
"Berteriak lah bahkan sampai pita suaramu putus tidak akan ada yang menolong mu."
"Ampun lepaskan aku, aku mohon!"
"Melepaskan mu? Jangan mimpi kamu!" bentak salah satu dari mereka.
"Tidak, tolooooong!"
"Berteriak lah sampai kau kehilangan tenaga karena takkan mungkin ada orang yang mendengar suaramu, Hahaha...." Dan ketiga orang tersebut pun ikut tertawa kemudian mendorong tubuh Naura hingga jatuh ke tanah dalam keadaan terbaring.
Ketiga orang tersebut berbagi tugas ada yang memegang kedua tangan dan ada pula yang memegang kaki Naura. Salah satu dari mereka menindih tubuh Naura dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naura kemudian hendak menciumi pipi gadis itu. Merasa tidak bisa melawan dengan anggota tubuh lainnya Naura menggigit dengan keras pipi laki-laki yang telah berani menciumnya.
"Auw, sakit brengsek."
'Plak.' Pria tersebut menampar pipi Naura karena telah berani menggigit pipinya.
'Plak.' Tamparannya lagi.
Naura hanya meringis kesakitan sambil berusaha melepaskan kedua tangannya yang dicengkram. Mencoba melawan dengan tenaga yang ada. Setelah tangannya terlepas dia mencoba melindungi tubuhnya yang hendak diraba oleh pria di atasnya sedangkan kakinya dia hentak-hentakkan agar terlepas. Karena terus memberontak pria tersebut merobek pakaian Naura.
"Kau ku ajak baik-baik tidak mau jadi jangan salahkan kami jika kami berbuat kasar."
Naura tidak memperdulikan ucapan pria tersebut dia mengerahkan tenaganya yang masih tersisa untuk melawan. Walaupun harus mati sekalipun dia rela asal mati masih dalam keadaan suci daripada harus hidup dalam keadaan ternoda apalagi mereka ingin memperkosa dirinya secara beramai-ramai.
"Ya Tuhan tolonglah aku kalau tidak cabutlah nyawaku," batinnya. Dia sudah tidak berdaya lagi untuk melawan segala tenaganya terkuras sudah. Hanya air mata yang tak pernah berhenti mengalir membasahi kedua pipi mulusnya.
Di tempat lain Yuna yang menyadari sedang meninggalkan Naura menjadi gelisah tatkala teleponnya tak pernah diangkat padahal jam di tangannya sudah menunjuk jam sebelas malam.
"Kenapa kamu sepertinya gelisah Nak?" tanya seorang wanita yang tengah berbaring di atas brankar dengan selang infus di lengannya. Ya wanita itu adalah ibu dari Yuna. Yuna terpaksa meninggalkan cafe lebih awal karena mendapat telepon bahwa mamanya masuk rumah sakit.
"Naura Ma, saya khawatir dengannya. Biasanya kalau kerja malam aku yang mengantarkan dia pulang tapi kali ini Yuna nggak tahu dia pulang sama siapa. Biasanya kalau pulang malam anak-anak pulang terburu-buru tidak peduli dengan yang lainnya apalagi arah pulang Naura berlawanan dengan mereka semua."
"Sudah ditelepon Nak?"
"Sudah Ma tapi tidak diangkat. Saya tadi telepon anak-anak tapi juga tidak diangkat mungkin lagi pada sibuk, tapi perasaan aku kok nggak enak ya Ma?"
"Kalau begitu kamu susul saja dia Nak."
__ADS_1
"Mana mungkin aku meninggalkan mama sendirian di sini. Kemana sih papa kok belum balik-balik juga?"
"Oh ya lebih baik aku minta tolong Lexi saja," ucapnya dalam hati. Kemudian Yuna mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menghubungi Lexi.
"Halo Lex."
"Ia Yun ada apa?"
"Boleh aku minta tolong kamu jemput Naura? Biasanya aku yang mengantar dia pulang tapi kali ini aku pulang duluan karena mama masuk rumah sakit."
"Jam segini dia masih kerja?" Lexi tidak habis pikir sekaligus marah mengetahui Naura kerja sampai malam.
"Ia dia masuk shift malam."
"Baiklah aku segera ke sana."
Lexi langsung bergegas, memasang jaket dan mengambil kunci mobil kemudian meluncur ke cafe Yuna namun sampai di sana Naura sudah tidak ada kata karyawan yang masih di sana mengatakan Naura sudah pulang dari tadi.
Lexi mengendarai mobilnya menuju rumah Naura. Sesampainya di sana dia melihat nenek Naura masih mondar-mandir di depan rumah.
"Hai Nek sudah malam begini belum tidur?" Lexi tidak ingin Nisa curiga bahwa sebenarnya dirinya ingin mengetahui keberadaan Naura.
"Iya Nak Lexi nenek khawatir karena Naura belum pulang."
"Apa belum pulang?" ucap Lexi dalam hati.
"Seharusnya dia sudah pulang jam segini," lanjut Nisa.
"Baiklah kalau begitu nenek jangan khawatir saya yang akan menjemputnya di cafe." Padahal dalam hatinya lebih khawatir karena tahu Naura sudah tidak ada di cafe.
"Terima kasih ya Nak Lexi."
"Ia Nek saya pergi dulu."
Lexi kembali ke mobil dan melajukan mobilnya kembali meski tidak tahu harus mencari Naura kemana. Mencoba menghubungi teman-teman gadis itu tapi tak satupun ada yang tahu. Akhirnya Lexi menelpon Yuna mengabarkan bahwa Naura tidak ada di cafe maupun rumahnya.
Yuna yang mendengar kabar bahwa Naura hilang langsung bergegas dari rumah sakit dan ikut mencari. Menyisir jalanan barangkali menemukan Naura di sana. Sampai di persimpangan jalan dia bertemu mobil Lexi. Dia memelankan mobilnya dan mendekati mobil Lexi.
__ADS_1
"Bagaimana Lex apa sudah ketemu?" tanyanya dengan raut wajah yang tampak khawatir. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Naura maka dialah orang yang harus bertanggung jawab atas semuanya dan cafenya pun pasti dalam masalah karena telah
mempekerjakan anak di bawah umur.
"Belum," jawab Lexi.
"Naura harus kemana lagi aku mencari mu?" batin Yuna.
"Apa kita harus melapor ke polisi Lex?" tanyanya kemudian. Meskipun dirinya bisa saja terkena masalah tapi saat ini keselamatan Naura lebih penting.
"Jangan dulu, sepertinya kita harus berpencar kamu cari ke arah itu dan saya ke arah yang ini," saran Lexi.
"Baiklah."
Mereka berpencar menuju arah masing-masing. Lexi mencoba menelpon Naura kembali tetapi tetap saja teleponnya tak terjawab padahal ponsel Naura masih aktif. Lexi pikir pasti ponsel Naura disetel mode senyap. Kemudian dia melacak keberadaan Naura melalui GPS. Setelah menyambungkan pada mobilnya dia pun menuju ke tempat Naura berada.
Sampai di sana ia melihat wanita yang ia yakini sebagai Naura berada dalam Kungkungan seorang pria sedang yang lainnya berusaha mengikat kedua kaki dan tangan gadis itu.
Tanpa aba-aba dia langsung menyerang orang tersebut dan menendangnya secara bertubi-tubi. Tidak butuh lama bagi seorag Lexi yang memang jago karate melumpuhkan empat orang tersebut. Bahkan ketika orang-orang tersebut meminta ampun Lexi belum juga menghentikan pukulannya tidak peduli bahwa ketiga orang tersebut bisa mati di tangannya karena api amarahnya yang masih berkobar.
Setelah puas menghajar Lexi menghampiri Naura kemudian melepaskan jaketnya dan memakaikan ke tubuh Naura karena baju gadis itu sudah robek tercabik-cabik. Lexi menggendong Naura ke dalam mobil dan menidurkannya karena gadis itu tampak pingsan. Dia kemudian menelpon seseorang untuk mengurus para penjahat itu.
Setelah itu Lexi langsung melajukan mobilnya ke apartemen miliknya dan membaringkan tubuh gadis tersebut di atas tempat tidur.
Beberapa saat kemudian gadis tersebut sadar dari pingsannya namun matanya masih terpejam dan mulutnya meracau.
"Tolong, tolong aku!"
"Naura, Naura bangun!" ucap Lexi sambil mengguncang tubuh Naura.
Perlahan Naura membuka mata dan spontan memeluk Lexi dengan erat. Tubuhnya masih terasa bergetar karena takut.
"Om jangan tinggalkan aku, aku takut!" ucapnya pada Lexi dengan pipi yang masih basah karena air mata.
Bersambung....
Terima kasih masih setia membaca, jangan lupa like, vote, gift dan komentarnya.๐
__ADS_1