Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 182. Penyesalan


__ADS_3

"Yuk Gel aku antar pulang!" ajak Louis dan Angel pun mengangguk kemudian mengikuti Louis masuk ke dalam mobilnya. Sementara di belakang Edrick pun masuk ke dalam mobilnya sendiri menyusul keduanya.


Ketika mobil berhenti di depan kontrakan Adrian Edrick hanya mengangguk-angguk. "Jadi Angel tinggal di tempat Adrian selama ini," gumamnya.


Louis dan Angel turun dari mobil. "Biar aku yang bawakan saja barang-barangmu. Ingat kata dokter kamu tidak boleh bawa yang berat-berat karena kandungan mu masih muda." Louis mengambil alih barang-barang dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Angel mengangguk. " Terima kasih ya Lou."


"Tidak usah sungkan bentar lagi kan kamu jadi istriku." Angel hanya tersenyum menanggapi perkataan Louis.


Sementara Angel dan Louis masuk ke dalam rumah, Edrick ragu-ragu. "Ikut masuk nggak ya, kalau aku masuk nggak enak sama Louis dan apakah Angel juga mau menerima saya di rumahnya? Jangan-jangan dia malah mengusir saya dan Louis malah menertawakan saya, Akh..." Edrick mengusap wajahnya, gusar.


Sedang asyik-asyiknya menata barang-barang yang mana harus dikemas terlebih dahulu dan yang mana yang harus disusun agar rapi dan rumah tidak terkesan sempit ponsel Edrick bergetar. Louis menerima panggilan tersebut.


"Ada apa Lou?" tanya Angel saat Louis sudah menutup teleponnya.


"Maaf ya Gel aku tidak bisa bantu mengemas barang-barangmu karena urusanku belum kelar dan aku harus harus balik ke kantor."


"Iya Lou, aku mengerti kok. Kamu selesaikan urusanmu dulu."


"Yasudah aku permisi ya."


"Iya."


Louis beranjak keluar namun sampai di depan pintu dia menoleh lagi. "Aku pergi ya Gel!" ucapnya sambil tersenyum.


"Iya." Angel pun ikut tersenyum.


Louis yang memang terburu-buru langsung masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya ke arah kantor. Dia sama sekali tidak melihat penampakan Edrick yang masih berdiri di samping mobilnya.


Setelah Edrick menyadari bahwa Louis sudah pergi dia pun kini masuk ke dalam rumah Kontrakan. Angel masih tetap fokus dengan pekerjaannya. Ia kini dengan sigap mengemas barang yang hari ini dia sudah harus mengirimkannya.

__ADS_1


Tap tap tap. Terdengar langkah sepatu memasuki ruangan. "Lou kenapa kembali, apa ada barangmu yang ketinggalan?" Tak ada jawaban, Angel tetap fokus pada pekerjaannya.


Langkah itu terus mendekati dirinya. Tanpa sengaja Angel melihat dompet Louis tergeletak di lantai. Angel yakin pasti terjatuh saat Louis memasukkan ponselnya tadi. "Kenapa bisa teledor seperti ini sih, kan membuat waktumu terbuang sia-sia. Harusnya kamu sekarang sudah sampai di kantor kan?" Tetap tak ada jawaban.


Angel meraih dompet tersebut dan berinisiatif memberikannya pada Louis. "Ini Lou." Namun matanya terbelalak saat orang yang ada di hadapannya bukanlah Louis melainkan Edrick. "Kamu ... ngapain kamu di sini?"


"Aku mencari mu Gel."


"Untuk apa kamu mencari ku? Mau mengata-ngatai ku lagi?"


" Tidak, aku ingin minta maaf Gel."


"Hmm, minta maaf itu mudah Rick tapi menyembuhkan luka itu susah. Mulutku bisa saja mengatakan aku memaafkan mu tapi di hati apakah bisa seikhlas itu? Tapi tidak apa-apa aku akan tetap berusaha ikhlas memaafkan dirimu sedalam apapun kamu telah menorehkan luka di hati ini. Bukankah sesama manusia harus bisa saling memaafkan?"


"Terima kasih." Hanya kata itu yang mampu Edrick ucapkan selebihnya dia terdiam seperti orang bodoh saja. Lama Edrick berdiri mematung hingga membuat Angel buka suara kembali.


"Apa masih ada yang ingin kau katakan? Katakanlah kalau memang ada setelah itu aku harap kamu pergi karena aku sedang sibuk."


"Apakah tidak bisa dibatalkan?" tanya Edrick dengan wajah yang sendu.


"Kenapa? Apakah kamu tidak merestui sahabatmu menikah dengan wanita hina seperti diriku?"


"Bukan, tapi aku ingin kau kembali padaku."


Angel mengernyit. "Kembali? Bukankah diantara kita memang tidak ada hubungan apa-apa?"


"Gel aku mohon beri kesempatan aku untuk bertanggung jawab terhadap bayi kita!" Edrick tidak mau dirinya terlambat hingga Angel benar-benar menikah dengan Louis.


"Hem, bayi kita." Angel tersenyum kecut. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau bayi dalam kandunganku ini bukan anakmu?"


Edrick langsung bersujud di kaki Angel. "Maafkan aku Gel, maafkan aku, aku khilaf. Aku mohon ya kamu batalkan rencana pernikahan kalian dan beri aku kesempatan. Aku yang akan menikahi mu. Aku baru sadar Gel akau sangat mencintai mu. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku akan tanggung terhadap kehamilanmu itu karena aku yakin dia itu anakku." Edrick berkata dengan bercucuran air mata. Dia benar-benar menyesal dan berharap Angel masih bisa menerimanya.

__ADS_1


"Sudahlah Rick kamu terima saja kenyataan bahwa kita tidak mungkin bersatu. Kamu bilang kamu mencintaiku? Cinta seperti apa? Aku pikir kamu hanya merasa bersalah saja. Maaf keputusanku sudah bulat. Aku tetap akan menikah dengan Louis."


Sedangkan Louis yang menyadari dompetnya tidak ada dia kembali ke rumah Angel karena yakin dompetnya tertinggal di sana. Namun dia membatalkan untuk masuk ke dalam ruangan karena melihat Edrick sedang terlibat pembicaraan serius dengan Angel. Dia hanya bisa mendengar percakapan mereka di balik tembok.


Entah apa yang dirasakan Louis saat ini apakah dia harus senang tatkala mendengar perkataan Angel yang memilih dirinya ataukah harus bersedih melihat kehancuran sahabatnya. Kalau dilihat dari penampilannya Edrick yang acak-acakan Louis tahu sahabatnya pasti mengalami pergulatan batin.


"Gel aku mohon kau menikahlah denganku!" Edrick memohon sekali lagi dengan posisi yang masih terduduk.


"Sudah ku bilang Rick aku tidak mau. Pergilah dan jangan tampakkan dirimu di hadapanku lagi. Sekeras apapun kamu memohon aku tidak akan kembali padamu. Aku sudah mengikat janji dengan Louis jadi ku mohon jangan hancurkan hubungan kami. Dia begitu tulus mencintai dan menyayangi ku jadi aku tidak akan pernah mengecewakannya."


"Benarkah kamu yakin dengan keputusanmu ini?"


"Aku sangat yakin."


"Apa kau juga mencintainya seperti Louis mencintaimu?" Angel terdiam.


"Jawab!"


"Iya aku mencintainya." Angel terpaksa mengatakan itu agar Edrick pergi darinya. Kalau begini terus bagaimana bisa dia move on dari Edrick dan mencintai Louis seutuhnya bukan hanya mencintai kebaikannya saja.


"Baiklah kalau begitu semoga kalian bahagia." Edrick bangun dan bergegas pergi dari tempat itu membawa kekecewaan terhadap dirinya sendiri.


Setelah Edrick pergi Angel menangis sesenggukan. Ia menyesalkan dalam hati mengapa Edrick baru menyadari hal itu sekarang. Andai dari dulu, dia tidak perlu melukai hati Louis kalau memang mereka harus bersatu.


"Sekarang sudah terlambat Rick, sudah terlambat, mengapa tidak dari dulu? Aku tidak mungkin mengkhianati Louis yang sudah begitu tulus menemani ku selama ini, hiks hiks hiks ..."


Louis terenyuh lalu berbalik, dia tidak ingin Angel tahu dirinya melihatnya sedari tadi. Biarlah dompetnya dia tinggal dulu toh ia aman bersama Angel.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2