
Di tempat yang lain di dalam sebuah ruangan kosan yang terlihat begitu sempit tampak seorang wanita muda ngomel-ngomel sendiri melihat semua peralatan kecantikannya sudah habis. Bukan cuma skincare-nya bahkan parfumnya saja juga habis.
"Akh ... kenapa dipindahkan ke sini bukannya gaji nambah tapi malah berkurang? Ada-ada saja nih perusahaan, udah mau bangkrut saja kayaknya. Kalau tahu begini mah aku tidak akan mau dimutasi ke tempat ini." Lisfi tidak tahu saja bahwa perusahaan memang ingin membuatnya tidak betah saja dan ujung-ujungnya dia akan mengundurkan dirinya sendiri untuk keluar dari perusahaan.
"Malah bilang kinerjaku berkurang saja di tempat ini padahal 'kan menurutku aku malah lebih bekerja keras saat kerja di sini. Akh, sudahlah perusahaan tidak bisa diandalkan lebih baik aku berhenti dan mencari pekerjaan lain."
Lisfi mendesah kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar. Pikirannya kalut, gajinya ternyata tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan di pertengahan bulan seperti ini uangnya sudah ludes semua, dan tidak mampu menopang beban hidupnya lagi.
Lisfi melirik gelang di tangannya. Ada niat untuk menjualnya. Rasa-rasanya uang dari penjualan gelang tersebut lebih dari sekedar cukup untuk membayar ongkos pulang.
"Aku harus kembali ke rumah Bunda kalau tidak aku bisa mati kelaparan di tempat ini." Lisfi segera mengemas pakaiannya hendak pulang ke kota. Dia yang tidak terbiasa hidup terpisah dengan kedua orang tuanya tidak mampu mengatasi keuangan pribadinya yang minus.
Tidak butuh lama bagi Lisfi untuk mengepak barang-barangnya. Sepuluh menit semua pakaian dan barang-barang lainnya sudah berpindah cantik dari lemari ke dalam kopernya.
Setelah semua selesai dikemas ia masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air untuk mengusir rasa gerah yang sedari tadi menerpa dirinya. Dengan mandi dia berharap bisa sedikit mencuci otaknya menjadi sedikit lebih fresh.
Selesai mandi ia duduk kembali di depan meja rias. Memandangi peralatan kecantikannya kembali yang sudah ludes.
"Andai saja aku tidak menurut ucapan si Sinta aku tidak akan kekurangan seperti ini, paling tidak aku masih bisa bertahan hingga akhir bulan sampai gajian kembali." Dia mengingat bagaimana teman barunya itu selalu mengajaknya berbelanja hal-hal yang tidak penting bahkan sering merayu untuk mentraktir dirinya. Dan dirinya yang tidak ingin dikatakan pelit terpaksa selalu mentraktir temannya itu.
"Dia mah baik kalau ada inginnya saja." Lisfi mengeram mengingat kebodohan dirinya yang memang dengan mudahnya dimanfaatkan oleh orang lain. Namun saat dirinya butuh Sinta angkat tangan dia tidak mau membantu Lisfi sedikitpun. Dia menolak mentah-mentah saat Lisfi mengutarakan keinginannya untuk memberikan ia pinjaman uang untuk sementara.
"Dasar perempuan licik, perhitungan banget." Lisfi semakin geram mengingat Sinta selalu memberikan alasan-alasan yang tidak jelas menurutnya.
Kadang dia berpikir untuk meminta kiriman uang dari ayah dan bundanya saja, tapi dia tidak mau penilaian kedua orang tuanya akan berubah terhadapnya. Bukankah selama ini dia selalu dianggap paling hebat di dalam keluarga? Dia jadi ragu untuk pulang, bagaimana dia akan menjawab pertanyaan ayahnya saat menanyakan kenapa dirinya sudah pulang nanti. Lisfi menjadi nelangsa.
"Akh kenapa aku harus bodoh bilang saja aku tidak betah jauh-jauh dari mereka. Beres," gumamnya sendiri sambil menyunggingkan bibir, mencoba tersenyum walau kenyataan di hatinya masih terasa ketir.
Saat sedang dalam mood buruk, pintu kosan terdengar diketuk. Lisfi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dalam hati-hati menebak siapa gerangan yang bertamu di pagi hari seperti ini.
"Hai!" sapa seorang wanita yang berpenampilan begitu seksi dan menawan saat pintu terbuka. Lisfi menatap wajah wanita itu tak berkedip.
"Mala?" Lisfi tidak percaya ternyata penampilan Maya berkali-kali lebih cantik dan menarik daripada saat di kantor.
"Tumben pagi-pagi ke sini, ada apa?" Lisfi tidak habis pikir kenal baik tidak tapi orang ini menyempatkan diri menemui dirinya pagi-pagi buta seperti ini.
__ADS_1
"Wah begitu ya kalau seorang teman menyambut temannya?" Mala terlihat ngambek.
"Sorry mood ku lagi hancur, maafkan aku kalau ada kata-kata yang menyinggung dirimu."
"Tidak masalah, apakah aku boleh masuk?"
"Silahkan, masuk dan duduklah aku akan membuatkan minuman."
"Tidak perlu kamu temani saja aku di sini."
"Baiklah." Lisfi merasa bersyukur karena kalau tidak dia tidak tahu harus menghidangkan apa. Di dapur stok gula sudah tidak ada. Dia hanya berpura-pura tadi menawarkan minuman terhadap Mala.
"Kamu mau balik ke Jakarta?" tanya Mala penasaran saat melihat koper yang sudah penuh dengan pakaian yang terlihat dari tempat mereka duduk karena pintu kamar Lisfi yang tidak ditutup kembali. Lisfi kadang heran mengapa perempuan ini seolah tahu semuanya tentang dirinya. Apa orang ini penguntit? Tetapi buat apa?
"Ya begitulah saya rasa saya harus mengundurkan diri dari pekerjaan saya."
"Loh kenapa?"
"Malas bekerja di perusahaan kalau gajinya kecil," ucap Lisfi to the point.
"Oh ya?" Mala merasa tak percaya karena jabatan Lisfi sedikit lebih tinggi di atasnya.
"Itu wajar UMR di sini lebih rendah dari Jakarta, mungkin perusahaan memberikan gaji menyesuaikan dengan kota masing-masing," terang Mala.
"Tapi ini tidak adil bagiku. Aku belain jauh-jauh ke sini, jauh dari keluarga malah seperti ini." Lisfi tampak cemberut sedangkan Mala hanya tersenyum melihat Lisfi yang malah melayangkan protes padanya. Kalau saja Louis mau membuka hati untuknya mungkin protes Lisfi ini bisa diproses, tapi sayang Louis menolak dirinya sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Terus gajimu berapa?" Lisfi masih penasaran melihat penampilan Mala yang terlihat banyak uang. Mala pun menyebutkan nominal gajinya yang ternyata masih berada di bawahnya.
"Oh ya?" tanya Lisfi tidak percaya. Mala hanya mengangguk.
Lisfi memandangi penampilan Mala dari atas sampai bawah dengan tidak percaya bahkan tas yang dibawa Mala pun terlihat bermerek. "Apakah kamu anak orang kaya?"
"Tidak."
"Kenapa bisa penampilanmu seperti ini kalau gaji saja kamu masih di bawahku?"
__ADS_1
"Aku punya pekerjaan sampingan," sahut Maka enteng.
"Oh ya, kira-kira boleh aku bergabung denganmu?" tanya Lisfi antusias.
"Boleh saja. Nanti malam kau bisa menemui ku. Ini alamatnya," jawab Mala sambil menyodorkan alamat rumahnya pada Nindy.
"Syaratnya apa?"
"Tidak ada hanya kamu harus tampil cantik saja."
"Oke, tapi skincare ku habis bagaimana bisa aku dandan cantik?"
Mala mengernyit. "Bagaimana bisa gajimu tidak cukup untuk membeli perlengkapan kecantikan padahal kamu cuma tinggal sendiri?"
"Sudah habis terbeli baju-baju sampai aku lupa bahwa skincare juga sudah habis. Juga buat traktiran Sinta."
Mala menggeleng bagaimana bisa perempuan ini mudah terpengaruh, tetapi baguslah sepertinya jalannya akan semakin lancar.
"Ya sudah ini buat kamu," ucap Mala sambil mengeluarkan skincare mahal dari dalam tasnya membuat Lisfi semakin kagum dan ingin segera bekerja sampingan seperti halnya Mala.
"Pasti ayah akan senang kalau aku bisa dapatkan uang lebih banyak. Ayah akan berpikir pasti jabatanku di kota ini naik," batin Lisfi.
"Baiklah aku akan datang ke rumahmu nanti malam," ucap Lisfi kemudian.
"Oke aku tunggu," ujar Mala sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya hendak berpamitan.
"Tunggu! Sebenarnya tujuan awal mu ke sini ingin apa?" tanya Lisfi masih penasaran.
"Oh itu? Aku hanya kebetulan lewat jadi sekalian mampir."
"Oh."
"Sudah ya aku pergi dulu, sebaiknya kamu harus istirahat sekarang mumpung libur hari Minggu, sebab nanti malam kamu harus kerja berat!" seru Mala sambil berlalu pergi.
"Baiklah," jawab Lisfi sambil memandangi punggung Mala yang terlihat semakin menjauh.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐