
"Cukup! Ayah tidak mau bicara lagi," ucap pak Ramlan. Tiba-tiba tubuhnya luruh ke lantai dan akhirnya dia pingsan.
"Ayah....!" teriak Lisfi.
Orang-orang pun mengerumuni pak Ramlan sedang Lisfi masih mengguncang-guncang tubuh ayahnya.
"Bangun Yah, bangun! Maafkan Lisfi Yah, maafkan! Ini tidak seperti yang ayah pikirkan. Lisfi benar-benar di jebak Yah." Lisfi menangis meratapi keadaan ayahnya sekarang.
"Sudah, sudah! Dasar anak tidak tahu diuntung tega sekali sampai membuat ayahmu pingsan seperti ini," ujar salah seseorang wanita yang ikut mengerumuni pak Ramlan.
"Lebih baik kita bawa saja bapak- bapak ini ke rumah sakit."
"Baiklah, ayo bantu dia membawanya ke mobil."
Seorang polisi dan beberapa penghuni hotel tampak bekerjasama menggotong tubuh pak Ramlan ke dalam mobil kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan lisfi ketika melihat ayahnya dibawa ke mobil dia hendak mengejarnya namun ditahan oleh polisi. "Sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi."
"Tapi Pak saya tidak bersalah dan ayah saya...."
"Silakan Anda jelaskan semuanya di kantor polisi dan masalah ayah Anda biar kami yang menangani."
Tidak ada cara lain, akhirnya Lisfi mengangguk pasrah dan mengikuti langkah polisi masuk ke dalam mobil. Sampai di dalam mobil ternyata Lisfi juga melihat Vicky ada di sana. Lisfi memalingkan muka tidak mau melihat wajah Vicky lagi karena di hatinya kini hanya tersisa rasa benci.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
"Apa! Suami saya masuk rumah sakit? Tidak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi?" Farah panik saat menerima telepon dari seseorang yang tidak ada di kontaknya.
"Ada apa jeng, kenapa Jeng Farah panik seperti itu?" tanya Mama Ani saat melihat Farah terlihat gusar ketika dirinya baru kembali dari toilet. Mereka berdua kini sedang berada di sebuah restoran untuk membahas persiapan pernikahan putra-putri mereka.
"Suamiku masuk rumah sakit jeng."
"Loh kok bisa memangnya pak Ramlan sakit apa?"
"Entahlah aku juga tidak tahu kabarnya belum jelas yang saya tahu suami saya tidak pernah mengidap penyakit apapun."
"Terus dia di mana sekarang?"
"Sudah di rumah sakit, tapi di luar kota Jeng. Dia kan besok pagi sudah bertugas di kota itu. Bagaimana ini Jeng? Aku harus berangkat sekarang juga, kita bahas lain kali saja ya Jeng tentang pernikahan anak-anak kita."
"Oh ya? Tapi kamu sudah tahu alamat rumah sakitnya? Kalau masalah pembahasan pernikahan anak kita, bisa kita lanjutkan kapan-kapan saja. Saat ini keselamatan suamimu lebih penting."
"Terima kasih Jeng atas pengertiannya. Iya orang tadi sudah mengirim alamat rumah sakitnya, Ini alamatnya," ucap Farah sambil menunjukkan alamat rumah sakit yang orang tadi kirim ke ponselnya.
"Kalau begitu ayo kita segera ke sana."
"Jeng Ani mau ikut?"
"Iyalah masa aku akan membiarkan mu sendiri ke sana malam-malam seperti ini? Biar aku yang antar. Ayo mumpung pak sopir lagi stanby di luar kita langsung ke sana."
"Baiklah Jeng ayo kita segera ke sana," ucap Farah masih dengan ekspresi yang panik.
Mereka pun langsung bergegas keluar dari restoran dan langsung menuju parkiran. Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil mama Ani langsung menyuruh sopir untuk membawanya ke alamat rumah sakit.
"Oke siap Nyonya." Sopir langsung mengemudikan mobilnya menuju tempat tujuan.
"Bagaimana keadaan suamiku Dokter?" tanya Farah ketika mereka sudah memasuki ruangan kamar rawat pak Ramlan. Tampak dokter dan seorang perawat sudah selesai memeriksa pria tersebut.
"Maaf Anda siapanya pasien?"
"Saya istrinya Dok."
__ADS_1
Dokter menghela nafas kasar. "Mohon maaf dengan sangat berat kami harus menyampaikan bahwa suami Anda mengalami stroke."
"Apa! Itu tidak mungkin Dok, tidak mungkin." Farah mengguncang tubuh dokter sambil menangis.
"Farah tenanglah!" seru mama Ani sambil melepaskan pegangan tangan Farah dari baju sang dokter.
"Maaf saya pergi dulu." Dokter berucap sambil berjalan menjauh, meninggalkan Farah yang saat ini perasaannya sedang terguncang.
"Terima kasih Dok," sahut mama Ani.
"Sekarang aku harus apa Jeng?" tanya Farah sambil melangkah mendekat ke arah Ramlan yang berbaring kemudian duduk di kursi yang ada di samping brankar.
"Jangan berpikir yang lainnya dulu, urusi saja suamimu sampai sembuh."
"Itu pasti Jeng."
"Mas kamu kenapa bisa sampai seperti ini?" Farah mencoba mengajak suaminya untuk bicara.
Pak Ramlan mencoba bicara tapi ternyata tidak bisa. Hanya bibinya saja yang nampak bergerak dengan susah payah, tapi tak mampu menghasilkan suara. Menyadari dirinya sudah tidak bisa bicara pak Ramlan menatap Farah dengan mata yang berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak memikirkan keadaan dirinya yang kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa, pasti ia kini akan banyak merepotkan Farah. Apalagi saat mengingat tingkah Lisfi dadanya terasa semakin berat seolah dihimpit oleh beban bebatuan yang besar. Rasa sakit dan kecewa kini mendominasi hatinya.
Sedangkan Farah ketika tahu pak Ramlan tidak bisa bicara malah semakin keras menangis.
"Sudah Jeng, sudah! Kamu bersabar ya! Di sini kesabaran dan kesetiaan kita terhadap pasangan diuji. Tuhan hanya ingin menguji mu, seberapa besar cintamu pada pasanganmu dan seberapa besar kamu bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Kamu harus optimis bahwa pak Ramlan akan segera sembuh kembali," ujar mama Ani panjang lebar untuk menenangkan Farah.
"Apakah suamiku bisa sembuh Jeng?"
"Bisa Jeng, harapan pasti akan selalu ada."
"Terima kasih ya Jeng sudah menyemangati ku."
"Sama-sama Jeng."
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba pintu kamar rawat terbuka. Seorang pria berjalan ke arah mereka.
"Saya istri pasien, maaf kamu sendiri siapa?"
"Oh istrinya bapak ini toh, saya yang menelpon ibu tadi."
"Oh jadi yang menelpon itu kamu?" Pria itu hanya mengangguk.
"Terima kasih ya telah menjaga suamiku."
"Sama-sama Bu. Jadi karena ibu sudah ada di sini saya pamit pulang ya Bu." Farah hanya mengangguk, pria itu kembali keluar ruangan.
"Tunggu!" panggil Farah ketiga pria itu sudah sampai di depan pintu.
Pria itu mengernyit. "Ada yang bisa saya bantu lagi Bu?" Pria itu berbalik.
"Apakah Anda tahu kenapa suami saya sampai seperti itu?"
"Oh itu. Sebenarnya karena...." Pria itu menghentikan bicaranya.
"Karena apa Pak?" Farah semakin penasaran karena sepertinya pria tersebut ragu untuk menjelaskan.
"Anu ... anu ... itu karena bapak ini melihat langsung putrinya digerebek polisi sedang berbuat mesum di kamar hotel."
"Apa?!" Farah terbelalak. Sepertinya tidak ingin mempercayai perkataan pria ini tapi kenyataannya suaminya menjadi seperti sekarang. Jadi Farah dapat menyimpulkan bahwa perkataan orang ini pasti benar hingga membuat Ramlan syok dan menjadi stroke.
"Maksudnya putrimu yang mana sih Jeng? Bukankah Nindy bersama Louis ya?"
Jangan-jangan Louis mengajak Nindy berhubungan di luar nikah nih. Mama Ani menjadi ketir takut putranya berulah lagi.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan si Lisfi Jeng. Anak itu mulai berulah lagi," ucap Farah geram.
"Syukurlah ku pikir Nindy sama Louis," batin mama Ani.
"Kalau begitu saya permisi ya ibu-ibu."
"Iya terima kasih banyak ya Pak."
"Iya Ibu."
Pria itu kembali melangkahkan kakinya ke luar ruangan dan mama Ani ikut keluar.
"Pak!" Panggil mama Ani setelah mereka sama-sama berada di luar kamar rawat.
"Iya Bu ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Ini untuk bapak karena sudah menolong dan mau menjaga besan saya." Mama Ani menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke tangan pria itu.
"Tidak usah Bu, saya ikhlas kok."
"Ah sudahlah ambil saja, saya tahu bapak ikhlas kok tapi tidak baik menolak rezeki bisa-bisa rezeki bapak seret nantinya."
"Baiklah kalau begitu saya terima ya Bu. Terima kasih banyak semoga Ibu diganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak dari Tuhan."
"Sama-sama Pak, terima kasih doanya dan bapak boleh pergi. sekarang."
"Terima kasih Bu, saya pamit pergi."
"Iya."
Setelah mengobrol dengan bapak tadi mama Ani kembali masuk. Terlihat Ramlan sedang susah payah berusaha berbicara pada Farah.
"Apa katanya Jeng?"
"Aku nggak ngerti Jeng."
"Pak Ramlan ingin bicara apa?"
"Sa...fa" ucap pak Ramlan dengan gerakan bibirnya.
"Dia ingin bertemu Nindy jeng," kata Farah. Farah sudah tahu bahwa Safa telah menggunakan Nindy sebagai nama palsunya. Begitupun mama Ani yang sudah tahu bahwa Nindy itu memang sebenarnya adalah Safa.
"Tapi tidak mungkin sekarang Jeng, ini sudah larut malam. Tidak baik perempuan keluar malam-malam seperti ini. Aku tidak mau terjadi hal buruk terhadapnya."
"Biar aku telepon Louis, biar dia yang antar Nindy ke sini." Farah mengangguk, mama Ani langsung menelpon Louis.
"Kita harus ke kota B sekarang juga," ucap Louis pada Nindy.
"Ke kota B? Sekarang? Kamu jangan bercanda ah ini kan sudah malam. Lagian mau ngapain kita ke sana. Kalau kamu sih mungkin mau meninjau perusahaan cabang milikmu. Nah aku mau ngapain?"
"Ayahmu sakit, sekarang sedang dirawat di sana."
"Apa ayah sakit?" tanya Nindy kaget.
"Iya mama yang telepon tadi katanya dia ada bersama bunda kamu sekarang."
"Ayo Lou kita berangkat sekarang!" ajak Nindy langsung menarik pergelangan tangan Louis karena begitu khawatir.
"Ayah meskipun aku sempat kesal padamu tapi aku berharap semoga kau baik-baik saja di sana," ucap Nindy dalam hati penuh harap.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like-nya!"