
Beberapa hari berlalu kini Naura sudah bisa tersenyum kembali. Sedikit demi sedikit sudah bisa melupakan kejadian malam itu. Dia beruntung sekali memiliki teman-teman yang selalu siap menemani dikala ia susah maupun senang.
"Hari ini aku antar kalian pulang sebab sore nanti aku harus balik ke negaraku," ujar Lexi.
"Om serius mau pulang?"
"Ia mommy Om masuk rumah sakit ."
"Apakah Om tidak akan kembali lagi?"
"Suatu saat Om pasti ke sini lagi tapi entah kapan Om belum tahu."
Mata Naura berkaca-kaca mendengar penuturan Lexi. Entah mengapa dia sedih berpisah dengannya.
"Hei jangan sedih nanti kita video call-an okey!"
Naura hanya memandangi wajah Lexi kemudian menganguk lemah.
"Ingat ya jangan kerja lagi sampai kamu lulus sekolah!"
"Terus aku makan apa Om kalau nggak kerja," protesnya dengan wajah cemberut.
Lexi tampak mencari-cari sesuatu di dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari dalamnya.
"Pakai ini aja ya," ucapnya sambil menaruh kartu kredit dalam genggaman tangan Naura. Naura membuka genggaman tangannya tampak sebuah kartu berwarna hitam yang sama persis dengan kartu milik Isyana yang pernah dia lihat diberikan oleh Zidane.
"Ini apa Om?" tanyanya yang memang tidak pernah tahu apa itu black card.
"Itu kartu kredit pakailah saya tahu kamu bisa menggunakannya dengan bijak," ucapnya.
Naura menggeleng dia tahu dia tidak pantas menerimanya karena dia bukanlah keluarga Lexi ataupun kekasihnya.
"Biar Naura bantu nenek aja jualan di rumah."
"Kalau aku yang menyuruhmu tidak usah bekerja berarti aku yang harus bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhanmu. Ambillah dan fokuslah dengan sekolahmu setelah itu kau baru berpikir untuk bekerja."
Naura tetap menggeleng dan bersikukuh mengembalikan kartu tersebut ke tangan Lexi namun Lexi tetap memaksanya.
"Pegang lah barangkali suatu saat kamu butuh dan kalau kamu memang tidak bisa menerima uangku maka suatu saat kau bisa mengembalikan setelah kau benar-benar masuk ke dunia kerja yang sebenarnya. Tapi ingat setelah lulus sekolah," tegasnya.
Akhirnya dengan terpaksa Naura menerimanya walaupun tidak ada niatan sedikitpun di hatinya untuk menggunakan kartu tersebut. Biarlah ia simpan dulu sampai sang pemilik menjemputnya kembali pada suatu saat nanti.
"Om telepon Naura ya nanti kalau sudah sampai."
"Oke siap."
Setelah mengantar Naura dan teman-temannya pulang kini Lexi kembali ke apartemen. Membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sebelum melakukan penerbangan.
"Wow gila Lo dapet black card," ucap Rachel. Kini mereka semua sudah berada di rumah Naura.
"Gila apaan emang ada apa dengan kartu ini?"
"Elo nggak tahu aja Lo bisa beli apa saja dengan kartu itu."
"Bisa beli apa saja?"
__ADS_1
"Ya itu kartu no limit tahu. Jadi bisa belanja sepuasnya, nggak bakalan habis," timpal Sheila.
"Emang bisa buat dipakai beli gorengan di pinggir jalan?" tanya Naura.
"Ya kalau itu tidak bisa kecuali tuh abang-abang punya akses ke kartu kredit."
"Ya berarti payah dong uang recehan ku aja bisa beli kenapa kartu ini yang kalian elu-elukan malah tidak bisa," protes Naura.
"Ya beda kelas Naura tapi kalau kamu beli gorengan di restoran tuh kartu bisa dipakai lagian malu-maluin sih masa mau pakai kartu begituan buat beli gorengan," ujar Rachel.
"Ngomong-ngomong kamu tahu nggak om Lexi kerjanya apa kok sampai bisa punya kartu itu?" tanya Mita.
"Yang aku tahu sih dia memiliki beberapa cafe," jawab Naura.
"Masa sih punya cafe aja bisa punya kartu begituan," sanggah Sheila.
"Ya bisa saja lah Shei kalau cafenya banyak dan sukses kartu begituan mah mudah dibuat."
"Aku pikir yang punya begituan cuma para CEO," gumam Sheila.
"Ye ... Lo terlalu banyak baca novel yang bergenre CEO tuh jadi tahunya cuma para CEO yang punya black card padahal mah siapa saja bisa punya asal punya uang melimpah."
"Ia kali ya," ucap Sheila sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
"Boleh dong sekali-kali traktir kami," canda Sheila.
"Maaf Shei aku nggak berani kecuali atas seizin om Lexi, dan aku sendiri tidak berniat memakainya."
"Terus mau diapain kartu itu sama elo."
"Disimpan aja kalau mendesak baru dipakai tapi suatu saat pasti aku akan membayarnya."
"Makanya nggak ada yang ngasih elo begituan karena Tuhan tahu kalau elo yang pegang begituan pasti rumah Lo bakal berubah jadi pasar," sela Rachel sambil tertawa diikuti kedua sahabatnya membuat Sheila semakin garuk-garuk kepala saja.
Setelah beberapa jam melakukan penerbangan akhirnya Lexi tiba di negaranya. Sampai bandara sudah ada sopir yang menjemputnya.
"Langsung ke rumah sakit aja ya Pak!" perintahnya pada sang sopir.
"Buat apa Tuan muda?" tanya sang sopir.
"Ya mau jenguk mommy lah Pak katanya sakit."
Mendengar penuturan Lexi sang sopir tersenyum lalu tancap gas. Sebenarnya Lexi curiga dengan senyuman sopirnya tapi biarlah mungkin pak sopir lagi bahagia pikirnya.
"Kok ke rumah Pak? Aku mintanya kan ke rumah sakit," protesnya tatkala melihat arah yang dilalui mobil.
"Nyonya sudah pulang Tuan."
"Oh begitu ya? ya sudah lanjut!"
Sesampai di rumah Lexi langsung menuju kamar mommy nya tapi ternyata mommy Lauren tidak ada di kamar. Lexi langsung mencari mommy nya ke ruang belakang.
Ya ampun ternyata mommy nya sedang menggelar pesta bersama para sahabatnya. Pakai acara nari-nari segala.
"Mommy! mommy bohongin Lexi ya! Bilangnya sakit, astaga! mommy nggak malu apa sudah pada tua masih nge-dance."
__ADS_1
"Kalau nggak gitu kamu nggak bakalan pulang dan selagi kamu belum nikah berarti mommy masih muda buat apa malu."
"Mommy ah! Malu sama usia."
"Makanya kamu cepat-cepat nikah entar kalau punya cucu mommy bakalan berhenti sendiri."
"Au ah!" Lexi pergi ke kamarnya dengan perasaan dongkol padahal saat di pesawat dia tidak bisa tidur karena memikirkan nasib mommy nya tapi ternyata yang di khawatirkan malah lagi senang-senang.
Sampai di kamar ia malah teringat Naura. Entahlah mengapa akhir-akhir ini dirinya sering mengkhawatirkan gadis itu mungkinkah karena kasihan ataukah dia mulai tertarik degan gadis tersebut.
"Tidak mungkin, aku tidak mungkin menyukainya," gumamnya pada diri sendiri lalu meraih ponsel dan menghubungi Naura.
"Halo Ra aku sudah sampai."
"Syukurlah kalau Om sudah sampai dengan selamat."
"Kamu apa kabar di sana?"
"Baik Om."
"Baguslah kalau begitu om tutup dulu ya teleponnya kapan-kapan kita sambung lagi om mau istirahat dulu karena baru sampai."
"Ia Om met istirahat. Eh tunggu dulu Om apakah aku bisa memakai kartu itu untuk mentraktir teman-teman?" Sebenarnya niatnya ingin meledek teman-temannya karena yakin pasti Lexi tidak mengizinkannya karena tahu teman-temannya kalau di suruh shoping kadang lupa kontrol namun ternyata jawaban Lexi tidak sesuai dengan prediksinya.
"Boleh kapan-kapan kamu ajak saja teman-teman kamu shoping bagaimanapun mereka kan selalu ada saat kamu membutuhkannya."
"Ye ... boleh."
"Hore ... boleh."
Terdengar suara-suara di belakang Naura kemudian wajah mereka muncul ke layar.
"Astaga ternyata kalian belum pulang ya! Sana-sana pulang nanti dimarahi orang tua kalian."
"Ia Om kami pulang yang penting udah dapat izin belanja gratis."
"Ia tapi tak boleh lebih dari satu juta!"
"Astaga Om pelit banget sih," protes Sheila sedangkan Naura hanya tertawa.
"Ia, ia. Terserah Naura aja mau traktir kamu berapa."
"Jangan terserah Naura dong Om entar kami ditraktirnya pisang goreng aja," sindir Sheila pada Naura tapi gadis itu malah terus tertawa.
"Terus kalian maunya bagaimana?"
"Sepuluh juta Om," canda Rachel.
"Ia bolehlah."
Mendengar perkataan Rachel Naura melotot ke arah gadis itu.
"Nggak, nggak boleh nanti aku traktir kalian pas aku punya uang sendiri aja kalau sampai segitu banyaknya." Bagi Naura uang sepuluh juta itu banyak walau bagi teman-temannya mungkin sedikit. Apalagi Lexi bukanlah siapa-siapa mereka.
"Bercanda Ra," ucap Rachel terkekeh diiringi tawa semuanya.
__ADS_1
Dan semenjak saat itu Naura dan Lexi sering berhubungan melalui telepon seperti adik kakak yang hidupnya terpisah.
Bersambung....