
Melihat ekspresi Lexi Naura jadi terenyuh. "Baiklah Om tapi setelah hari ini om tidak usah dekat-dekat lagi denganku," ucap Naura sambil naik ke dalam mobil.
"Baiklah Om janji."
Lexi pun melajukan mobilnya ke arah apartemen miliknya. Sesuai kesepakatan Naura membantu menata ruangan apartemen milik Lexi.
"Om udah kan ya? Aku gerah nih mau numpang mandi, boleh?"
"Silahkan!"
"Tapi jangan ngintip ya Om."
"Ia."
"Benar ya Om?"
"Astaga nih anak berisik banget kayak tukang es. Sudah sana cepat aku juga mau mandi lagian siapa juga yang mau ngintip."
"Nih anak cepat berubah moodnya tadi marah meletup-letup sekarang malah bercanda lagi," pikir Lexi dalam hati.
Setelah menyelesaikan mandinya Naura mengoleskan sedikit pelembab dan bedak bayi di wajahnya. Setelah itu mencoba berbaring di kasur mumpung orangnya lagi mandi. Seharian berkeliling rasanya tubuhnya pegal-pegal.
Tiba-tiba Naura mengingat bahwa sekarang jadwal up-nya. Dia mengeluarkan ponsel dan buku gambar beserta pensilnya dan mulai melukis gambar karakternya dengan tangan terlebih dahulu.
Sambil tengkurap dia mulai serius dengan gambarnya. Sejenak melupakan kalau dia berada di kamar orang lain.
"Ngapain?" tanya Lexi yang ikut merebahkan dirinya di kasur melihat Naura begitu khusuk seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar.
"Eh Om, nggak Naura nggak ngapa-ngapain sih cuma iseng-iseng aja ngegambar."
"Coba lihat!"
"Bagus, kamu buat komik ya?"
"Iya, lumayan Om bayarannya buat tambah-tambah uang saku."
"Bagus itu, kamu harus kembangkan bakat kamu itu. Emang kamu kirim ke mana tuh komik kamu?"
"Ada Om di salah satu aplikasi penulisan."
"By the way kamu nggak capek ya, sekolah, kerja di cafe terus masih buat komik lagi."
"Kalau dikata capek sih ya capeklah Om tapi kalau buat komik kan updatenya cuma dua kali dalam seminggu jadi nggak begitu menguras tenaga sih. Tapi capek kita akan terbayar kala usaha kita dihargai. Om tahu aku tinggal dengan seorang nenek yang hanya mengandalkan penjualan nasi pecelnya yang tidak seberapa dan aku cuma kerja separuh waktu. Jadi membuat komik itu juga menunjang pendapatanku."
"Oh gitu ya, tapi kenapa tidak langsung membuat sketsa lewat Android? Bukankah itu lebih praktis daripada harus ditulis tangan terlebih dahulu?"
"Om benar tapi saya juga ingin mengembangkan kemampuan melukis yang aku punya. Siapa tahu suatu saat aku bisa punya galeri sendiri."
"Semoga kelak cita-citamu tercapai ya."
"Amin."
"Eh genrenya CEO ya? Jangan-jangan kamu punya cita-cita punya suami seorang Presdir," canda Lexi.
"Nggak juga yang penting dapat suami yang bertanggung jawab aja aku udah bersyukur Om. Orang kecil macam aku mah mana berani bermimpi tinggi seperti itu takut kalau terbangun nanti terjatuh. Kan gawat tuh kalau sampai jatuh dari ranjang pasti sakit. Hehe...."
"Om tahu aku malah naksir sama adik sepupu bu Yuna yang juga bekerja di cafe," lanjutnya.
"Oh ya? Aku jadi penasaran sama tuh cowok pasti humoris ya?"
"Humoris dari mananya? Yang ada dia pendiam banget. Tapi itu justru membuat aku penasaran."
__ADS_1
Tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone Naura.
"Ingin rasanya jadi tempat tujuanmu pulang, bukan hanya sebagai pengisi waktu di saat kau senggang."
"Ngarep."
"Ih Om Lexi kegeeran, padahal aku hanya baca SMS dari operator. Kalau Om Lexi galau bisa tuh pakai RBT ini," cetus Naura sambil menyodorkan ponselnya.
"Nggak cocok itu tuh cocoknya buat kamu untuk mengungkapkan perasaanmu pada cowok yang kau taksir itu."
"Sudah ah Om sepertinya hari sudah sore. Om bisa kan antarkan aku pulang?"
"Oke ayo."
Lexi mengendarai mobilnya menuju ke rumah Naura.
"Sudah Om turun di sini aja. Om mau mampir dulu nggak?"
"Nggak terima kasih Om masih ada urusan mungkin lain kali mampirnya tapi kalau kamu berkenan sih."
Mendengar ucapan Lexi Naura merasa tersindir bukankah tadi dirinya yang meminta Lexi menjauh darinya tetapi sekarang malah merasa akrab dengan orang itu.
"Ia Om aku lupa. Selamat tinggal Om!" ucapnya sambil melambaikan tangan.
Lexi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Naura kemudian melajukan mobilnya kembali membelah jalanan.
...****************...
Sepulang dari kantor Zidane segera menaruh tas di meja, membuka jas dan melepaskan dasinya kemudian meletakkan di sofa ruang tamu.
"Ma Syasa mana Ma?" tanyanya pada Laras.
"Istrimu lagi di dapur tuh," tunjuk Laras ke arah dapur.
Tanpa bicara Zidane langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang dan menempelkan dagunya di bahu istrinya.
"Masak apa sayang?"
"Eh kamu Mas, kok sudah pulang? Katanya hari ini pulang malam. Oh ya kata mama kamu suka sama soup daging jadi kali ini aku mau masak masakan kesukaanmu itu."
"Nggak jadi karena semua pekerjaan sudah selesai lebih awal. Sayang apa itunya sudah selesai?" tanya Zidane sambil menciumi ceruk leher istrinya.
"Stop geli Mas, itunya apanya maksud Mas?"
"Itu rambut kamu sudah basah apa berarti kamu sudah mandi ... "
"Oh kalau yang itu sudah Mas. Mas sendiri sudah mandi? Sepertinya sudah wangi," tebak Isyana.
"Udah tadi di kantor. Berarti hari ini aku boleh minta jatah dong," ucap Zidane terus terang.
"Boleh tapi nanti malam aja ya karena sekarang aku mau masak kesukaan kamu dulu."
"Si twins mana?"
"Pergi diajak bang Andy katanya mau jalan-jalan."
" Oh kalau begitu sudah tinggalin saja biar bibi yang melanjutkan masaknya," ucap Zidane sambil menciumi wajah istrinya secara bertubi-tubi.
"Mas tanggung ini bentar lagi sele ... "
'Hup.' Tanpa aba-aba Zidane langsung melahap bibir istrinya membuat Isyana terpaku dan tidak bisa membantah.
__ADS_1
Dirasa tidak dapat bernafas Isyana memukul bahu Zidane agar melepaskan ciumannya.
"Mas malu tuh dilihat mama."
"Makanya tinggalkan pekerjaan ini karena aku lebih butuh kamu dibanding masakan kamu ini," bisik Zidane.
"Jangan biarkan aku puasa lagi Sya, please!"
"Zidane tahu tempat Nak, kalau mau mesra-mesraan jangan di dapur! Kan kasihan kalau nanti dilihat para pembantu kita yang masih jomblo," tegur Laras.
Mendengar perkataan Laras pipi Isyana merah merona karena malu sedangkan Zidane bukannya malu malah menggotong tubuh Isyana ala bridal style ke luar dari dapur menuju kamar mereka. "Kalau begitu mama yang lanjutkan masaknya!"
"Ya ampun nih anak malah curang nyuruh mama lagi yang nyelesain pekerjaan istrinya. Bi Ina, Bi!"
Ina datang dengan tergopoh-gopoh, "Ada apa Nyonya?"
"Kamu lanjutkan masak soup daging itu," perintah Laras dengan nada kesal.
"Baik Nyonya."
"Ada apa sih Ma, ngomongnya kok kayak kesel gitu."
"Itu lihat kelakuan anak papa! Wong istrinya lagi masak pake acara digotong ke kamar lagi."
"Mama kayak nggak pernah muda aja. Ya biarin lah Ma."
"Ia sih Pa tapi ini kan masih sore," protes Laras.
"Ya biarin lah mereka kan masih pengantin baru. Apalagi kemarin papa dengar mereka nggak sempat mp gara-gara istrinya kedatangan tamu."
"Mama kalau iri bilang aja," ucap Tuan Alberto sambil mengedipkan matanya.
"Gendong!" pinta Laras manja.
"Jangan Ma nanti encok papa kambuh lagi."
"Ya udah nggak jadi kalau begitu."
"Ya udah ayo!" ucap Tuan Alberto.
Laras kegirangan kayak anak kecil yang baru dapat mainan. Kemudian mendekat ke arah suaminya. Tuan Alberto kemudian menggotong Laras menuju kamar mereka.
"Ma, mama nggak malu apa sama Bi Ina minta gendong kayak si twins."
"Bi Ina! Kalau bi Ina kangen sama suami besok bi Ina boleh izin pulang kampung," ucap Laras ke arah Ina yang sedang menatap takjub kepada dua orang lanjut usia itu.
Namun kemudian, "Auw!" Tiba-tiba penyakit encok Tuan Alberto kambuh.
"Tuh kan Ma encok papa jadi kambuh. Turun aja ya ma!"
"Yaa..." Lana turun dengan perasaan kecewa sedangkan bi Ina tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang menimpa majikannya.
"Oma sama Opa ngapain sih!" protes si kembar yang tadi sempat melihat kakek neneknya main gendong-gendongan."
"Mau berlatih kan sebentar lagi Oma dan Opa bakal dapat cucu baru," jawab Tuan Alberto sekenanya.
Nathan dan Tristan tahu bahwa ucapan Opanya tidak masuk akal namun dia tidak perduli, yang mereka perduli kan adalah ucapan Opanya yang mengatakan bahwa mereka bakal dapat adik baru.
"Benar Opa kita bakal punya adik? Kalau begitu ayo Atan kita ke kamar mama dan papa buat tanyain itu benar apa tidak."
"Ia Ayo." Mereka berlari menuju kamar orang tuanya.
__ADS_1
"Eh, eh tunggu dulu!" Laras mengejar keduanya takut kedua anak tersebut akan mendengar suara gaib dari kamar orang tuanya yang akan mengganggu pendengaran Mereka.
Bersambung....