
"Baik Pak."
Winda berlalu pergi dari tempat tersebut dan menemui gadis tadi.
"Apa! Aku harus minta maaf?" Nggak mau lah Bik kan dia yang salah. Dia yang nabrak tubuhku seharusnya dia yang minta maaf."
"Tidak ada cara lain kalau kamu ingin tetap bekerja di sini. Ya kalau kamu tidak mau, kamu boleh pulang ke rumahmu."
"Jangan gitu dong Bik, aku tidak mau kembali ke rumah bisa-bisa aku langsung dinikahkan."
"Ya sudah ikuti saran saya, temui dia. Minta maaf dan terima hukumannya."
"Apa hukuman? Emang dia siapa sih, sok berkuasa di sini. Main mau hukum orang segala."
"Kamu mau tahu siapa dia?" Gadis itu mengangguk.
"Dia itu pemilik hotel ini, mengerti?"
Gadis itu manggut-manggut. "Pantesan."
"Ya sudah cepat temui dia di depan kamar pengantin, nomor berapa ya, aku lupa."
"Kalau begitu anterin," pinta gadis tersebut.
"Oke ayo cepat!"
Setelah sampai di depan pintu tersebut Louis sudah menunggu dengan senyuman smirk nya. "Lumayan aku punya mainan buat melupakan kesedihan," gumamnya sedangkan gadis tersebut tersenyum kaku sambil berjalan pelan ke arahnya.
"Ya ampun Nindy, cepetan dong jangan lambat kayak siput jalannya. Aku masih banyak kerjaan."
"Iya Bik, iya." Nindy mempercepat langkahnya.
"Aku permisi ya Pak," pamit Winda.
"Silahkan." Winda pun berlalu pergi.
Selepas Winda pergi.
"Oh Nindy namamu?" Gadis itu tidak menjawab masih sebal.
"Kamu tahu kenapa aku memanggil kamu ke sini?" Nindy hanya mengangguk.
"Kalau begitu lakukan!"
"Aku minta maaf," ucapnya datar.
"Apa? Aku tidak dengar."
"Budeg kali," gumam Nindy.
"Apa kamu bilang?"
"Ah nggak aku nggak ngomong apa-apa kok."
"Kamu pikir aku tuli. Cepat minta maaf!"
"Tuh kan dia tidak dengar, padahal aku sudah meminta maaf tadi tapi dia malah menyangkal kalau dia itu tuna rungu." Mengoceh sendiri.
"Hem kayaknya kepalamu minta digetok pakai pecahan kaca ya?"
"Ah, jangan! Jangan!"
"Makanya minta maaf."
" Iya aku minta maaf."
__ADS_1
"Minta maaf yang elegan!"
"Kayak apa coba minta maaf yang elegan itu?" Masih mengomel sendiri.
Ya ampun lama-lama sama wanita ini aku bisa sawan.
"Ya sudah cepat bantu aku mengambil barang-barangku di dalam sana. Tolong bawa koper yang warna merah ke luar!"
"Baiklah." Nindy masuk ke dalam kamar tersebut. Namun bukannya langsung melaksanakan perintah dia malah terbengong melihat kamar pengantin.
Wah indah banget! Gimana sih rasanya menikah? Ah tidak-tidak, aku tidak mau menikah kalau harus sama bapak-bapak.
Nindy bergidik ngeri mengingat dirinya akan dijodohkan dengan pria yang usianya jauh di atasnya oleh orang tuanya. Bayangan lelaki keriput melintas di hadapannya.
Amit-amit.
"Kenapa kamu kok malah bengong?"
"Ah tidak, kopernya yang mana tadi?"
"Yang warna maroon."
"Jangan-jangan kamu mau mencuri pakaian orang ya? Ini kan kamar pengantin?"
"Iya ini kamarku."
"Tunggu, tunggu! Berarti kamu pengantinnya?"
"Iya."
"Tapi itu pak penghulu masih baca doa mana mungkin pengantin prianya ada disini?"
"Ah terlalu banyak bicara, cepat bawa keluar kopernya!"
"Oke siap." Nindy pun mencari barang yang dimaksud. Setelah ketemu ia langsung menyeretnya keluar.
"Bawa ke mobil!"
"Apa?"
"Itu hukuman mu," ucap Louis sambil melempar kunci mobil ke arah Nindy.
"Terus mobil tuan yang mana? Mana aku tahu?"
"Gampang kamu tinggal pencet aja tuh kunci, yang mana yang kebuka mobilnya itu adalah mobil saya."
Saya sudah tahu bodoh tapi bagaimana caranya mencari satu mobil di tempat yang luas? Nindy mengeram apalagi parkiran tidak hanya ada satu yang di bawah tapi parkiran di atas juga ada.
"Kenapa, masih bingung?" Gadis itu mengangguk.
"Itu urusanmu, itu hukuman dariku!"
Gadis itu berdecak lalu menghentak-hentakan kakinya ke lantai karena saking kesalnya kemudian dia menyeret koper dan membawanya ke luar.
Louis tersenyum. "Lucu juga gadis itu."
Beberapa saat kemudian Edrick muncul bersama Angel.
"Loh kalian kok ke sini? Sudah menyalami para tamu?"
"Belum tapi dia khawatir sama kamu," jawab Edrick.
"Lou..." Angel langsung memeluk Louis sambil menangis.
"Hei ada apa?" tanya Louis sambil menepuk-nepuk pundak Angel. Sebenarnya Edrick cemburu melihat keakraban keduanya tapi dia sadar Louis sudah berkorban untuknya, jadi dia membiarkan Angel melakukan itu untuk terakhir kalinya karena setelah ini Edrick tidak akan membiarkan siapapun menyentuh istrinya.
__ADS_1
"Kita masih sahabat kan?" Sepertinya Angel tidak bisa melepaskan kebersamaannya selama ini.
"Pasti tapi kamu harus ingat kamu sudah punya suami." Louis tidak enak pada Edrick.
"Ah iya maaf." Angel melepaskan pelukannya pada Louis.
"Maaf," katanya pada Edrick.
"Tidak apa-apa," jawab Edrick.
"Kenapa kamu meninggalkan tempat pernikahan?"
"Oh itu, maaf aku tadi mau mengambil koperku dan biar aku nanti ganti dengan baju-baju Edrick."
"Tidak usah repot-repot Lou,biar aku nyuruh orang rumah saja yang nganter ke sini. Balik yuk ke luar teman-teman pada nyariin kamu tuh!"
"Oke ayo!" Louis pun melangkah paling depan disusul Edrick dan Angel yang kesusahan berjalan.
"Kalian naik ke pelaminan saja ya, aku mau gabung sama teman-teman."
"Oke," jawab Edrick.
Louis pun bergabung dengan Zidane dan yang lainnya yang kini tengah menikmati hidangan. Daripada harus menunggu pengantin kembali untuk mengucapkan selamat, mending makan-makan menurut mereka.
"Ku pikir elo ngilang bunuh diri Lou," kelakar Zidane.
"Teman lucnut Lo, bukannya doakan teman yang baik-baik malah doanya yang jelek-jelek."
"Siapa tahu elo depresi?"
"Mana ada depresi? Kalau gue depresi nggak bakal gue serahin tuh Angel sama Edrick.
"Kali aja."
"Nggaklah masa depan gue masih panjang tahu, gue masih pengen ngenikmatin surga dunia lagi."
"Jangan bilang kamu mau balik ke dunia hitammu lagi," ujar Adrian.
"Su'uddzon sih? Nggaklah dunia hitam itu gelap, takut tersesat aku," ujar Louis sambil terkekeh.
"Baguslah kalau begitu. Aku pikir mau balik lagi."
"Nggaklah Dan, kali aja aku ketemu jodoh yang lain terus nikah, bisa kan ya?"
"Bisa banget Bro, Tuhan menciptakan manusia itu berpasang-pasangan. Jadi jangan khawatir meski elo jomblo sendirian," ucap Dion.
"Elo nyemangatin atau ngehina gue karena jomblo sendiri?"
"Nyemangatin lah Bro. Tapi elo hebat Bro mau mengalah sama Edrick. Kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana nasibnya Edrick, kayaknya dia bakalan frustasi kalau sampai elo yang nikahin Angel." Dion yang bersama Edrick tadi bisa merasakan bagaimana kesedihan sahabatnya itu.
"Kalau kalian di posisiku aku yakin kalian akan melakukan hal yang sama."
"Habisnya dia ngeyel sih Yon, udah berulang kali aku sama Annete bicara sama dia tetap aja teguh pada pendirian. Nah, pas Louis yang mau bertanggung jawab dia malah down," tukas Adrian.
"Mungkin waktu itu pikirannya belum terbuka, ya sudahlah kita doakan saja semoga setelah menikah mereka bahagia," timpal Andy.
"Amin," ucap semuanya serempak.
"Sudah cepat makannnya kita kan belum ngucapin selamat sama mereka," perintah Zidane.
"Ya...aku kan baru makan, kalian ajalah dulu yang naik. Aku mau enak-enak makan dulu. Soalnya dari pagi belum makan, jadi kelaparan."
"Kasihan pengantin gagal, makan dah yang banyak biar nggak kurus kering karena stres." Zidane menggoda Louis sambil tertawa-tawa.
Louis memukul lengan Zidane. "Sana, sana pergi bisa-bisa aku stres dengan ocehan elo."
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐