
Dua tahun kemudian.
Seorang gadis kecil berusia sekitar 4 tahunan cemberut di depan meja makan. Kedua kakaknya yang sedang menyantap makanan saling senggol dan berbisik. "Kenapa dengan Chila?"
"Nggak tahu."
"Ayo Chila dimakan," perintah sang oma.
"Nggak mau nggak ada ayam goreng," rengek Chila.
"Sekarang waktunya menu ikan laut jadi nggak ada daging-dagingan," ujar sang oma.
"Dia tuh Oma kalau nggak ada ayam goreng bisa mati," ujar Tristan menirukan logat dan gaya Upin dan Ipin.
"Menu ikan laut tapi nggak ada crab," ujar gadis itu lagi sambil cemberut.
"Abang punya yang gede, mau?"
"Benar Abang?" Gadis itu tersenyum sumringah.
"Mana?" Gadis kecil itu menadahkan tangan.
"Sebentar ya!" Tristan beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi, sesaat kemudian kembali dengan handphone di tangannya.
"Mana?" Gadis itu merengek.
"Sebentar." Tristan tampak memencet tombol ponselnya.
"Hm, masih mau pesan online ya Bang?" Gadis itu bertanya sambil menatap wajah Tristan penuh harap.
Nathan bertanya dengan memberi kode seolah bertanya 'lagi ngapain?'
Tristan hanya meletakkan jari telunjuk di bibirnya pertanda Nathan diminta untuk diam. Nathan hanya mengangguk.
"Ini dia." Tristan meletakkan ponsel di meja makan tepat di hadapan Chila.
Chila membelalakkan mata, bagaimana mungkin Tristan memberikan tontonan YouTube Spongebob yang memperlihatkan tuan crab yang sedang berbicara.
"Abang!" protes gadis kecil itu memberengut sedang Nathan dan kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala. Tristan tampak tertawa, puas mengerjai sang adik.
"Abang, awas ya!" Chila bangun dan hendak memukul Tristan namun ia kalah cepat Tristan sudah lebih dulu berlari.
"Awas ya aku kejar sampai dapat!" Chila berlari mengejar Tristan.
Sayang sudah hentikan, sekarang waktunya makan!" cegah Isyana namun kedua anaknya tidak menghiraukan.
Mereka terus saja berlari hingga Chila tak sengaja menabrak sebuah guci di sudut ruangan.
Prangg.
Guci itu pecah berkeping-keping. Laras yang mendengar suara benda terjatuh langsung menghampiri keduanya.
"Ya ampun Chila itu guci kesayangan Oma."
"Maaf Oma Chila nggak sengaja."
"Kamu tahu nggak sih itu Oma susah dapatnya. Guci yang berbentuk seperti itu langka tahu. Kamu tahu itu pemberian opa kamu sewaktu kami bulan madu ke Eropa jadi itu banyak kenangannya," Laras terlihat begitu geram.
Tanpa mau mendengarkan omanya yang ngomel Chila langsung berlari ke arah Zidane. "Papa Oma jahat, padahal Chila kan nggak sengaja dan sudah minta maaf tadi tapi Oma terus saja ngomel," lapornya pada sang ayah sambil memeluk tubuh Zidane.
"Memangnya Oma bilang apa tadi sayang?"
"Nggak tahu Chila nggak ngerti Oma ngomong bahasa Korea," ucapnya ketus.
"Emang mama bisa ya Mas bahasa Korea?" tanya Isyana penasaran.
"Bahasa Korea? Orang bahasa Itali aja mama masih belum lancar hingga kini padahal itu kan bahasanya papa."
"Tapi kata Chila tadi..." Isyana menghentikan bicaranya kala melihat kedua putranya malah tertawa.
"Kenapa kalian tertawa?" heran Isyana menatap kedua putranya dengan curiga.
"Mama nggak tahu aja kalau orang ngomel tuh katanya dedek Chila itu ngomong bahasa Korea," jelas Nathan.
__ADS_1
"Oh gitu toh, aku pikir Oma memang bisa bahasa Korea beneran."
"Mana Chila, mana Chila!" ujar Laras sambil memegang sapu untuk menakut-nakuti cucunya biar kapok. Karena tiap hari ada saja barang yang dia pecahin.
"Mama apaan sih!" protes Zidane melihat putrinya meringkuk dalam pelukannya.
"Kamu kalau sama anak jangan dimanja gitu biar tidak tuman. Ia di rumah sendiri, gimana kalau ia lari-lari di rumah orang dan menghancurkan barang-barang milik orang lain."
"Harusnya dia juga dimarahi Oma kan semua gara-gara dia." Nathan melirik ke arah Tristan yang kini sedang melotot ke arahnya.
"Papa, papa tahu nggak kalau di film Frozen Chila pengen jadi apa?"
"Nggak tahu."
"Jadi Elza dong, biar bisa ngutuk Oma jadi patung es. Entar kalau Oma lagi marah-marah langsung Chila rubah biar langsung mingkem."
"Zidane putrimu keterlaluan," ujar Laras. "Ya ampun Oma nggak pernah bermimpi punya cucu kayak dia. Selalu melawan saat dinasehati."
"Sudahlah Ma namanya juga anak kecil." Selalu saja Zidane membela putrinya.
"Iya kalau dituruti besarnya nanti akan jadi apa?"
"Tapi sayang ya Pa yang jadi Elza bukan Chila tapi Oma."
"Loh kok Oma sih?"
"Iya Pa, lihat tuh rambut oma putih semua kayak Elza."
Semua orang yang ada di meja makan tertawa termasuk tuan Alberto.
"Zidane!!! Pasti kamu nggak ambil wudhu ya saat bikin dia makanya dia nakal begitu," protes Laras.
"Emang nggak Ma, nggak sempat. Soalnya Zidane keburu kebelet," ocehnya.
"Mas ngomong apa sih, ada anak-anak itu!" protes Isyana sambil melirik kedua putranya.
"Tenang Ma kami nggak ngerti kok," ujar Tristan sambil tersenyum membuat Isyana jadi mengerti bahwa sebenarnya mereka berdua paham.
"Apa dulu? Kebelet mau pipis maksud papa," terang Zidane.
"Sudah ah ayo makan!" perintah tuan Alberto.
Sambil makan-makan tiba-tiba ada tiga anak kecil yang berlari-lari ke arahnya.
"Hei kalian sama siapa?"
"Daddy."
"Mommy."
"Apa kabar Om, Tante," sapa Lexi.
"Tante Ara." Si twins langsung berlari ke arah Ara dan memeluknya.
"Tante lama nggak pulang kami jadi kangen," ujar Nathan.
"Tante juga kangen."
"Si triplet udah bisa jalan ya Tante."
"Seperti yang kalian lihat."
"Nah ini baru adik kami," ujar Tristan sambil mendekat ke arah Leona yang dipegang Isyana dan Leoni yang langsung digendong Laras. "Sama-sama kembar," lanjutnya.
Sedangkan Leonard langsung mendekati Chila yang kini sedang merajuk karena digoda lagi sama Tristan.
"Let' play!" ajak Leonard sambil menarik tangan Chila.
"Oke." Keduanya tampak berjalan ke sudut ruangan yang sudah disediakan banyak mainan.
"Sana semuanya main!" perintah Ara. Leona dan Leoni mengangguk lalu merosot dari gendongan Laras dan Isyana kemudian berjalan ke arah Chila dan Leonard.
Sesaat kemudian Annete beserta keluarga juga Edrick dan Angel serta putranya datang dan bergabung bersama semua orang.
__ADS_1
"Hei kenapa kalian nggak bilang sih mau ke sini semuanya. Kalau tahu aku kan bisa pesan makanan yang banyak," ujar Isyana.
"Nggak usahlah Mbak yang penting ketemu kalian kami sudah senang, mumpung libur hari Minggu," papar Annete.
"Eh Ara dan Lexi juga di sini, kapan kalian datang?" tanya Angel.
"Semalam Gel dan pagi ini langsung ke sini karena Ara katanya sangat kangen sama si kembar."
"Oh."
"Adel sudah tumbuh lebat ya rambutnya?"
"Iya Ra soalnya dia sudah sembuh total," jawab Annete.
"Benarkah?"
"Iya." Kini Adrian yang menjawab.
"Dibawa berobat kemana?" tanya Lexi.
"Nggak dibawa kemana-mana sih, pas aku cek ke rumah sakit katanya dokter udah bersih penyakitnya."
"Wah magic tapi selamat ya Del."
"Makasih Tante Ara."
"Sama-sama sayang."
Selagi mereka mengobrol Laras menyuruh pembantunya untuk membelikan makanan untuk para tamu.
"Duh dedek Elfano sama dedek Ayden sudah gede ya," ucap Ara sambil mencubit pipi keduanya secara bergantian karena gemes.
"Iya Onty," jawab Edrick menirukan khas suara anak kecil.
Beberapa saat kemudian Dion bersama keluarga dan Juga Andy dengan Yuna dan anak-anaknya datang.
"Hei apa kabar kalian?" sapa Annete.
"Baik Net."
"Dedeknya Khalisa katanya cowok ya?" tanya Annete sambil melihat-lihat wajah anak bungsu Yuna.
"Iya Net."
"Siapa namanya?" tanya Angel.
"Daffin."
"Oh sorry ya Yun belum sempat jenguk."
"Iya nggak apa-apa."
"Selamat ya Yun kamu nggak bakal jadi mesin anak," ucap Edrick terkekeh.
"Apaan sih Lo Rick," protes Andy.
"Kamu kapan nambah momongan Yon kok masih satu aja?"
Vania hanya tersenyum menanggapi pertanyaan teman-teman suaminya.
"Kalau aku mah santai kapan Tuhan ngasih mah aku terima. Ngomong-ngomong Louis tidak diajak ke sini?"
"Sudah tapi aku telepon semalam dia masih di luar negeri," sahut Edrick.
"Oh gitu ya."
"Ya sudah Ayo semua makan bersama!" ajak Laras setelah makanan yang ia pesan sudah tertata rapi di meja.
Mereka pun makan bersama termasuk Juju, Adel dan si kembar sedangkan anak-anak kecil dijaga oleh Laras dan Lana dan kini sedang anteng memainkan mainan yang tersedia.
"Semoga anak-anak kita kelak juga menjaga persahabatan seperti kita-kita ya," ujar Zidane penuh harap.
"Amin," jawab mereka serentak.
__ADS_1
Tamat.