
"Om bangun! Bangun Om hiks hiks hiks. Kalau Om tidak bangun Om akan menyesal karena Naura akan kembali ke Kak Febri," ancamnya.
"Om bangun Naura kangen banget sama Om, Naura kangen kebersamaan kita. Naura kangen senyum Om," ocehnya.
mendengar ancaman Naura Lexi mulai merespon dengan menggerakkan jari jemari tangannya.
Melihat jari jemari Lexi yang bergerak membuat tangis Naura berganti senyuman di bibir. "Ternyata berhasil, akhirnya kau sadar juga Om," ucapnya sambil menggenggam tangan Lexi. "Tante Om Lexi sadar," ujarnya pada mommy Laurens.
Mendengar perkataan Naura mommy Laurens dan tuan Abraham segera menghampiri anaknya. Ada senyum yang mengembang di wajah keduanya ketika menyadari sang anak mulai sadar.
"Benarkan Mom apa yang Daddy bilang anak kita pasti sadar," ujar tuan Abraham kepada istrinya. Lega sekaligus bersyukur karena Tuhan telah mendengarkan doa-doa mereka.
"Kalau begitu mommy panggil dokter dulu ya Dad untuk memeriksanya," ucap mommy Laurens sambil berlari keluar dari kamar rawat Lexi untuk memberitahukan pada dokter.
Setelah pemeriksaan selesai dilakukan oleh dokter, dokter mengatakan bahwa keadaan Lexi mulai stabil dan pasien bisa sembuh apabila bisa menjaga pola makannya dan rutin menkonsumsi obat-obatan.
"Naura," ujar Lexi ketika menyadari gadis yang dicintainya ada di sampingnya. Dia langsung bergerak untuk duduk walaupun gerakannya terbatas karena ada selang infus yang terpasang di lengannya.
"Pelan-pelan Om," ucap Naura sambil memapah tubuh Lexi untuk membantunya duduk. Sedangkan kedua orang tuanya memilih mengamati keakraban mereka. Setelah duduk Lexi malah memeluk erat tubuh Naura. "Jangan menghindar dari Om lagi ya! Om tidak kuat berjauhan sama kamu."
"Ia Om, Om juga janji ya jangan tinggalin Naura lagi." Keduanya saling mengeratkan pelukan sambil menangis terharu tanpa peduli dengan orang-orang yang ada di sampingnya.
"Hem-hem." Laurens berdeham.
"Kalau orang lagi jatuh cinta emang benar ya lupa segalanya. Benar kata orang-orang mah serasa dunia milik berdua, sampai nggak sadar ada orang tua di sampingnya," protesnya karena sedari tadi Lexi seolah mengacuhkan keberadaan dirinya dan juga suaminya.
"Eh Mommy, sorry Mom. Lexi terlalu bahagia makanya sampai melupakan segalanya."
"Ish... kalau begitu nggak usah bahagia deh, entar amnesia lagi," canda Laurens.
"Ih Mommy jangan ngomong begitu ah, omongan itu adalah doa," protes tuan Abraham.
"Daddy kapan dateng?"
"Udah beberapa hari ini." Lexi hanya mengangguk mendengar jawaban dari tuan Abraham.
"Kayaknya rencana papa bisa Mommy terima deh," usul Laurens. Mendengar penuturan istrinya tuan Abraham menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja menjadi gatal. Padahal dirinya kan hanya bercanda.
__ADS_1
"Rencana apa Mom?" tanya Lexi penasaran.
"Segera menikahkan kalian berdua."
"Apa?!"
"Mama jangan bercanda ah Naura kan masih sekolah," protes Lexi. " Belum ada tujuh belas tahun juga," protesnya lagi.
"Naura, kapan kamu usia tujuh belas Sayang?"
"Masih bulan depan Tante."
"Ya udah Tante tunggu sampai bulan depan." Mendengar ucapan Laurens Lexi dan tuan Abraham geleng-geleng kepala sedangkan Naura menjadi gugup.
"Mommy!" protes Lexi. " Mommy tahu kan dia masih sekolah? Buru-buru amat sih," keluhnya. Bisa-bisanya mommy Laurens mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan Naura.
"Ya nggak apa-apa sayang kan kita bisa merahasiakan semuanya. Jangan sampai pihak sekolah tahu oleh karena itu kalian nikah siri aja dulu."
"Mau kan sayang menikah sama anak Tante?" Bertanya pada Naura sedangkan Naura hanya terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
"Mom entar kita disangka nggak ngehargain anak orang lagi main kawin siri segala."
"Mom nggak bisa ditunda apa?"
"Enggak bisa." Mommy Laurens ngotot. "Kalau nggak cepat-cepat nikah nanti putus lagi, mommy nggak mau kamu terus-menerus putus cinta oleh karena itu mommy ingin mengikat kalian dalam ikatan suci supaya kalian tidak akan terpisah lagi."
"Terserah mommy aja deh lebih baik tanya Naura nya saja dia mau apa nggak?"
"Bagaimana Sayang?" tanyanya beralih kepada Naura.
"Nanti Naura pikirkan dulu tante. Naura harus bicara dulu dengan nenek."
"Iya tante akan menunggu keputusanmu tapi jangan sampai bulan depan ya! Karena rencananya tante ingin menikahkan kalian di umurmu yang ke-17."
"Iya Tante," ucap Naura sambil tertunduk.
"Memang perjanjiannya apa Mom?" tanya tuan Abraham penasaran.
__ADS_1
"Pertama walaupun sudah menikah Lexi dilarang menyentuh Naura. maksud mommy menyentuh dalam artian khusus. Saya yakin kamu mengerti kan Lexi?"
"Terus apa gunanya dong Mom nikah kalau nggak boleh nyentuh?" protes Lexi.
"Kan kamu sendiri yang bilang dia masih sekolah. Nanti kalau dia sudah lulus sekolah dan kalian sudah resmi menikah secara negara baru boleh kamu menyentuh dia."
"Terus kalau Lexi sampai menyentuh apa hukumannya?"
" Itu ada pada perjanjian kedua. Kalau sampai kamu menyentuh dia sebelum Naura lulus sekolah maka separuh dari harta kita akan menjadi menjadi milik Naura dan kalau sampai dia hamil dan kamu berani meninggalkannya maka 3 per 4 dari harta kita akan menjadi miliknya, mengerti?"
"Mengerti Mommy, tapi kalau sampai dia yang meninggalkanku bagaimana?"
"Nggak ada, mommy percaya sama Naura dia nggak akan meninggalkanmu."
"Sudah Om jangan banyak bicara, masih baru sembuh juga. Mana mungkin aku meninggalkan Om?" Naura merengut.
"Iya iya aku percaya kamu setia."
"Terus apa kata Alexa nanti kalau tahu semua perjanjian ini? pasti dia protes dan kecewa Mom masa dia dapat seperempat doang."
"Sudah enggak usah pikirkan dia dia itu bukan adik kandung mu susah-susah mommy mengadopsi dia sewaktu bayi dari panti asuhan setelah bertemu orang tuanya malah kembali ke orang tuanya tanpa pamit dulu pada mommy. kamu tahu sendiri kan bagaimana paniknya mommy ketika mengetahui dia hilang?"
"Mommy kan bisa memperjuangkan hak asuhnya?"
"Buat apa? Kalau saja dia jujur dari awal ingin kembali ke orang tuanya mommy tidak akan marah dan keberatan. Mommy akan tetap membagikan sebagian harta kami untuknya, tapi sudahlah lebih baik harta mommy untuk cucu-cucu mommy saja nanti."
"Sudahlah mending kamu istirahat saja Lex biar cepat pulih biar nanti pas nikah langsung bisa cetak cucu buat Daddy."
"Daddy!" Laurens melotot ke arah tuan Abraham.
"Pokoknya nggak ada mp mp-an ya," kata Mommy Laurens pada Lexi.
Ya ampun kok pada gila sih orang tuanya Om Lexi. Bagaimana kalau aku menolak keinginan mereka? batin Naura.
"Kalau Naura tidak setuju dengan permintaan kami tidak apa-apa nanti kami carikan Lexi calon lain," ucap Laurens seolah tahu isi hati Naura.
*Kok tahu sih apa yang aku pikirkan? batin Naura. Terus apa yang akan aku lakukan? Gusar sendiri padahal Laurens kan hanya bercanda.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa vote-nya ya biar Othor semangat.๐ฅฑ Thanks you.๐*