
Lexi pun keluar dari ruangan Annete dan berlari mengejar Angel dan Edrick untuk membantu membebaskan Wilson dari jerat hukum yang menimpanya.
"Rick tunggu!" Lexi setengah berteriak.
"Ngapain kamu lari-lari di rumah sakit, apa ada yang gawat?"
"Tidak ada aku hanya mau bantu kalian saja," ujar Lexi.
"Ya sudah ayo."
Mereka bertiga pun langsung mendatangi kantor polisi tempat Wilson ditahan, sampai di tempat itu Angel melihat Paul juga ada di sana.
"Angel tolong jelaskan sama polisi bahwa saya tidak pernah memaksa kamu," pinta Paul pada Angel namun Angel hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju tempat Wilson berada.
"Pak polisi tolong lepaskan Wilson karena dia tidak bersalah. Dia selalu menentang tempat itu tetapi ayahnya selalu mengancam akan membunuhnya apabila dia membantah perintah ayahnya," ucap Angel dan Paul melotot ke arahnya.
"Benar begitu?" tanya polisi pada Wilson.
"Itu benar sekali Pak," jawab Wilson.
"Bohong Pak saya tidak pernah memaksa dia. Bahkan wanita di sana dan wanita ini juga dengan suka rela mau menjual dirinya," bantah Paul.
"Bohong Pak, Daddy itu bohong. Kalau Bapak tidak percaya Bapak bisa tanya langsung pada karyawan di sana. Mereka terpaksa menurut karena pergerakannya selalu diawasi," ujar Wilson.
"Iya benar itu Pak, kami hanyalah korban," timpal Angel.
"Kalian tidak usah ribut anak buah kami sudah ada di sana untuk mencari bukti dan informasi yang akurat. Nanti kalian tunggu hasilnya saja, siapa yang bersalah dan tidak, akan segera terbukti." Polisi berkata dengan tegas.
"Iya Pak," ucap Angel dan Wilson serempak.
Setelah mencermati pembicaraan Wilson, Angel dan Paul, Lexi menarik Angel keluar ruangan. "Maaf aku mau bicara," ujar Lexi pada Angel dan Angel pun mengangguk dan ikut Lexi keluar.
Lexi meminta Angel untuk menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi dan Angel pun bercerita apa adanya termasuk awal dirinya masuk ke dalam bar itu karena tertipu tapi akhirnya kebablasan karena awalnya tidak ada ruang untuk kabur dari Paul dan anak buahnya.
"Baiklah kalau begitu," ujar Lexi dan mereka masuk ke dalam ruangan kembali.
"Bapak bisa membebaskan Wilson karena dia tidak bersalah yang bersalah itu ayahnya. Saya bisa menjamin itu," kata Lexi.
"Apakah kamu punya bukti?"
"Saya memang tidak punya tapi saya akan mencarinya."
"Ya cari dulu baru bicara," ucap polisi tersebut.
Lexi langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari dan membawa beberapa karyawan yang bekerja di sana sebagai saksi. Beberapa dari mereka banyak yang sudah melarikan diri ketika
mengetahui atasannya tertangkap polisi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian anak buah Lexi berhasil membawa dua orang psk yang bekerja di sana dan mereka memberikan saksi bahwa awalnya mereka benar-benar dipaksa dan diancam.
"Benar Pak awalnya kami dipaksa dan diancam. Mereka akan melukai keluarga kami kalau kami tidak mau menurut dan Wilson ini sebenarnya sudah menentang ayahnya tapi dia kalah kuasa oleh tuan Paul," ujar yang lainnya.
Polisi yang menyelidiki bar itu datang dan membenarkan pernyataan kedua orang tersebut.
"Benar Pak, karyawan yang masih bertahan di sana pun mengakui hal yang sama," ujar polisi tersebut sambil menyodorkan rekaman pembicaraan para korban.
"Baiklah kalau begitu saya akan membebaskan saudara Wilson tapi mohon maaf bar itu harus ditutup."
"Jangan Pak saya janji tidak akan melakukan perdagangan manusia seperti Daddy saya. Saya akan mengelola bar itu layaknya bar yang lainnya. Saya mohon Pak!" Wilson tidak tahu harus mencari penghasilan darimana kalau barnya itu ditutup.
"Kalau bar itu masih dibuka saya tidak bisa menjamin, Anda bisa saja melakukan hal yang sama dengan ayahmu itu."
"Saya janji Pak tidak akan mengulangi kesalahan Daddy saya, saya mohon ya Pak."
"Begini saja Pak, Bapak kasih kesempatan saja buat Wilson untuk mengelola barnya lagi. Saya akan menebus dendanya. Nanti kalau dia melakukan hal yang sama Bapak bisa menangkapnya kembali dan tenang saja saya akan menjamin dia. Kalau dia nanti berbuat hal yang sama saya akan bayar ganti rugi."
"Benarkah?"
"Iya Pak."
"Memangnya kamu siapanya dia hingga harus berkorban sejauh itu?"
Lalu seorang polisi yang lainnya berbisik di telinga polisi itu. "Dia putra tunggal dari tuan Abraham dan Nyonya Laurens. Dia juga pengusaha kafetaria." Polisi tersebut manggut-manggut. Kedua nama yang disebutkan rekannya tadi adalah pemilik perusahaan terbesar di negara tersebut dan sekaligus terkenal sebagai pengusaha yang dapat dipercaya.
"Baik Pak."
"Seorang polisi mengetikkan surat perjanjian itu dan memberikannya pada Lexi. Setelah membacanya Lexi lalu menandatanganinya.
"Kalau begitu kami permisi Pak," ujar Lexi dan Edrick. Setelah menyelesaikan permasalahannya. Wilson bisa bebas sedangkan Paul terjerat pasal penipuan dan perdagangan manusia.
"Yuk Wil," ajak Angel.
"Kita kemana ini?" tanya Edrick setelah mereka masuk ke mobil.
"Ke bar Wilson, kita harus memastikan semua berjalan lancar," jawab Lexi dan Edrick melajukan mobilnya ke tempat yang diperintahkan.
Sampai di sana dua orang yang jadi saksi tadi sudah dibawa anak buah Lexi terlebih dahulu.
"Wilson ruangan ini terlalu luas kalau hanya untuk bar saja bagaimana kalau kamu tambahkan cafe di tempat ini?"
"Maksudnya Kak?"
"Biar penghasilanmu bertambah. Bukankah kalau bar tidak menyediakan makanan yang berat ya? Nanti kamu pecah tempat ini jadi dua. Di sini cafe dan di sebelah sana bar. Jadi pengunjung bisa memilih akan masuk dari pintu yang mana. Kalau dari sini berarti mereka ingin makan di kafe tapi kalau dari sana ya mereka berarti memilih bar."
"Iya Kak bagaimana baiknya saja." Wilson belum terlalu dewasa untuk merencanakan semua ini. Pikirannya masih belum luas karena dia masih remaja.
__ADS_1
"Iya nanti kamu bisa menyediakan makanan Indonesia Wil soalnya di sini kan banyak warga Indonesia. Nanti kamu bisa bikin makanan yang pedas-pedas kayak yang sering dipesan online sama Annete. Mantap Wil."
"Jangan suka makan yang pedas-pedas Gel nanti sakit perut dan asam lambung kayak Annete," protes Edrick.
"Ide yang bagus," ujar Lexi.
"Kamu tenang saja nanti saya akan menyuruh beberapa karyawan saya untuk membantu kamu mengelola kafe ini dan juga akan mencarikan koki yang bisa memasak menu indo," lanjutnya.
"Nggak takut tersaingi kamu Lex?" tanya Edrick.
"Ngapain takut Rick, rezeki itu sudah ada yang mengatur. Jadi jangan takut kalau ada yang pekerjaannya sama dengan kita. Apalagi aku tidak kekurangan uang kok sekalipun menu di kafeku tidak laku nantinya. Apalagi kan di kafe ku tidak menjual menu Indo. Dan sepertinya menu tersebut prospek di tempat ini."
"Terima kasih ya Kak, Kakak terlalu baik. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa," ujar Wilson.
"Tidak usah membalas Wil yang penting kamu usaha sungguh-sungguh, jangan mengecewakan kami."
"Itu pasti Kak."
"Bagus, kalau begitu kamu panggil semua karyawan kamu. Saya akan berbicara banyak hal kepada mereka."
Wilson pun memanggil semuanya. Menyuruh mereka berkumpul. Lexi berbicara kepada mereka semua agar mau membantu usaha Wilson. Lexi akan meminta wanita di sana yang masih ingin menjadi psk supaya keluar dari tempat itu tetapi mereka malah menyambut senang apabila mereka beralih menjadi waiters di tempat itu.
"Syukurlah kalau begitu jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan," ujar Lexi.
"Sekali lagi makasih ya Kak." Wilson tidak tahu harus berkata apa lagi selain ucapan terima kasih.
"Iya Wil tapi ingat ya kamu harus menjaga kepercayaan kita."
"Pasti Kak. Kak Angel tidak mau bantu aku di sini?"
"Nanti ya Wil aku mau bicara sama Annete dulu. Soalnya waktu itu katanya dia mau ajak aku ke Indonesia. Kalau Annete ngizinin di sini, ya aku pasti bantuin kamu."
"Iya Kak."
"Oh ya kita sekarang mau ke rumah sakit ketemu Annete apakah kamu mau ikut Wil?" tanya Edrick.
"Ya aku ikut Kak."
"Ya udah ayo siap-siap kalau begitu."
"Iya Kak."
Akhirnya mereka kembali ke rumah sakit untuk menemui Annete dan Adrian dan juga Nicko.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐
__ADS_1