Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 11. Vania dan Dion


__ADS_3

Di sebuah taman kota tampak lah seorang perempuan tengah duduk di kursi panjang sambil termenung. Matanya seolah memandang orang-orang yang berlalu lalang di depannya namun pikirannya melayang entah kemana.


Seorang laki-laki dengan pakaian olahraga menghampiri gadis tersebut.


"Hai, boleh aku duduk?"


Vania mengangguk.


"Duduk saja!" ucapnya tanpa melihat orang yang berbicara.


"Kamu kenapa?" tanya Dion saat menyadari gadis di depannya tampak tak bergairah.


"Bukan urusan Anda," jawab Vania ketus. Semenjak ada masalah dia selalu terbawa emosi jika sedang berbicara dengan orang lain.


"Tapi akan menjadi urusan saya kalau sampai masalah kamu mengganggu pekerjaan kamu nantinya."


Vania menoleh sambil berbicara dalam hati.


'Siapa sih orang ini kok mau ikut campur urusanku bawa-bawa pekerjaan lagi.'


"Eh pak Dion, maaf Pak bukan maksud saya bicara kasar sama Bapak!"


"It's okey aku tidak masalah. Bisa kamu bicara sama saya kenapa kamu bersedih?"


"Harus ya Pak aku cerita?"


"Haruslah karena saya tidak menerima penolakan."


"Kalo saya tidak mau?"


"Kita lihat aja besok jika kamu masih melamun pas kerja kamu bisa saya pecat."


"Bapak nggak asyik ya bawa-bawa pekerjaan."


"Habisnya kalo nggak gitu kamu nggak bakalan mau cerita. Saya lihat kamu butuh teman curhat."


Vania menggeleng. "Maaf saya tidak bisa Pak!"


Mendengar penolakan dari mulut Vania reflek Dion menarik tangan Vania.


"Pak lepaskan! Bapak mau bawa aku kemana?"


Dion tidak menghiraukan dia terus menarik tangan Vania.


"Pak lepas!!!" sambil berusaha menghempaskan pegangan tangan Dion di pergelangan tangannya.


"Pak lepas nggak! Kalo nggak nanti saya teriak!!!" ancam Vania.


Mendengar ancaman Vania, Dion bukannya takut malah dia yang tadinya cuma memegang tangan beralih menggendong Vania ala bridal style dan membawanya menuju mobil.


"Pak lepas!!!" Vania memberontak dalam gendongan Dion.


"Teriak saja nanti kalo orang-orang datang saya tinggal bilang saja bahwa istri saya sedang merajuk."


'Cih.. istri. Mau apa sebenarnya orang ini?'


Mendengar ucapan Dion yang akan mengatakan dirinya istri Vania tidak bisa berkutik.


Dion menurunkan dan mendudukkan tubuh Vania di kursi samping kemudi setelah itu dia memasangkan sabuk pengaman kemudian menutup pintu mobil serta memutar tubuhnya masuk ke kursi kemudi.


Vania yang ketakutan hanya bisa menitikkan air mata sambil terus berpikir apa yang akan diperbuat Dion pada dirinya. Setahu Vania Dion adalah orang baik tapi siapa tahu kalo dia juga menyimpan sifat yang jahat.


Dalam hati Vania terus saja merapalkan doa semoga dirinya selalu dalam lindungan Tuhan.


Melihat Vania yang hanya diam Dion mencoba mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Mengapa cuma diam? Bukannya tadi kamu berani membantahku?"


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku hah?!"


"Aku tidak menginginkan apa-apa. Tenang saja kamu tidak perlu takut." Ucap Dion namun ucapan mulutnya tidak sinkron dengan keinginan hatinya.


Dalam hati dia bicara, 'Aku cuma menginginkan satu darimu yaitu cintamu.'


"Nah sudah sampai," ucap Dion saat mobilnya telah sampai di tepi pantai.


"Pantai?" seketika wajah khawatir nan cemberut Vania berganti keceriaan.


"Iya pantai. Disini kami bisa meluapkan semua emosi kamu. Baik sedih kecewa atau apapun itu. Kamu tinggal teriakkan keluh kesah kamu sambil melempar batu di sana," ujar Dion panjang lebar sambil menunjuk bibir pantai.


Tanpa mendengar ocehan Dion Vania berlari ke arah bibir pantai itu meninggalkan Dion yang tengah berdiri bersandar di samping mobil.


Dion hanya mengamati Vania dengan ekor matanya. Dia membiarkan Vania seorang diri di sana biar bisa bebas mengekspresikan perasaannya sendiri tanpa ada yang mengganggu.


Vania terdengar berbicara sambil berteriak di tengah gemuruh ombak yang membuat kedamaian hati. Sesekali dia terlihat melempar batu ke ombak tersebut.


Banyak yang Vania ungkapkan pada laut tersebut dengan teriakannya namun yang Dion dengar cuma satu, "Aku benci kamu."


Entah kata-kata itu untuk siapa.


Puas berbagi cerita dengan ombak di laut Vania menoleh mencari keberadaan Dion. Ternyata Dion tetap stand by di tempat masih setia bersandar di samping mobil.


"Pak sini!" panggil Vania setelah sekian lama mengacuhkan Dion karena sibuk dengan curhatannya. Dia melambaikan tangannya ke arah Dion.


Dion dengan santainya berjalan ke arah Vania.


"Udah curhatnya?" goda Dion.


"Ih Bapak tega ya nyuruh saya curhat sama laut."


"Suruh siapa kamu nggak mau curhat sama saya. Kalau kamu nggak mau curhat sama manusia ya kamu kudu curhat sama benda biar hati kamu plong. Kalau di tahan mah bikin hati kita nyesek."


"Itu yang pertama yang saya bicarakan itu mah sesi keduanya."


"Kayak lomba aja ada sesinya, tapi benar kata Bapak setelah teriak-teriak tadi hati saya sedikit lega."


"Baguslah kalau gitu jadi ada gunanya saya bawa kamu ke tempat ini."


Raut wajah Vania memerah karena menahan malu mengingat tadi dia berprasangka buruk terhadap Dion.


"Ngomong-ngomong Bapak sering ke sini?"


"Ya nggak sering juga, palingan aku ke sini kalau lagi stres sama pekerjaan."


"Stres sama pekerjaan?"


"Iya kamu kan tahu sendiri selama hampir dua tahun ini pak Zidane kayak mayat hidup, dia ke kantor nggak ngapa-ngapain. Kalaupun bekerja pekerjaannya harus saya cek kembali karena takut ada yang salah sebab sekarang dia jarang fokus. Jadi semua pekerjaan aku yang ngehandle untunglah Tuan besar Albert mengerti dia sering ke kantor membantu saya."


"Memang pak Zidane kenapa sih kok sampai begitu?"


Dion menggendikkan bahu. "Entahlah semenjak pernikahannya gagal sifat pak Zidane mulai berubah dia semakin pendiam dan tertutup bahkan dia pernah menyuruh saya mencari seorang wanita yang saya tidak tahu sama sekali ada hubungan apa dia dengan wanita tersebut."


"Kenapa keluarganya hanya diam saja?"


"Tuan dan nyonya besar sudah membawa dia terapi ke psikiater tapi tidak berhasil. Bagaimana mau berhasil kalau alasannya saja kami tidak pernah tahu. Setiap ditanya pak Zidane hanya diam saja dia tidak mau menjawab."


"Kita doakan saja semoga permasalahan pak Zidane segera berakhir dan keadaannya kembali membaik".


"Amin." Ucap Dion.


"Pak, bapak pernah patah hati?"

__ADS_1


"Patah hati?"


Vania mengangguk.


"Gimana mau patah hati kalo pacar aja nggak punya."


"Beneran Bapak nggak pernah punya pacar?" tanya Vania penasaran.


Dion menggeleng.


"Kok aku nggak percaya ya cowok seganteng dan sekeren bapak nggak punya pacar, apalagi posisi bapak di kantor bisa dibilang orang penting."


"Kalo yang deketin aku sih banyak dulu tapi aku nggak kepikiran untuk menjalin kasih soalnya waktu itu aku sibuk kerja."


"Dulu pas sekolah?"


"Nggak ada. Waktu itu aku malah harus belajar keras karena ayah mewanti-wanti agar kelak aku bisa menggantikan dirinya menjadi asisten Dirgantara. Maklumlah waktu itu ayah adalah asisten kepercayaan tuan Albert."


"Masa sih Bapak nggak pernah jatuh cinta?"


"Kalau itu sih pernah cuman pas saya mau ngungkapin perasaan saya sama dia ternyata dia sudah punya pacar. Kamu tahu nggak pas itu sebenarnya saya sakit hati banget pas aku lihat dia dijemput kekasihnya pulang kantor tiap hari."


"Emang perempuan itu sekantor sama Bapak?"


Dion mengangguk. "Iya."


"Bapak nggak ada keinginan gitu buat rebut dia dari pacarnya?"


"Awalnya saya berpikir begitu tapi setelah aku pikir-pikir kenapa aku harus ngelakuin itu kalau dia sudah bahagia sama kekasihnya. Bukankah cinta tidak harus memiliki? Kalo cinta ya saya harus ikut bahagia melihat dia bahagia."


"So sweet banget sih Bapak, dewasa juga pemikirannya. Beruntung banget sih wanita tersebut bisa dicintai orang seperti bapak. Apakah perempuan itu tahu kalau Bapak...."


"Tidak. Eh kok jadi saya yang curhat ya? Kan yang punya masalah itu kamu."


"Emangnya Bapak masih mau denger curhatan saya?"


Dion mengangguk.


"Saya patah hati Pak. Bapak tahu saya sebenarnya dijodohkan oleh kedua orang tua semenjak kecil dengan seorang laki-laki yang bernama Ibra. Dia adalah anak salah satu sahabat papa.


Kami dulu sempat menentang perjodohan itu namun satu setengah tahun lalu Ibra mengajak saya menjalin hubungan serius dengan saya. Saya pun menerima tawaran dia untuk menjalin kasih dengannya.


Karena kami sudah terlihat akrab kedua orang tua kami memutusakan untuk menikahkan kami. Undangan pernikahan pun selesai dicetak tapi sayangnya saya malah mendapati Ibra selingkuh dengan sahabat saya sendiri.


"Huft," Vania mengambil nafas panjang kemudian menunduk dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan Dion. Sampai di situ ia ragu untuk melanjutkan kisahnya."


Dion mengelus punggung Vania menyalurkan ketenangan lewat sentuhan lembutnya. "Kamu yang sabar ya! Tapi apa kamu yakin kekasihmu itu selingkuh? Bisa saja kan kamu hanya salah paham?"


"Vania menggeleng. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Waktu itu aku hendak menghadiri undangan pesta ulang tahun seorang teman kami. Saat itu aku dan Linda janjian untuk berangkat bersama namun setengah jam menunggu Linda tidak datang juga. Akhirnya aku memutuskan menjemput dia di apartemennya.


Setelah memencet bel tak kunjung dibukakan pintu akhirnya terpaksa saya memencet kode pintu apartemennya. Saya sudah seperti saudara dengan Linda bahkan aku sudah biasa keluar masuk apartemen dia jadi aku tahu kodenya.


Kebetulan saat itu kode apartemen Linda belum di ubah jadi pintunya dapat aku buka.


Pak Dion tahu apa yang terjadi? Setelah aku masuk aku malah menemukan mereka bergulat di atas ranjang. Walaupun Linda segera menutup tubuh mereka dengan selimut tapi aku sempat melihat tubuh mereka yang telanjang."


Sampai di situ Vania menghentikan ceritanya dia tidak kuasa meneruskan cerita tersebut malah sekarang dia menangis sesenggukan.


Dion membawa kepala Vania bersandar di punggungnya.


"Pak Dion tahu setelah aku tanya ternyata mereka sudah berhubungan selama satu tahun. Jadi selama itu mereka membohongi saya."


Bukan perkara cinta saja yang membuat dia bersedih tapi yang lebih menyakitkan adalah pengkhianatan sahabatnya sendiri.


Kalau saja Linda berterus terang semenjak awal dia pasti bisa mengalah akan melepaskan Ibra untuk sahabatnya itu apalagi cinta Vania bukanlah cinta buta yang tidak bisa melihat kebahagiaan orang lain apalagi itu sahabatnya sendiri, tapi sayangnya Linda memilih jalannya sendiri. Memilih diam dan pengkhianatan.

__ADS_1


TBC..........


Like, Like, Like! Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak!


__ADS_2