Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 104. Siasat si Kembar


__ADS_3

Sepulang sekolah si kembar langsung mendekat ke arah opanya yang kini sedang termenung memandangi burung merpati yang sedang berada dalam sangkar dan sedang digantung di depan beliau.


"Opa kenapa kok sepertinya lagi sedih?" tanya Tristan sambil duduk di samping Alberto yang sedang menopang dagu diikuti Nathan yang ikut duduk di sebelah opanya.


"Opa cuma sedih aja karena sore nanti opa akan berpisah dengan binatang kesayangan opa ini," tunjuknya pada merpati di depannya.


"Kenapa harus berpisah, apakah akan dijual?" tanya Nathan masih penasaran dengan sikap opanya.


"Akan disate," jawab Alberto datar.


"Kok disate sih kalau Opa sayang?"


"Permintaan Papa kalian. Katanya cucu opa pengen makan sate, merpati ini," ujar Alberto sambil menatap tajam kearah cucunya membuat mereka salah paham.


"Bukan saya Opa," ucap Nathan sambil mengangkat kedua tangannya persis sepeti tersangka yang menyerah pada polisi.


"Bukan juga saya Opa." Tristan pun mengikuti gerakan kakaknya.


"Siapa yang nuduh kalian?"


"Terus kalau tidak nuduh kami kenapa Opa memandang kami seperti itu?" Bagi mereka pandangan opanya terlihat horor di mata mereka.


"Ah tidak, Opa hanya berpikir aja apakah ketika mengandung kalian mama kalian ngidam yang aneh-aneh seperti sekarang?"


"Ngidam? Oh jadi ini keinginan si dedek?"


"Siapa lagi Itan kalau bukan dia, tapi kata mommy Lusy ketika mama mengandung kami berdua tidak banyak permintaan Opa. Ya cuma sekedar pengen mangga muda sama makanan khas negeri ini tapi pada saat itu beruntung teman Daddy Edward membuka restoran Indonesia di sana jadi mudah lah dapatnya," jelas Tristan.


"Ooh, gitu ya," ucap Alberto sambil mengusap-usap rambut kedua cucunya.


"Emang apa istimewanya si Opa burung ini? Saya lihat kok ya seperti burung merpati biasa. Kenapa Opa kelihatan sangat sayang?"


"Ini memang merpati sayang tapi termasuk jenis racing pigeon. Dia sudah tiga kali opa ikutkan lomba dan selalu menang. Kamu tahu mobil yang Opa pakai?"


"Tahu Opa," ucap keduanya sambil mengangguk.


"Itu Opa beli dari hadiah yang Opa dapat dari perlombaan, gimana Opa nggak sayang sama burung itu kalau dia sudah membanggakan Opa di kalangan para pengusaha pencinta burung."


"Opa tidak bercanda kan? Masa lomba ajang balap burung hadiahnya bisa buat beli mobil." Tristan tak percaya.


"Iya itu kan lombanya internasional, pesertanya dari berbagai negara."


"Jadi burung ini mengalahkan burung yang lain yang dari berbagai negara?" Sekarang Nathan yang bertanya. Alberto hanya mengangguk.


"Berarti harganya akan mahal dong Opa kalau dijual? Sayang dong kalau disate." Nathan mengangguk-angguk menandakan setuju dengan pertanyaan adiknya.


"Ya pasti mahal lah dulu aja opa belinya 1,2 milyar apalagi sekarang dia sudah terbukti selalu menang dalam ajang balap."


"Apa?!" Keduanya menganga mendengar nominal yang disebutkan opanya.

__ADS_1


"Sebenarnya Opa tidak peduli dengan harganya hanya saja burung yang kecepatan terbangnya tinggi seperti itu sangat langka dan beberapa orang yang memiliki burung seperti ini tidak mau menjualnya," ucap Alberto sedih.


"Kalau begitu nggak usah disate lah Opa biar kita cari burung yang lain aja buat disate kan sayang Opa." Jiwa pelit kedua anak itu meronta-ronta. Apalagi ketika melihat rona sedih wajah opanya mereka merasa tidak tega.


"Janganlah, biar Opa tidak apa-apa. Opa kan hanya pengen memandang burung ini puas-puas sebelum berpisah. Nanti kalau keinginan mama kalian tidak dituruti mau kalian punya adik yang ileran?"


"Ah itu kan hanya mitos Opa, dalam ilmu ilmiah itu tidak ada bukti sama sekali."


"Tapi semalam Papa kalian memohon-mohon sama Opa dan Opa sudah janji sama papa kalian untuk mengizinkan burung ini supaya disate."


"Kan kita bisa menukarnya dengan burung merpati lain Opa."


"Jangan nanti Papa kalian kecewa kan papa kalian sekarang lagi menggebu-gebu tuh pengen nurutin keinginan ngidam mama kalian. Kalau ditukar papa kalian pasti curiga karena dulunya memang dia sering mengamati burung ini," ucap Alberto pasrah.


"Akh ternyata Opa sama Papa sama saja nggak adil, dulunya pas mama hamil kami nggak ada yang nurutin sekarang pas lagi hamil dedek semua diturutin," ujar Tristan cemberut ke arah opanya. Pura-pura iri padahal dalam hati hanya kasihan sama opanya.


"Jadi kalian iri? Opa nggak ada maksud beda-bedain kalian. Kalau dulu opa tahu pasti opa cari mama kalian dan nurutin permintaan ngidamnya tapi sayangnya papa kalian tidak memberitahukan pada Opa. terus Opa harus apa dong?"


"Cari burung merpati lain yang mirip Opa lalu kita tukar dengan yang ini dan burung yang ini kita sembunyikan dulu."


"Baiklah kalau itu mau kalian saya akan menyuruh pak Agus untuk mencarinya tapi kalau nanti adik kalian ileran jangan salahkan opa ya!"


"Oke, siap Opa."


Alberto pergi menghampiri pak Agus sedang keduanya cucunya tersenyum sambil tos.


"Iya Atan tapi kalau dedek nanti benar-benar ileran kamu yang tanggung jawab."


"Enak aja ini kan ide kamu Itan jadi kamu yang harus tanggung jawab."


"Semoga tidak ya Atan, bismillah."


Mereka berdua pun tertawa lalu masuk ke dalam rumah dan segera berganti pakaian di kamar kemudian menyusul opanya ke ruangan pak Agus.


"Bagaiman Pak apakah ada yang sama?" Tuan Alberto tak yakin ada yang sama dengan merpati miliknya karena susunan bulunya yang unik dan berbeda dengan yang lain.


"Sebenarnya ada Tuan punya majikan teman saya tapi hanya bentuk dan bulunya saja yang sama tapi kalau kecepatannya saya pikir masih jauh dari merpati milik Tuan."


"Tidak apa-apa kami tidak butuh kecepatannya."


"Harganya berapa paman?" celoteh keduanya.


"Karena cuma memenangkan lomba balap tingkat nasional kemarin ada yang menawar lima puluh juta tapi orangnya tidak mau melepas kalau tidak seratus juta," jawab pak Agus.


"Baiklah tidak apa-apa ambil saja kalau memang sama."


"Sekarang Tuan?"


"Iya sekarang sebelum Zidane pulang burung itu sudah ada di sini."

__ADS_1


"Buat apa sih Tuan emangnya den Zidane mau ikut miara racing pigeon juga?"


"Bukan untuk dipiara tapi buat disembelih dijadikan sate."


"Apa?!" Pak Agus syok dan kedua anak kecil itu hanya menertawakannya.


"Ya sudah sana pak Agus berangkat!" perintah Alberto.


"Baik Tuan." Pak Agus segera bergegas menuju rumah majikan temannya dengan hati yang dongkol.


"Gila merpati mahal-mahal pengen disate kenapa tidak mencari yang seratus ribuan aja kalau kelebihan uang mah tinggal diamalkan aja sama pak Agus pasti pak Agus dengan senang hati siap menerimanya." Dia tidak tahu saja kalau tidak ada merpati yang ini pasti merpati yang lebih mahal yang jadi korban.


Sore hari Zidane dan Isyana menghampiri kandang burung dan menjemput burung tersebut untuk disembelih. Isyana sepertinya sudah tidak tahan menyantap burung tersebut terbukti dengan air liurnya yang seakan menetes dari tadi.


"Pa terima kasih ya sudah mengizinkan," ucap Zidane pada Alberto sambil mengamati merpati di tangannya dia terlihat begitu senang.


Sedangkan Alberto hanya terpaku menatap Zidane, sebenarnya dia tidak tega membohongi putranya. Ingin rasanya dia jujur saat ini dan biarlah merpati yang harganya seratus juta aja yang dia pelihara tapi kedua cucunya tidak berhenti menatapnya sedari tadi membuat dia urung mengatakan yang sebenarnya.


"Pa, apakah papa masih kepikiran?"


"Ah nggak," ucap Alberto tersadar.


"Makasih ya Pa," ucap Zidane lagi.


"Iya."


Setelah disembelih Zidane segera menyerahkan kepada pembantunya untuk menyate burung tersebut. Isyana yang sudah tidak tahan mengikuti pembantunya ke dapur dan ikut membantunya.


Setelah sate selesai di bakar bi Ina menyajikannya ke meja makan bersama nasi dan sambalnya. Seperti biasa Zidane selalu menemaninya istrinya menyantap makanan yang diinginkan Isyana saat hamil. Sedangkan si kembar mengintip dari jauh sambil tertawa-tawa.


"Hmm, enak banget Mas satenya, Mas mau nyoba?" tawar Isyana sambil menyodorkan sate ke mulut suaminya namun Zidane menggeleng.


"Makanlah itu kan khusus buat kamu."


"Hmm, benar-benar enak sate burung ini aku baru kali ini nyoba," ucap Isyana sambil mengunyah makanannya.


"Iyalah enak masa burung yang harganya 1,2 milyar nggak enak." Zidane keceplosan.


"Apa?!" Isyana kaget mendengar ucapan Zidane lalu tiba-tiba saja kerongkongannya tercekat untung saja dia tidak pingsan. Dia pikir karena bentuknya yang sama sekali tidak menarik burung itu harganya murah.


"Mas kok nggak bilang sih kalau harganya mahal? Pasti Papa kecewa deh sama Syasa," protes Isyana. Dia merasa tidak enak sama mertuanya.


Kedua putranya menghampiri Isyana. "Opa ikhlas kok Ma katanya demi dedek," ucap Tristan sambil tertawa.


Aneh mengapa mereka tertawa?batin Isyana.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.💖

__ADS_1


__ADS_2