Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis part 2. Kau Ingin Menjualku?


__ADS_3

"Jadi aku harus apa?" tanya gadis itu tertunduk, takut- takut Louis melaporkan dirinya pada polisi.


"Ya bayar lah apalagi?"


"Kan aku sudah bilang aku tidak punya uang."


"Makanya kalau tidak punya uang jangan macam-macam, banyak tingkah!" Louis geram.


"Oh jadi kamu tidak punya uang dan berniat mencuri mobil saya gitu?" lanjutnya sambil tersenyum mengejek.


"Ah tidak tidak, saya tidak bermaksud begitu saya..." ucap Nindy dengan ragu-ragu.


"Awalnya hanya ingin mengerjaimu karena sudah membuatku kesal, tapi aku keasyikan karena mobilnya enak dibuat balapan."


Louis terkejut dengan jawaban gadis di hadapannya.


"Anak motor ya?"


"Bukan anak manusia."


"Astaga ni anak jawabannya selalu bikin tensi darah naik, ya sudah ayo ikut aku," ujar Louis sambil menarik pergelangan tangan Nindy.


"Nggak mau, katakan mau ke mana dulu?"


"Sudah ikut aja jangan banyak bicara!"


"Bukan ke kantor polisi kan?"


"Bukan."


"Kamu mau jual aku ya buat biaya perbaikan mobil dan ganti rugi bapak itu?"


Louis terbelalak, ucapaan Nindy selalu membuatnya geleng-geleng kepala.


"Gadis aneh," ujar Louis sambil meraup wajah Nindy dengan kasar.


"Ih tangannya bau tempe terasi!" ujar Nindy sambil mengibaskan tangan Louis.


"Biarin aku kan memang pengusaha terasi," sahut Louis sekenanya.


"Benarkah?" Gadis itu tersenyum sumringah.


"Kenapa Lo senang, mau meledak ya?" ucap Louis dengan senyum tipis di bibir.


"Tidak."


"Terus?"


"Aku mau jadi distributor nya biar bisa cepat kaya dan bisa bayar hutang sama kamu."


Louis terkekeh "Emang ada ya pengusaha terasi yang kaya?"


"Adalah teman aku," jawab Nindy cepat.


"Kenapa tidak kerja sama dengan temanmu itu?"

__ADS_1


"Ogah istrinya cemburuan, bisa-bisa aku dituduh macam-macam."


"Sayangnya yang ku ucapkan tadi bohong, lebih baik kamu kerja yang lain saja yang lebih cepat bisa melunasi hutang-hutang kamu."


"Tuh kan kamu pasti mau menjual aku."


"Astaga anak ini, masih saja berburuk sangka."


"Terus kalau bukan itu kerja apa dong yang cepat menghasilkan uang? Apa kamu ingin mengajak aku buat ikut pesugihan?"


Louis menyentil dahi gadis tersebut, "Auw sakit."


"Biarin suruh siapa otaknya isinya kotor."


"Terus kalau bukan itu, kerja apa dong yang bisa cepat ngasilin uang?"


"Banyak, tapi buat kamu tidak perlu yang aneh-aneh cukup jadi pembantuku saja. Jika kerjamu bagus nanti aku anggap lunas hutang-hutangmu."


Nindy terbelalak. "Apa jadi pembantu?" Membayangkan saja tidak pernah apalagi harus melakukannya?


"Kenapa?"


"Aku mau kembali bekerja di hotel saja." Nindy melakukan penawaran.


"Tidak boleh. Ya sudah kalau tidak mau tidak apa-apa yang penting kamu harus segera membayar biaya perbaikan mobilku ini plus uang yang dibayarkan pada bapak bapak tadi."


"Secepatnya!" tekan Louis. "Kalau tidak kita tempuh jalur kepolisian saja."


Nindy terpanjat lalu dengan pasrah berkata, "Baiklah."


"Bagus anak manis," ujar Louis tersenyum puas sedangkan Nindy memalingkan muka sambil mencebik kesal.


Louis langsung mengajak Nindy ke dalam mobil Rifki kemudian menelpon bengkel langganannya untuk menjemput mobilnya ke tempat ini.


Sampai di depan rumah Louis langsung memanggil asistennya untuk memperkenalkan Nindy sebagai pembantu barunya.


"Mbak Mira sini!" panggilnya pada Mira asisten rumah tangga satu-satunya di rumahnya sendiri. Louis memang tidak tinggal bersama kedua orangtuanya, dia lebih memilih tinggal sendiri agar bisa mandiri.


"Mbak Mira perkenalkan ini Nindy asisten baru di rumah ini. Mulai sekarang dia yang akan membantu tugas-tugas Mbak disini." Mira pun mengangguk kemudian mengulurkan tangan pada Nindy dan Nindy pun menjabat tangan Mira.


"Mira."


"Nindy."


"Oke Mbak Mira sekarang antarkan dia ke kamarnya!" perintah Louis.


"Baik Mas Louis," ujar Mira


"Ayo," lanjutnya pada Nindy.


Nindy mengangguk dan mengikuti kemana Mira membawanya.


"Ini kamarmu semoga betah ya!" Mira meninggalkan gadis tersebut seorang diri.Kemudian beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman buat Nindy dan Louis. Walaupun Nindy juga pembantu di sana tapi Mira merasa harus menyuguhkan minuman sebagai tanda menghormati tamu karena Nindy baru datang.


Nindy memeriksa keadaan kamar yang akan di tinggalinya nanti.

__ADS_1


"Ya ampun mana mungkin aku betah tidur di kamar begini. Kamar bik Wnida saja lebih bagus dari ini.


"Kejam banget sih pria itu memberikan pembantu kamar sempit dan pengap seperti ini. Di rumahku saja kamar pembantuku dua kali lebih lipat dari luas kamar ini dan ayah sudah termasuk kejam menurutku, tapi ini oh ya ampun tambah parah."


Nindy mencoba membaringkan tubuhnya di tempat tidur. "Ah lumayan," gumamnya. Ia mencoba untuk memejamkan mata. Rasanya tubuhnya terasa pegal-pegal dan amat lelah. Dia yang biasanya tinggal menyuruh-nyuruh Pembantunya kini malah berbalik, disuruh-suruh orang lain.


"Ya Tuhan baru dua hari aku kabur dari rumah keadaan semakin kacau. Bagaimana bisa aku jadi pembantu kalau aku tidak bisa masak?" Nindy menggaruk kepalanya sendiri, dia berpikir keras agar masalahnya bisa terselesaikan. Bisa bebas dari rumah ini tanpa harus kembali ke rumahnya sendiri.


Pikirannya buntu dia tidak dapat ide sama sekali, kalau minta bantuan sama teman-temannya ia yakin mereka tidak akan bisa membantu. Kalau meminta bantuan Winda wanita itu bisa saja langsung memberitahukan keberadaannya kepada kedua orang tuanya. Kalau bertahan di tempat ini, dia akan selamanya tidak bisa keluar karena sangat yakin sang pemilik rumah tidak akan pernah puas dengan hasil kerjanya. Jangankan mengurus pekerjaan rumah nyuci piring saja dia tidak pernah.


"Akhh." Rasanya kepalanya mau pecah. Keringat mulai bercucuran di tubuhnya.


"Panas sekali sih tempat ini mana lagi AC-nya?" Pandangannya menelusuri seluruh dinding mencari keberadaan AC namun tak ditemukannya. Yang ada hanya kipas yang tergantung di dek kamar.


"Astaga, apa yang ku harapkan di tempat seperti ini," keluhnya. Terpaksa dia bangun dan menghidupkan kipas. Kemudian merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur.


"Ah kalau lama-lama begini aku bisa masuk angin." Gadis itu mendesah kesal.


Mira yang dari dapur melewati kamar Nindy tertawa kecil. Kebetulan kamarnya dalam keadaan terbuka sehingga ia menyaksikan tingkah dan ocehan Nindy. "Sepertinya dia anak orang kaya," batinnya.


"Nin ini diminum dulu pasti kamu haus kan baru dari luar." Nindy menyodorkan jus melon ke arah Nindy.


"Wah Mbak Mira pengertian, terima kasih ya Mbak."


"Iya sama-sama."


"Aku pergi dulu ya," pamit Mira sambil membawa nampan berisi satu gelas lagi jus melon.


"Gadis itu sudah tidur?" tanyanya. Kini Louis sudah tampak fresh sehabis mandi.


"Belum Mas dia ngedumel sedari tadi gara-gara kamarnya sempit dan tidak ada AC-nya."


"Biarkanlah aku suka kalau dia ngedumel seperti itu, lucu aja kayaknya, walaupun kadang bikin kesal sih."


"Maaf apa Mas Louis tidak salah merekrut pembantu seperti itu? Dari gayanya dia sepertinya tidak bisa melakukan tugas rumah tangga."


"Kan ada kamu yang bisa ngajarin?"


"Iya sih Mas tapi apakah Mas Louis yakin dia bisa..."


"Pasti bisa," potong Louis cepat.


"Iya," ujar Mira sambil mengangguk. Ngomong-ngomong Mas Louis kan hari ini nikah ya sama Mbak Angel kok pulang sendiri? Mana Mbak Angel nya?"


"Aku tidak jadi menikah."


"Loh kenapa?"


"Karena Angel tidak mencintaiku." Mira mengangguk, dia paham semuanya. Meskipun Louis adalah majikannya tapi kedekatan keduanya seperti kakak dan adik.


Mira bisa menempatkan diri tatkala Louis membutuhkannya baik sebagai pembantu maupun sebagai kakak yang selalu menjadi tempat curhatnya.


"Jadi itu alasannya kamu membawa gadis itu kemari?"


"Ia, melihat sikapnya yang suka membantah dan ngeyel membuatku sedikit melupakan kesedihan dalam hatiku dan sepertinya gadis itu bisa sedikit dikerjai."

__ADS_1


"Ih Mas Louis kasihan atuh."


Bersambung......


__ADS_2