
"Baiklah kalau begitu antarkan aku pulang sekarang," ucap Lisfi seraya bangkit dari duduknya.
Pria itu pun bangkit, menyusul Lisfi yang telah lebih dulu keluar dari tempat tersebut.
"Ayo masuk!" ucap pria tersebut tersenyum sambil membukakan pintu mobil. Lisfi balas tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.
Pria itu menutup pintu mobil kembali lalu memutar langkah untuk masuk di pintu mobil yang di sebelahnya lalu duduk di belakang kemudi dan bersiap-siap untuk menyetir.
"Kita pergi sekarang!" seru pria itu sambil menstater mobilnya lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Alamat rumahmu mana?"
"Rumahku di Jakarta. Di sini aku hanya tinggal di kosan."
"Oh begitu ya? Oke tidak masalah, sebutkan alamatnya!"
Lisfi mengangguk lalu menyebutkan alamat kosannya.
Beberapa saat mobil memutar-mutar di jalanan hingga akhirnya berhenti di sebuah restoran Eropa.
"Loh kok berhenti di sini?" heran Lisfi bukankah pria tadi mengatakan akan mengantarkannya langsung ke kosan.
"Kita makan-makan dulu, aku sudah lapar. Kamu temani aku makan ya! Kamu pasti juga belum makan malam kan?" Lisfi mengangguk dalam hati bersyukur. Lumayan kan dapat tumpangan makan gratis.
"Belum."
"Ya sudah ayo masuk." Sekali lagi Lisfi mengangguk lalu langsung masuk ke dalam restoran. Sampai di dalam pria tersebut langsung memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Kamu pesan apa saja yang kamu mau sebab aku tidak tahu makanan kesukaanmu," ucap pria tersebut sambil menyodorkan buku menu kepada Lisfi.
"Apa saja?" Lisfi tak percaya, dia begitu bahagia serasa ada yang memperhatikan dirinya kembali setelah Pras memilih bersikap dingin terhadapnya. Dia kemudian terbayang-bayang wajah Pras.
"Ayolah Lisfi jangan pernah mengingat pria itu lagi. Apalagi pria itu sudah mendekam di penjara. Sebaiknya kamu bercerai saja dengannya setelah balik ke Jakarta," batin Lisfi.
"Iya apa saja, kamu tenang saja kamu tidak perlu membayar, aku yang traktir."
"Baiklah terima kasih." Lisfi menerima buku menu tersebut dan mencari-cari sekiranya makanan apa yang bisa diterima lidahnya. Setelah memesan makanan mereka kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti tadi.
Selesai makan mereka kembali ke mobil. Lisfi pikir pria itu mau langsung mengantarnya ke kosan, tapi dugaannya salah pria itu malah membawanya ke toko perhiasan.
"Kamu mau beli perhiasan?" tanya Lisfi penasaran.
__ADS_1
"Iya besok ulang tahun kakak Perempuanku, bisakah kamu mencarikan kalung yang bagus untuknya?"
Wah baik banget nih pria, sampai sama kakaknya pun perhatian banget. Aku yakin kalau dia punya pacar bakalan romantis tidak seperti Pras yang sedikit acuh.
"Oh begitu ya? Bisalah."
Mereka masuk ke dalam toko.
"Kalau begitu mana yang menurutmu lebih bagus, ini atau yang ini?" pria itu menyodorkan dua kalung yang sama-sama bertahtakan batu berlian.
Lisfi terbelalak kaget ternyata orang yang berdiri di depannya kini benar-benar orang kaya. Bukan cuma mobilnya yang mewah tapi sekarang ia melihat sendiri bagaimana orang ini memang memiliki banyak uangnya.
"Cantik, sama-sama cantik tapi yang ini lebih cantik karena modelnya simple tidak terkesan terlalu glamor."
"Lebih cantik yang ngomong," ucap pria tersebut hingga membuat Lisfi tersipu malu.
"Tapi kakakku suka yang glamor- glamor," ucap pria itu lagi.
"Kalau begitu ambil yang ini saja," ujar Lisfi sambil menyodorkan kalung yang ada di tangan kanannya.
"Baiklah."
"Mbak tolong bungkuskan ini semua!" perintah pria itu pada penjaga toko.
"Ini Mas," ucap pelayanan toko tersebut. Setelah pria itu membayarnya, pria itu langsung mengajak Lisfi keluar dari toko perhiasan.
"Kok dibeli semua sih, percuma dong kita pilih-pilih tadi." Lisfi melayangkan protes seharusnya kalau dibeli semua tidak perlu membanding-bandingkan dua kalung itu tadi, langsung saja bungkus semuanya.
Pria itu tersenyum lalu berkata, "Kakakku suka yang ini karena penampilannya memang glamor tapi kamu suka yang simpel-simple kan?"
"Mak ... sudnya? tanya Lisfi gugup bercampur penasaran.
"Ini buatmu," ucap pria tersebut sambil menyodorkan salah satu kalung tersebut.
"Aku?" Lisfi kaget, sama sekali tidak mempercayai itu. Pras saja yang sudah menjadi suaminya tidak pernah membelikan perhiasan untuknya tapi pria yang baru dikenalnya ini malah membelikan dirinya kalung yang harganya tidak terbilang murah.
"Iya ini untukmu, katanya kamu suka model yang simpel."
Lisfi menggeleng masih tidak percaya dengan semuanya.
"Ayo ambil!" Pria itu meletakkan perhiasan itu di tangan Lisfi. "Sudah kadung dibeli mubadzir kalau tidak ada yang memakai."
__ADS_1
Lisfi mengambil perhiasan itu. "Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama."
Setelah sampai di mobil segera pria tersebut melajukan mobilnya kembali untuk mengantar Lisfi ke tempat kosannya.
"Tidak mau masuk dulu?" tanya Lisfi menawarkan pria tersebut untuk singgah sebentar di kosannya setelah itu ia turun dari mobil.
"Tidak lain kali saja," tolak Pria tersebut.
"Baiklah kalau begitu aku masuk dulu ya."
"Oke, tapi lain kali kalau ku ajak keluar mau ya!" pinta pria itu.
"Pasti," ujar Lisfi sambil melangkah masuk ke dalam rumah sambil bersenandung kecil karena bahagia. Dia tersenyum memandangi kotak perhiasan yang kini ada di tangannya. Dalam hati berpikir bagaimana caranya agar ia dapat menjerat pria tersebut ke dalam pelukannya. Kalau ia sampai berhasil maka pekerjaan yang ditawarkan Mala sepertinya tidak perlu ia ambil karena dengan memiliki pria tersebut dia dapat bersantai ria tanpa memikirkan kekurangan uang lagi. Duduk manis menjadi seorang Nyonya, begitu impiannya.
Sedangkan Pria tersebut setelah melajukan mobilnya kembali langsung mendapat telepon dari Mala.
๐ฑ"Ya Mala?"
๐ฑ"Aku sudah membantu mendekatkan dirinya padamu, aku minta kamu jangan sampai membuat kesan bahwa aku menjual dirinya padamu. Mengerti?"
๐ฑ"Oke sayang kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku tahu bagaimana caranya bermain cantik jadi kamu jangan terlalu khawatir, namamu aman di tanganku."
๐ฑ"Terus apa yang selanjutnya akan kamu lakukan terhadap wanita itu?"
๐ฑ"Kepo amat, pedekate dulu lah biar dapat hatinya."
๐ฑ"Cih, jangan bilang kamu tertarik padanya dan malah menjadikan dia istri simpananmu."
๐ฑ"Pinter, itulah memang tujuan awalnya, kamu tahu kan penjual makanan sebelum menjual makanannya harus dicicipi lebih dulu, siapa tahu kurang garam, iya nggak?" pria itu terkekeh.
๐ฑ"Emang dia makanan? Dasar lelaki hidung belang jangan-jangan barang jualan malah habis dimakan sendiri." Mala geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang satu ini.
๐ฑ"Bukan urusanmu! Buatmu yang penting bayaranmu lancar 'kan?"
๐ฑ"Nah itu yang penting. Sudahlah terserah kamu mau ngapain dia yang penting jangan pernah bawa-bawa namaku di depannya."
๐ฑ"Oke siap, lagian ada barang bagus masa dianggurin, 'kan Mubadzir."
๐ฑ"Bilang saja kamu tergoda karena dia cantik 'kan?"
__ADS_1
๐ฑ"Ya-ya kamu memang benar tapi sepertinya dia juga tergoda padaku, jadi jalanku sepertinya lebih mudah untuk menjeratnya. Ha ha ha...," ucap pria tersebut dengan tawa yang terdengar keras di telepon membuat Mala langsung menutup teleponnya.
Bersambung....