Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 35. Seperti Ada Yang Kurang


__ADS_3

Sampai di depan ruang rawat Zidane Nathan berlari masuk ke dalam.


"Hati-hati boy entar kamu jatuh!"


"Kamu sendiri?" tanya Nyonya Alberto.


"Tidak Nyonya sama tuan itu. " Nathan menunjuk papanya Zidane yang sedang melangkah ke arah mereka.


"Sudah saya bilang panggil saya oma, oma Laras begitu. Panggil dia juga opa oke?"


"Memangnya boleh?" tanya Nathan sambil memandang wajah papanya Zidane dan beliau tersenyum sambil mengangguk.


"Ayo kita makan! Oma kebetulan tadi beli makanan yang banyak." Mama Laras menuangkan makanan ke dalam piring dan menyiapkan makanan tersebut untuk dapat dinikmati bersama.


"Paman tidak makan?" tanya Nathan ketika melihat semua orang makan tapi tidak dengan Zidane.


"Paman sudah tadi. Bawa sini piring kamu!"


"Paman mau ngapain?" Bertanya namun tetap menyerahkan piringnya kepada Zidane.


"Zidane menyendok dan menyuapkan makanan ke mulut Nathan dan Nathan pun tidak menolak.


Aku harus menebus kebersamaan yang terlewat.


Sementara mama Laras memandang haru melihat keakraban keduanya.


Selesai makan mereka semua bersenda gurau. Tuan Alberto menceritakan kejadian tadi di kantor. Mereka semua tertawa kala membayangkan wajah ketakutan Nathan.


"Paman harap kelak ketika kamu dewasa bisa menjadi orang sukses yang amanah!" Sambil menepuk pundak Nathan.


"Iya Paman."


Mereka terus mengobrol hingga Nathan ketiduran.


"Ma tolong bawakan ranjang kecil ke sini kasihan Nathan kalau tidur di bawah."


Tuan Alberto bangun. "Biar papa aja yang minta sama mereka."


Selepas tuan Alberto pergi Zidane berbisik ke mama Laras, "Ma Zidane boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?"


"Mumpung kita di rumah sakit tolong tes DNA Nathan sama Zidane apakah kami ada kecocokan?"


"Kamu yakin?"


"Iya Ma."


"Kalau kamu tidak pernah tidur dengan wanita manapun sudah dipastikan dia bukan anak kamu ngapain harus tes DNA segala."


"Bukankah kamu sudah bersumpah sama mama kalau kamu tidak pernah tidur sama Belva?"


"Mama kok dia terus sih yang disebut. Nathan bukan anaknya Belva tapi anak dari wanita lain."


"Wanita lain siapa maksud kamu?"


"Panjang Ma kalau diceritain."


"Pokoknya kalau kamu tidak cerita mama tidak akan bantu kamu."

__ADS_1


"Baiklah Ma Zidane akan cerita."


Akhirnya Zidane menceritakan semua yang telah terjadi antara Zidane dan Isyana.


Mama Laras menganga saking terkejutnya. "Jadi kamu perkosa anak orang dan tidak mau tanggung jawab? Ngidam apa sih mama dulu waktu hamil kamu hingga kamu keterlaluan seperti itu."


"Ma jangan keras-keras ngomongnya nanti Nathan bangun."


"Kenapa kamu dulu tidak bilang sama mama? Kalau saja kamu ngomong sama mama waktu itu pasti tidak akan selama ini kamu ngejomblonya. Pasti waktu itu mama langsung nikahin kalian suka ataupun tidak."


"Sudahlah Ma nggak usah diungkit yang telah lalu. Zidane akui Zidane memang bodoh."


"Terus apakah kamu masih mencintai wanita itu?"


Zidane mengangguk. "Tapi sepertinya dia masih membenci Zidane."


"Ya jelaslah dia benci kamu. Kalau mama yang jadi dia pasti mama akan membenci mu seumur hidup mama."


"Mama! Udah dong buruan ambil tuh rambut Nathan sebelum dia bangun.


"Bentar!" Mama Laras mendekati Nathan dan mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. Dia mengambil beberapa helai rambut Nathan dan memasukkan ke dalam tasnya.


Kemudian mama Laras mendekati Zidane. "Sekarang giliran kamu."


Bersamaan dengan itu tuan Alberto datang bersama orang-orang yang membawa ranjang dan kasur.


Tuan Alberto mendekati mama Laras. "Ngapain mama pegang-pegang rambut Zidane?"


"Ini mama cuma mau lihat ada nggak uban di rambut Zidane soalnya sudah setua ini dia belum nikah juga."


Zidane mencebik.


"Ya ada lah Pa kalau uban dia sudah banyak mana ada gadis yang mau sama dia."


Siapa juga yang mengincar gadis aku kan suka nya sama dia doang.


"Karena papa sudah di sini mama keluar dulu ya!"


"Mama mau kemana?"


"Mau ke dokter mau tanya kapan Zidane boleh pulang."


"Ya terserah mama deh."


Sedangkan tuan Alberto memindahkan Nathan ke atas ranjang yang sudah dipersiapkan.


Di tempat lain Tristan yang baru saja menyelesaikan lagu ketiganya dan turun dari panggung dikerubuti fansnya.


Ada beberapa yang meminta tanda tangan dan ada banyak yang meminta foto bareng bersama. Hingga tak terasa waktu telah beranjak sore.


"Uncle kita langsung pulang aja ya soalnya Itan capek," ucap Tristan setelah masuk ke mobil.


"Oke." Lexi langsung tancap gas pulang ke rumah Atmaja.


Sampai di depan pintu mereka disambut oleh Isyana dan opa Atmaja.


"Bagaimana manggungnya sayang?"


"Baik Ma bahkan ada salah satu fans Itan yang ngasih ini." Tristan menunjukkan mainan robot yang ukurannya besar.

__ADS_1


"Wah selamat ya untuk anak mama. Yuk makan mama udah masak yang enak-enak untuk kalian."


Mereka pun makan bersama. Selesai makan Isyana terdiam. Dia tampak memikirkan sesuatu.


Lexi yang mengerti langsung bertanya, "Ada apa Sya, apa yang kamu pikirkan?"


"Kayaknya ada yang kurang deh Lex tapi apa ya?"


"Ya ampun! Atan Uncle, dia ketinggalan di..."


"Apa ketinggalan?" Isyana nampak panik.


"Oh ya saya lupa jemput Nathan sama Annete tadi dia bilang mau jalan-jalan dulu."


"Jadi Nathan sama Annete?"


"Iya," jawab Lexi berbohong.


"Sudah kalian jangan khawatir biar saya jemput mereka."


Lexi beranjak dari duduknya. Segera ia menuju garasi dan masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil tersebut keluar dari pekarangan. Sampai di luar pagar ia yang melihat Annete langsung menarik Annete masuk ke dalam mobil.


"Apaan sih Lex main tarik-tarik segala," protes Annete.


"Nathan ketinggalan di rumah sakit tapi aku malah tadi bilang dia sama kamu pada Syasa jadi kamu tidak boleh pulang sebelum Nathan datang."


"Ada-ada saja sih kamu. Emang kenapa Nathan sampai ada di rumah sakit?"


"Dia tadi pagi memilih menemani Zidane ketimbang ikut kita ke tempat acara."


"Emang Pak Zidane kenapa?"


"Digigit ular."


"Hah." Annete tercengang.


"Biasa aja nggak usah begitu ekspresinya!"


"Ya kan aku bingung masak di kantor yang besar kayak gitu ada ular?"


"Ada lah orang ada yang ngirim."


"Ada yang ngirim? Berarti kantor itu rawan teror. Kalo begitu kita tidak boleh membiarkan anak-anak selalu di sana."


"Ya mau gimana lagi mereka tuh betah di sana tapi nanti aku omongin sama mereka supaya tidak sering ke sana. Lagipula kalau sampai ketahuan Syasa kita bakal kena marah."


Tiba-tiba ponsel Lexi berbunyi.


"Hallo Sya, ada apa?"


"Ini saya Lex."


"Iya Bro."


"Ini Nathan gimana mau dijemput apa mau disuruh nginap di rumah aja?"


"Dijemput Bro. Ini saya dalam perjalanan menuju ke sana. Ngomong-ngomong kenapa ponsel Syasa ada di tanganmu?"


"Aku kemarin nemu kata Nathan ponsel mamanya. Nanti aku sekalian nitip ponsel ini."

__ADS_1


"Oke Bro."


__ADS_2