
"Aku serius Naura. Apa aku terlihat bercanda?" ucap Lexi sambil memegang dagu Naura dan menatap wajah gadis itu hingga membuat tatapan mereka bertemu.
Naura memejamkan mata. "Apa aku tidak bermimpi?" ucapnya dalam hati.
Melihat Naura memejamkan mata Lexi jadi tergoda untuk mencium pipi gadis itu apalagi rasa rindu masih saja menggebu.
"Om!" protes Naura sambil mendorong tubuh Lexi ke belakang.
"Naura maafin Om!"
"Ini tidak benar Om, maafin Naura kita tidak bisa bersama."
"Kenapa?"
"Karena ... karena aku tidak mencintai Om Lexi." Dengan sekuat hati menahan diri.
"Bohong! Kamu bohong kan Naura? Aku tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku kan?" Sambil merengkuh tubuh Naura.
"Tidak, aku tidak bohong. Aku hanya mencintai Kak Febri." Membuat Lexi melepaskan pelukannya.
"Naura!" bentak Lexi.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mencintai Om Lexi aku hanya mencintai kak Febri," ulangnya seperti orang yang sedang menghafal.
"Naura ku mohon jujurlah!"
"Tidak, ini tidak benar," ulangnya sambil menggelengkan kepala.
"Sekali lagi aku bertanya apakah kamu juga mencintaiku?"
"Tidak, tidak." Meracau tidak jelas.
"Kalau begitu pergilah! Aku tidak akan menggangu mu lagi," ucap Lexi sambil membukakan pintu agar Naura keluar.
"Om?"
"Pergi! Aku tidak ingin melihatmu lagi. Biarkan hubungan kita sampai di sini dan setelah ini jangan harap kita bertemu lagi!"
Melihat wajah Lexi yang diliputi amarah Naura begitu ketakutan. Buru-buru Naura keluar dan berlari ke dalam lift. Bohong kalau sekarang dia tidak sedih bahkan mungkin melebihi sakit hati Lexi.
Sampai di dalam lift Naura terduduk lemas. Menangis hanya itu yang bisa dia lakukan. Terisak sendiri di dalam lift.
"Maafkan aku Om, hiks hiks hiks. Aku memang mencintai Om Lexi tapi perasaan kita tidak bisa diteruskan. Akan ada hati yang terluka jika kita bersama, hiks hiks hiks. Tante Annete terlalu baik untuk dikhianati dan aku pun tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian, hiks hiks hiks." tangisnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Untung saja di lift dalam keadaan kosong hanya dia seorang diri sehingga dia bebas mengekspresikan kesedihannya.
Ketika lift terbuka cepat-cepat ia mengusap air matanya lalu bergegas keluar dari sana.
Sampai di luar apartemen Naura berdiri menunggu ojek online yang sudah dipesannya sedari tadi namun setelah begitu lama belum datang juga.
Dari arah belakang seorang laki-laki dengan setengah berlari menghampirinya.
"Nona Naura?"
__ADS_1
"Ia, maaf Anda siapa?"
"Tidak penting saya siapa tapi yang penting Tuan Lexi membutuhkan Nona sekarang."
"Maksud Tuan?"
"Tuan Lexi sudah terlalu banyak menkonsumsi alkohol sekarang dan Nona tahu, ginjalnya tidak bisa menerima asupan alkohol terlalu banyak karena kesehatannya bisa drop seperti dulu."
"Apa? Om Lexi minum minuman keras?"
"Ia, kalau tidak dihentikan keadaannya bisa bahaya, nyawanya bisa saja tidak tertolong dan hanya Nona yang bisa menghentikannya."
Mendengar penuturan orang di depannya segera Naura berlari kembali ke dalam apartemen.
"Kok lama sekali sih ini lift nya?" kesalnya padahal lift berjalan seperti biasa namun dirinya saja yang terlalu gelisah.
"Semoga Om Lexi tidak kenapa-apa," doanya dalam hati.
Setelah lift terbuka segera ia berlari ke dalam apartemen Lexi yang pintunya masih dibiarkan terbuka seperti tadi.
"Mana Om Lexi?" gumamnya sambil mencari-cari sosok Lexi.
Akhirnya dia menemukan Lexi sedang duduk di balkon sambil mengisap rokok. Terlihat banyak asap yang mengepul ke udara tidak beraturan menandakan perokoknya sedang depresi. Beberapa botol minuman pun terlihat sudah kosong.
"Om!" panggil Naura.
Tidak ada jawaban sepertinya yang dipanggil sedang menulikan telinga.
"Om hentikan!" teriak Naura ketika Lexi mencoba membuka botol berikutnya.
"Om hentikan jangan minum lagi, Naura mohon!"
"Apa peduli mu hem?"
"Tentu saja Naura peduli Om. Naura mohon hentikan Om. Itu bisa mengancam nyawa Om," ucap Naura seraya terisak.
Lexi menggeleng. "Buat apa Om hidup hah? Apa untuk melihatmu bahagia dengan si Febri itu? Seharusnya kamu bahagia kan kalau Om mati, jadi tidak akan ada yang mengganggu hubungan kalian lagi."
"Om jangan berkata seperti itu!" Namun Lexi tidak menggubris ucapan Naura tetap membuka botol minumannya dan hendak meneguknya.
"Om stop!" pinta Naura sambil merebut botol itu dari tangan Lexi.
"Minggir Naura!" Lexi tetap berusaha meraih minumannya. Karena tidak tahu harus apa akhirnya Naura memeluk tubuh Lexi dari belakang.
"Hentikan Om Naura mohon! Hiks hiks hiks."
Karena mendapat perlakuan seperti itu dari Naura akhirnya Lexi melemah, menoleh dan mau memandang wajah gadis itu lagi.
"Naura!"
"Ia Om?"
__ADS_1
"Apakah kamu takut kehilangan Om?"
Naura mengangguk.
"Apa itu berarti kamu...."
"Ia Om Naura ngaku sekarang Naura juga mencintai Om Lexi."
"Kenapa kamu berbohong Hem?"
"Karena aku tidak mau jadi pengganggu hubungan Om dngan Tante Annette."
"Naura aku dan Annete...." Belum selesai Lexi menuntaskan pembicaraannya ia malah tersungkur ke pangkuan Naura dan tidak sadarkan diri.
"Om! Om bangun!" ucap Naura sambil menepuk-nepuk pipi Lexi namun tidak ada reaksi.
"Om bangun!" ucapnya sambil menciumi pipi prianya dengan lelehan air mata di pipinya namun Lexi masih belum terjaga juga.
"Om bangun! Tolong!" teriaknya.
"Ada apa Nona?" Orang yang tadi menemuinya menghampiri Naura.
"Om Lexi Tuan, tolong! Hiks hiks hiks."
Lelaki itu memeriksa pergelangan tangan Lexi. "Tenanglah Nona dia masih hidup, lebih baik kita segera membawanya ke rumah sakit," ucapnya sambil mengangkat tubuh majikannya lalu membawanya ke dalam mobil. Naura tak berhenti menangis sambil mengikuti langkah laki-laki itu.
Sampai di ruangan UGD ketika seorang dokter masih menanganinya Naura masih saja terus menangis. Rasa sesal menguasai, bagaimanapun ini semua gara-gara dirinya. Bagaimana kalau Lexi benar-benar meninggalkan dirinya untuk selamanya?
"Om maafkan Naura, bertahanlah! Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri Om, kumohon hiks hiks hiks."
Dari arah berlawanan muncullah sosok Mommy Laurens yang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana keadaan anak saya Antony?"
"Dokter masih memeriksanya Nyonya dan untuk saat ini Tuan muda Lexi masih belum siuman juga."
"Bagaimana bisa dia mengkonsumsi minuman itu lagi padahal dokter sudah menyarankan agar dia tidak menyentuh minuman itu lagi," panik mommy Laurens.
"Saya tidak tahu Nyonya saya sudah mencegahnya tapi dia malah menyuruh orang lain untuk membelinya."
Mendengar pembicaraan kedua orang di depannya Naura semakin menunduk dan semakin menangis.
"Naura." Tiba-tiba mommy Laurens tersadar ada Naura di depannya.
"Tante maafkan Naura, Tante ini semua salah Naura. Kalau bukan karena Naura Om Lexi tidak akan seperti ini. Tante boleh menghukum Naura tapi ku mohon sembuhkan lah Om Lexi Tante, " ucap Naura sambil bersujud di kaki Laurens.
Laurens memandang Antony meminta penjelasan.
"Nanti saya jelaskan Nyonya."
Laurens mengangguk kemudian menatap Naura kembali.
__ADS_1
"Bangun sayang jangan begitu," ucapnya sambil membantu Naura bangun.
Bersambung....