Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 68. Rencana Selanjutnya


__ADS_3

*Sebelum melanjutkan membaca Author ingin mengingatkan jangan lupa pencet tombol like-nya ya. Like itu gratis tapi berharga untuk Author. Padahal viewers nya tiap hari 2900-an ke atas tapi kenapa like nya cuma segitu? Buat Yang sudah like, komen, kasih hadiah apalagi yang udah ngasih Vote-nya Author ucapkan terimakasih banyak. Apalah artinya Author tanpa pembaca. Love you allπŸ’“πŸ₯°


🌟*Happy Reading 🌟


"Om Dion bisa minta tolong antar kan kamu ke rumah om Andy?"


"Emangnya kalian mau apa bukankah oma Lana kalian sekarang tinggal bersama kalian? Dan Andy pun tidak tinggal di sana lagi sejak kematian istrinya."


"Cuma mau lihat-lihat aja Om, emang nggak boleh?"


"Kenapa nggak minta antar sama papa kalian?"


"Nggaklah kami maunya sama Om Dion kan besok Om libur."


"Baiklah besok saja ya sekarang om Dion akan kembali ke kantor dulu, eh gimana rencana kalian sudah dipikirkan matang-matang?"


"Sudah om saya sudah meminta seseorang untuk menghandle semuanya. Kebetulan akun IG milik keluarga Richa dan Richi aktif berkomentar dan nge-like di setiap postingan akun kami dan kami sudah mengadakan give away agar yang paling banyak berpartisipasi dalam postingan kami akan mendapatkan hadiah tertentu dan liburan. Nah dari sekian followers kan dia tuh yang paling aktif jadi bisa dipastikan mereka lah pemenangnya."


"Dan kalau mereka tidak menang kalian akan tetap memenangkan mereka?"


"Ya pastilah Om."


"Hemm bisa didemo nanti kalian sama yang followers yang lain."


"Tenang Om ada kebijakan lain untuk mereka."


"Ya terserah kalian lah."


Hari yang ditentukan pun telah tiba Nathan dan Tristan beserta Dion dan yang lainnya sudah bersiap. Beberapa orang suruhan sudah ditugaskan mengantarkan hadiah beserta menjemput ibu Salma beserta kedua anak tersebut.


Tanpa rasa curiga bu Salma dan kedua anaknya merasa bahagia karena mendapatkan ponsel keluaran terbaru dan kini mereka diajak jalan-jalan bersama si kembar. Mereka bercanda ria di dalam mobil bahkan Richi dan Richa tampak bernyanyi dan tersenyum bahagia.


Mereka dibawa ke tempat wisata dan membiarkan kedua anak tersebut bermain-main di sana. Sesekali memotret kebersamaan mereka dengan si kembar. Namun Nathan dan Tristan meminta kedua anak dan ibu tersebut untuk tidak memposting dulu foto mereka ke akun media sosial.


Setelah hampir seharian berjalan- jalan mereka akhirnya memutuskan untuk bermalam di salah satu Vila milik Dion.


Vila yang tidak pernah di tinggali itu terletak di daerah puncak namun suasana Vila tersebut terlihat angker.


"Kok Vila nya kayak angker ya Tristan?" tanya Richa.


"Biasalah nggak pernah dipakai."


"Apakah kalian tidak ingin menelpon ayah kalian? Memberi kabar atau apa gitu?"


"Oh ia ya aku ingin berbicara banyak dengan ayah kali ini karena hari ini Richa senang sekali."

__ADS_1


"Silahkan."


Richa dan Richi pun menelpon ayahnya. Terdengar canda gurau diantara keluarga melalui sambungan telepon."


"Ayah, Ayah tahu hari ini aku bisa ketemu artis favorit aku dan hari ini dia ngajak jalan-jalan kami."


"Oh ya mana dia?"


"Nathan, Tristan ayah ingin ngomong dengan kalian."


"Baiklah kemarikan handphonemu!"


"Halo Om apa kabar!"


"Halo juga. Kamu...." Derly terkejut melihat penampakan wajah anak di layar ponselnya.


Nathan menjauh dari Salma dan kedua anaknya sedangkan Tristan mencoba mengobrol dengan ketiganya agar tidak fokus dengan keadaan sekitar.


"Ia kenapa? Kenapa om kaget?"


"Kenapa kamu bersama anak dan istri saya?"


"Pastinya aku ingin melakukan sesuatu terhadap anak dan istri om kalau tidak mana mungkin saya jauh-jauh membawa mereka ke sini."


"Apa yang kamu inginkan?"


"Kamu tahu nama saya?"


"Ya tahu lah apa yang nggak aku tahu tentang diri Om kecuali siapa yang sudah menyuruh Om."


"Aku tidak akan mengatakannya," ucap Derly cepat.


"Baiklah itu pilihan dan saya disini juga punya pilihan, membunuh anak dan istri Om langsung atau membiarkan mereka di sini mati ketakutan. Om tahu vila ini vila apa? Vila angker yang banyak hantunya makanya pemiliknya tidak mau menempati ataupun menyewakannya pada orang lain. Kalau anak dan istri Om kami tinggalkan di sini saya yakin tidak akan ada yang menolong mereka karena masyarakat takut untuk mendekati vila ini."


"Memangnya kamu pikir aku akan percaya dengan ucapan mu anak kecil? Anak kecil seperti kamu memangnya bisa apa?"


"Well, tapi apakah om yakin tidak akan berubah pikiran setelah melihat ini?"


Nathan mengarahkan ponsel ke arah kedua anak dan istri Derly yang di belakangnya tampak beberapa orang sedang memegang senjata."


Melihat pemandangan di dalam ponsel tubuh Derly menjadi bergetar.


"Baiklah aku akan katakan tapi kalian harus janji untuk melepaskan anak dan istri saya dan melindunginya kalau saja saya harus mati di tempat ini."


"Baiklah Om saya jamin akan melindungi mereka asalkan Om mengatakan semuanya."

__ADS_1


"Baiklah."


"Paman." Nathan meminta salah satu anak buah papanya untuk bersiap-siap merekam atau memvideokan pernyataan Derly dan orang tersebut mengangguk pertanda siap.


"Yang menyuruh saya adalah tuan Awan atau Andy Setiawan."


" Om yakin tidak berbohong?"


"Untuk apa saya berbohong kalau keselamatan anak dan istri saya dipertaruhkan."


"Apa yang dia perintahkan pada Om?"


"Menjebak dan memperkosa mama kamu."


"Apa motifnya?"


"Dia ingin agar Zidane hancur melihat wanitanya hancur."


"Dan Om mau melakukan itu semua? Om tahu kalau sampai itu terjadi bukan hanya kami yang hancur tapi perasaan istri dan anak Om akan hancur."


"Tapi aku butuh uang dia untuk membayar hutang-hutang keluargaku."


"Hah." Nathan menghembuskan nafas kasar lagi-lagi karena uang.


"Apakah Om tahu kami bisa saja melaporkan om ke polisi dengan tuduhan percobaan pemerkosaan."


"Ampun jangan laporkan saya ke polisi. Saya tidak mau istri dan anak saya tahu tentang permasalahan ini. Mereka pasti akan kecewa pada saya. Saya janji kalau saya terbebas dari tempat ini tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi dan saya mau kalau harus mengabdi sama kalian. Walaupun saya tidak yakin bisa keluar dari tempat ini karena ketika tahu tuan awan ditangkap pasti anak buahnya langsung membunuh saya."


"Baiklah kami tidak akan melaporkan Om ke polisi tapi kalau sampai om macam-macam saya akan langsung menjebloskan om ke kantor polisi karena percakapan kita sedari tadi sudah direkam." Nathan langsung menutup teleponnya.


"Ayo pulang kita sudah mendapatkan buktinya." Nathan beranjak dari tempat tersebut dan menghampiri Richa dan menyerahkan ponselnya.


"Ayo balik," ajaknya pada Richa, Richi dan bu Salma.


"Lo Nathan kenapa harus balik baru saja sampai. Apakah kita tidak jadi menginap?"


"Tidak jadi. Apakah kalian tidak melihat kalau vila ini angker? Masih siang begini sudah bikin bulu kuduk merinding apalagi kalau malam."


"Ia juga ya, kenapa kita tidak sadar sedari tadi," kata Salma.


Akhirnya mereka kembali pulang ke Jakarta. Setelah mengantarkan bu Salma dan kedua anaknya Nathan tampak berpikir di dalam mobil kata-kata Derly yang yakin dirinya akan mati terngiang berputar di kepalanya.


"Apalagi Atan yang kamu pikirkan?" tanya Tristan.


"Sepertinya kita harus menjalankan rencana selanjutnya."

__ADS_1


Dion memijit pelipisnya. "Astaga apalagi yang kalian rencanakan?"


Bersambung....


__ADS_2