
"Astaga Zidane!"
"Syasa sayang sini Nak!" teriak Laras dari arah pintu dapur. Isyana yang sedang memakai make up nya pun akhirnya berhenti dan berlari ke arah ibu mertuanya. Tidak biasanya Laras heboh pagi-pagi, Isyana takut terjadi sesuatu sama kedua anaknya.
"Apa sih Ma pagi-pagi teriak, berisik tahu!" protes Zidane.
"Ada apa Ma?" tanya Isyana.
"Tuh lihat suami kamu!"
"Suami? Apa yang terjadi sama Mas Zidane Ma?" tanya Isyana khawatir.
"Kamu lihat saja sendiri! Suami kamu pagi-pagi sudah bikin kesal Mama. Pusing Mama lihat sayuran mama habis semua gara-gara suami kamu yang sok rajin itu. Bisa-bisanya dia mengusir para pembantu dari dapur. Padahal papa kamu minta dimasakin sayuran itu pagi ini tapi karena suami kamu jadi gagal deh," gerutu Laras panjang lebar.
Karena penasaran dengan kesalahan suaminya Isyana menghampiri Zidane.
"Astaghfirullah Mas! Apa yang Mas lakukan? Pantas saja Mama marah," ujar Isyana karena melihat satu kantong plastik buah pare yang sudah dikupas semua oleh Zidane.
"Emang apanya yang salah sayang?" tanya Zidane tanpa merasa berdosa.
Isyana geleng-geleng kepala kemudian berkata," Sayur itu tidak perlu dikupas Mas yang dibuang tuh bagian tengahnya kalau dikupas terus apanya yang mau dimasak?"
"Hehe...sorry Mas nggak tahu," ucap Zidane sambil cengengesan.
"Sorry-sorry, makanya kalau tidak tahu jangan sok tahu mentang-mentang kemarin masakannya dipuji sama Syasa jadi kepedean mau masak lagi."
"Udahlah Ma kita pesan online aja sayur begituan juga," cela Zidane.
"Bukan begitu nih waktunya kan mepet bentar lagi papa turun buat makan," sungut Laras
"Ada apa ini Ma kok kayaknya berisik dari tadi?" tanya Alberto yang kini sudah berpakaian rapi. Hari ini dia ingin meninjau beberapa pabrik yang ada di luar kota.
"Itu Pa sayuran papa belum dimasak sudah habis."
"Habis?" Tuan Alberto tak mengerti.
"Ia gara-gara anak papa tuh yang sok rajin jadi motongin sayur sembarangan."
Tuan Alberto melihat ke arah Zidane melihat ada beberapa buah pare yang sudah berantakan.
"Oh gitu! Ya sudah siapkan makanan yang lainnya saja biar besok aja masak sayur itu."
"Kalau yang lainnya sudah disiapkan oleh bibi di atas meja pa."
"Ya sudah tunggu apa lagi, Nak Syasa ayo makan bareng!"
"Papa duluan aja sama Mama, Syasa mau panggil si twins sama Naura dulu."
"Ya sudah panggil mereka dulu biar kita makan bersama."
"Baik Pa."
"Zidane apakah hari ini kamu tidak ke kantor?" tanya Tuan Alberto pada putranya. Mereka semua kini sudah berkumpul di meja makan.
"Nggak Pa Zidane mau istirahat dulu soalnya nanti malam Zidane sama Isyana mau berangkat ke Itali."
"Kalian yakin mau bulan madu ke sana?"
__ADS_1
"Itu permintaan Syasa Pa. Sebenarnya Zidane pengennya ke Maldives tapi Syasa pengennya ke Venice. Dia ingin tahu sama negara kelahiran Zidane katanya Pa, terus dia juga ingin bersilaturahmi dengan famili kita yang di sana juga setelah habis bulan madu." jelas Zidane.
"Benar Nak Isyana?"
"Ia Pa."
"Bagus kalau begitu, tapi sayang ya si kembar nggak bisa ikut," ujar Tuan Alberto.
"Biar lain kali aja kita bawa mereka ke sana Pa," ucap Zidane.
"Benar Pa?" tanya keduanya antusias.
"Ia, ya sudah ayo makan! Nanti malam kalian mau ikut mengantar Papa sama Mama ke bandara nggak?"
"Mau Pa."
"Kak Naura ikut nggak?"
"Ia ikut."
"Oke."
"Papa, Mama, Syasa nitip anak-anak ya! Kamu juga ya Naura," kata Isyana.
"Ia Tante."
"Kalian tenang saja tanpa diminta pun kami pasti akan menjaga cucu kami," ujar Laras disertai anggukan tuan Alberto.
"Terima kasih semuanya," ucap Isyana terharu sekaligus sedih karena untuk sementara akan berpisah dengan kedua buah hatinya.
"Ya sudah ayo ke kamar biar Kak Naura temani!" ajak Naura pada keduanya.
"Oke Kak."
Setelah sampai di kamar Naura bertanya pada si twins, "Biasanya sebelum tidur Mama kalian ngelakuin apa sama kalian?"
"Kadang Mama bacain dongeng, kadang menceritakan kisah para nabi," jawab Nathan.
"Terus sekarang kalian ingin Kak Naura bacain yang mana?"
"Dongeng aja dulu Kak!" pinta Tristan.
"Oke." Naura pun menceritakan dongeng sesuai dengan yang diminta keduanya namun keduanya belum terlelap juga tapi pura-pura tidur karena kasihan sama Naura.
Melihat keduanya sudah tidur Naura bergegas pergi ke kamarnya sendiri. Sampai di sana dia membaringkan tubuhnya. Mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan karena bekerja seharian dan setelah itupun harus ikut mengantar Zidane dan Isyana ke bandara karena ingin menyenangkan si kembar.
Naura memejamkan matanya hendak tidur karena memang sudah mengantuk namun tiba-tiba ponselnya bergetar.
Diraihnya ponsel yang ia letakkan tadi di atas nakas dengan malas dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo."
"Halo Naura."
Mendengar suara orang yang menelponnya Naura menjadi bersemangat dan matanya yang terasa berat tadi sekarang malah tidak ingin terpejam lagi.
"Om lagi ngapain?"
__ADS_1
"Lagi nyantai abis pulang kerja."
"Ooh."
"Kita alihkan ke video call aja ya!" pinta Lexi.
"Terserah Om aja deh."
Tak menunggu lama panggilan pun sudah berubah ke video call. Mereka asyik mengobrol sampai lupa waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Indonesia, tak terasa mereka sudah melakukan video call-an sekitar tiga jam.
Sementara di kamar sebelah Nathan dan Tristan yang tadinya pura-pura tertidur sampai saat ini belum bisa terlelap juga. Padahal dia pernah ditinggal mamanya dulu ke Paris tetapi kali ini entah mengapa dia kepikiran mamanya terus.
Karena tidak bisa tidur akhirnya mereka memutuskan pergi ke kamar Naura. Mereka bernafas lega karena tahu Naura pun belum tidur. Kalau saja dari tadi mereka tahu kak Naura nya belum tidur sudah dari tadi mereka memutuskan ke kamar Naura.
"Tapi tunggu Itan Kak Naura teleponan sama siapa sih malam-malam begini?"
"Mana aku tahu Atan, yuk kita intipin aja!" Mereka tidak tahu bahwa Naura melakukan Video call. Dengan mengendap-endap mereka menghampiri Naura dari arah belakang.
"Kamu sekarang berada dimana Naura?" tanya Lexi yang tidak sengaja menangkap gambar Nathan dan Tristan di layar laptopnya.
"Di rumah om Zidane," jawab Naura.
"Pantas saja tuh tuyul-tuyul nongol di belakang mu."
"Tuyul apaan sih Om bikin aku takut aja."
"Tuh di belakang."
Naura pun menoleh ke belakang. dan terkejut melihat keduanya belum tidur. "Kalian belum ... "
"Cie-cie ternyata Uncle Lexi ada incaran lain nih!" goda Tristan.
"Apaan sih maksud kalian?" tanya Lexi.
"Sekarang calling-calling besok bisa falling-falling."
"falling? Jatuh? Siapa yang akan jatuh?"
"Uncle lah, bisa falling in love," ujar Tristan dengan nada bernyanyi.
"Kalian ya ... "
"Kabur!" ucap keduanya sambil berlari ke kamarnya sendiri padahal tanpa berlari pun Lexi takkan bisa mengejarnya.
"Jahil banget sih mereka," ucap Naura dalam hati kemudian tersenyum sendiri.
"Ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Lexi.
"Nggak Om mereka lucu ya!"
"Bukan lucu tapi nyebelin," ujar Lexi.
"Biasalah Om anak kecil jangan diambil hati."
"Ia sih."
Bersambung....
__ADS_1