Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 138. Tiket Ke Surga


__ADS_3

"Annete menghembuskan nafas panjangnya. "Duta aku... aku mohon maaf tidak bisa kembali padamu."


"Kenapa Net, apakah kamu masih sakit hati padaku?"


"Jujur aku masih kecewa sama kamu tapi untuk sakit hati rasanya sudah tidak lagi. Aku sudah ikhlas kok. Bukankah kamu sudah menjalin hubungan dengan Ruri ya?"


"Kami sudah putus karena ternyata pandangan kami tidak searah dan ternyata di belakang ku Ruri telah menjalin hubungan dengan orang lain."


Annete menghela nafas "Aku turut simpati terhadap masalahmu tapi maaf Duta aku tidak bisa kembali. Kamu carilah wanita yang bisa setia terhadapmu. Jadikanlah semua ini pelajaran dalam hidupmu. Jangan pernah memandang orang lain dengan martabatnya apalagi mengaitkan masa lalu orang tuanya. Karena kamu tahu biji mangga akan tetap tumbuh menjadi mangga tapi belum tentu rasanya asam seperti induknya bisa saja tanaman itu berbuah jauh lebih manis karena tumbuh di lahan yang berbeda."


Mendengar ucapan Annete Duta merasa tertohok. "Net apakah kau masih tersinggung dengan ucapan ku tempo dulu? Maafkan aku ya Net."


"Sudahlah Duta semua sudah ku maafkan, maaf aku harus mengambil barang-barangku di dalam," ucap Annete sambil menepuk pundak Duta.


Duta bangkit dari duduknya." Kalau begitu aku pergi ya Net."


"Iya, hati-hati ya Duta," ucap Annete sambil melangkah ke dalam kamar sedangkan Duta pergi dengan membawa rasa kecewanya.


"Sudah keliling-kelilingnya?"


"Sudah Aunty, itu tadi siapa?"


"Oh itu? Cuma teman Aunty," jawab Annete sambil memasukkan baju-bajunya yang kemarin ia tinggal ke dalam koper tak lupa membawa syal pemberian ayahnya.


"Kami pikir kekasih Aunty."


"Nggaklah aunty masih jomblo," jawab Annete sambil terkekeh.


"Mengapa kayaknya kita dikelilingi orang jomblo ya Atan? Nathan hanya mengangkat kedua bahunya.


"Mama jomblo, uncle Lexi juga, sekarang aunty Annete juga, hemm."


"Sudah yuk kita balik aunty sudah selesai ini." Keduanya pun menurut beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar rumah.


Sampai di rumah Isyana menyiapkan segalanya. "Besok kita berangkat!"


Semalaman Annete gelisah di kamarnya dia tidak sabar ikut si kembar ke negara kelahirannya. Annete benar- benar kangen dengan suasana di sana meskipun sudah pasti berubah karena sudah bertahun-tahun dia tidak pernah berkunjung ke Indonesia.


Esok pagi ketika semua sudah bangun Annete malah masih tertidur pulas, mungkin karena semalaman tidak bisa tidur.


"Aunty bangun dong nanti kita ketinggalan pesawat," ucap Tristan sambil mengguncang-guncang tubuh Annete. Annete bangun seketika karena kaget. "Pukul berapa sekarang Itan?"


"Nih lihat sendiri," ujar Itan sambil menyodorkan ponselnya.


"Apa, sudah siang!" Annete kaget lalu bangkit dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Dia merasa tidak enak pada Isyana takutnya gara-gara dia mereka benar-benar ketinggalan pesawat. Sedangkan si kembar tertawa di ranjang karena telah berhasil mengerjai Annete. Ternyata mereka telah mengubah setelan jam di ponselnya.


"Kenapa kalian baru bangunin aunty sekarang sih!" protesnya sambil melangkah ke arah ranjang dengan bathrobenya.


Untung pakaian si kembar udah aku masukin koper semalam.


"Habis Aunty susah dibangunin, dari tadi dibangunin tapi tidak bangun-bangun."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kalian keluar dulu ya soalnya aunty mau ganti baju." Keduanya mengangguk lalu keluar kamar.


Beberapa saat kemudian Annete keluar kamar dengan kopernya dan menghampiri Isyana di ruang tamu.


"Sudah siap Net?" sapa Isyana.


"Lo kok Mbak Syasa belum siap?" Annete malah bingung melihat Isyana masih memakai pakaian rumahan.


"Kan berangkatnya nanti baru jam 9 sekarang kan masih jam lima?"


"Apa?" Annete langsung saja menoleh ke arah jam yang menempel di dinding. Benar saja masih jam lima. Annete masih tidak percaya dia menarik gorden kaca dan melihat suasana di luar. Ternyata memang benar masih pagi.


"Ternyata mereka menjahili ku, awas kalian tak lapor sama mama kalian," batin Annete bibirnya tersenyum simpul.


"Kamu kenapa sih Net, gercep banget kayak nggak sabaran gitu."


"Bukan begitu Mbak tapi tadi si kembar membangunkan ku katanya sudah siang harus siap-siap untuk berangkat kalau tidak bangun segera kita bisa ketinggalan pesawat. Mereka bilang sudah pukul delapan."


"Nathan, Tristan!" panggil Isyana terhadap kedua anaknya.


Rasain kalian berani menipuku.


"Ia Ma."


"Kenapa kalian membohongi aunty Annete?"


"Kerjaan Itan itu Ma." Nathan tak mau ambil pusing.


"Kenapa kalian bilang sama aunty sekarang pukul 8?"


"Siapa yang bilang Ma, orang aunty sendiri yang lihat jamnya. Mungkin saja Aunty salah lihat Ma kan baru bangun tidur bisa saja penglihatannya masih kabur. Itan tadi nggak bilang jam berapa kan Aunty?"


Ya ampun nih anak masih bisa aja ngeles.


"Tapi kalian yang bilang bentar lagi pasti ketinggalan pesawat, ayo ngaku," ujar Annete gemas.


"Maksudku pesawat ke surga, kan bentar lagi waktu subuh hilang tuh jadi aunty Annete bisa ketinggalan pesawat."


"Tristan!" ucap Annete geram. Sedangkan Isyana dan Nathan tertawa-tawa.


"Udah ah aunty ke kamar dulu, nanti setelah itu aunty mau masak aja, kan masih ada waktu ya Mbak?"


"Sudah kamu sholat saja sana nanti langsung makan bareng aku sudah pesan online tadi."


"Bisa nitip tiketnya dulu nggak Mbak?" canda Annete.


"Nggak bisa harus sholat sendiri," jawab Isyana membuat Tristan tersenyum menang.


"Oke Mbak siap," jawabnya sambil berlalu pergi.


.......

__ADS_1


"Bagaimana semua sudah siap?"


"Siap Mbak."


"Siap Ma uncle Lexi sudah menunggu di mobil sama pak sopir.


"Oke kita berangkat!"


"Tunggu Ma."


"Ada apa lagi sih Itan?"


"Mama nggak punya gaun yang cocok ya buat aunty Annete?"


"Emang kenapa?"


"Bosen Ma lihat aunty pakai celana sama kaos terus-terusan, nggak cantik."


"Awas ya kalau nanti pas sudah dewasa kamu tidak dapat istri cantik!"


"Aku nggak mau nikah aunty kalau nanti istriku tidak cantik."


"Ngomong apa sih Itan?" protes Isyana. "Tunggu mama mau ke dalam dulu buat ambil gaun."


"Tidak usah Mbak," cegah Annete.


"Nggak apa-apa kebetulan kemarin aku bawa dari butik tapi kayaknya nggak cocok sama aku, mending buat kamu aja."


"Tuh kan Itan kamu ngerepotin mama kamu tuh jadinya."


"Tidak apa-apa Aunty yan penting Aunty bisa cantik kayak teman aunty yang kemarin di makam."


"Kemarin? Di makam?" Annete tampak mengingat. "Angel maksud kamu?"


"Ya benar Aunty Angel."


"Masa sih Aunty harus dandan norak kayak gitu?"


"Nggak norak Aunty itu namanya cantik."


"Iya-iya deh terserah kamu. Nggak sabar Aunty nunggu pengen lihat istri kamu kayak apa nanti."


"Hem Itan masih kecil Aunty, aunty aja yang sudah dewasa


belum nikah-nikah masa Itan disuruh cepat-cepat nikah," gerutu Tristan sedangkan Nathan hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan sang adik.


"Ini Net tapi dipakai nanti di sana saja ya soalnya kalau sekarang takut telat."


"Baiklah Mbak terima kasih banyak," ujar Annete sambil menerima gaun tersebut dari tangan Isyana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2