
"Yah Papa nggak asyik," ujar Louis kecewa.
Setelah kepergian tuan Zaki kedua anak manusia itu hanya saling pandang dan saling melempar senyum satu sama lain. Kemudian setelah itu keduanya sama-sama diam tak ada yang bicara sepatah katapun. Entah mengapa mereka berdua merasa canggung setelah saling mengutarakan perasaannya tadi.
"Makan yuk barangkali Mbak Mira sudah menyiapkan semuanya," ajak Louis setelah beberapa lama hanya membisu. Nindy hanya mengangguk mengiyakan.
"Sebentar aku cek dulu apakah sudah siap."
"Iya."
Louis keluar dari kamar dan menghampiri Mira di dapur untuk mengecek persiapan makan malam mereka.
"Gimana Mbak udah siap?"
"Baru selesai Mas. Ini masih mau di tata ke meja makan, soalnya tadi aku harus membuat minuman untuk tuan Zaki dulu."
"Iya Nggak apa-apa Mbak, bawa saja ke ruang makan nanti kalau sudah selesai, Mbak Mira langsung panggil saya ya!"
"Oke Mas siap, tapi makanan untuk Nindy apa perlu diantar ke kamarnya?"
"Kalau untuk itu saya tanyakan dulu sama orangnya." Mira mengangguk, Louis kembali ke kamar.
"Nin apakah kamu mau dibawakan makanan ke sini atau mau makan di meja makan sama aku dan Mbak Mira?" tanya Louis sambil berjalan mendekati Nindy.
"Di meja aja Tuan biar kumpul semua."
"Oke, tapi yakin sudah kuat jalan? Takutnya pingsan lagi."
"Nggak, aku sudah membaik kok."
"Baiklah kalau begitu kita ke sana saja soalnya Mbak Mira sekarang sudah menyiapkan semuanya."
"Baik." Nindy bangkit dari tempat tidur dan berjalan pelan keluar. Karena khawatir terjatuh, Louis menggandeng tangan Nindy menuju meja makan.
"Wah-wah kayaknya ada yang beda nih," seloroh Mira. Matanya tak lepas dari memandang tangan keduanya yang saling bertaut.
"Apa sih Mbak nggak ada yang beda kok," sahut Nindy datar. Dia tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh Mira.
"Gimana sudah siap semua?" Louis memilih tidak mengindahkan perkataan Mira.
"Sudah Mas."
"Ya sudah kamu duduk jangan Mondar-mandir kayak gitu."
"Iya Mas ini juga baru mau duduk," protes Mira kemudian langsung duduk di meja makan.
Louis tampak menyentong nasi dan menaruh ke dalam piring Nindy, bukan tanpa alasan dia melakukan itu karena posisi nasi yang tidak bisa dijangkau oleh Nindy apalagi gadis itu masih terlihat lemah.
"Ciee ... cie... kayaknya memang ada yang beda nih dengan kalian," kelakar Mira.
"Kepo amat si Mbak Mira, sini aku ambilkan nasi juga kalau kamu mau."
"Nggak ah aku mau ngambil sendiri aja, ngalah sama yang sakit. Tuh ladeni Nindy, ambilkan lauknya."
"Tuh ngerti, ngapain masih penasaran karena aku melayani dia." Louis berkata sambil mengambil makanan ke piringnya sendiri. Kemudian menawarkan lauk yang dia ambil kepada Nindy.
"Nggak aku cukup ikan yang ini saja," tolak Nindy sambil memperlihatkan cumi saus tiram di atas piringnya. Louis hanya mengangguk kemudian mulai menyendok makanannya sendiri ke dalam mulut.
Hening, hanya suara sendok yang berdenting dengan piring yang terdengar. Ketiganya memilih menikmati makanan dengan khusuk tanpa ada yang bicara sedikitpun. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Louis memikirkan bagaimana caranya agar mama Ani mau membatalkan perjodohan yang dirancangnya serta mau menerima Nindy sebagai calon menantunya. Sedangkan Nindy berpikir bagaimana dia bisa meraih restu dari kedua orang tuanya nanti apabila Louis mengajaknya ke jenjang yang lebih serius sedangkan hubungan dirinya dengan kedua orang tuanya sedang dalam keadaan tidak baik. Bagaimanapun restu ayahnya sangatlah diperlukan dalam acara yang sakral nantinya.
Mira pun yang melihat keduanya yang larut dalam pikirannya masing-masing hanya mampu menebak-nebak saja.
"Tuan Zaki bicara apa tadi?" Mira yang tidak tahan dengan suasana meja makan yang hening mencoba mencairkan suasana dengan berbasa-basi.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk." Nindy langsung kesedak dan terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Mira.
"Pelan-pelan makannya," ucap Louis sambil menyodorkan segelas air putih pada Nindy. Nindy pun menerima dan meneguknya. Sedangkan Mira mengernyitkan dahi, bingung dengan tingkah keduanya.
"Apa tuan Zaki memarahi kalian?"
"Tidak Mbak Mira," jawab Louis cepat.
"Terus kenapa kalian jadi aneh begitu? Apa tuan Zaki memergoki kalian sedang bermesraan kemudian kalian dipaksa untuk menikah?"
"Mbak Mira." Nindy berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian menunduk karena malu.
Louis hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mira. Karena melihat Louis tersenyum dia merasa tebakannya memang benar.
"Terus kapan kalian menikah?" Reflek Mira Menutup mulutnya yang nyerocos tanpa bisa dikontrol.
"Kalau dia sudah siap," sahut Louis
"Kapan kamu siap?" Kini Louis beralih bertanya pada Nindy.
"Aku tidak tahu, tapi untuk saat-saat ini aku belum siap untuk menikah. Aku masih harus banyak belajar agar nanti bisa melayani suami dengan baik," jawab Nindy dengan posisi wajah yang masih menunduk.
"Kalau aku sih tidak butuh yang macam-macam cukup ladeni aku di tempat..."
Mira langsung melotot ke arah Louis. "Hati-hati Mas dia masih polos jangan dibuat malu dengan ucapan Mas Louis." Nasehat Mira membuat Louis mengurungkan untuk meneruskan ucapannya.
"Lagi pula akan sangat sulit bagiku untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua mengingat aku sedang bermasalah dengan mereka. Beri aku waktu ya!" mohon Nindy.
"Pasti, aku akan menunggu. Sekarang kamu fokus saja dengan kesehatanmu, tidak perlu berpikiran macam-macam. Setelah sembuh aku akan membantu mu agar bisa sukses supaya orang tuamu bisa bangga padamu dan akhirnya merestui kita," ucap Louis menenangkan Nindy.
"Tapi aku bingung harus dimulai dari mana sedangkan aku tidak punya kelebihan apa-apa." Mata Nindy tampak sendu.
"Masa sih? Tidak mungkin kamu tidak punya kelebihan."
"Punya sih."
"Bikin masalah doang." Nindy tertawa membuat Louis sedikit lega karena Nindy sudah bisa tertawa kembali.
"Ish kok itu sih! Kamu kuliah ngambil jurusan apa?"
"Cuma jurusan seni kok, makanya ayah tidak bangga padaku karena aku tidak mengambil Jurusan bisnis seperti kak Lisfi."
"Oh itu tuh masalahnya. Kamu sukanya apa?"
"Maksudnya?"
"Hobi kamu apa selain ikut balapan?" Nindy mencebik mendengar perkataan Louis yang mengatakan dirinya hobi balapan.
"Maksudku bakat kamu yang bisa menghasilkan uang, tapi tanpa cara yang ekstrim."
"Apa ya?" Nindy tampak berpikir.
"Apa ayo?"
"Sebenarnya aku suka membuat barang-barang dari akrilik seperti misalnya bunga, lampu ataupun perlengkapan mahar dari benda itu juga."
"Mengapa tidak dikembangkan?"
"Tidak ada modal kalau harus dibuat dengan jumlah yang banyak. Dulu aku pernah mencoba membuat itu bersama dengan salah seorang temanku tapi semenjak dia pindah aku tidak membuatnya lagi. Minta bantuan modal sama ayah dia bilang pekerjaan seperti ini tidak menguntungkan, lebih baik kerja kantoran seperti dirinya dan kak Lisfi."
"Apakah kamu masih ingat untuk membuatnya?"
"Masih."
"Kalau begitu kamu bisa menekuni pekerjaan itu. Aku akan bantu nanti dalam hal modal dan pemasaran."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya masa aku bohong sih."
"Terima kasih ya, kalau dibantu perusahaan pasti bisa lancar."
"Insyaallah asal kamu buatnya yang kreatif biar bisa membuat konsumen tertarik. Saya yakin nanti kamu akan sukses," ucap Louis dengan yakin.
"Semoga saja. Nanti aku janji bakal mengganti modalnya kalau sudah ada."
"Tidak perlu memikirkan itu, kamu tidak perlu membayarnya. Aku ikhlas kok."
"Tidak untuk kali ini aku tetap akan membayarnya," tekad Nindy.
"Buat apa bayar si Nin, toh nanti kalau berhasil bakal dinikmati bersama, kan calon bini," ucap Mira terkekeh.
"Ya sudah kalau mau bayar juga tidak apa-apa." Louis berharap Nindy akan bersemangat dengan begitu.
"Kapan kita akan belanja?" tanya Nindy penasaran.
"Setelah kamu benar-benar sehat atau biar aku menyuruh anak buahku saja."
"Aku mau belanja sendiri, boleh ya!" pinta Nindy.
"Baiklah kapan kamu mau pergi belanja katakan saja biar aku antar."
"Bagaimana kalau besok saja?"
"Hah besok?" Nindy mengangguk.
"Bukannya kamu masih sakit ya."
"Tidak apa-apa, besok pasti sudah sembuh.
Louis tak percaya Nindy sesemangat itu. Matanya terlihat berbinar-binar membuat Louis tidak bisa menolaknya. Louis berharap dengan kesibukannya nanti Nindy bisa melupakan permasalahan hidupnya.
"Baiklah, besok jam istirahat kantor saya akan menjemput mu."
"Terima kasih ya." Nindy berkata-kata dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Sama-sama," jawab Louis.
"Semoga sukses ya Nin, nanti Mira bantu tapi kalau tahu," ucap Mira lalu terkekeh.
"Iya Mbak Mira terima kasih supportnya."
"Ya sudah lanjutkan makannya, setelah itu kembali ke kamar dan beristirahat agar kesehatanmu segera pulih dan besok kita bisa pergi untuk berbelanja semua kebutuhanmu, termasuk baju gantimu."
"Oh iya ya, tasku ketinggalan di Putri. Kenapa aku bisa lupa ya!" Nindy langsung bangkit dari duduknya namun ditahan oleh Louis.
"Mau kemana?"
"Mau menelpon Putri."
"Jangan sekarang besok saja. Sekarang habiskan makanannya dan segera kembali ke kamar," perintah Louis lagi.
Nindy duduk kembali dan menyelesaikan makannya setelah itu ia langsung beranjak ke kamar.
"Kejam banget belum jadi suami sudah merintah-merintah," protes Mira pada Louis
"Cepat makan dan kembali ke kamar," ucap Mira lagi menirukan gaya Louis.
"Gimana kalau sudah jadi suaminya?"
"Itu demi kebaikan dia," ujar Louis lalu beranjak pergi ke kamarnya sendiri lalu berbaring dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, vote, favorit, rate bintang 5, komentar, dan hadiahnya. Terima kasih. ๐