Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 32. Anak Lucknut


__ADS_3

"Bagus," ujar Louis seraya menutup teleponnya kemudian kembali ke samping Nindy.


Sedangkan Pras setelah berhasil lolos dari kejaran petugas langsung mendapat telepon dari seseorang dan menyuruhnya segera ke kantor. Sebenarnya Pras ingin menolak berhubung hari ini dia sudah mengajukan izin untuk tidak masuk kerja. Namun pihak perusahaan mendesak agar dia kembali ke kantor hari ini juga dengan alasan ada hal penting dan mendesak. Oleh karena itu Pras terpaksa kembali ke kantor walau dirinya sedang tidak baik-baik saja dan sekarang jalannya juga terlihat pincang akibat tendangan Louis tadi.


"Ada masalah apa?" tanya Pras setibanya di kantor. Dia bingung kenapa beberapa orang tampak bergerombol di ruang kerjanya dengan tatapan tajam seolah ingin mengekskusi dirinya.


"Apakah Anda tidak merasa melakukan kesalahan?" tanya salah satu atasannya di kantor dengan senyum miringnya.


"Tidak," jawab Pras enteng.


"Yakin?"


"Yakin," jawab Pras penuh percaya diri.


Plak.


Atasan itu melempar berkas ke atas meja kerja Pras.


"Baca itu! Setelah itu baru mengelak."


Pras mengernyit kemudian dengan tenang mengambil kertas tersebut dan membaca. Matanya terbelalak tatkala melihat laporan keuangan tersebut. Mukanya tiba-tiba berubah pucat. Keringat mulai mengucur dari seluruh tubuh tapi Pras tetap berusaha agar terlihat tetap tenang.


Bagaimana bisa ketahuan? Bukankah aku sudah begitu hati-hati agar ini tidak


terdeteksi?


"Kenapa? Masih mau mengelak?"


"Itu semua tidak benar, pasti ada yang memfitnah saya!" elak Pras.


"Tidak ada yang memfitnah Anda tetapi kenyataannya memang demikian. Tim audit menemukan ketidak sesuaian antara barang yang ada di lapangan dengan pengeluaran perusahaan yang dikeluarkan untuk pengadaan barang. Anda juga telah berani memanipulasi harga barang-barang baku."


"Itu ... tidak benar." Pras berkata dengan tergagap apalagi saat orang-orang di ruangan itu memberikan bukti-bukti tentang kesalahannya dia semakin tersudut.


"Satu lagi kau telah berani menyerang bos kita," ujar anak buah Louis yang lain.


"Aku tidak pernah menyerang siapa-siapa, kalian bicara apa?" bentak Pras yang kini sudah mulai gusar, Pras tak mengerti mengapa orang-orang di tempat itu mengatakan dirinya menyerang bosnya.


"Apa Anda mau mengelak lagi bahwa hari ini anda telah berlaku kasar pada seorang gadis."


"Itu bukan urusan kalian, itu masalah pribadi saya, tidak ada sangkut-pautnya terhadap perusahaan," bantah Pras.


"Oke kamu memang benar, itu semua tidak ada sangkut-pautnya dengan perusahaan tetapi karena kamu telah berani menghajar pemilik perusahaan maka dari itu kami perlu ikut campur."


Pras menggeleng, menatap semua yang hadir dengan tatapan mengejek.


Gila semuanya.


"Omong kosong apa yang kalian bicarakan? Kalau mau menghakimi orang cari tahu dulu dari sumber yang tepat, jangan mau menuduh orang sembarangan. Mana buktinya kalau saya telah menghajar tuan Zaki?" ujar Pras menantang membuat semua orang tertawa-tawa.


"Makanya jangan cuma sibuk mikirin bagaimana caranya melakukan pencucian uang tanpa diketahui oleh orang-orang di perusahaan. Sampai-sampai atasan berubah saja malah tidak tahu, haha hahaha...." Yang hadir di tempat itu malah semakin mengejek.


"Sia*lan kalian!" umpat Pras sambil mengepalkan tangannya hendak memberikan bogem mentah kepada orang-orang yang hadir di ruangan tersebut. Namun tiba-tiba. aksinya tidak jadi dilanjutkan tatkala pintu ruangan terdengar diketuk.


"Masuk!" Salah seorang yang ada di ruangan tersebut menjawab.


Pintu terbuka tampak dua orang polisi berjalan ke arah mereka. Pras terlihat kaget, tiba-tiba saja dia menutup mulutnya yang reflek menganga.


"Apa-apaan ini kalian serius mau melaporkan saya ke polisi?" Pras terlihat syok.

__ADS_1


"Kamu pikir kami bercanda? Apa kamu ulang tahun sekarang sehingga kami harus capek-capek mengerjai mu seperti ini?"


Polisi mendekat dan langsung meringkus tangan Pras. "Anda ditangkap dengan tuduhan melakukan korupsi dan tindakan kekerasan."


"Pak tunggu Pak, saya tidak bersalah, ini cuma fitnah." Pras memberontak, mencoba menjelaskan.


"Anda bisa menjelaskan semuanya nanti di kantor polisi.


"Baiklah," ucapnya pasrah.


"Terima kasih pak polisi," ujar semua orang yang hadir di dalam ruangan membuat Pras mengeram dan semakin benci pada semua orang.


"Awas kalian semua ya," ucapnya dalam hati.


"Sama-sama, terima kasih juga atas kerjasama," balas polisi tersebut lalu membawa Pras keluar ruangan. Pras terlihat menurut namun setelah melihat polisi lengah segera ia melepaskan diri dan kabur.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Louis yang sedang mengajak Nindy bercerita tentang suatu hal yang lucu agar wanita itu bisa melupakan kesedihannya, terutama kejadian tadi tiba-tiba menghentikan ceritanya.


"Siapa?" tanya Nindy saat Louis sedang menatap layar ponselnya kemudian mengangkat telepon.


"Karyawan di kantor," jawab Louis.


"Ada masalah?" tanya Nindy lagi.


"Sedikit," jawab Louis.


"Apa kamu akan ke sana?"


Louis menatap mata Nindy lalu menggeleng. "Sebentar ya," ucapnya pada Nindy dan Nindy hanya mengangguk lemah.


๐Ÿ“ฑ"Halo bagaimana?" tanya Louis langsung.


๐Ÿ“ฑ"Bagus jangan biarkan dia lolos!"


๐Ÿ“ฑ"Apakah Tuan tidak akan kemari?"


๐Ÿ“ฑ"Hmm, sepertinya tidak, aku tidak bisa meninggalkan Nindy sendirian. Aku percayakan saja semuanya padamu."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah Tuan kalau begitu saya tutup teleponnya dulu. Saya hanya ingin mengabarkan itu saja."


"Kenapa tidak ke sana kalau ada yang penting?" Nindy bertanya setelah melihat Louis menutup teleponnya.


Louis menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkan mu sendiri."


Nindy menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan. "Maafkan aku, karena aku langkahmu tertahan di sini."


Louis tersenyum dan berkata, " Tidak apa-apa, aku bahagia berada di samping mu. Apalagi kamu begini karena aku."


"Bukan salahmu seharusnya aku tidak merepotkan dirimu. Kalau saja aku tidak masuk ke dalam kehidupanmu, pekerjaanmu tidak akan terbengkalai seperti ini. dan kamu tidak akan terluka seperti ini." Nindy benar-benar merasa bersalah.


"Sudahlah jangan dipikirkan, ini cuma luka kecil. Yang penting semua baik-baik saja. Lebih penting lagi bagiku kamu bisa sembuh dan berbahagia selalu. Kamu tahu, aku rindu kecerewetanmu dan juga ekspresi saat kamu ngedumel seperti dulu." Louis terkekeh sedangkan Nindy cemberut.


"Dan satu lagi aku suka bicaramu tadi lebih luwes nggak kayak saat kamu manggil aku Tuan," lanjut Louis lagi.


"Terus aku harus manggil apa Tuan?"


"Ish Tuan lagi." protes Louis. Nindy tertawa kecil. Melihat tawa Nindy Louis sedikit merasa lega.

__ADS_1


Saat-saat sedang asyik mengobrol, mama Ani langsung mendorong pintu dengan kasar, sepertinya ia terburu-buru dan khawatir mendengar kabar putranya yang masuk rumah sakit.


"Mama apaan sih!" protes Louis karena ulah mama Ani yang membuat Nindy menjadi terkejut dan tampak ketakutan kembali.


"Kamu baik-baik saja? Mama pikir kamu kenapa-kenapa."


"Ya seperti yang mama lihat, Louis baik-baik saja."


"Syukurlah mama takut kamu koma seperti cerita di tv-tv itu loh."


"Lebai banget sih Ma, masak kena pukulan saja bisa koma."


"Loh di jaman sekarang apapun bisa terjadi."


"Ini nih kalau orang tua kebanyakan nonton sinetron, bawaannya suka khawatir."


"Terus siapa yang dirawat di sini? Kata pak sopir kamu masuk rumah sakit." Mama Ani tidak mengindahkan perkataan Louis.


"Bukan aku Ma tapi dia." Louis menunjuk Nindy dengan ujung dagunya.


"Dia? Siapa?" Mama Ani langsung berbalik, menatap brankar dengan rasa penasaran.


"Calon mantu Mama."


"Calon mantu?" Louis mengangguk. Mama Ani mendekat ke arah Nindy yang berbaring. Dia menatap wajah Nindy dengan perasaan tidak menentu.


Sepertinya aku pernah melihat gadis ini, tapi dimana ya? Ah sudahlah mungkin aku salah lihat.


Melihat mama Ani memandangnya seperti itu membuat Nindy salah tingkah. Dia takut mama Ani tahu bahwa Louis menolak perjodohan karena dirinya.


Namun tidak seperti yang dikhawatirkan Nindy, mama Ani malah terlihat ramah terhadapnya. Sikapnya yang supel membuat dirinya mudah akrab dengan orang lain termasuk Nindy saat ini.


Disela-sela mengobrol dengan Nindy, mama Ani baru sadar bahwa muka putranya terlihat bonyok.


"Lou sebaiknya kamu obati lukamu ke dokter dulu mumpung ada di sini, biar mama yang jagain Nindy."


"Nggak usahlah Ma, paling nanti sembuh sendiri."


"Sudah sana jangan ngotot."


"Benar ya mama mau jagain Nindy?"


"Iya."


"Awas ya kalau sampai mama apa-apain dia! Kemarahan Louis bukan cuma kuadrat Ma tapi kuartik buat mama." Louis terkekeh.


"Dasar anak lucknut Lo, nuduh mama macam-macam. Emang kamu pikir Mama penjahat apa?" ucap mama Ani geram.


"Kali aja karena kecewa sama Louis mama berubah jadi jahat." Mama Ani hanya geleng-geleng kepala.


"Beneran ya Ma, mama mau jagain dia?"


"Iya, nggak percayaan sih."


"Nin kamu sama mama dulu ya, aku mau ke kantor sebentar." Nindy hanya mengangguk.


"Astaga nih anak, katanya mau ke dokter tapi malah ke kantor?"


"Kan yang bilang ke dokter itu mama bukan Louis," ujar Louis lalu menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa jejak jempolnya!๐Ÿ™


__ADS_2