
"Ya aku bertemu mereka bahkan lebih parahnya aku malah juga bertemu Pras."
"Terus?"
"Tadinya aku mau menghampiri mereka tatkala melihat bunda menangisi kepergian ku. Aku mau pulang saja karena kasihan melihat bunda sedih tapi aku urungkan ketika mendengar perkataan ayah yang bertolak belakang dengan ucapan bunda. Sepertinya ayah masih percaya sama fitnah murahan itu dan juga meragukan ku, bahwa aku tidak mungkin bisa bertahan hidup di luaran sana. Aku langsung mundur tatkala mendengar itu."
"Kalau begitu aku sarankan kamu lebih giat lagi dalam belajar apapun biar tidak ada orang yang meremehkan dirimu lagi termasuk keluargamu itu."
"Kamu benar aku harus bangkit."
"Kamu bisa mulai dari belajar masak." Nindy reflek memukul tangan Louis karena lelaki itu ingin mengambil kesempatan untuk membuatnya menjadi pembantu yang sebenarnya.
"Auw," Nindy meringis kesakitan.
"Ya ampun makanya jangan bertingkah ceroboh!" Louis langsung mengusap-usap tangan Nindy berharap agar sedikit meredakan ngilu di lengannya.
"Terus si Pras itu ngapain kamu?"
"Dia...dia... mau... memperkosa ku," ujar Nindy dan langsung menangis sesenggukan.
"Dia melakukan itu karena aku tidak mau pulang dengannya agar cepat mengakui kalau aku memang menggodanya." Ia masih berbicara di tengah Isak tangisnya.
"Kau menggodanya?" Louis menganga, tak percaya gadis itu bisa melakukan itu semua.
Nindy menggeleng, "Dia yang mau menggodaku."
"Brengsek tuh orang lelaki apaan kayak dia." Louis geram sendiri.
"Dulu dia mendekat kembali pada ku setelah menikah dengan kakak tapi aku selalu menghindar darinya. Beberapa kali menggoda diriku saat orang-orang tidak ada di rumah tapi aku selalu berhasil menolaknya. Makanya suatu hari dia menjebak ku. Dia membuat kran air di kamar mandiku jadi macet sehingga terpaksa aku harus turun ke bawah untuk mandi. Setelah aku selesai dan menapaki tangga untuk kembali ke kamar tiba-tiba Pras menarik tubuhku ke kamarnya dan Langsung mengukung tubuhnya di atas ranjang. Aku tersentak, beberapa saat aku terdiam karena syok. Namun aku sadar kembali saat tangannya mulai nakal, mulai meraba-raba bagian tubuhku." Semakin deras saja kucuran air mata Nindy saat menceritakan kisahnya. Dia menyesal pernah jatuh cinta pada orang seperti Pras. Kalau saja waktu bisa diulang dia tidak akan pernah mau mengenalnya.
Louis mengepalkan tangan. "****! sepertinya lelaki itu perlu dikasih pelajaran."
"Terus kamu diam saja?"
Nindy menggeleng. "Aku memberontak tapi dia malah membalikkan posisi sehingga aku yang berada di atasnya. Bersamaan dengan itu kakakku membuka pintu dan terjadilah kesalahan pahaman. Kakakku menganggap aku yang menggoda suaminya."
Flashback On.
"Pras lepaskan!" Terdengar suara Nindy memohon dengan nafas yang sudah terengah-engah karena sedari tadi berusaha melawan Pras.
"Ayo lepaskan sendiri sayang kalau bisa," suara Pras terdengar penuh gairah. Matanya memandang lapar pada gadis itu.
__ADS_1
Lisfi yang kembali sebab lupa membawa berkas laporan keuangan karena mendengar suara samar-samar dari dalam kamar menempelkan telinganya di daun pintu.
Deg.
Jantung Lisfi seketika berpacu lebih kencang dua kali lipat.
Pras selingkuh? Wanita mana yang Pras bawa dalam kamar? Pantas saja dia tadi menyuruh ku berangkat duluan ke kantor dengan alasan ada kepentingan lain. Ternyata dia membawa masuk wanita lain. Dan apa tadi, dia menyuruh wanita itu untuk melepaskan pakaian sendiri?
"Ya Tuhan apa yang mereka lakukan?" Lisfi reflek menutup mulutnya dan menggeleng tidak percaya.
"Pras kau tidak takut apa kalau kelakuanmu ini diketahui kak Lisfi? ataupun bunda?" Nindy berkata sambil terus mencoba melepaskan pegangan tangan Pras.
"Kamu tenang honey bunda sudah pergi bersama teman arisannya dan kakakmu sudah pergi ke kantor, jadi kita bisa bebas di sini."
"Pras aku tidak mau!"
"Ayolah!"
Brak!
Lisfi membuka kasar pintu kamar saat samar-samar terdengar ada suara wanita di dalam kamarnya bersama sang suami.
Kedua orang yang berada dalam ruangan terperanjat. Pras langsung mendorong tubuh Nindy.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku hah!" bentak Lisfi, dia murka melihat tubuh Nindy menindih tubuh suaminya.
"Kakak ini tidak seperti yang kau lihat." Nindy mencoba untuk menjelaskan. Namun Lisfi mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda dia tidak mau mendengar penjelasan dari Nindy. Tadinya dia pikir wanita yang di dalam bukanlah Nindy. Dia sangat kecewa, kecewa karena ternyata wanita yang telah berani bermain serong dengan suaminya itu adalah adiknya sendiri.
"Ini semua sudah jelas. Apalagi yang harus kamu jelaskan?"
"Kak ini tidak seperti yang kakak pikirkan. Aku hanya melawan saat dia melakukan hal tidak senonoh padaku. Aku tidak salah kak, aku tidak salah dia yang mau memperkosa ku."
" Cih, Jangan percaya sayang itu semua tidak benar. Dia yang berusaha menggoda ku. Kalau memang aku yang mau memperkosa dia ngapain aku lakukan di kamar kita, kenapa tidak aku saja yang ke kamar dia? Ini malah dia yang masuk ke kamsr kita dengan alasan sangat merindukanku."
Mata Nindy membulat sempurna mendengar pengakuan Pras. "Bohong kak itu tidak benar, dia berdusta." Wajah Nindy tampak berurai air mata.
"Jujurlah kamu yang menggoda aku kan? Kamu bilang kamu yang lebih berhak atas diriku dibandingkan Lisfi karena sebelum menikah dengannya aku adalah milikmu."
"Hentikan ocehanmu itu Pras! Aku tidak pernah menggoda mu. Kau saja yang menjadi manusia tidak tahu diri, serakah!" bentak Nindy geram. Bisa-Bisanya Pram membalikkan fakta.
"Tapi sayang, bukankah selama ini memang dia yang mengejar-ngejar saya. Apakah kamu masih mau percaya pada dia? Dialah yang mencoba menggoda saya."
__ADS_1
"Tidak Kak ini fitnah aku tidak pernah menggoda..."
"Hentikan!!!" Lisfi berteriak histeris. Suaranya memenuhi seluruh ruangan dan terdengar hingga keluar rumah.
Pak Ramli yang menunggu Lisfi di garasi akhirnya memutuskan turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Ia mencari dari mana sumber suara teriakan tadi. Sesaat kemudian dia melihat Lisfi menangis di depan pintu. Pak Ramlan segera menghampirinya.
"Ada apa Lis?"
"Ayah lihat saja sendiri, mereka selingkuh!" tunjuknya pada Pras dan Nindy.
Pak Ramlan terperanjat tubuhnya hampir terjungkal ke belakang.
"Nindy apa yang kau lakukan di kamar kakakmu?"
"Aku... aku hanya..."
"Dia memintaku untuk kembali padanya Yah." Mulut Pras yang busuk berkata seenaknya.
Pak Ramlan menggeleng tidak percaya ternyata cinta Nindy pada Pras begitu besar sampai-sampai ia nekat menggoda Pras saat tidak ada orang di rumah.
Pak Ramli mengingat bagaimana dulu Nindy memohon padanya untuk membatalkan pernikahan kakaknya dengan Pras saat-saat ia diopname di rumah sakit karena jatuh dari motor balap Dika, sahabatnya. Pak Ramlan menghela nafas berat, seandainya saja waktu itu dia tidak tahu bahwa Lisfi hamil dia tidak mungkin akan memaksa Pras untuk menikahi Lisfi, tapi bagaimanapun dia tidak bisa membenarkan tindakan Nindy kali ini.
"Nindy keluar!" perintah pak Ramli.
"Dan ayah mohon jangan pernah mengganggu rumah tangga kakakmu lagi," lanjut pak Ramli.
"Ayah juga tidak percaya padaku?" Air mukanya terlihat kecewa.
Brak!
Nindy menutup secara paksa pintu kamar Lisfi kemudian keluar dari kamar kakaknya dan langsung menuju kamarnya sendiri dan menguncinya dari dalam. Dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Wajahnya dia telungkupkan di atas bantal dan langsung menangis sesenggukan.
"Ya Tuhan kenapa kau berikan ujian sesakit ini?"
Tok tok tok.
Terdengar pintu diketuk dari luar.
"Safa buka pintunya!" Nindy tidak menjawab, kekecewaannya sudah terlalu besar untuk sang ayah.
"Safa buka pintunya!" Nindy tidak bergeming masih saja terus menangis di tempatnya. Karena melihat sang anak tidak merespon pak Ramli akhirnya memutuskan untuk kembali ke kantor dan menelpon sang istri untuk segera kembali ke rumah. Sedangkan Lisfi tampak bertengkar hebat dengan Pras di dalam kamarnya.
__ADS_1
Bersambung.....