Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 99. Mendua dengan Annete.


__ADS_3

Catatan penulis:


Hai hai para Readers tercinta dan tersayang😍sebelum melanjutkan cerita BKYM author ingin mengajak para Readers semua untuk membaca di novel pertama Author. Bantu like dan komennya ya sebab di sana sepi kayak kuburan Wkwkwk.🥱 Nggak apa-apa diintip, dibaca dikit-dikit nanti kalau tidak suka di skip aja. Terima Kasih. 🙏


🌟Happy Reading🌟


Setelah kepergian kedua orang tua Lexi Zidane langsung mengajak nenek Nisa ke ruang kerjanya agar bisa leluasa menyampaikan hal penting yang dimaksud tadi tanpa terganggu oleh siapapun.


Sedangkan Isyana segera menyiapkan bekal untuk kedua anaknya karena hari ini mereka berangkat pagi sebab ada acara di sekolah.


"Apa?!" Jadi selama ini nenek menyembunyikan Kiara sampai bertahun-tahun?" Zidane murka mendengar penuturan nenek Nisa.


"Maafkan aku Tuan sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahukan ini semua tapi saya tidak tahu harus memberitahukannya pada siapa. Saya tidak mengerti dalam keluarga Kiara siapa yang saya bisa percaya. Sedangkan bertahun-tahun aku mengawasi Tuan Andy sepertinya dia tidak pulang ke rumah sedangkan Nyonya Lana Tuan tahu sendiri kan keadaannya seperti apa? Percuma kalau saya memberitahukan kepada Nyonya Lana. Sedangkan Tuan Reyhan setiap saya ke rumahnya selalu bersama selingkuhannya bagaimana aku mengungkapkannya? Dan lagi sampai saat ini Kiara masih belum mengingat semuanya bahkan kemarin dia marah karena saya mengungkap kebenarannya," ujar Nisa dengan tertunduk.


"Jadi itu alasan mengapa selama ini kamu selalu mengawasi kediaman Tante Lana?"


"Iya Tuan darimana Tuan tahu?"


"Ada cctv di sana dan kami selalu memantaunya." Nenek Nisa hanya mengangguk mendengar penuturan Zidane.


"Kenapa tidak memberitahuku ataupun mama?" sesal Zidane.


"Aku tidak tahu alamat Tuan lagipula saya dengar hubungan Tuan dengan Tuan Andy tidak harmonis."


"Tapi kamu tidak bohong kan nenek Nisa?"


"Tidak Tuan saya bersumpah saya berkata jujur."


"Baiklah kalau begitu Nenek bisa keluar."


Setelah Nisa keluar dari ruangan kerjanya Zidane nampak berpikir. Terlalu mudah baginya untuk mempercayai semua ini tanpa ada bukti yang kuat. Dia jadi ingat ketika dirinya membuktikan bahwa si kembar adalah anaknya.


"Ya tes DNA, aku harus melakukan tes DNA sebelum mempercayai semuanya.


"Tapi bagaimana caranya? Kalau Tante Lana sih mudah saya tinggal minta rambutnya tapi Naura? Aakh lebih baik aku minta bantuan si twins kalau begini." Bergumam sendiri. Kemudian berlalu dari ruang kerjanya untuk mengantar putranya ke sekolah.


"Kak Naura mau ikut sama kami atau berangkat nanti saja?" tanya Tristan mengingat hari masih terlalu pagi untuk Naura berangkat.


"Ikut aja biar nggak merepotkan pak sopir lagian aku mau lihat-lihat persiapan di sekolah kalian dulu sebelum ke sekolah Kakak." Kebetulan sekolah Naura dan si kembar kan berdekatan.


"Oke kalau begitu ayo berangkat!" ajak Zidane sambil berjalan menuju mobil.


##


"Bagaimana Boys udah dapat rambutnya?" tanya Zidane pada kedua putranya.

__ADS_1


"Sudah Pa," jawab Nathan.


"Apakah Kak Naura tidak curiga ketika kalian meminta rambutnya?" Zidane ingin tahu alasan apa yang digunakan kedua putranya untuk meminta rambut pada Naura.


"Tidak Pa kami tidak memintanya."


"Oh jadi kalian mencurinya begitu?"


"Nggak juga."


"Terus?"


"Gampang Pa tinggal ambil yang ada di sisir Kak Naura, kebetulan rambut Kak Naura rontok," ucap Tristan sambil terkekeh.


"Ooh," ucap Zidane membulat.


"Ya sudah, kalian mau ikut papa ke rumah sakit nggak?"


"Ikut dong Pa."


"Ya sudah ayo."


Setelah melakukan pemeriksaan tes DNA dan hasilnya cocok Zidane kini bisa yakin bahwa nenek Nisa ternyata berkata jujur.


Setelah mengetahui kebenaran itu akhirnya Zidane berembug bersama Lana dan Nisa bagaimana baiknya terhadap pernikahan Naura. Kebetulan semakin hari kesehatan Lana semakin pulih dan sekarang dia mulai bisa berbicara lagi walaupun masih terbata. Zidane pikir Lana juga hilang ingatan karena selama sakitnya dia terlalu banyak mengonsumsi obat penghilang ingatan yang diberikan Belva melalui pembantunya. Namun ternyata Lana mengatakan tidak pernah mau menelan pil itu karena curiga sebab sebelumnya dokternya tidak pernah memberikan obat semacam itu padanya. Beruntungnya pembantu yang merawatnya mengerti kalau Lana tidak ingin menelan pil itu sehingga tidak memaksanya.


Kebiasaan bang Andy selalu seperti ini selalu bersikap acuh pada keluarga, bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Tante Lana sedang dia tidak bisa dihubungi seperti ini," protes Zidane dalam hati.


"Kita hubungi papanya saja, toh walaupun Andy ada di sini dia tidak bisa jadi wali untuk Ara," usul Lana. Tapi bukan itu maksud Zidane dia hanya takut Andy marah kalau tahu adik satu-satunya malah dinikahkan secara siri. Untuk menolak Zidane pun tidak tega karena mereka saling mencintai terlebih orang tua Lexi benar-benar memohon untuk merestui keduanya. Dan mengatakan trauma karena setiap menjalin hubungan Lexi selalu putus di tengah jalan. Dengan pernikahan ini mereka berharap hubungan anaknya terus langgeng.


"Baiklah kalau begitu kita temui Om Reyhan sekarang," ajak Zidane. Keduanya pun mengangguk setuju. Dan hari itu mereka berangkat ke penjara untuk menemui Reyhan dan mengabarkan putrinya akan menikah. Zidane berharap Reyhan bisa menjadi wali di pernikahan Naura. Untuk izinnya biar nanti dia yang mengurus terhadap pihak kepolisian.


Setelah pembicaraan panjang dan mendengar Ara belum pulih ingatan dan masih tidak mau mengakui kalau dirinya adalah anak dari Lana Reyhan mengambil keputusan untuk mewakilkan dirinya menjadi wali nikah kepada pak penghulu saja. Bukannya dia tidak mau hadir tapi dia takut Ara akan syok dan semakin tidak mengakui dirinya kalau tahu papanya masuk penjara. Dia takut akan mempermalukan putri satu-satunya di hari pernikahan itu.


"Lana maafkan aku ya," ucapnya kepada istrinya disela-sela pembicaraan mereka.


"Iya aku sudah memaafkan kok Pa," ucap Lana. Dia memang sudah memaafkan Reyhan tapi untuk kembali padanya rasanya tidak mungkin.


"Baiklah kalau itu keputusan Om kami pamit dulu," pamit Zidane kepada Reyhan lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Zidane!" panggil Reyhan.


Zidane menoleh. "Iya Om?"


"Aku titipkan Putri satu-satunya Om padamu ya!"

__ADS_1


"Iya Om," ucap Zidane sambil mengangguk kemudian pergi diikuti Nisa yang mendorong kursi Lana di belakang.


Hari yang ditentukan pun tiba pergelaran pernikahan Naura dan Lexi dilaksanakan secara tertutup hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan teman-teman dekat Naura.


Zidane menyuruh teman-teman Naura untuk mengabadikan momen pernikahan sahabatnya itu. Hal ini penting untuk mengantisipasi sekaligus sebagai bukti kalau terjadi masalah dalam pernikahan Lexi dan Naura kedepannya.


Meski demikian Zidane melarang foto dan video itu diunggah ke media sosial untuk menghindari orang luar tahu. Hal itu penting mengingat Naura masih berstatus siswa.


Hari itu Lexi keadaannya sudah benar-benar sehat. Dengan tegas dan lantang dia mengucapkan ijab qobulnya tanpa gugup sedikitpun. Sebenarnya Naura ingin protes ketika Lexi menyebut namanya juga nama ayahnya dengan nama orang lain tapi ia urungkan tatkala para saksi dan tamu yang hadir mengucapkan kata sah. Biarlah protesnya nanti saja batin Naura kalau perlu pernikahannya pun diulang tidak masalah toh meskipun menikah mereka tidak akan tinggal bersama.


Beberapa saat setelah ijab qobul selesai Annete menampakkan diri. Dia sebenarnya sudah diberitahu oleh Laurens tentang pernikahan putranya tetapi Annete ragu untuk hadir karena kepalanya terasa pusing.


Melihat Annete muncul segera Naura berlari kearahnya. Kemudian tanpa disangka ia langsung bersujud di kaki Annete dan mulai menangis. Melihat perlakuan Naura yang seperti itu sontak Annete menjadi kaget. Dia pun berjongkok dan berbicara pada Naura, "Ada apa Naura?" tanyanya kebingungan sambil membantu agar Naura kembali berdiri tetapi Naura malah menolak.


"Maafkan Naura Tante, Naura telah mengambil Om Lexi dari tangan Tante. Naura tidak pernah berpikir menjadi pelakor ataupun pihak ketiga dalam hubungan kalian. Tapi Naura sangat mencintai Om Lexi. Jadi Naura mohon jangan pisahkan kami ya Tante." Berkata dengan air mata yang masih bercucuran.


Memang aku ke sini mau misahin kalian apa," protes Annete dalam hati.


"Tante kalau juga mencintai Om Lexi Naura ikhlas kok berbagi cinta dengan Tante Annete. Tante Annete boleh kok menikah juga dengan Om Lexi." Annete hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Naura.


"Maaf Tante An tidak suka mengambil hak milik orang lain." Mendengar jawaban Annete Naura semakin merasa bersalah dan semakin kencang menangis. Untung para tamu sedang sibuk dengan makanannya masing-masing hingga tidak melihat adegan itu kalau tidak pasti akan memalukan.


Dari arah belakang Laurens datang dan menepuk bahu Annete. "Ada apa Net?" tanyanya keheranan melihat menantunya bersikap seperti itu pada Annete.


"Nggak tahu Tan Naura bicaranya ngelantur dari tadi."


"Memang dia ngomong apa?" Lexi yang tidak tahan akhirnya juga mendekat dan menyuruh Naura berdiri.


"Istri Lo mau gue jadi istri kedua Lo."


Dan 'pletok' Lexi menyentil dahi Naura.


"Auw, sakit Om."


Bersambung....


Jangan lupa


Like


Vote


Komentar


Hadiah

__ADS_1


Terima Kasih


🙏🙏🙏


__ADS_2