
Semenjak Annete dan Adrian mengunjungi mereka di rumah utama, Nindy benar-benar memutuskan untuk berhenti bekerja dan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah Louis. Dia bahkan menghentikan olahraga untuk sementara karena benar-benar ingin menjadi seorang ibu padahal kemarin-kemarin ia tetap ngotot meski Louis melarangnya.
Ya semenjak bertemu dengan Annette dan Adrian waktu itu, Louis meminta izin pada Mama Ani dan tuan Zaki untuk memboyong istrinya ke rumahnya sendiri.
Mama Ani dan tuan Zaki pun tidak keberatan dengan permintaan Louis. Mereka mengizinkan keduanya untuk pulang ke rumah putranya dengan alasan agar mereka bisa leluasa bersikap layaknya seorang suami istri tanpa harus canggung kepada kedua orang tuanya.
Hal itu membuat Louis semakin betah tinggal di rumah bahkan ia rela pulang ke rumah hanya sekedar untuk makan siang saja.
"Aku dulu senang ya kalian bersatu tapi sekarang kok berasa enek ya lihat kalian mesraan terus tanpa tahu tempat," kelakar Mira.
"Ais Mbak Mira iri ya lihat kita," protes Louis, malah mencium istrinya di depan Mira, membuat wanita itu melengos.
"Mas malu tahu sama mbak Mira protes Nindy."
"Ngapain malu kita kan sudah menikah?"
"Biar dia panas dingin lihat kita dan akhirnya kebelet nikah," bisik Louis di telinga Nindy, tetapi masih bisa di dengar oleh Mira.
"Kalau cuma lihat orang ciuman mah aku sudah biasa, tapi yang bikin aku panas dingin bila dengar suara-suara gaib dari dalam kamar. Bisa nggak ya jangan berisik atau di skip saja suaranya, biar nggak ganggu konsentrasi orang," protes Mira.
Louis hanya terkekeh mendengar perkataan Mira sedangkan Nindy memalingkan muka karena kini wajahnya merah menahan malu.
"Makanya mbak Mira nikah," ujar Louis lagi
"Kalau aku nikah aku nggak bakal kerja di sini lagi."
"Kalau gitu nikah sama pak satpam saja," celutuk Nindy.
Mira terbelalak mendengar perkataan Nindy sedang Louis tertawa terbahak-bahak.
"Iya Mbak Mira benar apa kata Safa. Mbak Mira cocok kok sama pak satpam, kan sama-sama jomblo," ujar Louis masih dengan suara yang bercampur kekehan.
"Ckck." Mira berdecak lalu meninggalkan keduanya.
__ADS_1
"Mbak Mira marah ya Mas?" tanya Nindy karena Mira langsung pergi begitu saja. "Kok aku merasa nggak enak ya."
"Nggak akan, jadi tidak perlu dipikirkan."
"Tapi aku serius loh Mas, mereka benar-benar cocok. Pak satpam juga tampan kok."
"Mana tampan sama aku?" Louis mengedipkan matanya.
"Sayangnya lebih tampan pak satpam, makanya saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini saya bingung yang satpam siapa yang majikan siapa," goda Nindy sambil tertawa renyah.
Louis terlihat cemberut. "Kalau begitu nikah saja sama dia."
"Oke deh nanti aku poliandri kalau kamu mengizinkan," ujar Nindy lagi masih dengan tawanya tetapi langsung menutup mulut tatkala Louis memandang tajam ke arahnya.
"Bercanda Mas. Astaga, gitu amat sih lihatnya."
Louis malah tertawa melihat wajah Nindy yang menunjukkan ekspresi bersalah. Ia langsung membawa istrinya dalam pelukannya. "Kau pikir sanggup melayani dua suami. Melayani aku saja kamu kadang minta ampun," goda Louis.
"Gimana masih mau nikah sana pak satpam?"
"Apa sih aku kan cuma bercanda, lagian meski tampan dia tuh tuir, kalau sama Mbak Mira sih masih cocok."
"Jadi ingat kamu dulu bilang orang yang ingin dijodohkan sama aku sudah tuir, tapi sekarang kok malah jadi sayang ya."
Pipi Nindy memerah. "Sudah ah nggak usah mengingat-ingat yang sudah lalu. Sana balik ke kantor."
"Aku pantang balik sebelum dapat jatah."
"Masih siang juga," protes Nindy.
"Kan aku lebih suka siang-siang," ujar Louis terkekeh dan tanpa persetujuan Nindy ia langsung mengangkat dan menggotong tubuh istrinya ke dalam kamar. Dari jauh Mira hanya menggeleng melihat kelakuan majikannya. Ia lalu memilih jalan-jalan di taman belakang rumah daripada mendengarkan suara absurd yang akan mencemari telinganya. Setelah Louis kembali ke kantor barulah Mira kembali ke dalam rumah.
๐๐๐๐
__ADS_1
Nindy berlari-lari keluar dari ruangan dokter kandungan ketika mendapat telepon dari Louis bahwa pria itu sudah menuju ke sana. Ia tidak sabar ingin menunjukkan tespect yang bergaris dua kepada sang suami. Namun sebelum ia mengabarkan hal baik kepada Louis ternyata hal buruk menghampiri dirinya. Ia kepleset dan jatuh di lantai.
Beberapa orang berusaha menolong Nindy dan ingin membawanya ke ruang periksa.
Louis yang baru sampai di rumah sakit tiba-tiba perasaannya tidak enak. Apalagi saat melihat orang-orang mengerumuni seorang wanita yang terkulai di lantai dadanya terasa berdegup kencang. Louis langsung berlari ke arah orang-orang itu dan masuk ke dalamnya kerumunan.
"Safa," Louis terkejut melihat wanita tersebut memang istrinya.
"Minggir-minggir!" Louis lalu menggotong tubuh istrinya ke ruang periksa.
...****************...
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Maaf Pak dengan sangat berat kami harus menyampaikan istri anda mengalami keguguran."
"Apa! Jadi dia hamil?"
"Iya Pak, umur kehamilannya sudah masuk dua minggu dan memang keadaan bayinya lemah jadi gampang keguguran. Saat ini kami akan memindahkan istri bapak ke ruang perawatan untuk sementara sampai keadaannya stabil," jelas sang dokter.
"Istri saya tidak apa-apa kan Dok?"
"Bapak tenang saja kondisi si ibu baik, hanya saja ia masih syok mendengar berita kehilangan janinnya. Saya harap bapak bisa menjaga perasaannya dan juga bisa menenangkannya."
"Baik Dok."
Bersamaan dengan itu beberapa suster mendorong brankar dari dalam ruang periksa menuju ruang rawat.
Louis berjalan mengikuti para suster itu sambil menggenggam tangan Nindy. Nindy menoleh dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas maafkan aku."
Louis menghela nafas panjang. "Tidak usah minta maaf ini bukan kesalahanmu. Ini hanya cobaan untuk kita berdua. Bagiku yang lebih penting kamu selamat. Perkara anak nanti kita buat lagi," ujar Louis memenangkan Nindy meski dalam hatinya menyesalkan sikap Nindy yang terburu-buru memeriksakan diri tanpa mau menunggu dirinya pulang terlebih dahulu.
Bersambung....
__ADS_1