
Dua hari berlalu tuan Max langsung memeriksa sendiri keadaan Lisfi di rumah belakang karena mendapat laporan bahwa Lisfi sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang dikirimkan oleh anak buahnya. Bahkan anak buah Max sempat mengajak Rena untuk mengirimkan makanan secara langsung dan meminta wanita itu untuk membujuk Lisfi agar mau makan.
Selama dua hari Lisfi tidak mau menyentuh makanan yang disuguhkan dia hanya sekedar minum. Dia sama sekali tidak berselera untuk makan. Sakit di perutnya tidak pernah dia hiraukan karena sakit di hatinya lebih terasa menekan. Apalagi saat mengingat dia tinggal bersama tengkorak-tengkoran di tempat itu, ia melihat seolah makanan itu adalah daging-dagingnya. Beberapa kali Lisfi muntah di tempat itu tanpa ada yang membantu. Walaupun sekedar hanya memijat punggung atau lehernya.
Dengan langkah yang tegap Max berjalan melewati lorong-lorong menuju tempat Lisfi disekap. Beberapa anak buahnya tampak berlari-lari di belakangnya.
Sampai di sana Max melihat tubuh Lisfi sudah terkulai tak berdaya. Pria itu terlihat pucat, kekhawatirannya pun melanda. Ada rasa takut kehilangan dari dalam dirinya. Meski Lisfi selalu memberontak saat dirinya minta dilayani entah mengapa dari sekian banyak wanita yang ditidurinya tubuh wanita itulah yang paling disukainya. Seolah-olah dia mendapat kepuasan tersendiri.
"Cepat bawa dokter Samuel kemari!" perintah Max pada anak buahnya sedangkan dirinya segera menggotong tubuh Lisfi dan membawanya ke kamarnya sendiri.
Anak-anak buahnya langsung berlari keluar dan segera menjemput doker Samuel.
Tak menunggu lama, mereka langsung membawa dokter tersebut ke dalam kamar majikannya.
"Kenapa lagi dia?" tanya dokter Samuel.
Max hanya menggeleng lemah. Entah mengapa hatinya yang biasa keras hari ini menjadi melow.
Tanpa menunggu jawaban, dokter itu memeriksa tubuh Lisfi.
"Tubuhnya sangat lemah, apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah sakit?"
"Apa kau tidak bisa mengobatinya!" bentak Max.
Dokter Samuel menggeleng. "Bukan begitu maksudku, tetapi kalau dirawat di rumah sakit akan lebih cepat sembuhnya karena alat-alat yang digunakan sudah tersedia."
"Kau bisa kan mendatangkan alat yang dibutuhkan ke tempat ini."
Dokter Samuel mengangguk. "Apa dia tidak kau beri makan?"
"Sudah tetapi dia tidak mau makan."
"Pasti karena kau menyiksanya kan? Kapan kau berhenti menjadi pria yang kasar seperti ini."
"Bukan urusanmu. Tugasmu hanya merawat dan menyembuhkan, bukan ikut campur terhadap urusanku."
Dokter Samuel hanya bisa menggeleng. "Ambil cairan infus dan peralatannya di mobil!" perintahnya pada salah satu anak buah Max.
__ADS_1
"Baik Dok." Pria yang diperintahkan segera bergegas keluar.
"Lain kali jangan pernah mengasarinya lagi. Kalau perlu jaga makannya supaya tidak telat. Kalau tidak ingin makan juga, sediakan susu hamil untuknya."
"Apa, susu hamil?"
"Kamu belum tahu?"
Max menggeleng. "Wanita ini sedang mengandung. Ya dia hamil anakmu."
"Kamu tidak bercanda kan?" tanya Max tak percaya sambil mengguncang tubuh dokter Samuel.
"Tidak, aku tidak bercanda. Sepertinya mulai hari ini Tuhan menginginkan agar kamu tidak menghabisi wanita lagi karena mereka tidak bisa mengandung anakmu."
"Kamu benar kalau dia benar-benar hamil anakku, aku tidak akan pernah menghabisi nyawanya seperti wanita yang lain."
Dokter Samuel bernafas lega. Dia berharap tidak akan ada korban wanita lagi di rumah ini. Dia pun berdoa dalam hati supaya janin dalam perut Lisfi bisa bertahan dan bisa lahir dengan sempurna mengingat wanita yang terbaring di hadapannya kini selalu mendapatkan kekerasan.
Beberapa saat kemudian anak buah Max tiba dengan selang infus dan beberapa peralatan lainnya. Dokter tersebut segera memasang alat itu terhadap tubuh Lisfi dan menyuntikkan obat ke dalamnya.
"Kamu tidak boleh pergi dulu." Max menahan dokter Samuel.
"Loh kenapa? Aku masih ada pasien lain."
"Kamu tidak boleh pergi sampai dia sadar."
"Apa?!" Dokter Samuel lalu duduk dengan syok.
Beberapa saat kemudian Lisfi tersadar. "Dia sudah sadar, berikan dia makanan. Aku harus pergi." Dokter Samuel lalu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
"Rena bawakan bubur untuknya."
"Baik Tuan." Rena berlari ke dapur mengambil mangkok dan mengisinya dengan bubur ayam yang sempat dibuatnya tadi.
"Suapi dia!"
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Nona makan dulu yuk."
Lisfi menggeleng. "Aku tidak selera Bik."
"Meskipun tidak selera harus dipaksa agar kesehatan Nona cepat pulih."
"Aku tidak mau sembuh, aku mau mati saja," ucap Lisfi dengan suara yang lemah. Ia menunduk tatkala Max menatap tajam ke arahnya.
"Nona jangan berkata seperti itu, kasihan bayi dalam perut Nona."
"Apa! Bayi? Apa yang Bik Rena bicarakan?" Lisfi tidak mengerti.
"Kau hamil anakku," ucap Max menimpali.
"Apa?" Lisfi terlihat syok.
"Ya saat ini kamu sedang mengandung Nona, maka makanlah kasihan bayinya."
"Aku tidak mau hamil, aku tidak mau punya anak dari seorang penjahat." Lisfi menangis.
Mendengar ucapan Lisfi yang tidak ingin punya anak darinya Max mereka sakit hati. Ingat rasanya ia menampar wajah Lisfi kalau saja dia tidak ingat kata-kata dokter tadi. Dia mengurungkan niatnya apalagi melihat Lisfi sekarang malah menangis.
"Makan Nona kasihan bayinya. Bagaimanapun dia tidak bersalah. Akan sangat berdosa kalau Nona mengabaikan dia." Rena berusaha membujuk Lisfi agar mau makan.
Lisfi mengangguk dan akhirnya menerima suapan dari Rena. Namun kemudian dia memuntahkan bubur itu kembali.
"Hoek, hoek, hoek."
"Astaga Nona mengapa tubuhmu tidak mau menerima asupan makanan," ujar Rena sambil membantu memijat leher Lisfi.
"Segera belikan dia susu hamil!" perintah Max pada anak buah yang lainnya.
"Baik Tuan."
Pria itu segera berlari keluar dan segera mencari susu hamil di mini market terdekat.
Bersambung.....
__ADS_1