
Sepulang sekolah Annete segera bergegas masuk ke dalam rumah. Dia tidak sabar ingin menyampaikan bahwa dirinya sudah lulus sekolah pada sang ayah dengan nilai yang lumayan bagus. Dia menghampiri Johan yang sedang bersandar di sofa dengan senyum yang merekah namun ketika posisinya sudah dekat pada Johan senyumnya perlahan memudar karena melihat Johan yang terkulai lemah.
"Ayah kenapa?" tanya Annete sambil meraba kening sang ayah.
"Ayah sakit? tanyanya lagi.
"Ayah tidak tahu ayah kenapa Nak tapi tulang rusuk ayah rasanya nyeri sekali dan perut ayah yang sebelah kanan rasanya sakit ayah juga mual dan muntah dari tadi," ucap Johan sambil meringis menahan sakitnya.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit!" ajak Annete sambil menelpon taksi untuk membawa ayahnya ke rumah sakit. Sambil berjalan Annete mendekati tokonya mencari keberadaan bibi Rez untuk meminta tolong menjaga toko sekaligus rumahnya namun tidak menemukannya. Karena tidak menemukan bibi Rez Annete kembali lagi ke tempat ayahnya duduk.
"Ayah bibi Rez kemana ya?"
"Dia izin tidak masuk karena ada acara, tadi ayah buka toko sendiri tapi karena ayah merasa tidak sehat ya ayah ke sini tapi lupa menutup tokonya," ucap Johan sambil menekan dadanya yang terasa nyeri.
"Kalau begitu Annete tutup toko dulu." Annete pun beranjak kembali untuk menutup tokonya kemudian duduk di samping ayahnya sembari melihat ke arah jendela apakah taksi yang sudah dipesannya sudah datang atau belum.
Beberapa saat kemudian dia melihat taksi sudar terparkir di jalan depan rumahnya.
"Ayo Yah itu taksinya sudah datang!" ajak Annete sambil membantu Johan berdiri dan memapah ayahnya keluar dari dalam rumah. Setelah itu tidak lupa dia mengunci pintu rumahnya kemudian membawa ayahnya masuk ke dalam mobil taksi.
"Ke rumah sakit ya Pak!" pesannya.
"Oke siap," jawab sopir taksi ramah kemudian langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
Sampai di sana Annete langsung membawa ayahnya ke ruang pemeriksaan. Dokter melakukan CT scan pada Johan karena dicurigai mengidap penyakit kanker. Setelah hasilnya positif kemudian dokter pun melakukan pemindaian tulang karena pasien mengeluhkan nyeri tulang dikhawatirkan kanker sudah menyebar ke tulang.
"Bagaimana Dok, ayah saya sakit apa?" tanya Annete setelag dokter menyelesaikan pemeriksaannya.
__ADS_1
"Begini, ayah anda mengidap penyakit kanker hati stadium lanjut dan juga disertai dengan sirosis jadi sangat sulit untuk bisa disembuhkan cara satu-satunya untuk bisa menyembuhkan ayah anda hanyalah dengan cangkok hati tetapi saat ini sangat sulit untuk mendapatkan orang yang mau mendonorkan hatinya apalagi biayanya cukup mahal."
Annete terperanjat tubuhnya menegang seketika. "Bagaimana mungkin Dok ayah saya terkena kanker hati karena selama ini ayah saya tidak mengeluhkan sakit apapun dan bagaimana mungkin juga dia sirosis ayah saya kan tidak obesitas."
"Sirosis dan kanker hati itu saling berhubungan, kenyatannya pada hati ayah anda terdapat lemak-lemak yang menempel dan penyakit kanker hati memang sulit di deteksi karena organ hati tidak memiliki persarafan sehingga membuatnya sulit mengenali gangguan dan kelainan yang terjadi, itu mengapa pasien pengidap kanker hati jarang merasakan gejala kecuali kalau kanker sudah membesar seperti saat ini."
"Berapa biayanya Dok, dan bagaimana caranya saya mendapatkan pendonor?"
Dokter menyebutkan nominal yang harus Annete keluarkan untuk biaya transplantasi ayahnya yaitu sekitar 600 juta.
Tubuh Annete gemetar, bagaimana caranya dia mendapatkan biaya sebesar itu namun dia akan memperjuangkan agar ayahnya bisa sembuh.
"Darimana kita akan mendapatkan pendonornya Dok? Apakah harus menunggu ada orang yang meninggal untuk mendonorkan hatinya?"
"Pendonor hati bisa dari orang mati ataupun orang yang masih hidup dari keluarga juga bisa asalkan cocok."
Dokter tertawa mendengar pertanyaan Annete. "Tidak akan, pendonor hanya akan diambil sebagian saja dari organ hatinya dan organ hati yang diambil itu akan tumbuh kembali."
"Kalau begitu saya saja yang akan mendonorkan hati untuk ayah saya Dok," ucap Annete berharap biaya rumah sakit akan berkurang apabila donornya diambil dari dirinya sendiri.
"Kalau begitu ikut saya!" Dokter mengajak Annete ke sebuah ruangan. Di sana sudah ada beberapa perawat yang siap membantu mengecek hati Annete. Setelah selesai melakukan pemeriksaan Annete keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang murung karena ternyata hati miliknya tidak cocok dengan sang ayah. Annete kemudian beranjak ke kamar rawat ayahnya. Kata-kata sang dokter masih terngiang di telinganya saat dia keluar dari pintu pemeriksaan.
"Kamu siapkan saja biayanya pihak rumah sakit akan membantu mencarikan pendonornya nanti kalau ada saya akan segera memberi kabar pada anda."
Sampai di kamar rawat ayahnya Annete langsung terduduk lemas. Raut wajahnya terlihat tampak sedih sehingga membuat Johan tidak tahan ingin bertanya.
"Apa kata dokter Net? Ayah sakit apa?"
__ADS_1
Annete menghembuskan nafas pelan mencoba menetralkan perasaannya sendiri agar tidak terlihat sedih di mata ayahnya.
"Ayah terkena kanker hati Yah dan harus dilakukan transplantasi secepatnya," ucapnya lemah. Namun ekspresi Johan masih terlihat biasa saja.
"Pasti biayanya mahal ya Nak? Kamu tidak perlu menanggung biaya ayah biarkanlah ayah begini saja. Toh ayah sudah lama hidup mungkin sudah saatnya ayah harus pergi." Sebenarnya Johan mengatakan seperti itu agar dirinya tidak menjadi beban buat Annete tapi perkataannya itu membuat Annete semakin bersedih.
Mendengar perkataan Johan Annete menjadi menangis. "Ayah jangan berkata seperti itu, kalau Ayah pergi lalu Annete sama siapa?" ucapnya terbata karena terisak.
"Annete sudah mengambil keputusan, Annete akan menjual rumah dan toko kita untuk biaya pengobatan ayah," lanjutnya.
"Jangan Nak kalau rumah itu di jual kamu akan tinggal dimana?" larang Johan.
"Soal tempat tinggal nanti Annete pikirkan Yah nanti kita bisa ngontrak yang penting ayah sembuh dulu."
Johan menggeleng. "Jangan Nak ia kalau operasinya berhasil kalau tidak kau akan kehilangan segalanya. Ayah tidak rela kau tinggal di jalanan."
"Ayah jangan berkata seperti itu ayah harus optimis dong akan sembuh, ayah tidak kasihan apa sama Annete?"
"Justru karena aku sayang sama kamu Nak makanya ayah melarang kamu menjual rumah kita, apalagi penghasilan kita dari sana. Kau akan bekerja apa nanti kalau toko kita di jual?"
"Nanti Annete akan cari kerja Yah yang penting ayah sehat Annete sudah bisa tenang."
Johan menghembuskan nafas berat. "Terserah kamu sajalah lah bagaimana baiknya," ucap Johan pasrah.
"Iya Yah pokoknya nanti Annete janji bakal cari kontakan yang layak buat ayah semoga saja uang penjualan rumah dan toko masih nyisa untuk modal kita buka usaha yang lainnya," ujar Annete penuh harap.
Bersambung....
__ADS_1