
Sampai di kantor Louis menjadi tidak konsentrasi. Bayangan Nindy yang tersenyum padanya tadi saat ia pamit ke kantor selalu terbayang di wajahnya.
"Aakkhh, mengapa aku jadi terus memikirkannya. Apa ada yang salah dengan otakku?" ujar Louis sambil meraup wajahnya. Kemudian ia tersenyum kembali kala mengingat momen-momen bersama Nindy. Apalagi saat mengingat ucapan Nindy semalam yang mengatakan bahwa sebenarnya ia sakit karena merindukan dirinya membuatnya geer saja.
Apa sebegitu berarti kah diriku untungnya?
"Ekhem-ekhem." Tuan Zaki memasuki ruangan dan berdehem karena melihat putranya senyum-senyum sendiri tidak jelas.
Louis menoleh. "Eh,Papa. Papa masih mau ngantor?"
"Iyalah Papa kan nggak tahu kalau kamu sudah balik. Kapan kamu baliknya?"
"Semalem Pa, kan konfliknya sudah selesai buat apa aku berlama-lama di sana."
"Tumben biasanya kamu paling betah tinggal di sana. Apa ada yang kamu khawatirin di sini?"
"Nggak ada kok Pa."
"Yakin?"
Dengan ragu-ragu Louis mengangguk.
"Terus kenapa tadi senyum-senyum sendiri nggak jelas sampai berkas-berkas laporan yang ada di depan mu itu kamu kacangin. Jangan-jangan anak papa stres lagi karena nggak jadi nikah sama Angel."
"Ckk, udahlah Pa nggak usah ngomongin Angel. Aku sudah nggak ada rasa kok sama dia."
"Baguslah kalau begitu, soalnya papa sama Mama ada rencana mau jodohin kamu sama anaknya temen mama."
"Alah Papa sama Mama kuno ah mau main jodoh-jodohin segala. Louis nggak mau Pa, Loius bisa cari calon istri sendiri," tolak Louis.
"Iya dan ujung-ujungnya gagal nikah kayak yang kemarin-kemarin."
"Jangan gitu dong Pa, doain yang terbaik lah buat Louis."
"Pasti selain doain yang terbaik juga bantuin dapat yang terbaik."
"Hmm, mulai lagi deh Papa."
"Loh iya kan? Siapa sih yang nggak mau anaknya dapat yang terbaik. Ayolah Lou kali ini aja dengerin kata mama dan Papa yah!" rayu tuan Zaki.
"Ya sudahlah Pa, karena papa sudah di sini mending Louis yang mengalah. Louis mau pulang saja," ujar Louis sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan ke luar ruangan.
"Eh, eh Lou, tunggu Lou!" ujar tuan Zaki namun Louis terus berjalan tanpa mendengarkan perkataan papanya.
"Enak aja kemarin-kemarin aku meledek Nindy karena orang tuanya yang kuno sekarang aku malah mau dijodohkan pula." Louis berjalan sambil menggerutu.
"Memang aku tidak bisa cari sendiri apa." Louis terus saja ngedumel membuat karyawan yang melintas di hadapannya menjadi menatap dirinya dengan aneh.
Sampai di parkiran segera Louis membuka mobilnya lalu melemparkan tasnya ke dalam mobilnya secara sembarangan. Hari ini moodnya menjadi tidak baik karena mendengar berita yang tidak diinginkan lewat mulut papanya.
Louis mengambil ponselnya lalu menghidupkan bluetooth untuk di sambungkan ke audio mobil. Dia ingin memutar musik untuk melupakan rasa jengkelnya terhadap sang Papa. Namun tiba-tiba tak sengaja tangannya menggeser layar ponsel ke rekaman.
Grok grok grok.
"Apaan ini?" Louis kaget lalu mengernyit mendengarkan ada rekaman seseorang yang sedang mendengkur dengan keras di dalam ponselnya. Dia meneliti siapakah kira-kira orang dalam rekaman tersebut tapi dia tidak bisa menebaknya.
Louis lalu menempelkan speaker ponsel di telinganya. Dia terperanjat. "Astaga ini kan suaraku. Siapa yang berani merekam konser tidurku?" Louis tampak berpikir lalu sesaat kemudian dia memeriksa tanggal rekaman tersebut.
"Ini kan semalam? Nindy! Astaga tuh anak, iseng banget sih." Louis geram namun kemudian ia menjadi tersenyum melihat judul yang diberikan oleh Nindy.
"Suaraku memang seksi Nin. Kamu tahu suaraku akan terdengar lebih seksi kalau lagi...." Louis menjambak rambutnya sendiri. Bisa-bisanya otaknya menjadi traveling apalagi yang ia bawa dalam khayalannya adalah tubuh Nindy yang seksi.
"Ya Tuhan aku bisa gila kalau begini."
Niatnya ingin menghidupkan musik ia urungkan, ia lalu menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil membelah jalanan hingga akhirnya ia sampai kembali di rumahnya.
"Kok sudah balik Mas, apa ada yang ketinggalan?" sapa Mira.
"Nindy nya mana Mbak Mir?"
"Oh dia toh yang ketinggalan?" goda Mira.
"Tuh ada di dapur, dari tadi dia belajar bikin kue dan sekarang sedang membuat pie strawberry kesukaan Mas Louis."
"Benarkah?" tanya Louis sumringah.
"Tolong bawakan tasku ke ruang kerja!" perintahnya kemudian, sambil menyerahkan tas kerjanya ke tangan Mira.
Tanpa mendengar Jawaban Mira ia langsung menerobos masuk ke dapur.
Sampai di depan pintu dapur Louis menyingsingkan lengan kemejanya dan menghampiri Nindy. Kemudian membantu Nindy membuat kue.
"Eh Tuan kapan pulang?" Nindy yang sedang khusuk dengan kuenya tidak sadar kalau Louis sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Baru saja."
"Kok sudah pulang sih ini kan masih jam kantor?"
__ADS_1
"Suka-suka aku lah mau pulang kapan. Kan itu kantor milikku."
"Masih aja sombong, kayak pertama bertemu." Nindy mencebik. Ia paling benci dengan orang-orang yang sombong.
"Bercanda," ujar Louis terkekeh.
"Bukan begitu kalau jadi atasan itu jangan seenaknya sendiri. Entar dicontoh semua karyawan kan jadi berabe."
"Iya cantik aku tahu, sudah ada papa yang gantiin aku di sana," ujar Louis sambil mencubit kedua pipi Nindy dengan kedua tangannya yang belepotan tepung.
"Eh aku cantik?" tanya Nindy senang.
"Tentu saja karena kulit wajahmu putih seputih terigu," ujar Louis sambil tertawa renyah.
Mendengar perkataan Louis Nindy menjadi paham. Dia langsung mengusap-usap pipinya.
"Tuan iseng banget sih," protes Nindy sambil mengambil tepung dan mengoleskan ke wajah Louis sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ini rasain!"
"Mana iseng sama kamu, suara orang tidur aja direkam." Louis pun ikut protes dan mengikuti jejak Nindy mengambil tepung dan mengoleskan di wajah gadis itu.
"Abis suara Tuan seksi sih." Nindy semakin tertawa menggoda Louis.
"Kamu mau tahu lagi suaraku yang paling seksi?"
"Emang tuan pandai bernyanyi?"
"Bukan menyanyi tapi lebih syahdu daripada hanya sekedar menyanyi."
"Apaan dong?"
"Belum waktunya aku tunjukkan sama kamu. Nanti kalau udah tahu pasti kamu ketagihan." Louis cekikikan.
"Cih, emang narkoba ketagihan."
Mereka pun terus bercanda saling mengoleskan tepung di wajah bahkan di tubuh masing-masing.
Saat keduanya sedang asyik bercanda ria, Mira memanggil Louis.
"Mas Louis tuh ada Nyonya di luar."
"Beneran Mbak Mira?" Louis pikir Mira hanya ingin menghentikan aksi keduanya yang bermain-main tepung.
"Beneran atuh masa saya bohong."
"Siap Mas Louis."
"Aku pergi dulu ya Nin." Nindy mengangguk. Louis keluar dari dapur langsung menuju kamar untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian dia turun dengan pakaian rumahan menemui mana Ani di ruang tamu.
"Ma apa kabar?" tanya Louis berbasa-basi karena ternyata mama Ani tidak datang sendiri melainkan dengan dua orang. Seorang perempuan dan seorang laki-laki setengah baya yang Louis pikir pasti mereka adalah sepasang suami istri.
Louis pun menyalami kedua orang tersebut walaupun tidak kenal.
"Ini yang namanya Nak Louis jeng?" tanya perempuan tersebut.
"Ia Jeng, gimana jeng Farah suka nggak kira-kira?"
"Kalau dilihat kayaknya boleh juga Jeng. Saya yakin kalau dipertemukan mereka bakalan cocok. Apalagi saya lihat putra jeng Ani sudah mandiri ya! Sampai-sampai rumah saja sudah misah dari orang tuanya," ujar Farah merasa kagum sedangkan pak Ramlan lebih suka menjadi pendengar daripada harus menyambung pembicaraan para perempuan.
Mendengar pembicaraan kedua orang tua tersebut Louis mendesah kesal. Dia sudah tahu kemana arah pembicaraan kedua orang tua tersebut. Pasti melanjutkan omongan papanya di kantor, masih tentang perjodohan.
"Bagaimana kalau kita segera mempertemukan mereka jeng biar kita bisa lega kalau tahu mereka bisa cocok?"
"Emm, kalau soal itu... nanti saja deh jeng, soalnya anak saya masih ada di rumah neneknya di kampung jadi belum bisa bertemu dengan putra jeng Ani ini." Farah berbohong dia tidak ingin Ani tahu bahwa putrinya kabur dari rumah. Makanya meski putrinya tidak ada mereka tetap memenuhi undangan Ani untuk bertemu di rumah putranya.
"Oh begitu ya, baiklah kalau begitu kita tunggu saja hingga putri jeng Farah kembali."
Louis bernafas lega, paling tidak dia masih punya banyak waktu untuk membicarakan dengan mamanya secara baik-baik.
Sedangkan di dapur Mira membuatkan minuman untuk tamu majikannya.
"Nin kamu bersih-bersih sana dulu setelah itu kamu antarkan ini ke Nyonya ya!" pinta Mira.
"Iya Mbak."
"Ingat jangan lama-lama soalnya aku harus memasak lauk, tadi Nyonya meminta aku untuk memasak karena dia ingin menjamu tamunya."
"Iya Mbak." Nindy berlari ke kamarnya, mandi dengan kilat lalu berganti dengan pakaian yang sopan. Kemudian kembali ke dapur menghampiri Mira. Minuman yang Mira buat sudah siap di atas nampan. Sedangkan Mira masih cekatan menghangatkan menu-menu yang dibuatnya tadi pagi.
"Kapan Mbak Mira buat itu? Perasaan tadi pagi tidak ada menu tersebut di meja makan."
"Tadi pagi, sengaja tidak aku keluarkan karena memang menu ini pesanan Nyonya. Sudah sana kamu bawa minuman tersebut kepada mereka, jangan lupa kue-kue yang kits buat tadi juga dibawa ya!"
"Siap Mbak." Nindy pun menyiapkan kue-kue yang akan dihidangkan pada tamu dan menaruhnya ke dalam nampan beserta minuman yang dibuat Mira.
__ADS_1
"Aku bawa ini ya Mbak," izin Nindy lalu melangkah ke ruang tamu. Namun netranya terbelalak melihat ayah dan bundanya ada di sana.
"Ngapain mereka ke sini? Gawat mereka kenal sama mamanya Tuan Louis. Aku harus bersembunyi." Nindy berbalik.
"Nin sini!" panggil Louis yang melihat Nindy membawa nampan berisi minuman namun kembali masuk ke dalam.
Nindy tidak mendengarkan perkataan Louis, ia terus saja berjalan menuju dapur kembali. Louis mengernyitkan namun tidak berani beranjak dari tempat duduknya karena takut dianggap tidak sopan meninggalkan tamu.
"Kok kembali Nin?" tanya Mira kaget.
"Mbak aja yang ngasih soalnya aku malu," ujar Nindy berbohong.
"Biar aku yang gantiin Mbak aja masak." pinta Nindy.
"Baiklah kamu panggang saja sate sapi ini pakai arang ya!" perintah Mira.
"Loh kok pakai arang Mbak nggak pakai grill pan gitu?"
"Nggak Nyonya lebih suka pakai arang katanya lebih harum," ujar Mira sambil berjalan menjauh menuju ruang tamu.
"Silahkan diminum Tuan, Nyonya."
"Terima kasih Mir."
"Sama-sama Nya."
Sedangkan di dapur Nindy berkelebat dengan arang dan korek api. "Gimana ini kok nggak bisa nyala-nyala." Nindy kesal karena tak jua berhasil membuat bara di arang tersebut. Padahal tubuhnya sampai keringatan mencobanya. Bahkan wajahnya sudah cemong-cemong terkena hitamnya arang.
"Biar aku yang ganti. Kamu siapkan menu nya ke dalam piring saja," perintah Mira.
"Baiklah," jawab Nindy lemah. Begini kalau orang tidak tahu apa-apa bisanya hanya mengikuti perintah saja, pikir Nindy. Namun dia tetap ikhlas mempersiapkan segalanya asalkan dia tidak disuruh menghidangkan menu tersebut ke hadapan kedua orang tuanya. Belum waktunya kedua orang tuanya tersebut mengetahui keberadaannya.
"Ini akan ditaruh dimana Mbak?" tanya Nindy.
"Tata saja semua di meja makan biar Nyonya yang mengajak mereka nanti ke ruang makan," sahut Mira.
"Oke baiklah." Nindy melakukan apa yang diperintahkan oleh Mira. Menata nasi dan semua menu lauk-pauk maupun sayur-mayur ke meja makan.
"Sudah." Nindy menghela nafas setelah pekerjaannya selesai.
"Tinggal itu kan Mbak?" tunjuk Nindy pada sate yang dipanggang oleh Mira. Harumnya memang menyeruak ke setiap sudut ruangan.
"Iya," jawab Mira.
"Mbak bisa kan meletakkannya sendiri?"
"Bisa, memang kamu mau kemana?"
"Ke kamar sebentar ada keperluan," ujar Nindy berbohong padahal ia ingin menghindar dari kedua orangtuanya. Kalau dia tetap diam di dapur, keberadaannya akan terlihat boleh kedua orang tuanya mengingat ruang makan berdekatan dengan dapur. Untuk sementara waktu dia ingin menyingkir dulu ke taman belakang.
Sementara Nindy berjalan-jalan di taman belakang mama Ani mempersilahkan Farah dan Ramlan untuk makan bersama. Sedangkan Louis menolak ketika diajak makan bareng dengan alasan masih kenyang.
"Terima kasih loh Jeng sampai repot-repot segala," ujar Farah merasa tidak enak.
"Nggak usah sungkan Jeng toh sebentar lagi kita akan jadi besan," ujar mama Ami sambil tersenyum.
"Semoga lancar ya Jeng rencana kita."
"Amin."
Sedangkan Louis menghampiri Nindy yang berada di taman belakang. "Kenapa kamu sembunyi?"
"Cih, siapa yang sembunyi?" kilah Nindy.
"Kalau tidak ngapain ke sini?"
"Cari angin segar lah soalnya di dalam rumah sesak gegara Mbak Mira nyalain asap, bakar-bakar sate."
"Oh gitu ya?"
"Iya," ucap Nindy sambil menoleh ke arah Louis membuat Louis tertawa.
"Ha ha ha ha ha...."
"Kenapa sih Tuan Louis tertawa gitu?" tanya Nindy heran. Tak ada angin tak ada hujan Louis langsung tertawa.
"Kali ini kamu benar-benar cantik, sumpah deh," ujar Louis sambil menunjukkan dua jarinya membentuk piss tapi disertai tawa yang tak mau berhenti membuat Nindy kesal saja.
"Apaan sih," ujar Nindy sambil memberengut kesal.
"Lou Tante Farah dan Om Ramlan mau pulang ini," ujar mama Ani sambil berjalan mendekat ke arah Louis dan Nindy diikuti mama Farah dan pak Ramlan di belakangnya.
Melihat semua orang menuju ke arahnya buru-buru Nindy menghilang di balik tanaman hias yang dibiarkan tinggi. Setelah mereka pamit pada Louis dan pergi barulah Nindy keluar dari persembunyiannya.
"Kamu kenapa sih kok kayaknya benar-benar sembunyi?" tanya Louis curiga.
"Ah nggak kebetulan aku tadi mengejar kupu-kupu," kilah Nindy.
__ADS_1
Bersambung....