Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 45. Akal-akalan Farah


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit, mama Ani langsung berembug dengan Farah dan pak Ramlan yang kini keadaannya sudah mulai membaik. Atas persetujuan dokter dan bantuan mama Ani pak Ramlan telah dipindahkan ke salah satu rumah sakit terbaik yang ada di Jakarta.


"Bagaimana Jeng mulai kapan kita akan melakukan persiapan untuk pernikahan mereka?" tanya Farah ketika mama Ani sudah duduk di sampingnya.


"Masalah persiapan biar saya yang menangani semuanya Jeng. Ini kan cuma acara nikahan saja tidak perlu besar-besaran dulu. Nanti kalau resepsinya, baru kita buat yang meriah."


"Acara resepsinya akan dipisah?" tanya pak Ramlan masih dengan suara yang lemah.


"Iya Pak kalau disambung butuh persiapan yang lebih matang dan pasti membutuhkan waktu yang lebih lama pula, saya juga khawatir konsep yang akan kita buat tidak akan sesuai dengan selera mereka." Pak Ramlan hanya mengangguk ketika mendengarkan penjelasan mama Ani.


"Kalau itu mah terserah Jeng Ani saja, saya mah nurut saja," ujar Farah.


"Saat ini yang terpenting bagaimana caranya kita menyampaikan kepada mereka agar mereka tidak tahu siapa sebenarnya pasangan mereka masing-masing."


"Maksud Jeng Ani kita mau mengerjai mereka?" tanya Farah bingung.


"Iyalah mereka pantas dikerjai. Mau dijodohkan malah tidak mau tapi malah menjalin hubungan dan sekarang ... hah, sudahlah aku tidak tahu harus bicara apa."


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Seperti biasa Nindy lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar seusai bekerja. Saat Nindy merenung sambil menatap langit-langit kamar terdengar dering ponsel, tapi dia abaikan saja. Hari ini dia benar-benar ingin sendiri tak mau diganggu sedikit pun walau hanya sekedar lewat telepon.


Dering telepon itu terdengar lagi, Nindy tetap acuh sampai suara dari ponselnya tak terdengar lagi. Namun lagi, lagi, dan lagi suara dari ponselnya terdengar kembali seakan orang yang menelponnya kini tidak pernah bosan untuk mengganggunya.


"Siapa sih? Apa Louis? Apa lagi yang harus dia jelaskan padaku?" Nindy mendesah lalu dengan malas mengangkat telepon tersebut.


๐Ÿ“ฑ"Halo." Suara Nindy terdengar lemah dan tak bergairah.


๐Ÿ“ฑ"Safa bisakah kamu ke rumah sakit sekarang?"


๐Ÿ“ฑ"Ada apa Bun? Bisakah ditunda sampai besok? Hari ini Safa benar-benar lelah."


๐Ÿ“ฑ"Kamu sakit Nak?" Terdengar nada khawatir dari pertanyaan Farah.


๐Ÿ“ฑ"Nggak kok Bun, Safa hanya sedikit tidak enak badan."

__ADS_1


๐Ÿ“ฑ"Itu namanya sakit sayang, kenapa tidak ke sini saja biar sekalian kamu memeriksakan diri ke dokter."


๐Ÿ“ฑ"Tidak usah Bun mungkin Safa hanya kecapean saja, saya tadi sudah minum vitamin kok."


๐Ÿ“ฑ"Oh gitu ya kalau begitu ya sudahlah kamu istirahat saja."


๐Ÿ“ฑ"Bun bagaimana keadaan ayah?"


"Loh kok disuruh istirahat sih Jeng," protes mama Ani mendengar perkataan Farah pada Nindy.


"Dia lagi tidak enak badan Jeng saya tidak tega untuk mengerjainya."


"Dia sebenarnya tidak apa-apa palingan dia cuma bete aja habis berantem sana Louis."


"Jeng Ani ngomong apa sih?"


"Iya tadi saya lihat dia ke rumah Louis dan pergi dengan menangis, sepertinya mereka memutuskan untuk berpisah. Makanya saya langsung menghubungi jeng Farah, saya tidak mau hubungan mereka benar-benar retak.


๐Ÿ“ฑ"Bun!" Nindy bingung kenapa bundanya tidak menjawab pertanyaan darinya.


Pertanyaan Nindy justru memunculkan ide dalam otak Farah.


๐Ÿ“ฑ"Saf kondisi ayahmu semakin parah." Sontak perkataan Farah membuat pak Ramlan kaget berbanding terbalik dengan mama Ani yang malah mengacungkan jempol.


Pak Ramlan memandang mereka berdua sambil menggelengkan kepala, tak percaya bahwa dirinya yang dijadikan tumbal.


"Farah kenapa kau mengatakan seperti itu? Apa kamu ingin aku benar-benar kritis? Kamu tahu kan ucapan itu adalah doa." Pak Ramlan nampak kecewa.


"Maaf Mas bukan maksudku seperti itu, tapi sesekali mas harus bisa mendukung ku demi kebahagiaan putri kita. Kali ini kita harus bisa berakting agar mereka bisa cepat bersatu. Kalau menunggu mereka yang berencana sendiri bakal kelamaan. Apalagi kata jeng Ani tadi mereka bahkan sudah memutuskan untuk berpisah."


"Baiklah terserah kalian saja," ucap Ramlan pasrah.


Setelah mendengar kondisi ayahnya yang kritis Nindy langsung bergegas pergi ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya Bun?" tanya Nindy lalu duduk di samping ayahnya.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat ayahmu tidak sadarkan diri. Ini sudah beberapa kali terjadi, kata dokter kalau kesadarannya terus menurun seperti ini bisa saja hidup ayahmu tidak akan lama lagi." Ingin rasanya Ramlan mengutuk Farah yang telah berani berkata seperti itu.


"Ayah bangun Yah, jangan tinggalkan Nindy hiks ... hiks ... hiks. Safa belum puas dapat kasih sayang dari ayah. Safa masih ingin mendapatkan kasih sayang dari ayah seperti saat Safa masih kecil!" Nindy menangis sambil mengguncang tubuh Ramlan. Susah payah Ramlan menahan diri agar tidak bergerak ataupun tubuhnya bereaksi sehingga ketahuan oleh Nindy bahwa ia hanya pura-pura saja.


"Dokter, saya harus panggil dokter." Nindy berlari ke luar untuk menemui dokter yang menangani ayahnya.


Di dalam kamar rawat Farah menjadi panik. Bagaimana kalau dokter mengatakan keadaan suaminya baik-baik saja di depan Nindy dan putrinya itu pasti akan kecewa karena tahu orang tuanya mengerjainya.


Melihat Farah yang gelisah, mama Ani yang bersembunyi keluar. "Kamu tenang saja saya


sudah bicara dengan dokternya."


Farah mengangguk dan bernafas lega. Mama Ani pun keluar dari ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian Nindy muncul bersama seorang dokter. Dokter itu langsung memeriksa pak Ramlan dan mengatakan kurang lebih seperti yang Farah katakan tadi pada Nindy.


"Kalau begitu saya permisi." Dokter itu keluar dari kamar rawat. Nindy menangis sesenggukan. Ia tak menyangka kebersamaannya dengan sang ayah akan segera berakhir.


Farah menepuk pundak Nindy dan meminta putrinya untuk bersabar.


"Beberapa hari yang lalu ayah sudah bisa bicara walaupun masih terbata. Safa senang Bun, tapi kenapa sekarang malah seperti ini? Aku pikir ayah akan sembuh."


"Bunda juga berpikir begitu tapi ya sudahlah, kalau Tuhan sudah berkehendak kita bisa apa? Hanya saja...."Farah tidak melanjutkan bicaranya.


"Hanya apa Bun?"


Farah terlihat menarik nafas panjang dan berkata, "Ayahmu pernah berpesan, sebelum meninggal dia ingin melihat dirimu menikah dengan pria yang sudah kami jodohkan denganmu sedari dulu."


Kini giliran Nindy yang menarik nafas panjang. Dia berpikir sejenak. Hubungannya dengan Louis sudah berakhir dan dia paling benci dengan laki-laki yang suka berselingkuh, jadi dia beranggapan tidak mungkin dirinya akan kembali pada pria itu. Selain itu, ini adalah permintaan terakhir dari sang ayah yang tak mungkin ditolaknya. Kali ini dia ingin mencoba berdamai dengan hatinya. Meskipun tidak mencintai pria yang akan dijodohkan dengannya tapi dia yakin pilihan kedua orang tuanya pasti terbaik untuknya.


"Baiklah Bun aku mau menikah dengannya." Akhirnya kata-kata yang pernah ditunggu oleh Ramlan dan Farah kini terdengar sudah.


"Terima kasih ya Nak, kamu sudah mengabulkan permintaan kami," ucap Farah sambil mendekap erat putrinya sambil tersenyum senang sedangkan Nindy tersenyum tapi disertai air mata yang terus saja menetes. Dia hanya bisa berharap siapapun lelaki yang akan menjadi suaminya nanti bisa benar-benar mencintai dan menyayangi setulus hati. Hingga ia bisa mencintai pria itu dan menggantikan posisi Louis di hatinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2