang tidak terkendali Lexi meraih tubuh Naura kembali dalam pelukannya.


Lexi meraih wajah Naura. "Naura dengarkan! Kamu tahu lelaki yang baik tidak akan


mempermasalahkan ini semua bahkan lelaki yang tulus mencintaimu kelak tidak akan memperdulikan kau masih suci ataupun ternoda apalagi kau masih suci apa yang kau khawatirkan?"


"Apakah aku masih suci Om?"


Lexi mengangguk. "Bukankah kau belum diapakan sama mereka. Mereka hanya sebatas mencumbu mu kan?"


Naura mengangguk.


"Kalau begitu hentikan mengatakan dirimu sudah ternoda."


"Makan ya!" pinta Lexi kemudian.


"Aku tidak lapar Om."


"Tapi tubuh kamu butuh asupan makanan. Makan ya tuh Yuna sudah menyediakan makan untuk kita semua jadi kita makan bareng-bareng."


"Ayo semua kita makan!" ucap Lexi pada mereka semua. Lexi Yuna, Mita, Rachel dan Sheila pun meraih nasi kotak yang telah disediakan oleh Yuna dan bersama-sama menyantap makanannya.


Melihat Naura yang masih enggan menyantap makanannya Lexi mengurungkan niatnya untuk makan dan beralih menyuapi Naura.


"Ayo makan," ucapnya sambil menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut Naura.


Bukannya menerima suapan Naura malah bertanya, "Om tidak makan?"


"Om tidak akan makan kalau kamu tidak makan," ancam Lexi. Akhirnya Naura terpaksa membuka mulutnya. Suapan demi suapan ia terima sehingga akhirnya nasi dalam kotak tandas sudah.


"Bagus anak pintar," puji Lexi melihat Naura berhasil menghabiskan makanannya.


"Aku bukan anak kecil Om," protes Naura dengan bibir yang mengerucut membuat Yuna dan ketiga sahabatnya tertawa melihat ekspresi Naura.


"Nanti kalian bantu Naura ya ganti baju masak mau pakai baju kayak gitu terus nanti pas jaketnya dibuka malah disangka Tarsan lagi sama orang-orang," goda Lexi.


"Nggak usah Om aku bisa ganti sendiri," ucap Naura dengan wajah yang cemberut sambil melangkah ke dalam kamar mandi."


Mereka tertawa kembali melihat sikap Naura. Lexi bernafas lega karena sepertinya sifat asli Naura mulai kembali yang menandakan Naura sedikit banyak sudah melupakan kejadian yang menimpa dirinya semalam.

__ADS_1


Akhirnya untuk dua hari dua malam teman-teman Naura memutuskan menginap di apartemen Lexi untuk menemani Naura karena kebetulan hari Sabtu dan Minggu mereka libur sekolah. Sedangkan Yuna bisa bernafas lega dan kembali ke rumah dengan tenang karena Naura sudah ada yang menjaga.


Bersambung....


__ADS_2