Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 90. Maaf.


__ADS_3

"Nggak semangat ah kalau nggak ada yang dukung."


"Tenang Om aku yang bakalan dukung Om," ucap Naura sambil melirik ke arah Lexi dan Annete.


"Oke siap kalau begitu."


"Papa mau ikut juga?" tanya Isyana pada Alberto yang ikut nimbrung.


"Ia udah lama Papa nggak dengar suara kehebohan mama kamu," ujar Tuan Alberto.


"Mas kamu udah siap?"


"Aku harus ikut sayang?"


"Ya iyalah Mas wajib ikut."


"Ku pikir karena sudah banyak yang ikut aku bebas," ucap Zidane sambil menepuk jidat.


"Hahaha...niatnya mau jadiin kita tumbal nggak tahunya dia tidak bisa menghindar," cibir Louis.


"Ya udah deh kalau begitu."


"Gimana sudah siap semuanya?"


"Siap."


"Terus suporternya Louis siapa?"


"Biar kami Ma yang nyemangatin Om Louis, kasihan dia jomblo," ledek Tristan membuat semua orang tertawa.


"Cih yang lain juga banyak yang jomblo kok," kesal Louis.


"Emang salah Tristan ngomong begitu?" protes Dion.


"Ya salah lah orang tiap malam aku ada pasangan."


"Sudah-sudah, jangan berdebat! Kalau sudah peraturannya adalah siapa yang paling banyak mengupas buah nanas dan kupasannya rapi dialah yang menang. Oke!"


"Oke."


Isyana mulai berhitung satu, dua, tiga dimulai...!"


Semua peserta mengambil nanas dan pisau yang sudah disediakan dan mulai mengupas buah nanas satu persatu.


"Curang ah masak pisau yang ku pegang tumpul."


"Enak aja Dion, semua pisau baru aku pesan kemarin dan sudah dicek semuanya tajam."


"Ayo Mas jangan banyak ngomong nanti kamu kalah," protes Isyana sedangkan Zidane hanya nyengir sambil menimang-nimang buah nanas yang dipegangnya. Sedangkan Laras hanya tersenyum melihat ke arah putranya. Dia ingat sedari kecil Zidane tidak suka sama buah nanas dan merasa geli dengan bulu-bulu kecilnya itu yang akan terlihat ketika dikupas.


"Ayo Pa semangat jangan kalah sama yang muda-muda." Laras menyemangati suaminya.


"Dri kamu juga nggak boleh kalah."


"Om Louis jangan patah semangat kami selalu mendukung mu!" ucap Nathan.

__ADS_1


"Pokoknya Om harus menang percuma dong Naura dukung kalau Om Edrick kalah."


"Tenang girl Om pasti menang jangankan menguliti nanas menguliti wanita pun Om jago."


Naura cekikikan mendengar penuturan Edrick, "Om lucu ya emang manusia itu sapi bisa dikuliti."


"Maksudnya yang dikuliti itu pakai ... eits ada anak kecil," ucapnya sambil menutup mulut dan melihat ke arah si kembar."


"Kenapa berhenti Om?"


"Takut ditiru sama mereka."


"Enak aja dia tuh anak aku, ya pastilah alim macam aku nggak mungkin sesat kayak kamu."


"Ia benar si twins kan hasil kealiman kamu," ledek Louis.


"Iya-iya benar," ucap Edrick membenarkan.


Sambil mengupas nanas Edrick selalu menggoda Naura membuat pipi Naura bersemu. Edrick yang memang suka bercanda selalu saja membuat Naura bisa tertawa dengan gombalan recehnya. Membuat Naura melupakan sekejap akan masalah hidupnya. Sedangkan Lexi memandang tidak suka ke arah mereka.


Setelah satu jam berlalu akhirnya lomba berakhir. Isyana menghitung dan memeriksa hasil kupasan mereka. Setelah menimbang-nimbang ternyata buah terbanyak dan kupasan yang paling rapi adalah milik Edrick otomatis pemenangnya adalah dia.


"Ya Papa kalah," ujar Laras kecewa padahal dia supporter yang paling heboh dari tadi.


"Ya buang-buang tenaga aja ya Tante," sambung Vania.


"Kan cuma seru-seruan sayang."


"Mas kamu dari tadi kok nggak berhasil ngupas satupun sih," protes Isyana.


"Oh."


"Alah badan segitu takut sama ulat. Terus sekarang aku dapat hadiah apa?"


"Emang kamu maunya apa?"


"Gimana kalau Naura buatku aja?"


Zidane melempar nanas ke arah Edrick. "Enak aja dia bukan barang, jangan macem-macem kamu sama dia," ancam Zidane.


"Kayaknya dia udah bosen sama yang dewasa," ujar Louis sambil terkekeh.


"Jangan mau Naura! Dia mah suka cocok tanam sembarangan," timpal Yuna.


"Kenapa sih para orang dewasa dari kemarin-kemarin ngomongnya selalu bercocok tanam, pada mau jadi petani apa ya?" heran Tristan, membuat Zidane menggaruk kepalanya sedangkan yang lainnya tertawa lepas.


"Daripada kamu sama dia mendung sama si twins," tambah Yuna lagi.


"Kalau sama mereka berdua mah aku sudah lama jatuh cinta," ujar Naura sambil merangkul bahu kedua anak tersebut.


"Ayo Kak Naura kita bakar-bakar daging! Bibi-bibi sudah menyiapkan segalanya."


"Yuk." Mereka melangkah menjauhi para orang dewasa.


"Naura gimana tawarannya, maukah kau jadi pacarku?" tanya Edrick dengan suara berteriak karena jarak Naura sudah mulai menjauh.

__ADS_1


"Sorry Om aku tidak deman om-om!" Biarlah munafik sedikit biar hati puas pikirnya.


Melihat Naura semakin menjauh Lexi menyusul Naura.


"Mau kemana Lex?" tanya Annete.


"Ada urusan sebentar."


"Naura aku mau bicara," ucapnya setelah sampai ke tempat Naura berada.


"Bicara saja Om." Sok cuek padahal jantungnya berdetak tak karuan.


Lexi memandang Nathan dan Tristan. "Om mau bicara berdua saja sama kamu, boleh kita ke sana?" Menunjuk suatu tempat.


"Maaf Om Naura tidak bisa, Om lihat sendiri kan Naura lagi sibuk," ucapnya ketus sambil membolak-balik daging.


"Om kalau mau bicara di sini aja kalau nggak Om boleh pergi."


Nathan dan Tristan hanya memandang mereka dengan penuh tanya dalam hati.


Karena Lexi diam Naura melangkah pergi namun tangannya dicekal oleh Lexi.


"Mau Om apa sih?"


"Kenapa kamu menghindar dariku akhir-akhir ini?"


"Ya Tuhan kenapa orang ini begitu tidak peka? Aku takut cemburu Om, aku juga takut masih berharap padamu, aku takut perasaanku semakin dalam dan tak terkendalikan apabila aku masih bersamamu. Aku bukan seorang teman yang bisa dengan santai melihat kebersamaan kalian." Bicara dalam hati.


"Jawab Naura kenapa?"


"Itu cuma perasaan Om saja."


"Tidak itu bukan cuma perasaanku tapi itu kenyataannya."


"Terus Om maunya apa?"


"Jujurlah ada apa?"


Naura memejamkan mata. "Itu karena ... karena aku sudah punya pacar jadi aku tidak ingin dia cemburu sama Om." Terpaksa berbohong.


"Apa kamu bilang? Sudah punya pacar?"


"Ia Om."


Mendengar perkataan Naura Lexi melepaskan pegangannya. Dan kesempatan itu digunakan Naura untuk berlari ke kamarnya.


"Apa benar dia punya pacar?" batin Lexi.


"Kenapa hatiku sakit? Bukankah seharusnya aku bahagia gadis yang selama ini aku anggap adikku sendiri telah memiliki kekasih? Seharusnya aku senang dia sudah memiliki pelindungnya sendiri? Jadi dia sudah tidak membutuhkan diriku lagi?" Lexi menekan dada lalu meraup wajahnya dan kembali bergabung dengan yang lainnya.


Sedangkan Naura kembali menangis di kamarnya.


"Maafkan aku Om aku terpaksa berbohong, aku tidak ingin kau mengganggu hidupku lagi. Ini yang terbaik buat kita. Kalau aku masih dekat sama Om aku takut akan mengganggu hubungan kalian."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2