
Sebelum Author melanjutkan cerita, author minta tolong ya pada kalian semua untuk meng-tap ❤️ di cerpen author. Tap ❤️ aja, tetapi kalau kalian berkenan untuk membaca dan memberikan komentar author akan sangat berterima kasih. Cek profil author ada gambar seperti ini ( yang paling bawah ya) Buka dan tap ❤️ kalau tidak ingin membaca. Terima kasih.🙏
🌟 Happy Reading 🌟
"Apa?!" Louis kaget dan tidak percaya.
"Kamu sudah tua, kapan lagi mau menikah? Mau menunggu mama sama papa koid dulu baru menikah, begitu?!"
"Tapi Ma Nindy sudah ... "
"Kamu akan menikah dengan anak sahabat mama," potong mama Ani cepat.
"Jadi mama belum membatalkan perjodohan itu? Katanya mama merestui hubungan Louis dengan Nindy."
"Tapi kenyataannya kalian sekarang sudah berpisah kan? Mama tahu gadis itu tidak bisa menerima masa lalumu."
"Mama tahu darimana perihal itu? Nindy memutuskan hubungan dengan denganku bukan karena itu Ma, tetapi karena orang tuanya menjodohkan dengan pria lain dan Nindy terpaksa menerimanya karena keadaan ayahnya yang lagi kritis." Louis tidak terima.
"Itu kan cuma alasannya saja. Dia tidak enak mengatakan semua itu padamu. Lagipula kalau dia menikah dengan pria lain kamu harus menikah dengan bayang-bayangnya kah?"
"Ah mama bukannya membantu malah meledek."
"Sudah ayo coba," ucap mama Ani sambil mengulurkan baju pengantin pria ke arah Louis.
"Ma please bantu Louis! Bukankah katanya mama juga berteman ya dengan mamanya Nindy, mengapa tidak menjodohkan kami saja?"
"Tidak bisa bundanya Nindy sudah kadung berjanji sama temannya."
"Ah mama payah."
"Loh kok mama yang payah sih? Kamu tuh yang payah tidak bisa mengejar cintamu sendiri."
"Ckk, bagaimana lagi kalau dia sudah memutuskan begitu? Memaksanya pun akan menyakiti hatinya. Tapi kalau mama yang ngomong sama orang tuanya mungkin bisa. Atau aku saja yang ngomong langsung sama orang tuanya ya? Nanti Louis tawarkan bahwa apa saja yang ingin mereka mau pasti Louis akan penuhi." Louis tampak tersenyum lalu hendak beranjak dari tempatnya untuk menemui kedua orang tua Nindy.
"Eh, eh, eh mau kemana?" tanya mana Ani sambil memegang tangan Louis dengan erat.
"Jangan malu-maluin mama, Nindy sudah menceritakan perkara foto itu pada orang tuanya. Mereka tidak mungkin merestui mu untuk menjadi menantunya." Ucapan mama Ani membuat nyali Louis ciut kembali.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau menikah kalau bukan sama Nindy."
"Nih anak sepertinya minta digetok kepalanya ya. Sudah tahu Nindy sudah mau menikah masih saja diharapin." Mama Ani geram, kenapa Louis tidak menurut saja.
"Getok aja Ma barangkali aku bisa amnesia dan kalian semua akan bersimpati pada Louis dan akhirnya akan menikahkan Louis dengan Nindy."
"Iya dan saat terbangun Nindy sudah jadi milik orang lain." Mama Ani tersenyum mengejek.
"Dapat jandanya juga nggak apa-apa Ma. Yang penting Louis sama Nindy bisa bersatu."
Pletok.
Akhirnya mama Ani benar-benar menggetok kepala Louis karena geram. Bisa-bisanya putranya itu mendoakan Nindy jadi janda.
"Auw sakit Ma." Louis mengusap kepalanya yang sakit.
Bersamaan dengan itu Nindy dan putri memasuki ruangan.
"Mbak katanya bunda sudah memesankan gaun pernikahan untukku ya?"
"Iya Mbak sudah selesai kok tinggal dicoba saja nanti kalau kebesaran biar saya kecilkan lagi." Pemilik butik mengambil gaun berwarna putih dan memberikan kepada Nindy.
"Eh Tante, maaf Nindy tidak lihat tadi."
"Iya nggak apa-apa. Nak Nindy mau pesan apa ke sini?" tanya mama Ani basa-basi padahal sudah melihat gaun pengantin di tangan Nindy.
"Mau mencoba gaun pengantin Tante."
"Jadi benar bahwa Nak Nindy memang mau menikah."
"Iya Tante," jawab Nindy sambil menunduk karena merasa tidak enak pada mama Ani.
"Ya sudah sana teruskan! Tante juga lagi bantuin Louis untuk cari baju pengantin."
"Louis mau nikah juga Tante?"
"Iya."
Entah mengapa Nindy kecewa. Bukankah Louis baru kemarin mengatakan kalau dirinya tidak bahagia bisa kembali padanya tetapi mengapa sekarang malah ingin menikah juga. Namun Nindy sebisa mungkin menutupi kekecewaannya. Dia merasa tidak pantas kecewa pada Louis sedang dirinya sudah mengecewakan pria itu.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati Nindy memaksakan senyumannya lalu mengulurkan tangan ke arah Louis. "Selamat ya! Semoga kamu bahagia."
Louis menerima uluran tangan itu tapi tidak menjawab dia lebih memilih mengangguk lemah, tidak bersemangat.
"Ayo Mbak dicoba dulu!" Pemilik butik memanggil Nindy.
"Eh iya Mbak."
"Tante, Lou aku permisi dulu ya!"
"Iya Nak Nindy." Sedang Louis tidak menjawab tetapi terus saja mengamati gerakan Nindy. Hingga saat Nindy keluar dari ruang ganti dengan gaunnya Louis terlihat terpana. Dia tidak mau mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Membayangkan bahwa pengantin wanitanya adalah gadis bergaun putih tersebut.
"Hei." Mama Ani menepuk pundak Louis, membuyarkan lamunan putranya.
"Apa sih Ma, ganggu aja," protes Louis.
"Lihat tuh Nindy begitu bersemangat mencoba gaunnya. Dari tadi senyum yang tertoreh di bibirnya tidak pernah pudar. Kamu tahu itu tandanya apa?"
Bagai orang bodoh Louis menggeleng. "Karena apa Ma?" tanyanya masih belum mengalihkan pandangannya.
"Itu karena Nindy bahagia dengan pernikahan itu."
Louis langsung sadar bahwa Nindy bukanlah calon pengantinnya. Dia langsung menyambar salah satu baju pengantin pria yang ada di tangan mama Ani.
"Good job, anak pintar," ucap mama Ani karena melihat Louis menyambar baju yang berwarna putih juga dan langsung mencobanya ke ruang ganti.
"Pas Ma," ucapnya sambil memperlihatkan baju yang dikenakannya.
"Wah anak mama terlihat lebih tampan tapi akan lebih tampan lagi kalau tidak cemberut seperti itu."
"Nggak bisa Louis masih kesal, seenaknya saja mengambil keputusan mau menikahkan segala. Pokoknya Louis tidak akan menyentuh istri Louis nanti."
"Terserah kamulah yang penting kamu mau menikah karena mama sudah menyebar undangannya."
"Sudah tidak ada lagi kan Ma? Louis mau pergi ke kantor saja."
"Ya sudah ayo!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa ya!🙏