
Mendengar perkataan Anisa, tubuh Adrian luruh ke lantai sedang Adel menangis histeris. "Itu tidak benar, aku anak ayah kan Bunda?"
"Iya sayang, bunda yakin Adel anak ayah. Adel tidak perlu sedih lagi ya." Annete berkata sambil memeluk Adel dan mengusap-usap punggungnya sedang Adel hanya mengangguk mendengar perkataan Annete.
Namun melihat Adrian yang masih belum bangkit dari duduknya di lantai, Adel menjadi gusar kembali. Ia merosot dari rengkuhan Annete dan beranjak ke tempat Adrian.
"Ayah katakan kalau dia berbohong," tunjuknya pada Anisa namun Adrian tidak menjawab dia masih syok dengan pengakuan Anisa. Adrian sama sekali tidak mendengar perkataan Adel dan Tatapan matanya tampak kosong.
"Ayah katakan kalau dia berbohong, hiks...hiks ..hiks!" ucap Adel sambil terus menguncang tubuh Adrian.
"Mas!" tegur Annete karena Adrian masih belum merespon juga perkataan Adel namun Adrian masih terus diam. Bayangan masa silam saat Anisa tidak menginginkan kehadiran Adel memenuhi memori otaknya.
"Sini sayang!" Adel tak menjawab dia terus saja menangis di samping Adrian. Annete berjalan ke arah Adel lalu menggendongnya.
"Aku mau pengakuan ayah."
"Ia sayang nanti yah ayah masih syok itu."
"Bagaimana kalau aku memang bukan anak ayah?" ucap Adel sambil memejamkan mata, ia berusaha menahan sesak di dalam dadanya.
"Tidak mungkin sayang kamu itu pasti anak ... Del, Del!" Annete menepuk-nepuk pipi Adel yang tiba- tiba tak sadarkan diri.
"Mas Adel, Mas!" ucap Annete pada Adrian namun Adrian belum sadar juga dari lamunannya.
"Ini semua gara-gara kamu, kalau sampai terjadi sesuatu sama Adel aku tidak akan pernah memaafkan mu dan kamu harus bertanggung jawab!" ancam Annete pada Anisa. Wajahnya memerah karena
amarah.
"Ada apa ini ribut-ribut?" manager cafe yang melihat keributan langsung menghampiri mereka.
"Anak buah Bapak telah membuat anak saya jadi begini. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya saya akan menuntut tempat ini."
"Mas! Aaargh!" Annete kesal karena Adrian belum merespon juga.
Annete segera membawa Adel keluar dari cafe tersebut. Dia harus cepat-cepat melarikan Adel ke rumah sakit.
"Tunggu!" manager cafe memanggil Annete. "Kami akan bertanggung jawab, ayo saya antar ke rumah sakit." Annete mengangguk kemudian mengikuti manager tersebut dan berjalan tergesa-gesa.
__ADS_1
Setelah Annete hilang dari pandangan barulah Adrian tersadar. "Annete, Adel kalian dimana?"
"Maaf Pak istri Bapak sedang membawa putri bapak ke rumah sakit," jawab seorang karyawan di sana.
"Adel, ada apa dengan dia?" Adrian mulai khawatir dan segera menyusul Annete ke rumah sakit sedangkan Anisa yang ingin menyusul juga, ditahan oleh karyawan yang lain. "Jangan cari penyakit, kamu tahu kan akibat ulah kamu tadi?"
"Tapi dia itu putri saya."
"Ah, jangan beralasan!"
...****************...
"Bagaimana keadaan putri saya Dokter?"
"Sampai saat ini putri Dokter belum sadar juga. Sepertinya ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya. Seharusnya Dokter bisa menjaga suasana hati putri Dokter mengingat dia masih belum sembuh total dari penyakitnya."
Adrian memijit pelipisnya mendengar perkataan dokter tersebut.
"Ya sudah dokter Adrian saya permisi dulu," ucap dokter tersebut sambil menepuk pundak Adrian kemudian berlalu pergi dan Adrian hanya menjawab dengan anggukan karena hatinya begitu kalut untuk menjawab.
"Aaaaargh...." Adrian memukul tembok.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Adel, Mas?" Annete berucap sambil mengusap air matanya yang seakan tidak mau berhenti mengalir.
Adrian tidak menjawab dia hanya merengkuh tubuh Annete dan menangis bersama. Tubuhnya bergetar, Adrian benar-benar takut ucapan Adel saat di hari pernikahannya dengan Annete benar-benar menjadi momen terakhir dirinya menggendong Adel karena Adel akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Jangan tinggalkan ayah Del, ayah mohon."
"Mas Adri aku minta jangan meragukan Adel lagi ya!" Adrian tidak menjawab dia memilih diam larut dalam kesedihannya sendiri.
"Aku yakin mbak Anisa itu berbohong. Adel itu pasti anak Mas Adri. Apakah Mas Adrian tidak melihat kemiripan wajah kalian? Mas, Adel itu pasti anak kamu."
"Semoga dugaanmu benar," Jawab Adrian.
"Amin."
Beberapa saat kemudian seorang perawat memanggil Adrian. "Dokter Adrian ayah dari Adel?"
__ADS_1
"Iya Sus, ada apa?"
"Pasien sudah sadar dan memanggil nama Anda." Adrian mengangguk kemudian berlari masuk ke dalam ruangan diikuti Annete dari belakang.
"Adel apanya yang sakit sayang?"
"Tidak ada Yah, cuma di sini begitu terasa sesak." Adel menunjuk dadanya sendiri.
"Maafkan ayah ya sayang." Adel mengangguk.
"Kalau misalnya aku bukan anak ayah, apa yang akan Ayah lakukan? Apakah Ayah akan meninggalkan Adel? Apakah Ayah akan menyesal karena telah merawat dan berkorban banyak untuk Adel?"
"Tidak sayang, kamu ngomong apa sih? Ayah pasti akan tetap sayang sama Adel. Bagaimanapun kita pernah melalui masa-masa sulit dan bahagia bersama. Meskipun Adel bukan darah daging ayah sekalipun tapi ayah kan sudah menganggap Adel anak ayah, mana mungkin ayah meninggalkan Adel sendiri."
"Bunda juga, akan terus bersama Adel meskipun seumpama ayah mundur untuk menjaga Adel tapi bunda tidak akan mau melepas Adel ataupun berpisah dengan Adel. Selamanya Adel akan menjadi anak bunda."
Adel mengangguk. "Terima kasih ya Ayah, Bunda. Kalian memang orang baik, tidak salah Tuhan menitipkan Adel pada kalian. Kalau begitu kalian boleh melakukan tes DNA pada Adel seperti pada Nathan dan Tristan dulu, asalkan ayah janji tidak akan menyerahkan Adel pada wanita itu kalau memang Adel bukan anak ayah."
"Ayah tidak akan melakukannya. Biarlah kita menjadi ayah dan anak seperti dulu. Kita lupakan perkataan bunda Nisa ya?"
"Apakah itu berarti ayah takut kalau Adel memang bukan anak ayah?"
Adrian serba salah di satu sisi dia ingin tahu sebenarnya Adel anaknya atau bukan tapi di sisi yang lain dia tidak mau perasaannya terhadap Adel akan berubah kalau ternyata Adel memang bukan anaknya walaupun dia sudah berjanji pada Adel tidak akan berubah. Benar kata Adel, Adrian takut mengetahui kenyataan yang tidak diinginkannya. Untuk hal ini dia benar-benar pengecut.
"Tes DNA nya lain kali aja ya sayang, saat ini ayah belum siap," ucap Adrian.
"Iya lain kali aja ya sayang, bunda yakin Adel juga belum siap kan?" sambung Annete.
"Tapi bunda, Adel ingin segera tahu apakah wanita itu jujur ataukah berbohong. Aku ingin pengakuan ayah yang sebenarnya kalau aku memang benar-benar anaknya bukan cuma anak yang diadopsi olehnya."
"Iya sayang bunda juga penasaran tapi jangan sekarang ya. Kasihan tuh ayah kamu dia masih syok. Memang kamu siap kalau seumpama dokter mengatakan kalau kalian bukan anak dan ayah?"
Adel menggeleng. "Adel hanya siap kalau dokter mengucapkan kalau kami anak dan ayah."
Annete mengusap kepala Adel. "Kalau begitu tunggu sampai kalian berdua siap dengan apapun jawabannya."
Adel hanya mengangguk lemah.
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐