Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 103. Ngidam sate


__ADS_3

Pagi sekitar jam sembilan Zidane kembali ke rumah karena ternyata ada beberapa berkas yang ketinggalan. Sampai di rumah ia langsung menuju meja kerjanya dan mengambil berkas-berkas yang diperlukan tersebut lalu bergegas keluar. Sampai di ruang tamu terkejut melihat sang istri sedang duduk sambil mengusap air mata.


Zidane mendekati Isyana mencoba memeriksa apakah benar istrinya sedang menangis. Ternyata benar Isyana saat ini sedang mewek.


"Sayang kamu kenapa?" Tatap Zidane mata istrinya.


"Nggak apa-apa Mas," jawab Isyana sambil menghapus air matanya dengan tisu.


"Kalau tidak apa-apa kenapa menangis?" tanya Zidane penasaran.


"Mas Syasa boleh nanya?" Zidane menatap lekat-lekat wajah istrinya, tumben mau nanya aja masih minta izin pikirnya. Tapi apakah dirinya punya salah sehingga istrinya menangis sesenggukan seperti itu. Ya dirinya bisa saja melakukan hal kecil yang membuat istrinya menangis karena akhir-akhir ini Isyana memang agak sensitif. Mungkin saja karena kehamilannya yang membuatnya seperti itu.


"Mau nanya apa sayang?" tanya Zidane lembut penuh kehati-hatian.


"Mas kalau suatu saat Syasa meninggal apa yang akan Mas lakukan?" Zidane mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan istrinya. Namun sesaat tersadar melihat apa yang ditonton oleh Isyana di dalam ponselnya.


Ternyata Isyana sedang menonton video pasangan artis yang sekarang menghebohkan publik karena kematiannya yang benar-benar sehidup semati. Video yang menampilkan keromantisan mereka semasa hidupnya membuat Isyana jadi baper tatkala sang suami artis tersebut yang mengatakan dirinya lebih baik mati juga kalau sang istri meninggal dunia karena dirinya tidak bisa hidup tanpa istrinya itu. Sekaligus Isyana merasa sedih mengingat kematian mereka yang mendadak. Zidane lalu mengambil ponsel tersebut dan langsung mematikannya agar istrinya tidak bersedih lagi.


"Mas pasti mau nikah lagi ya," tebaknya karena Zidane belum menjawab juga pertanyaannya. Ternyata Isyana menginginkan suaminya mengatakan hal yang sama dengan suami artis tersebut.


"Apa sih sayang kok malah ngomongin kematian?"


"Jawab aja sih Mas, nggak usah ngeles," ucapnya sambil cemberut.


Melihat istrinya yang mengerucutkan bibir Zidane tidak tahan untuk mencubit bibir itu.

__ADS_1


"Apa sih istri Mas ini? Kematian tidak bisa dipinta Sayang. Ya walaupun kematian selalu dekat dengan kita tapi kalau belum waktunya ya tidak akan terjadi. Cinta sejati tidak harus saling berakhir dengan kematian bersama Sayang. Tapi Mas janji kalau kamu nanti pergi duluan meninggalkan Mas, Mas nggak akan menikah lagi sampai Mas juga dipanggil oleh yang maha kuasa. Namun kalau boleh saya meminta pada Tuhan, saya hanya ingin kalau sampai pada waktunya nanti semoga Mas yang dipanggil duluan karena Mas tidak tahu bagaimana caranya mendidik anak-anak kita sedangkan kamu Mas sudah lihat sendiri bisa mendidik si twins dengan baik walaupun tanpa Mas." Zidane pun ikut mewek membayangkan dirinya akan berpisah dengan sang istri, ada bulir air mata yang menetes di sudut matanya.


"Apa sih Mas kok ngomong gitu? Semoga saja kita panjang umur ya Mas biar bisa nemenin anak-anak kita tumbuh dewasa." Isyana lalu berdiri dan memeluk suaminya.


Zidane pun merangkul istrinya. "Amin sayang. Semoga Tuhan mengijinkan kita menua bersama. Kalau perlu sampai kita menyaksikan anak-anak kita bahagia nanti dengan pasangannya masing-masing dan kita mendapat cucu-cucu dari mereka."


"Amin. Sudah ah Mas, kamu nggak balik ke kantor?"


"Nanti aja deh hati masih kacau nih gegara ngomongin kematian. Mas akan minta pak sopir aja untuk mengantar berkas ini duluan."


Isyana mengangguk. "Syasa buatin minum dulu ya Mas." Isyana menawarkan diri.


"Tidak usah sayang, kita jalan-jalan aja dulu ya di taman rumah." Isyana mengangguk, Zidane lalu menggandeng tangan istrinya berkeliling di taman sekitar rumah sekedar ingin melupakan pembicaraannya tadi.


Isyana menggeleng. "Kan es krimnya sudah Mas sediakan semua. Mas ngeselin ah masa diborong sama kulkas-kulkasnya?"


Isyana memang hampir tiap hari meminta dibelikan es krim sehingga Zidane berinisiatif membelikan dengan kulkasnya agar tiap hari dirinya tidak harus repot-repot keluar rumah tapi justru sales-nya yang akan mendatangi kediamannya untuk mengisi es krim apabila stoknya habis.


Awalnya dokter kandungannya yang menyarankan dia mengkonsumsi es krim karena menurut dokter tersebut bayi yang ada dalam kandungan Isyana kecil tak sesuai dengan umurnya karena saat itu Isyana belum bisa makan banyak dan sering memuntahkan makanannya. Namun setelah Isyana sudah tidak mual-mual lagi dan ***** makannya kini bertambah malah ia tidak bisa melepas kebiasaannya mengkonsumsi es krim. Sampai Laras mewanti-wanti dirinya agar berhenti untuk mengkonsumsi es krim karena takut bayinya akan besar di dalam dan Isyana susah nanti melahirkannya. Namun Zidane selalu mengatakan 'Tidak apa nanti kalau Syasa tidak kuat mengejan kita sesar saja'.


"Mas itu apa?" tanya Isyana menunjuk suatu tempat yang di pagar berlapis-lapis. Rupanya wanita itu baru sadar ada tempat itu sekarang karena jaraknya yang memang agak jauh.


"Oh itu tempat peliharaan burung-burungnya Papa," ujar Zidane.


"Boleh aku masuk Mas? Aku mau lihat-lihat."

__ADS_1


"Sebentar ya aku minta kuncinya sama pak Agus dulu." Zidane lalu pergi ke tempat pak Agus orang yang dipercaya Alberto untuk mengurus burung-burungnya.


Setelah kunci di dapat dia langsung membuka gemboknya dan mengajak istrinya ke dalam. "Ayo masuk sayang!" ajaknya. Isyana pun masuk mengekor Zidane dari belakang. Sampai di dalam ia terkagum-kagum melihat burung peliharaan mertuanya yang bagus-bagus, bulunya berwarna-warni dan suaranya merdu-merdu semakin memperindah tempat itu.


Namun sayangnya dari semua burung yang berbulu bagus dan berwarna indah Isyana malah lebih tertarik pada burung merpati yang berbulu sederhana. Tiba-tiba saja air liurnya hampir menetes.


"Kenapa sayang?" tegur Zidane yang melihat istrinya menatap aneh ke arah burung tersebut.


"Kayaknya enak ya Mas kalau itu dijadikan sate," tunjuknya pada burung merpati itu sambil menelan air ludahnya.


"Itu burung kesayangan Papa sayang," ucap Zidane sambil garuk-garuk kepala.


"Kayaknya aku salah deh bawa Syasa ke sini," batin Zidane.


"Boleh ya Mas kayaknya burung itu tak seindah yang lain deh pasti Papa tidak keberatan kalau kita sate. Tolong ya Mas ngomong sama Papa kalau cucunya pengen satenya burung itu."


Zidane menggaruk tengkuknya. "Nanti deh aku bicara sama Papa."


"Makasih ya Mas, dedek pasti sayang sama papanya nanti karena selalu berusaha memenuhi keinginannya." Isyana tersenyum bahagia sedangkan Zidane tiba-tiba menjadi pusing memikirkan bagaimana caranya membujuk tuan Alberto. Karena selain burung itu adalah burung kesayangan papanya burung itu termasuk jenis burung langka dan terlebih harganya sangat fantastis karena telah memenangkan beberapa kali perlombaan ajang balap.


Bersambung....


Hari Senin jangan lupa Vote-nya ya!


Terima Kasih๐Ÿ™๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“

__ADS_1


__ADS_2