Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 149. Pulang


__ADS_3

Setelah drama Naura yang meminta Annete untuk menikah juga dengan Lexi di pernikahannya selesai, Laurens menghampiri Annete untuk menyampaikan permintaan maafnya karena selama ini telah berburuk sangka pada Annete.


"Nak Annete maafkan Tante ya sudah berprasangka buruk terhadap Nak Annete, saya pikir Nak Annete seperti ibu Nak Annete ternyata Tante salah. Nak Annete adalah wanita baik-baik."


"Saya sudah memaafkan kok Tante. Saya maklum atas kekhawatiran Tante terhadap masa depan Lexi kalau sampai ia hidup bersama saya. Tapi asal Tante tahu saja saya memang dilahirkan dari rahim perempuan itu namun saya tidak akan pernah mewarisi sifatnya karena semenjak bayi saya tidak pernah mendapat pengasuhan dari dia."


Mendengar perkataan Annete Laurens semakin bersalah rupanya perkataannya tempo hari di rumah sakit sangat menusuk ke dalam hati Annete. Bagi Annete tak masalah Laurens tidak merestui hubungannya dengan Lexi toh ia pun belum yakin dengan perasaannya sendiri. Tapi alasan Laurens yang membuat Annete sakit hati.


"Maafkan aku ya Nak. Tante tidak bermaksud menyakitimu." Laurens berucap sambil mengusap-usap punggung Annete.


"Iya Tante jangan terlalu dipikirkan. Kapan Tante pulang?"


"Mungkin lusa ada apa?"


"Annete ikut ya Tante kebetulan Annete juga ingin pulang."


"Kamu yakin mau pulang?"


Annete mengangguk.


"Ya sudah kita pulang bareng lusa."


"Terima kasih Tante. Kalau begitu aku ke sana dulu ya Tante?"


"Silahkan!"


Annete lalu menghampiri Lexi dan menyampaikan keinginannya untuk pulang, bagaimanapun Annete masih menganggap dia itu sahabatnya terlepas dari hubungan mereka yang kandas.


"Ada apa Net, katanya mau bicara?"


"Iya, aku ke sini selain ingin menghadiri pernikahan kalian sekaligus ingin pamit pada semuanya termasuk sama kamu dan Naura."


"Pamit? Kamu jadi pulangnya?"


Annete mengangguk.


"Apakah kau yakin ingin mundur?"


"Iya Lex disini peranku sudah tidak dibutuhkan lagi. Si twins sudah memilki orang tua lengkap dan Adel pun sebentar lagi juga punya orang tua yang lengkap jadi ini saatnya aku pergi. Biarkan aku menata hidupku sendiri tanpa membenani siapapun."


"Kalau itu sudah keputusanmu, aku bisa apa?" ujar Lexi.


"Tapi apakah wanita itu masih terus mengganggu mu?" lanjutnya.

__ADS_1


"Selama aku ada di sini ia berkata 'akan mengusik hidupku' jadi biarkanlah aku pergi."


"Hufft," Lexi menarik nafas panjang "Kalau itu yang terbaik untukmu maka lakukanlah."


"Aunty mau pulang?" Si twins kaget mendengar keinginan Annete untuk pulang.


"Iya sayang kalian berdua kan sudah bahagia jadi sekarang giliran Aunty untuk mencari kebahagiaan sendiri."


"Kami tidak bisa bertemu Aunty lagi dong."


"Kata siapa? Nanti kapan-kapan Aunty ke sini buat jenguk kalian dan kalau kalian main ke rumah mommy Lusy jangan lupa ya mampir ke rumah Aunty."


"Iya Aunty." Annete pun memeluk keduanya dengan erat.


"Baik-baik ya sama


mama papa di sini. Aunty doakan kalian selalu sehat, bahagia dan sukses selalu."


"Terima kasih Aunty kami juga doakan semoga Aunty cepat mendapatkan kebahagiaan."


"Terima kasih sayang."


"Adel sama Om dokter sudah diberitahu Aunty?"


"Benar Aunty?" tanya keduanya tak percaya.


"Iya."


"Tunggu! Apa kamu pikir Yuna sama Adrian ada hubungan?" tanya Isyana mencoba menebak arah pembicaraan Annete. Karena Isyana melihat akhir-akhir ini Yuna begitu dekat dengan Adrian dan Adel.


"Akh...semoga saja dugaan ku salah," ucap Isyana dalam hati.


"Nanti Mbak Syasa akan tahu sendiri."


"Oh iya aku nitip ini buat Adel ya, nanti kalian ngasihnya pas Aunty udah pergi ya jangan sekarang."


"Iya Aunty."


"Dan ini untuk kalian," ucap Annete sambil menyodorkan kado ke arah keduanya.


"Apa ini Aunty?"


"Kalian boleh buka kalau penasaran." Keduanya mengangguk lalu membuka kado tersebut.

__ADS_1


"Lucu Aunty," ucap keduanya serempak setelah mengeluarkan dua lampu meja berbentuk kartun dari dalam kotak kado.


"Itu bisa kalian jadikan lampu tidur atau lampu belajar nantinya. Jadi pas kalian tidur atau belajar kalian ingat bahwa Aunty selalu menemani kalian," ucap Annete sambil menahan air matanya. Mengapa rasanya begitu berat mengingat dirinya akan meninggalkan Nathan dan Tristan yang sejak dulu sudah mewarnai hidupnya.


"Aunty terima kasih," ucap keduanya sambil memeluk kembali tubuh Annete dengan air mata yang bercucuran seolah mereka akan berpisah untuk selamanya.


Sepulang dari pernikahan Lexi-Naura, Annete langsung menyiapkan diri. Baju-baju sudah siap dia kemas ke dalam koper hanya meninggalkan beberapa baju yang akan dia pakai dua hari ini. Masalah pasport Laurens yang katanya akan mengurus semuanya sebagai permintaan maaf padanya.


Dua hari kemudian Annete benar-benar di jemput oleh Laurens di rumah Atmaja. Setelah berpamitan pada Atmaja mereka langsung menuju bandara. Hari itu Isyana beserta si kembar menghampiri Annete dan ikut mengantarkan ke bandara. Begitupun dengan Lexi dan Naura yang ikut mengantar kepulangan orang tuanya.


"Hati-hati Mom, Dad, Net," ucap Lexi dan Naura pun melakukan hal yang sama.


"Makasih sayang, kamu baik-baik ya sama istrimu. Ingat pesan Mommy apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan," nasehat Laurens.


"Siap Mom."


"Iya Lex," jawab Annete.


"Kalau Lexi macem-macem lapor mommy ya!" Sekarang Laurens berbicara pada menantunya.


"Iya Mom."


"Jangan lupain kami ya Aunty," ujar Nathan.


"Pasti sayang."


"Aku pergi ya Mbak," kata Annete sambil menjabat tangan Isyana.


"Hati-hati ya Net, jangan lupa kalau sudah sampai kabari Mbak."


"Insyaallah Mbak."


"Ya sudah kamu pergi sana sepertinya pesawat yang akan kamu tumpangi sudah akan berangkat."


"Iya Mbak."


"Ayo Net," ajak Laurens dan mereka pun melangkah ke arah pesawat. Dan meninggalkan kenangan yang ada di negara ini. Ketika pesawat sudah lepas landas, Annete menyandarkan bahunya di kursi pesawat. Mencoba menutup matanya barangkali dia bisa tertidur tapi kenyataannya bayangan Adel yang menangisi kepergiannya terpampang jelas di matanya seolah itu kejadian nyata. Annete menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Mengapa rasanya begitu sesak.


"Maafkan Tante Del, Tante tidak bermaksud meninggalkan mu. Semoga kelak kalau kita bertemu kau sudah dalam keadaan sembuh dan bahagia," batin Annete. Semoga dengan kehadiran bundamu itu membuat keluargamu utuh kembali dan kamu dan ayahmu menjumput kebahagiaan kalian lagi," batin Annete sambil berusaha memejamkan matanya kembali. Tidak lama kemudian dia pun tertidur karena memang merasa lelah, bukan cuma lelah fisik tapi lelah batinlah yang paling mendominasi.


"Selamat tinggal Indonesia, selamat tinggal semuanya."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak: Like, Vote, Komentar, dan hadiahnya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2