Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 30. Rencana Pras


__ADS_3

"Itu demi kebaikan dia," ujar Louis lalu beranjak pergi ke kamarnya sendiri lalu berbaring dan memejamkan matanya. Namun dia tidak langsung terlelap karena khawatir. Dia kemudian berdoa dalam hati, berharap semua berjalan lancar dan Nindy benar-benar sukses dengan usahanya nanti. Dia tidak tahu akan seperti apa perasaan Nindy kalau sampai usaha yang akan ditekuninya ini malah gagal. Pasti dia akan kecewa dan putus asa.


Seperti halnya Louis Nindy pun belum bisa tidur karena memikirkan tentang besok. Tentang rencananya untuk memulai bisnisnya. Namun tidak seperti halnya Louis yang khawatir, Nindy malah begitu bahagia. Dia tidak sabaran untuk menunggu hari esok tiba.


Hingga pagi-pagi buta Nindy terbangun, rasanya begitu lama menunggu siang menjelang. Nindy memutuskan pergi ke dapur untuk membantu Mira setelah mendengar suara berisik dari dalam dapur.


"Nin ini masih pagi sekali ngapain kamu ke sini," protes Mira.


"Ya mau bantu Mbak Mira lah emang mau ngapain lagi?"


"Tapi kamu masih sakit harus banyak-banyak istirahat."


"Aku sudah sembuh kok Mbak kalau tidak percaya Mbak Mira bisa menyentuh keningku. Nih tidak panas lagi," lanjut Nindy sambil memegang dahinya sendiri.


Mira pun menyentuh dahi Nindy, memang benar dahi gadis itu sudah tidak demam lagi. Kadang Mira heran dengan Nindy bisa gampang sakit tapi juga bisa lekas sembuh.


"Tapi kamu kan calon nyonya bos masa masih mau masuk dapur sih."


"Ah Mbak Mira ada-ada saja. Sudah ah jangan suka menggoda. Lagipula aku selama ini kan jarang membantu Mbak Mira. Jadi mumpung sekarang belum sibuk tidak ada salahnya kan bantu-bantu masak?"


"Nggak ada sih aku malah senang."


Beberapa jam berlalu mereka kini sudah menyiapkan makanan di meja makan.


"Udah kan Mbak kalau begitu aku mandi dulu ya."


"Iya Nin, mulai sekarang kamu harus rapi saat suami hendak berangkat ke kantor. Kalau tidak bisa saja suamimu jelalatan di kantor kalau lihat cewek cantik," ucap Mira sedikit berteriak sambil tangannya sibuk membenahi letak piring-piring di atas meja makan sehingga ia tidak melihat keberadaan Louis yang sudah berdiri di belakangnya dengan setelan rapihnya.


Louis lalu menepuk jidat Mira sambil berkata, "Jangan ngomong macem-macem kalau tidak mau aku pecat."


"Auw sakit loh Mas Louis, pake acara tepuk jidat orang segala. Awas kalau Mira sampai jenong, Mas Louis harus tanggung jawab."


"Cih, jenong sendiri kok malah aku yang harus tanggung jawab."


Beberapa saat kemudiaan Nindy keluar kamar dan menghampiri Louis dan Mira di meja makan.


Setelah acara makan pagi selesai Louis langsung pamit ke kantor pada keduanya.


"Ingat nanti siang aku jemput jam dua belas siang jadi pada jam-jam tersebut kamu harus sudah siap ya."


"Baiklah," Nindy berkata sambil mengangguk.


"Kalau begitu aku berangkat dan sampai jumpa nanti siang." Sekali lagi Nindy mengangguk.


Selepas Louis pergi tiba-tiba Nindy mengingat baju-bajunya yang ada pada Putri. Nindy langsung masuk kamar dan mengambil ponselnya. Setelah itu ia langsung menelpon Putri.


๐Ÿ“ฑ"Halo Nin." Pagi ini Putri sudah berada di depan kampus bersama Kirana karena ada mata kuliah pagi. Mereka sengaja datang lebih awal agar bisa mengobrol terlebih dahulu sebelum masuk kelas.


๐Ÿ“ฑ"Halo Put bisa kamu antarkan tas yang ada padamu ke tempatku soalnya stok bajuku ada di sana semua dan aku tidak punya baju sekarang." Nindy berkata sambil memandangi baju yang dipakainya kini. Dia terpaksa meminjam milik Mira lagi. Dia tidak enak kalau nanti siang harus pinjam punya Mira kembali.


"Siapa Put?" tanya Kirana.


"Safa," jawab Putri.


"Mana-mana." Kirana merebut ponsel Putri.


๐Ÿ“ฑ"Halo Saf, ini aku Kirana.

__ADS_1


๐Ÿ“ฑ"Hei apa kabar kamu?"


๐Ÿ“ฑ"Baik, kamu sendiri?"


๐Ÿ“ฑ"Baik juga."


๐Ÿ“ฑ"Baguslah kalau begitu, kita kan jadi tenang. Soalnya kata Putri kamu kemarin diculik." Kirana cekikikan.


๐Ÿ“ฑ" Cck, apaan sih lo. Kirana aku boleh minta tolong?"


๐Ÿ“ฑ"Boleh saja."


๐Ÿ“ฑ"Tolong kamu ikut putri ya untuk mengantarkan pakaianku ke sini."


๐Ÿ“ฑ"Kapan?"


๐Ÿ“ฑ"Kalau bisa sekarang, tapi nanti juga nggak apa-apa asal jangan sampai lewat jam dua belas siang saja."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah kalau begitu sekarang juga, kirimkan alamatnya!"


๐Ÿ“ฑ"Oke siap."


Beberapa saat kemudian terdengar notif dari Nindy yang mengirimkan alamat rumah Louis.


"Ayo!" Kirana langsung menarik pergelangan tangan Putri.


"Kemana?"


"Mengantar baju Safa."


"Sekarang?"


"Tapi kita harus mengambil tas berisi baju-baju itu terlebih dahulu ke rumahku. Ini akan memakan waktu yang lama sedangkan sebentar lagi kita ada jam kuliah."


"Tidak apa-apa sekali-sekali kita bolos." Ucapan Kirana membuat Putri geleng-geleng kepala namun dia tetap mengikuti langkah Kirana menuju garasi untuk mengambil motor maticnya. Beberapa saat kemudian dia langsung melajukan motornya ke rumahnya sendiri.


Setelah mengambil tas milik Nindy, Putri pun menyetir motornya langsung alamat yang Nindy kirimkan tanpa tahu bahwa pembicaraan mereka tadi didengar sehingga orang yang kini malah mengikutinya.


"Waw, luas juga ya rumah yang ditempati Safa, kira-kira ini rumah siapanya Safa ya?"


"Aku juga tidak tahu. Mungkin salah satu sahabatnya kali soalnya kata anak buah yang punya rumah ini mereka sudah akrab."


"Oh gitu ya."


"Ya gitulah, sudah kita turun saja." Kirana mengangguk dan turun dari motor kemudian langsung berjalan ke arah pagar.


"Mau bertemu siapa Nona-Nona?" tanya Pak satpam sambil berjalan mendekat ke arah pagar.


"Mau ketemu Safa Pak, ada?"


"Emang kalian tahu darimana kalau si Safa itu tinggal di sini?"


"Dari Safa sendiri lah Pak, tadi nelpon minta dianterin baju-bajunya."


"Oh Safa? Iya ada-ada." Untung saja Pak satpam tahu siapa itu Nindy yang sebenarnya.


"Tapi apakah kalian sudah ada janjian untuk bertemu?"

__ADS_1


"Emang si Safa orang penting ya Pak sehingga harus buat janji dulu kalau ingin ketemu dengannya?" tanya Kirana heran.


"Bukan begitu, tapi untuk sementara tuan Louis tidak mengizinkan Safa bertemu orang sembarangan."


"Oh orang itu toh yang punya rumah ini."


"Emang kamu kenal?" bisik Putri.


"Tuan Louis itu pernah mengisi seminar di kampus kita." Kirana juga menjawab dengan berbisik-bisik.


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Mana bisa tahu kalau kamu waktu itu tidak hadir," protes Kirana.


"Kami bukan orang sembarangan kok Pak, kami ini adalah teman baiknya." Kini Putri menjawab pertanyaan pak satpam.


"Siapa nama kalian?"


"Putri."


"Kirana."


"Oke sebentar." Pak satpam berjalan menjauh, merogoh ponselnya lalu tampak menelpon seseorang.


Kedua gadis itu memandang pak satpam dengan bingung. Bukannya dipersilahkan masuk malah ditinggalkan begitu saja. Andai pintu pagar sudah terbuka mereka pasti langsung berlari masuk ke dalam.


๐Ÿ“ฑ"Siapa Pak?" Louis.


๐Ÿ“ฑ"Namanya Putri dan Kirana Tuan." Pak satpam.


๐Ÿ“ฑ"Oh Putri? Suruh masuk saja Pak dia itu temannya Nindy."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah Tuan."


Pak satpam berjalan mendekat kemudian membuka pintu pagar. "Masuk! Ayo saya antar ke Safa."


Keduanya mengangguk dan mengikuti langkah pak satpam di belakang. Sampai di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka. Nindy muncul dari dalam.


"Hei aku kangen," ucap Kirana sambil merentangkan kedua tangannya pada Nindy. Untuk beberapa saat mereka bertiga pun berpelukan.


"Kapan kamu balik kuliah?" tanya Kirana setelah mereka bertiga melepaskan pelukannya.


"Tidak tahu," jawab Nindy lirih.


"Emang sampai kapan kamu mau bersembunyi dari keluargamu?"


"Sampai aku sukses dan mereka mau menerima diriku kembali," jawab Nindy lemah.


"Hah." Kirana mendesah. "Kapan mereka bisa sadar kalau sikapnya sangat melukaimu."


"Entahlah," jawab Nindy pasrah. Sedangkan Putri sedari tadi hanya setia menjadi pendengar. Dalam hatinya khawatir karena baru kali ini bolos kuliah. Bagaimana kalau kedua orang tuanya sampai tahu?


"Ayo masuk dulu biar aku buatkan minuman."


"Oke." Keduanya serentak menjawab lalu masuk ke dalam rumah.


Dari jauh tampak seorang laki-laki mengepalkan tangannya. "Ternyata pak satpam itu berbohong, rupanya Safa memang tinggal di sini. Baiklah akan aku tunggu dia keluar dari rumah ini. Setelah itu baru aku akan membawanya pergi. Dia harus menjadi milikku. Pras harus mendapatkan apa yang diinginkan." Pras tersenyum menyeringai ke arah Nindy yang kini sudah menutup pintu kembali.

__ADS_1


Bersambung.....


Insyaallah nanti malam lagi ya up-nya, salam.๐Ÿ™


__ADS_2