
Beberapa tahun berlalu kini Annete sudah menginjak dewasa sekarang dia sudah bersekolah di High School kelas akhir malah dia sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Duta.
Lelaki tampan keturunan bangsawan berkebangsaan Indonesia adalah lelaki yang telah berhasil merebut hatinya sejak kelas 1 kini tengah sah menjadi kekasihnya.
Annete begitu bahagia bagaimana tidak dia bahkan bisa mendapatkan lelaki tersebut padahal hampir semua siswa perempuan di sekolah tersebut nge-fans pada Duta, namun lelaki tersebut lebih memilih melabuhkan hatinya pada gadis cantik dan pendiam itu.
Namun suatu hari kebahagiaan itu runtuh seketika tatkala ada salah satu teman di sekolah itu yang tahu akan masa lalu orang tuannya. Wanita itu pernah tinggal sekampung bahkan dulu pernah sekelas dengan Annete ketika tinggal di Indonesia.
Wanita bernama Gita tersebut sangat menyukai Duta tapi tiap kali dia tebar pesona untuk mencari perhatian Duta, lelaki itu sama sekali tidak mengindahkannya. Karena tidak bisa mendapatkan perhatian Duta wanita itu malah melampiaskan kekesalannya pada Annete.
"Hai anak pelakor, sombong banget sih karena bisa dapatin Duta!" labrak Gita sambil menarik kursi yang akan diduduki Annete. Annete yang hendak duduk pada kursi di kantin itu tiba-tiba jatuh ke lantai karena tidak sadar kursinya sudah berpindah tempat.
"Aw, sakit!" pekik Annete sambil mengusap-usap bokongnya.
"Apaan sih Git main narik-narik kursi segala!" bentak Angel salah satu teman Annete.
"Ini baru awal ya kalau dia berani dekat-dekat dengan Duta lagi maka aku pastikan dia akan menderita," ujar Gita menggertak.
"Huh takut!" ucap Angel meledek sedang Annete hanya diam saja memilih tidak menjawab.
"Ku peringatkan sekali lagi Jauhi Duta!" ancamnya pada Annete lalu berjalan menjauh dari mereka.
"Namanya juga sudah pacaran ya pantes dong kalau dekat!" ujar Angel sedikit berteriak karena kesal.
"Biarin saja deh Gie anggap aja suara tadi itu suara angin," jawab Annete santai.
"Bagaimana kalau dia benar-benar melakukan ancamannya?"
"kita lihat saja sampai dimana dia kuat melakukan setiap ancamannya."
Karena setelah itu Annete tetap tidak menggubris perkataan Gita, masih saja dekat-dekat dengan Duta maka Gita benar-benar menerapkan ancamannya. Dia selalu berusaha mencelakakan Annete. Sepeda matic milik Annete yang pertama menjadi incarannya. Setiap hari tidak pernah bebas dari perlakuan Gita yang membuatnya kempes, namun semakin dia mengempeskan ban motor Annete malah membuat Duta semakin menghabiskan waktunya dengan Annete. Dia suka membantu mendorong motor Annete ke bengkel bahkan Duta menganjurkan supaya Annete tidak membawa motor setiap hari ke sekolah karena dia yang akan mengantar jemput kekasihnya itu.
Karena melihat Duta semakin lengket sontak membuat Gita semakin panas. Dia pun melancarkan aksi sakit hatinya dengan berbagai macam cara. Apalagi kata-kata Duta yang mengancam dirinya karena ketahuan bahwa dialah yang membuat ban sepeda Annete selalu bocor selalu terngiang-ngiang di telinganya.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu mengempesi ban sepeda Annete maka aku akan mengempesi perutmu!"
Suatu hari Gita berpura-pura meminta maaf pada Annete dan bertamu ke rumahnya. Annete yang sama sekali tidak mencurigainya percaya saja dengan kata maafnya. Dia menerima Gita di rumahnya begitu saja dan mereka berbaur layaknya sahabat dekat. Kebetulan saat itu Annete sedang membantu ayahnya membuat kue, Gita pun ikut membantu.
"Net tolong kamu oven ya! Ayah mau ambil gula di toko untuk bikin adonan selanjutnya."
"Iya Ayah," ujar Annete yang kini standby di depan oven sambil memasukkan loyang ke dalamnya sedangkan Gita membantu memasukkan adanon yang sudah jadi ke dalam cetakan.
Ketika Annete sedang fokus memasukkan loyang ke dalam oven saat itu Gita beraksi dengan cepat dia memasukkan racun ke dalam adonan kue dan segera mengaduknya. Annete yang sama sekali tidak curiga meneruskan mengoven adonan yang sudah dimasukkan ke dalam cetakan oleh Gita tersebut.
"Kira-kira bagaimana rasanya ya Ayah?" tanya Annete kepada sang ayah yang baru kembali dari luar. Johan memang begitu lama kembalinya karena ternyata stok gula di tokonya habis jadi terpaksa dia membeli di luar. Pasalnya kue yang dibuat hari ini adalah kue dengan varian baru jadi Annete begitu penasaran.
"Dicicipi aja barangkali rasanya kurang pas kasih tahu ke Ayah ya kurang apa?"
"Oke Ayah," ucapnya sambil meraih kue yang baru keluar dari oven. "Aw panas!"
"Ambil yang sudah dingin saja jangan yang panas nanti lidahmu melepuh," goda sang ayah.
"Enakan yang panas Yah lebih gurih," ucap Annete sambil meniup-niup lalu memasukkan kue ke dalam mulutnya.
"Git ayo cicipi enak loh!" ujar Annete sambil mengunyah kuenya.
"Nggak Net aku tidak suka ngemil takut gendut." Alasan Gita padahal dia takut dirinya terkena racunnya sendiri.
"Aku pulang ya Net soalnya dari tadi ibu sudah chat nih aku disuruh pulang," lanjutnya.
"Iya hati-hati ya Git."
"Iya." Gita cepat-cepat beranjak dan pergi, dalam hati merasa ketakutan karena melihat Annete yang mengkonsumsi makanan itu padahal dia hanya ingin meracuni pelanggan di toko ayahnya Annete agar mereka tidak kembali membeli kue di toko itu. Ia hanya ingin membuat toko itu bangkrut bukan ingin membunuh Annete.
Setelah Gita pergi tiba-tiba saja Annete merasa pusing dan ingin muntah.
"Kamu kenapa Net?" tanya Johan khawatir melihat Annete memegang kepala dan perutnya sambil meringis.
__ADS_1
"Perutku sakit Yah dan ingin muntah," ujar Annete sambil berjalan ke kamar mandi. Sampai di sana dia langsung memuntahkan isi perutnya dan kemudian pingsan.
Melihat Annete pingsan Johan menjadi panik. Dia langsung menelpon taksi dan segera membawa Annete ke rumah sakit.
"Bagaimana Dok keadaan anak saya?" tanya Johan pada sang dokter setelah dokter itu keluar dari ruang periksa. Johan begitu gelisah sedari tadi takut terjadi sesuatu pada putrinya.
"Anak Anda keracunan makanan Pak," ucap sang dokter.
"Apa! Keracunan makanan?" ucap Johan keheranan pasalnya hari ini Annet tidak keluar rumah dan tentunya makanan yang dimakan masakan yang ada di rumahnya sendiri bagaimana mungkin dia bisa keracunan pikir Johan dalam hati.
"Mungkin anak Bapak membeli makanan dari luar Bapak bisa membawanya ke sini nanti saya akan memeriksanya," ucap sang dokter.
"Tidak setahu saya anak saya hari ini tidak pernah membeli makanan dari luar dia hanya mencicipi kue yang kami buat sendiri, mana mungkin Dok keracunan padahal saya sudah teliti menggunakan bahan-bahannya."
"Bapak bisa membawanya ke sini nanti."
"Baik Dok tapi bagaimana kondisi anak saya?"
"Anak Anda baik-baik saja kami sudah memberikan obat untuk menetralkan racunnya. Untung saja Bapak segera membawanya ke sini kalau tidak mungkin saja nyawa anak Bapak tidak dapat tertolong."
"Iya Dok terima kasih bisa saya melihat anak saya sekarang?"
"Mari silakan Pak."
Johan masuk ke dalam ruangan dan melihat Annete sudah tersadar. dia bisa bernafas lega sekarang.
"Ayah!" panggilnya.
"Annete Ayah takut kehilangan kamu Nak," ucap Johan sambil merangkul bahu sang anak.
Annete tidak akan meninggalkan Ayah sendiri," ucap Annete sambil mengeratkan pelukannya pada sang ayah.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa vote-nya🙏