
"Ah sakit!!!" Naura terduduk sambil masih memegang kepalanya. Dia nampak begitu kesakitan. Semua orang di ruangan itu menjadi gusar. Lexi lalu segera bergegas menghampiri Naura dan membawanya duduk di sofa sedang Andy dia diam termangu, senjatanya jatuh begitu saja tanpa ia sadari. Dia begitu takut adiknya kenapa-napa karena ulahnya tadi.
"Akh sakit!" Naura masih mengerang kesakitan dan menekan-nekan kepalanya.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Lexi sambil mengusap-usap wajah Naura yang kini banjir keringat. Ekspresi wajahnya nampak seperti orang ketakutan.
Kepingan-kepingan memori masa kecilnya melintasi otak Kiara. peristiwa penembakan, kecelakaan dan ketika seseorang menolong dan membawa dirinya ke rumah sakit, permintaannya pada Nisa untuk menolongnya dan merahasiakan identitasnya silih berganti memenuhi otaknya. Dan yang membuat dia ketakutan adalah ketika bayangan Vallen hadir bersimbah darah dan Juju terlepas begitu saja dari gendongan Vallen. Sungguh peristiwa yang sangat mengerikan yang pernah dia lihat dengan mata kepala sendiri.
"Dokter Rian..." Zidane meminta Rian bertindak agar memeriksa keadaan Naura namun dokter Rian mengangkat kedua tangannya ke arah bahunya sebagai tanda agar semua orang memberikan Naura ruang agar bisa berpikir dulu.
"Biarkan saja dia seperti itu dulu. Sepertinya dia mengingat sesuatu. Bukankah kamu mengatakan dia sedang amnesia?" ucapnya pada Zidane dan Zidane hanya bisa mengangguk.
Naura masih berkutat dengan ingatan masa lalunya namun ketika dia mengingat masa kecilnya yang sedang berkejar-kejaran dengan Andy sewaktu kecil dan ketika jatuh dari sepeda Lana memeluknya raut wajahnya menjadi lebih tenang. Lengkap sudah walaupun kepingan itu tidak tersusun berdasarkan urutan waktu tapi cukup untuk menyimpulkan bahwa memang dirinya adalah Kiara.
"Mama." Tak terasa kata itu keluar begitu saja ketika melihat Lana me dekat ke arahnya.
"Ia Nak Mama ada di sini," ujar Lana sambil mendorong kursi roda Juju ke arah Kiara. Langsung saja Ara berhambur ke dalam pelukan Lana.
"Mama maafkan Ara, selama ini Ara tidak mengakui Mama Ara hanya..."
"Sst, sudahlah Mama mengerti Mama tidak pernah menyalahkan Ara atas semua itu karena Mama tahu kamu masih kesulitan untuk mengingat semuanya."
"Abang!" panggil Ara ke arah Andi yang masih saja diam membisu melihat semuanya. Karena mendapat panggilan dari Ara akhirnya Andi berjalan mendekat ke arah mereka.
"Abang bagaimana Kak Vallen?" tanyanya penasaran karena Ara belum tahu bahwa Vallen telah meninggal.
"Vallen sudah tiada dia meninggal di tempat saat itu juga," ucap Andy dengan raut wajah yang sedih.
"Juju juga?"
"Itu dia," jawab Lana menunjuk ke arah Juju.
"Duh cucu Oma sudah besar Persis denganmu ketika meninggalkan kami semua," ujar Lana sambil memeluk cucu dan anak gadisnya. Mereka bertiga berpelukan dengan erat seakan tidak mau berpisah kembali.
"Karena kamu sudah ingat semuanya bagaimana kalau sekarang kita semua tinggal di rumah kita sendiri," ajak Lana dibalas anggukan Juju.
"Om?" Ara bertanya pada Lexi sedang Lexi hanya menjawab dengan anggukan.
"Makasih Om," ujar Ara dengan tersenyum sumringah lalu memeluk Lexi dengan erat sebagai ungkapan terima kasihnya.
"Hei lepas!" Andy tidak mau Ara dekat-dekat dengan Lexi. Dia menarik Ara dengan kedua tangannya.
"Dia bukanlah laki-laki baik untukmu," ujar Andy masih dengan ekspresi marah seperti tadi sedang Lexi masih tidak mengerti apa kesalahannya sehingga membuat laki-laki di hadapannya menjadi marah. Dia hanya mengernyitkan dahi bingung.
"Abang!" Naura protes.
"Kalau dia Laki-laki baik dia tidak akan berani menidurimu."
"Bang, mangkanya dengerin dulu. Ini nih kalau orang egois tak pernah mau memikirkan keluarganya. Aku tidak habis pikir dengan Abang bagaimana kalau seumpama terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap tante Lana pasti nih Zidane lagi yang bakal disalahin," ucap Zidane panjang lebar.
"Maksud kamu apa sih Dan?"
"Mereka sudah menikah Bang. Makanya dengerin dulu," lanjut Zidane.
"Siapa yang berani menikahkan dia tanpa persetujuanku hah?"
"Aku sama Tante Lana, Om Reyhan juga. Lagipula Abang mau apa kalau ini sudah kehendak mereka berdua." Lana mendukung pendapat Zidane dengan menggangguk-angguk.
"Lagipula bukan kami yang tidak menghubungi Abang tapi hape Abang yang nggak pernah aktif ketika ditelepon. Abang tahu sebelum kami memutuskan menikahkan mereka kami sudah berulang kali menelpon Abang tapi ya tetap sama ponsel dalam keadaan tidak aktif. Kemarin juga ketika saya memberitahu tentang Ara, Zidane belum selesai ngomong Abang sudah memutuskan sambungan teleponnya. jadi ya gini deh salah paham lagi."
"Sorry waktu itu Juju masuk rumah sakit jadi saya hanya ingin fokus merawatnya dan tidak mau menerima telepon dari siapapun dan kemarin ketika kamu menelepon tiba-tiba saja asisten saya mengatakan bahwa waktu itu juga ada meeting jadi terpaksa deh sambungan telepon saya putus."
"Ma, Papa mana?" Tiba-tiba saja Ara mengingat papanya.
"Dia..." Lana gugup dia tidak mampu meneruskan ucapannya.
"Papa masuk penjara Ra."
__ADS_1
"Kenapa Bang?"
"Karena telah bersekongkol dengan pembunuh dari kakakmu Vallen."
"Apa! Jadi ayah juga ingin mencelakakan Ara?" Ara tahu orang-orang yang mengejarnya adalah orang-orang suruhan pembunuh Vallen.
"Tidak Nak ayahmu tidak terlibat dengan itu semua dia hanya menutupi pembunuhnya biar tidak ditangkap polisi."
"Itu sama saja Ma, Papa jahat!"
"Kamu sih Ra manggil suami dengan panggilan Om kan Abang jadi gagal paham," ucap Andy mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau momen senang hari ini berubah menjadi momen sedih hanya karena membicarakan tentang ayah tirinya.
"Terus aku harus manggil apa Bang masa Abang juga?"
"Terserah deh yang penting jangan panggil Om geli Abang dengarnya." Ara mencebik.
"Ya udah aku panggil Daddy aja deh sekalian ngajarin baby-nya nanti biar manggil Daddy."
"Nggak nggak nggak, masa panggil Daddy? Mending panggil Om deh daripada Daddy nanti orang-orang nyangka kita ayah dan anak. Nanti aja deh panggil daddy-nya setelah bayinya lahir," tolak Lexi.
"Terserah kalian deh mau panggil apa yang penting jangan panggil Om aja."
Naura tampak berpikir sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Kayaknya aku harus ngikutin jejak Tante Syasa deh manggil suami Mas."
"Mbak Mbak," ujar Isyana mengingatkan.
"Ya ampun semua panggilannya harus di ubah," keluh Ara.
"Berarti panggilanku sama kak Ara harus berubah juga ya Ma," ucap Nathan.
"Iyalah sayang sekarang kalian harus panggil Tante, Tante Ara."
"Untung saja uncle Lexi sudah kami panggil Uncle jadi aman Ma."
"Siapa Om?"
"Mommy," jawab Lexi.
"Masih saja panggil Om," protes Andy sambil menoyor kepala Ara.
"Bang jangan suka menoyor kepala Ara nanti Ara amnesia lagi," ujar Ara manja
"Kamu ya ... sudah amnesia lama sekali. Nggak pernah deh Abang lihat orang amnesia selama kamu." Andy masih saja menoyor kepala Ara hal kecil yang sering dia lakuin sama adik kecilnya dulu tatkala merasa gemas.
"Bang!"
"Halo Ma." Di layar menampakkan wajah Laurens.
"Halo sayang gimana kabar kalian? Mana mantu mommy?"
"Hai Tante... eh Mommy!"
"Hai juga, kok dibelakang rame sih Lex ada apa?"
"Ini Ma keluarga Ara pada ngumpul."
"Ngumpul? Kamu kan bilang istri kamu..."
"Iya Mom ternyata hari ini Ara sudah bisa mengingat semuanya."
"Iyakah Sayang?" tanya Laurens ke arah Ara.
"Iya Mom."
"Syukurlah kalau begitu selamat ya sayang."
__ADS_1
"Terima kasih Mommy."
"Iya."
"Lex berarti kamu bisa pulang dong ke sini mengurus pekerjaan. Kan Ara sudah aman tuh bersama keluarganya jadi kamu bisa tenang meninggalkan dia untuk sementara waktu."
"Nggak bisa Ma. Lexi nggak bisa ninggalin dia."
"Kenapa? Ada apa? Bukankah dia sudah berkumpul dengan keluarga nya?"
"Iya sih Ma tapi Lexi tidak tega ninggalin dia soalnya dia kan sedang hamil takutnya dia membutuhkan Lexi.
"Apa! Ara hamil?" Mata Laurens membelalak mendengar pengakuan Lexi.
"Jangan gitu Mom kagetnya nggak cantik."
"Habisnya kamu gercep abis sih Lex udah tahu dia masih sekolah udah diapa-apain nggak pake APD lagi. Ya ampun nih anak!" Laurens pusing sendiri melihat kelakuan putranya.
"Nggak asyik ah Ma masa buka yang bersegel pake pengaman kan nggak kerasa Mom."
"Ya Tuhan! Kayaknya otakmu perlu ditimpuk pakek pentungan pak satpam ya biar encer sedikit berpikirnya. Anak masih sekolah dibuat hamil." Mommy Laurens tidak habis pikir dengan keteledoran Lexi.
"Terus harus gimana dong Mom kalau sudah hamil, masa harus dibuang?" kelakar Lexi.
"Eh dibuang? Jangan jangan jangan!"
"Dijaga ya Ara kandungannya itu calon cucu mommy lho." Lexi tertawa melihat sikap Mommy nya.
"Iya Mommy," ujar Naura.
"Ya pastilah Mom, Mommy kan pengen banget punya cucu."
"Iya lah Lex, duh mommy jadi terharu bentar lagi punya cucu. Kalau begitu kamu bisa pulang pergi ke sini ya Lex seminggu sekali juga nggak apa-apa nanti kalau udah lahir dibawa kesini cucu Mommy!"
"Siap laksanakan!"
"Udah dulu ya mommy kerja dulu ya nanti mommy telepon lagi. Dada mantu mommy! Eh besan juga." Lana hanya mengangguk pada Laurens. Setelah itu telepon berakhir.
"Maaf ya Ma Lexi sama mommy kalau bicara kadang memang begitu," ucap Lexi canggung.
"Iya nggak apa-apa Nak Lexi Mama malah suka kok berarti keluarga Nak Lexi adalah keluarga yang hangat dan terpenting mommy Nak Lexi sangat menyayangi Ara. Mama harap nanti Ara betah kalau tinggal bersama kalian."
"Iya Ma doakan saja ya semuanya berjalan lancar."
"Iya Nak itu pasti mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian."
"Amin."
"Tapi Ara, memang benar ya kamu hamil? Mama pikir kalian dari tadi hanya bercanda saja.
"Iya Ma itu benar," ucap keduanya serempak."
"Duh anak mama masih bocah sudah bisa bikin bocah."
"Ara bukan bocah lagi Ma. Ara sudah dewasa," protes Ara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya kalau tidak pasti wajahnya yang memerah karena malu itu terlihat oleh semua yang hadir di tempat itu.
" Hemm berarti Mama sama Tante Ara saingan ya sekarang."
"Maksudnya Itan?"
"Saingan mau punya dedek."
"Oh," ucap mereka serempak sambil tertawa bersama.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.💓
__ADS_1