Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 52. Parno


__ADS_3

"Tangkap dia. Dia pasti mau memata-matai rumah ini." Terdengar samar-samar perintah seseorang di telinganya dan beberapa saat kemudian dirinya ditangkap oleh beberapa orang yang membawanya masuk ke dalam rumah.


"Katakan siapa yang menyuruhmu?!" bentak pria bule yang Lisfi tebak pasti orang itu adalah bos dari orang-orang yang menangkapnya.


"Maaf Tuan, tetapi saya bukan mata-mata."


"Alah mana ada penjahat mengaku."


"Saya tidak berbohong Tuan. Saya hanya lari dari kejaran orang-orang dan tidak sengaja masuk ke pekarangan rumah ini." Lisfi menunduk karena merasa takut. Meski wajah pria itu terlihat tampan tetapi pandangan matanya sangat mengerikan, seolah ia siap menerkam.


"Kalian bawa dia ke rumah belakang! Siksa dia sampai mau mengaku tentang siapa orang yang menyuruhnya!" perintah pria tersebut.


"Ampun Tuan, lepaskan saya. Saya tidak bersalah. Saya benar-benar jujur dengan apa yang saya katakan tadi."


Pria itu tidak perduli dengan ucapan Lisfi karena setelah memberikan kode lewat tangan pada anak buahnya, pria itu langsung pergi begitu saja.


Tubuh Lisfi Langsung diseret ke rumah belakang melewati lorong-lorong yang panjang dan sedikit agak lebar.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Lisfi terus saja memberontak. Mencoba melepaskan diri dari orang-orang itu. Namun sayang tenaganya tidak sebanding dengan lawannya yang bukan hanya kuat saja tetapi jumlah mereka juga lebih banyak.


"Diam atau kami akan langsung membunuhmu!" Salah satu dari mereka menggertak, membuat Lisfi menjadi ketakutan.


"Tolong ampuni aku. Aku benar-benar bukan mata-mata." Lisfi memohon dengan air mata yang berderai. Keringat mulai deras bercucuran, tubuhnya pun sudah tampak bergetar. Apalagi saat melewati lorong-lorong yang di atasnya tergantung tengkorak-tengkorak manusia yang sudah tidak utuh lagi bulu kuduk Lisfi meremang, dia semakin ketakutan.


"Ya Tuhan selamatkan aku, aku tidak mau tewas di tempat ini. Kalau begini nasibku lebih baik aku mati di tangan anak pak Louis saja, paling tidak mayatku ada yang mengurus," batin Lisfi.


"Kalau tidak ingin kami seret jalan seperti biasa dan jangan coba-coba kabur kalau tidak ingin seperti mereka!" tunjuk orang itu pada tengkorak-tengkorak yang bergelantungan.


Dengan terpaksa Lisfi mengangguk. Dia bangun dan berdiri lalu mengusap-usap lengan dan betisnya yang terluka kemudian meniup-niup untuk sedikit menghilangkan rasa perih pada luka itu. Ada niatan untuk melarikan diri tatkala pegangan tangannya dilepas. Namun nyalinya ciut seketika melihat orang-orang berjalan sambil melingkarinya.


Orang itu terus saja membawa Lisfi masuk ke dalam. Wanita itu tampak mengawasi keadaan. Berjalan sambil melihat kanan kiri, barangkali ada celah yang bisa ia gunakan untuk kabur. Sayangnya ruangan itu tertutup sempurna, seolah pintu keluarnya hanya rumah yang ia masuki tadi.


Langkah orang-orang terhenti tatkala sampai ke sebuah ruangan yang di sisi pokoknya terdapat meja dan kursi dengan tali-tali yang menjadi aksesorisnya.


"Kamu tahu tempat apa itu?" Seorang pria bertanya pada Lisfi.


"Tidak."


"Itu adalah kursi eksekusi. Jadi sebelum kami menyiksamu, kami akan memberikan waktu agar kamu bisa menjelaskan siapa orang yang menyuruhmu."


Lisfi menggeleng. Bagaimana dia akan menjelaskan bahwa dirinya memang tidak tahu apa-apa mengenai musuh mereka.


"Oh rupanya kamu memilih disiksa ya."


"Ikat perempuan ini dan cambuk hingga ia mengaku!"


Anak buah yang lain bergerak, menyeret tubuh Lisfi dan mendudukkan perempuan itu di kursi yang mereka sebut tadi dengan kursi eksekusi. Kemudian mengikat erat dengan tali tambang.

__ADS_1


"Masih tidak mau mengaku juga?"


"Aku benar-benar tidak tahu."


"Kamu tahu setiap yang masuk ke ruangan ini tidak ada yang bisa kembali, tetapi kami sudah berbaik hati padamu. Katakan dan kami akan lepaskan!"


Sungguh penawaran yang begitu baik bukan? Tetapi sayangnya Lisfi tidak tahu apa-apa. Lisfi pun berpikir walaupun ia tahu sekalipun dia tidak akan pernah mengatakan karena tidak yakin dengan omongan orang yang ada di hadapannya kini. Dia yakin meski dia memberitahu pasti orang-orang ini akan menghabisinya setelah mendapatkan informasi.


Lisfi tetap menggeleng.


"Cambuk dia!"


"Cambuklah karena aku memang tidak bisa memberikan informasi." Lisfi sudah pasrah, memberontak pun dia sudah tidak berdaya.


Mereka pun mencambuk tubuh Lisfi. Wanita itu hanya memejamkan matanya sambil meringis kesakitan. Di dalam hati dia memohon ampun kepada Tuhan. Kalau itu memang hukuman darinya Lisfi ikhlas asalkan Tuhan mengampuni segala dosanya.


Anak buah pemilik rumah itu berbisik satu sama lain. Membicarakan kenapa wanita yang kini mereka siksa masih bertahan dengan semuanya. Kalau yang lain pasti sudah tidak tahan dan akhirnya membuka mulut.


"Gantung dia!"


Seseorang naik ke atas meja dan membenahi tali yang bergelantungan di atas untuk menyiapkan eksekusi terakhir.


"Kamu masih tidak takut?"


Lisfi menggeleng, lebih baik dirinya mati saja daripada disiksa terus-menerus pikirnya dalam hati. Ia terus memejamkan matanya saat dirinya diangkat dari kursi menuju meja.


"Hentikan!"


Orang-orang yang hendak beraksi berhenti seketika. "Tuan."


"Hentikan! Aku pikir aku masih membutuhkan dia hidup daripada matinya."


"Siapa lagi dia?" batin Lisfi.


"Akh tapi siapapun dia aku akan berterima kasih padanya kalau memang dia bisa membuatku bebas dari tempat ini, tetapi apa yang dia katakan tadi? Dia membutuhkanku? Untuk apa? Jangan-jangan aku ... akh aku tidak tahu." Lisfi pasrah.


Pria itu mendekat. "Wah Nona tampak terluka."


"Bawa dia ke kamarku dan obati lukanya!"


Entah apa yang harus Lisfi rasakan sekarang. Haruskah ia senang karena tidak jadi mati ataukah sedih karena yakin siksaan lain akan menemuinya nanti.


"Aah sudahlah semoga pria ini adalah orang baik." Dia berharap dalam hati.


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Di tempat pernikahan, undangan sudah pada bubar tinggal hanya Louis dan Nindy bersama keluarga.

__ADS_1


"Bagaimana apakah kalian sudah menangkap keduanya?" tanya Louis.


"Tuan, nona Mala kritis dan nona Lisfi tidak bisa kami temukan."


"Apa?! Kenapa bisa?"


"Nona Mala berlari ke tengah jalan saat kami kejar hingga akhirnya tertabrak sebuah mobil yang melaju kencang."


"Astaga apa yang kalian lakukan," protes Nindy.


"Pokoknya kalau sampai Mala meninggal, malam ini aku tidak mau tidur sama kamu," ancam Nindy.


"Apa-apaan ini Nin," ucap Louis sambil meraup wajahnya sendiri. Baru saja dia bahagia bakal merasakan surga dunia malah diancam seperti itu.


"Aku tidak mau didatangi hantu Mala kalau tidur sama kamu."


"Ya ampun Nin, parno amat sih."


"Aku mau ikut dan tidur sama bunda saja, ya Bun." Farah menatap wajah Louis.


"Bukankah kamu sudah bersumpah untuk tidak menginjakkan kaki di rumah orang tua kamu lagi." Louis mengingatkan akan cerita Nindy tempo hari. Dia pikir dengan begitu Nindy tidak akan meminta tidur dengan Farah lagi.


"Lagipula mama sudah susah-susah menyiapkan kamar pengantin di kamarku yang ada di rumah utama. Juga sudah menyiapkan segala hal untuk menyambut mantunya."


Mama Ani hanya mengangguk dan tersenyum saat Nindy memandang wajahnya seolah bertanya hal itu benar apa tidak.


"Kalau begitu aku mau pulang ke sana, tapi aku mau tidur sama mama saja. Boleh ya Ma!" pinta Nindy pada mama Ani.


Bukan Louis saja yang tampak syok tapi juga tuan Zaki.


"Kan Mala belum meninggal?"


"Bisa saja dia meninggal nanti malam." Louis hanya menggaruk kepala mendengar ucapan Nindy. Dalam hati dia meminta pada Tuhan agar menunda kematian Mala paling tidak untuk malam ini saja.


"Ya sudah tidak apa-apa malam ini Nak Safa bisa tidur sama mama dulu," ujar mama Ani dan Louis hanya pasrah. Dalam hati berniat untuk tidak memberitahukan pada Nindy meski Mala meninggal sekalipun nanti malam.


"Kak Lisfi bagaimana?"


"Belum ditemukan Nona."


"Kalau begitu cari sampai ketemu!" perintah Nindy.


"Siap Nona." Anak buah Louis berbalik dan melanjutkan pencariannya mencari Lisfi.


Bersambung.....


Hai teman-teman, Othor punya rekomendasi novel menarik nih buat kalian semua. Ini novel milik teman Othor yang bisa menemani kalian selagi menunggu novel ini update. Novel ini unik karena menggunakan POV yang banyak dihindari oleh penulis karena susah untuk mengembangkan cerita, tetapi penulis novel ini bahkan berhasil membuat novel ini menjadi bagus dan menarik dengan memakai pov.๐Ÿ‘ Mampir ya teman-teman Babnya udah banyak kok ๐Ÿ™

__ADS_1



__ADS_2