Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Par 25. Pertemuan pertama


__ADS_3

"Otw Indonesia!" Tristan berlari ke arah Nathan. Ia sudah tidak sabar memberitahukan kepada saudara kembarnya itu.


...****************...


"Sya anak-anak dapat job di Indonesia minggu depan."


"Apa di Indonesia, minggu depan? Apakah job disini sudah tidak ada?"


"Sebenarnya masih ada tapi anak-anak lebih memilih untuk ke sana karena dia mengatakan penasaran sama negara kelahiran mamanya dan mereka meminta bantuan ku untuk menyampaikan semua ini padamu karena selama ini kata mereka kamu selalu menolak ketika mereka mengajak ke sana."


"Benarkah mereka mengatakan begitu?"


"Iya bahkan Tristan sampai nangis-nangis di depanku karena selama ini dia tidak pernah kau ajak ke sana padahal dia sangat kangen sama opanya. Katanya opanya sudah tua bagaimana kalau sampai meninggal nanti dia masih belum pernah berkunjung ke rumah opanya."


Iya ya selama ini aku selalu takut untuk pulang ke Indonesia karena takut ketemu pak Zidane tanpa berpikir perasaan ayah dan anak-anak yang hanya bisa ketemu melalu video call.


"Baiklah Lex aku minta tolong kamu urus semuanya ya! Saya harus mengurus butik dulu. Saya harus menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang tepat yang bisa di percaya selama saya tinggali. Saya juga harus berembug dengan kak Lusy dulu."


"Baiklah kamu urus masalahmu dulu biar aku yang urus tiket, Visa dan kebutuhan lainnya buat si kembar."


"Terima kasih ya Lex kamu selalu ada di samping kami walaupun saya tidak bisa membalas perasaanmu padaku. Maaf ya Lex!"


"Santai aja aku tulus kok nolong kalian karena aku suka sama si kembar. Soal perasaan, aku tahu tidak bisa dipaksakan."


"Makasih ya Lex saya doakan kamu segera mendapatkan pendamping hidup yang bisa mencintaimu dengan tulus."


"Thanks."


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Hari yang di tunggu pun tiba. Hari ini adalah hari dimana mereka harus melakukan penerbangan ke Indonesia.


"Kak aku pamit dulu ya," pamit Isyana kepada Lusy sambil menyalami tangan kakaknya itu.


Nathan dan Tristan berjalan ke arah Lusyana dan mengambil tangan Lusy untuk dicium. "Aunty kami pamit ya!"


"Aunty?" Lusy terkejut kedua anak itu memanggilnya aunty.


"Dek...,"


"Mereka sudah tahu semuanya Kak." Isyana memotong perkataan Lusy karena paham keterkejutan kakaknya.


Beralih ke anak-anak, "Kalian panggil mommy aja ya seperti semula tidak usah panggil aunty."


"Baik Ma."


"Mommy kak Darren mana?"


"Sebentar mommy panggil dia dulu."

__ADS_1


Tak lama kemudian Lusy datang bersama Darren.


"Kak kami berangkat dulu ya. Kami minta maaf selama ini selalu mengganggu kakak," ucap Tristan.


"Kakak yang harusnya minta maaf sama kalian selama ini suka marah-marah sama kalian," ujar Darren.


Dan mereka bertiga pun berpelukan. Kegiatan yang jarang dilakukan karena selama ini mereka lebih sering bertengkar. Ya selama ini Tristan dan Darren terkadang berselisih berbeda dengan Nathan yang lebih banyak diam dan mengalah.


"Kalian pamitannya kok seperti orang yang nggak mau kembali sih," tegur Lusy melihat ketiga anaknya bercucuran air mata.


Setelah menempuh perjalanan yang agak lama akhirnya Isyana, Nathan, Tristan, Lexi dan Annnete tiba di Bandara Soekarno Hatta.


Dari bandara mereka langsung menuju hotel untuk menginap.


Keesokan harinya Nathan dan Tristan harus menghadiri acara ulang tahun seorang anak dari pengusaha yang telah mengundangnya. Namun Isyana tidak bisa ikut karena merasa tidak sehat.


"Kalian pergi sama uncle Alex dan aunty Annette saja ya, soalnya mama lagi tidak enak badan."


"Oke Ma."


"Annete, Lexi, tolong temani mereka ya! Aku kayaknya masih jetlag ini, kepalaku pusing sekali."


"Baik Mbak."


"Siap Sya."


Setelah lama berjalan-jalan di taman kota akhirnya mereka memutuskan untuk pulang namun ditengah perjalanan ketika melihat nama dirgantara terpampang di sebuah gedung megah perkantoran di pinggir jalan Tristan meminta Lexi untuk menghentikan mobil mereka.


"Untuk apa berhenti di sini?" tanya Lexi.


"Aku hanya ingin berkeliling melihat gedung ini dari luar." Nyatanya yang diinginkan hatinya hanyalah melihat penampakan wajah Zidane dari dekat.


"Apakah kamu yakin? Bagaimana kalau mereka merasa tergangu dengan kehadiran kalian?"


"Tidak akan Uncle. Kami hanya akan melihat-lihat saja kami tidak akan membuat onar."


"Baiklah kalau itu keinginan kalian uncle tunggu di luar saja ya! Kalau ada apa-apa nanti kalian hubungi uncle saja."


"Baik Uncle."


Dua anak tersebut keluar dari mobil dan masuk ke dalam gerbang kantor Dirgantara sedangkan Lexi memilih mengajak Annete menunggu di cafe seberang jalan.


"Atan mana yang namanya Zidane?"


"Mungkin dia sudah di dalam Itan. Untuk apa sih kamu mencari dia sekarang, kalau mama tahu habis kita dimarahi mama."


"Ya jangan ngomong lah Atan, nanti kita minta supaya uncle Lexi sama aunty Annette tutup mulut."


"Baiklah terserah kamu."

__ADS_1


Nathan dan Tristan berkeliling di luar gedung tersebut sambil melihat-lihat.


"Wah gedungnya megah sekali ya Atan. kalau benar dia itu ayah kita berarti kita adalah anak pemimpin di perusahaan besar."


"Hus jangan terlalu berharap Itan. Pak Zidane itu belum tentu ayah kita. bisa saja ayah kita adalah Alberto yang lain."


"Hei anak kecil, apa yang kau lakukan di sini?" Tiba-tiba seorang security berjalan ke arah mereka. Kemudian disusul seorang security lain dari belakang.


"Bagaimana ini Atan, apakah kita harus kabur?"


"Kalau kita kabur pasti mereka curiga kita akan melakukan kejahatan lebih baik kita hadapi saja security itu."


"Kalian ingin berbuat jahat ya! Jangan-jangan kalian ingin mencuri."


"Tidak pak satpam kita hanya ingin melihat-lihat saja kantor ini. Karena kami punya cita-cita kalau besar nanti kami ingin bekerja di kantor ini."


"Alasan," kata salah seorang securty.


"Omong kosong!" ucap security yang lain.


"Benar pak satpam, lagipula apakah penampilan kami tampak seperti orang yang kekurangan sehingga harus mencuri?"


Kedua security tersebut menilik penampilan Nathan dan Tristan. Saat ini mereka memakai celana kain dipadu dengan hem yang di balut jas.


Benar kalau dilirik dari penampilannya kedua anak ini tidak terlihat kekurangan malah penampilannya seperti orang kaya.


Benar kalau melihat penampilan mereka malah seperti pangeran kecil.


Tapi bisa saja kan penampilan itu menipu?


Kedua security itu berdebat dalam hati.


"Hei anak kecil kami tidak akan tertipu oleh penampilan. Kalau kalian bukan pencuri pasti kalian adalah mata-mata."


"Ayo kita tangkap anak ini dan kita serahkan pada bos kita!" ajak salah satu security kepada temannya.


security yang diperintah temannya pun menangkap Tristan dan menggendongnya.


Melihat saudaranya ditangkap Nathan mulai mengambil ancang-ancang menyelamatkan Tristan. Namun sebelum Nathan beraksi Tristan mengedipkan matanya. Tristan pun membatalkan niatnya karena mengerti Tristan pasti merencanakan sesuatu.


Saat security lainnya mendekat dan ingin menangkap Nathan berkata, "Tidak perlu saya bisa berjalan sendiri!"


Nathan pun berjalan mengikuti langkah Security yang menggendong Tristan tanpa rasa takut.


"Pak kedua anak ini adalah mata-mata," lapor seorang security sambil menurunkan Tristan dari gendongannya.


Melihat orang yang dipanggil pak oleh security itu adalah Zidane segera Tristan berhambur ke dalam pelukannya.


"Huaa.. Paman bapak-bapak ini jahat kenapa mereka menganggap kami mata-mata padahal kamu bukanlah orang jahat bagaimana kami jadi mata-mata kalau arti mata-mata saja kami tidak mengerti, hiks-hiks-hiks...."

__ADS_1


__ADS_2