Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 101. Kado istimewa


__ADS_3

Sore hari Laurens dan Abraham berpamitan pada keluarga Alberto dan Lana juga kepada anak dan menantunya sedangkan Lexi untuk sementara tinggal di rumah keluarga Alberto.


"Om mau tidur di kamarku atau di kamar sebelah?" tanya Naura ketika malam menjelang. Mereka dan semua keluarga Alberto kini masih duduk di meja makan selesai makan bersama.


"Terserah yang penting tidak tidur dalam satu kamar." Isyana yang menjawab. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu antara keduanya karena memang belum waktunya.


"Boleh tidur sama si twins aja?" tawar Lexi, rupanya dia merencanakan sesuatu.


"Boleh," jawab Zidane.


"Aku mau tidur sama kak Naura di kamarnya aja," ujar Nathan.


"Kalau begitu biar aku yang tidur sama Tristan aja di kamarnya," timpal Lexi.


"Terserah kalian sajalah bagaimana baiknya," ucap Zidane.


Setelah malam semakin larut mereka masuk ke kamar masing-masing yang telah ditentukan. Tengah malam Lexi gelisah tidak bisa tidur Tristan yang merasa ada pergerakan di kasurnya menjadi terbangun.


"Ada apa sih Om?" tanya Tristan penasaran.


"Om nggak bisa tidur nih."


"Hmm pasti memikirkan kak Naura ya," tebak Tristan.


"Iya nih masa Om baru nikah sudah pisah kamar," protesnya.


"Emang Om mau tidur sama kak Naura? Emang boleh?"


"Emang tidak boleh? Kan Om Lexi sudah resmi menikah sama Naura." Malah balik bertanya.


"Iya ya Om tapi kenapa Om tadi tidak mengajak kak Naura tidur dalam satu kamar?"


"Nggak dibolehin sama Mama Papa kamu."


"Kok tega sih Mama Papa. Ya sudah nanti aku bakal nyuruh Atan pindah ke sini."


"Beneran? Tapi jangan sampai orang tua kalian tahu ya."


"Beres Om." Tristan pun bangun menghampiri kamar Naura. Pelan-pelan membangunkan Nathan dan menyuruh pindah ke kamarnya kembali. Awalnya Nathan terkejut namun setelah diberi penjelasan oleh Tristan ia pun menurut.


Naura terbangun tatkala merasa tubuhnya berat. Pasti Nathan yang telah memeluk dirinya pikirnya anak itu memang terkadang banyak gerak dalam tidurnya.


Tapi tidak mengapa tangannya besar? Segera ia menoleh ke belakang. " Om!" pekiknya.


"Sst!" ucap Lexi sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir Naura.


"Jangan berisik Nanti kedengaran Isyana," perintah Lexi.


"Om mau apa?" tanya Naura dengan suara pelan.


"Mau tidur sama istri sendiri lah emang mau ngapain lagi."


"Jangan bilang Om mau nagih hak Om Naura kan belum siap kan perjanjiannya..."


"Jangan mesum ah kamu pikir Om mau apa," protes Lexi.


"Terus Om ke sini mau apa?" tanya Naura keheranan.


"Mau ngasih hadiah kan hari ini kamu ulang tahun yang ke tujuh belas."


"Benarkah?" Mata Naura berkaca-kaca karena saking bahagianya. Reflek dia duduk.


"Mana kadonya Om?" lanjutnya begitu penasaran.


"Tutup mata kamu!" perintah Lexi yang kini pun ikut duduk.


Naura pun menutup mata sesuai permintaan Lexi namun tiba-tiba,

__ADS_1


'Cup.' Lexi mengecup kening Naura.


"Itu kadonya," ucap Lexi sambil terkekeh.


Naura membuka mata lalu cemberut. "Nggak modal banget sih Om masa kadonya cuma itu?" Mulutnya berkata seperti itu namun hatinya begitu riang mendapatkan ciuman pertama yang begitu lembut dari seorang yang dia cintai yang kini berstatus sebagai suaminya.


"Oh kurang ya," ucap Lexi terus memegangi dagu Naura dan memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi.


"Om!" protes Naura sambil memukul dada Lexi berkali-kali agar berhenti menciumi dirinya namun Lexi tak berhenti malah sekarang meraup bibirnya dengan lembut. Secepat kilat Naura mendorong tubuh Lexi karena dirinya sudah kehabisan nafas.


"Sorry." Lexi tersadar. Ingin dia melanjutkan adegannya tadi dan membawa istrinya ke ranjang namun seketika dia ingat bahwa Naura masih sekolah ia tidak ingin menghancurkan masa depan gadis itu.


"Bertahanlah Lex toh tidak sampai setahun lagi dia bakal lulus sekolah," bicara sendiri, menyemangati dirinya sendiri.


"Om jangan macem-macem nanti Naura khilaf."


"Mau dong khilafnya," goda Lexi sambil tersenyum nakal dan Naura hanya mencebik kesal.


"Sudah ayo tidur besok kamu kan harus sekolah," ajak Lexi.


"Om janji kan nggak bakal macem-macem?"


"Iya Om janji nggak bakal macem-macem cuma satu macem aja." Naura melotot ke arah Lexi.


"Iya iya orang Om cuma mau tidur sambil meluk kamu doang nggak lebih."


Naura mengangguk dan masuk ke dalam pelukan Lexi lalu tak berapa lama deru nafasnya mulai terdengar menandakan pemiliknya sudah terlelap.


Lexi memandangi wajah Naura begitu cantik pikirnya, ia bersyukur gadis di depannya telah menjadi miliknya namun ia menyayangkan dirinya tidak bisa memiliki gadis itu seutuhnya saat ini.


Nasib nasib masa malam pertama ku hanya pelukan saja. Akh Mommy ini gara-gara mommy yang memaksa kami menikah sekarang. batin Lexi.


Esok hari pun tiba mereka terbangun dengan senyum di bibirnya membuat Isyana menjadi curiga.


"Kenapa kalian senyum-senyum?" tanyanya dengan tatapan penuh curiga.


"Lagi senang aja," ucap Lexi sambil bersiul ria.


"Tumben berangkat pagi."


"Katanya ada urusan kantor yang harus segera diselesaikan."


"Ooh."


"Gimana mau nggak? Kalo nggak mau biar nanti saya suruh pak sopir aja."


"Iya iya aku mau, kapan sih aku pernah nolak nganterin si twins?" Apalagi sekarang juga ada Naura pikir Lexi.


Sehabis sarapan mereka langsung berangkat ke sekolah. Setelah menurunkan si kembar lalu bergegas menuju sekolah Naura.


Naura turun dari mobil dan berpamitan pada Lexi.


"Om Naura masuk ya," ucapnya sambil mencium tangan Lexi.


"Iya hati-hati ya dan jangan lupa jangan dekat-dekat sama Febri!" Naura mengangguk lalu berjalan ke arah teman-temannya yang kini sedang melambaikan tangan di pinggiran lapangan basket. Naura berjalan melewati Febri yang kini sedang berlatih basket bersama teman-temannya. Dia berharap Febri tidak melihatnya karena dia tidak tahu harus menjelaskan darimana bahwa dia akan mengakhirinya hubungannya dengan Febri. Sedangkan sang suami setelah mengantar bukan langsung pulang tapi memilih mengawasi dan menunggu sang istri sambil memesan kopi di cafe seberang jalan.


Siang hari sepulang sekolah Nathan dan Tristan berlari-lari kegirangan menghampiri Isyana. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan dibalik tubuhnya.


"Ada apa Sayang kok sepertinya kalian bahagia?" sapa Isyana terhadap kedua anaknya.


"Ma Atan dapat piala," ujar Nathan sambil menunjukan pialanya.


"Oh ya kamu menang lomba apa sayang?" Isyana tahu kedua putranya mengikuti lomba antar sekolah tapi mereka merahasiakan ikut lomba apa.


"Cloding Mama. Atan buat game di sana. Sebenarnya Atan tidak menyangka bakal menang karena di sana saingannya berat-berat Ma. Katanya pak guru punya Atan menang karena di dalam game buatan Atan diselipkan pembelajaran jadi adik-adik TK bisa bermain sambil belajar."


"Wah hebat anak Mama."

__ADS_1


"Kamu sayang dapat apa?" beralih bertanya pada si bungsu.


"Taraa...." Tristan pun menunjukkan pialanya.


"Wah Itan juga hebat, kamu ikut apa sayang?"


"Ayo tebak Ma." Malah mengajak mamanya tebak-tebakan.


"Nyanyi?" Tristan menggeleng.


"Memainkan alat musik?" Masih menggeleng.


"Ngedance atau tari?" Masih setia menggeleng.


"Terus apa dong sayang?" Isyana menyerah. Apalagi kelebihan Tristan pikirnya.


"Menggambar dan bercerita Ma."


"Hah!" Isyana tak percaya pasalnya sejak kecil Tristan paling kesulitan jika di suruh menggambar. Setiap kali disuruh menggambar pasti hasilnya amburadul. Tapi mengapa bisa menang pikir Isyana.


"Benar bukan lomba nyanyi?" bertanya karena masih tidak percaya.


"Tidak Mama, pihak sekolah melarang Itan ikut karena sudah tahu kemampuan menyanyi Itan. Katanya Itan harus memberi kesempatan pada yang lainnya."


"Oke tidak masalah tapi benar kamu bisa menggambar?"


"Bisa lah Ma kan diajarin Kak Naura."


"Apa sebut-sebut nama kakak?" Tiba-tiba Naura muncul bersama peguntitnya siapa lagi kalau bukan sang suami.


"Itan dapat piala Kak, terima kasih ya sudah mengajari Itan. Itan bahagia sekali kami dapat mempersembahkan piala ini di hari ulang tahun Mama."


"Selamat ulang tahun ya Ma," ujar keduanya sambil memeluk Isyana.


"Hati-hati sayang perut mama sudah mulai membesar ini nanti dedeknya kena tindih lagi."


"Terima kasih ya sayang-sayangnya Mama sudah mengingat hari ulang tahun Mama sekaligus memberikan kado istimewa dengan keberhasilan kalian."


Tak lama kemudian Zidane muncul dengan sebuah kue tart beserta kado ditangannya.


"Selamat ulang tahun ya Sayang!" ucap Zidane sambil mencium kening istrinya.


Melihat adegan di depannya Naura menjadi iri.


"Om."


Lexi mengerti itu. "Bentar ya sayang." Lexi keluar menuju mobilnya entah apa yang dia ambil. Kemudian kembali ke tempat Naura berada.


"Selamat ulang tahun ya Sayang, maaf telat," ucapnya sambil menyodorkan bingkisan kado dan sebuah kue tart berukuran sedang.


"Sebenarnya aku sudah tadi pagi menyiapkan ini tapi belum sempat aku berikan karena kamu lagi sekolah," lanjutnya.


"Makasih ya Om," ucap Naura matanya berkaca-kaca karena terharu kemudian memeluk Lexi dengan erat.


"Udah menikah masa panggilannya masih Om," protes Zidane ke arah Naura.


"Soalnya Om Lexi tidak mau saya merubah panggilannya Om. Katanya panggilan Om lebih lucu dan seperti panggilan sayang untuknya."


"Cih nanti kalau punya anak baru tahu rasa dia kalau anaknya manggil kakek."


"Ya nggaklah nanti kalau punya bayi manggilnya Daddy aja ya sayang dan nanti aku panggil kamu baby," ucap Lexi pada Naura.


"Berarti anak Uncle nanti manggil kakak dong sama Kak Naura," ujar Tristan.


"Iya iya benar," jawab Isyana sambil tertawa dan semua pun ikut tertawa.


Setelah itu Nathan dan Tristan memanggil opa dan oma-oma mereka beserta nenek Nisa untuk merayakan ulang tahun keduanya yang hanya terpaut satu hari.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa ya dukungannya biar Othor semangat.๐Ÿ™


__ADS_2