Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 185. Tamu Asing


__ADS_3

Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu dari kediaman Adrian. Hari ini Annete selesai membantu menyiapkan segala perlengkapan Adrian untuk bekerja kembali, mengisi ruangan poli klinik obgyn di rumah sakit milik Zidane.


"Siapa Bi?" tanya Annete yang kini sedang membantu bi Sri menghidangkan makan pagi ke meja makan.


"Nggak tahu Nyonya, bibi lihat dulu ya."


"Iya Bi tapi kalau tamunya nanya Adel sama mas Adri, bibi bilang saja mereka tidak ada di rumah."


"Loh memangnya kenapa Nya? Kan Non Adel sama Tuan Adrian ada di rumah."


"Iya Bi tapi perasaan mereka masih sensitif jadi saya putuskan untuk tidak menerima tamu dulu buat mereka kecuali kalau yang datang itu teman-temannya mas Adrian. Apalagi kalau yang datang itu mbak Anisa bilang saja Mas Adrian dan Adel sedang pergi liburan. Bibi mengerti kan maksud saya?"


"Mengerti Nya," sahut bi Sri sambil mengangguk.


"Ya sudah sana, bibi bukain pintunya aku mau manggil Adel sama mas Adrian untuk sarapan dulu." Annete berlalu dari ruang makan dan memanggil Adel serta Adrian sedangkan bi Sri pergi ke arah pintu untuk melihat siapa tamu yang bertandang pagi-pagi seperti ini.


Beberapa saat kemudian setelah mempersilahkan tamunya duduk bi Sri menghampiri Annete kembali.


"Siapa tamunya Bi?" tanya Annete disela-sela mengambilkan makanan untuk Adel dan Adrian ke piring mereka.


"Tidak tahu Nya tapi dia nanyain Non Adel."


"Bukan mbak Anisa?"


"Bukan Nya."


"Oh tak kirain dia."


"Siapa?" tanya Adrian.


"Mas Adrian temani Adel makan duluan biar saya yang menemui tamunya."


"Baiklah."


Annete melangkah ke ruang tamu. Seorang laki-laki bangkit dari duduknya dan langsung menanyakan keberadaan Adel.


"Maaf Adel nya ada?" Annete meneliti wajah pria tersebut barangkali laki-laki tersebut adalah salah satu guru SD nya Adel yang ingin menjenguk muridnya namun Annete tidak mengenalnya.


"Maaf Anda siapa ya, dan ada keperluan apa Anda mencari anak saya?"


"Oh ya perkenalkan nama saya Farhan," jawab pria tersebut sambil mengulurkan tangan.


"Annete." Annete pun menerima uluran tangan pria tersebut dan memperkenalkan dirinya.


"Maaf kalau pertanyaan saya lancang. Bukankah Adel anak Anisa ya, mengapa Anda mengatakan dia anak Anda?" Laki-laki tersebut malah balik bertanya.


"Eh iya tapi dia sudah aku anggap anak sendiri. Anda sendiri ada keperluan apa ya mencari Adel?"


"Saya adalah ayah kandung Adel yang sebenarnya jadi kedatangan saya sendiri ke sini untuk menjemput Adel agar bisa tinggal bersama saya." Annete terbelalak mendengar pengakuan pria ini. Baru saja kemarin Anisa memberikan pengakuan yang mengejutkan sekarang malah ditambah pengakuan pria asing yang kini duduk di hadapannya. Apa jadinya kalau Adel dan Adrian mendengar kabar ini, pasti perasaan mereka jadi kacau kembali.


"Bi Sri, sini!" Annete melambaikan tangan memanggil pembantunya.


Bi Sri tergopoh-gopoh menghampiri Annete. "Ada apa Nya?"


"Bibi buatkan minuman untuk tamu saya."

__ADS_1


"Iya Nya."


"Tunggu dulu!" cegah Annete saat Bi Sri langsung ingin bergegas pergi.


"Ada apa Nya?"


"Suruh Adel dan Mas Adrian jangan keluar dulu," bisik Annete di telinga bi Sri sedang bi Sri mengangguk paham.


"Atau Tuan ingin dibuatkan minuman apa?" Kini Annete beralih berbicara pada tamunya yang sejak tadi matanya cilengak-cilinguk mencari sesuatu. Annete menebak pria tersebut mencari keberadaan Adel.


"Oh tidak usah repot-repot saya ke sini hanya sebentar kok, mau ketemu putri saya saja."


"Tidak apa-apa Tuan kami tidak merasa direpotkan kok."


"Kalau begitu terserah saja."


"Bik!"


Bi Sri paham dan segera berlalu ke dapur.


"Mohon maaf Adel nya sedang tidak ada di rumah. Dia saat ini sedang berlibur bersama ayahnya. Ngomong-ngomong mengapa Tuan langsung mengklaim Adel anak Anda? Apakah anda punya bukti kalau dia memang anak Anda?"


"Tidak ada sih cuma kemarin saya tidak sengaja bertemu Anisa di cafe dan dia berkata dia pernah hamil anak saya jadi saya berinisiatif untuk mencarinya dan ingin membuktikan bahwa Adel memang benar-benar anak saya. Kalau memang terbukti Adel anak saya, maka saya minta dengan sangat kepada kalian agar merelakan saya merawat Adel. Kalian tenang saja saya akan membayar kalian yang telah merawat Adel sampai saat ini. "


Annete geleng-geleng kepala mendengar perkataan Farhan. "Mbak Anisa, mbak Anisa kejam banget sih jadi ibu. Bukannya khawatir lihat Adel pingsan kemarin eh malah buat masalah baru. Mbak Anisa nggak pernah mikir apa, bisa mati nih Adel kalau terus-terusan diserang seperti ini," gumam Annete.


"Ya kenapa?" tanya Farhan karena mendengar Annete berbicara seorang diri.


"Ah nggak cuma kami ikhlas kok ngerawat Adel jadi Tuan tidak perlu membayar kami." Pria itu mengangguk.


Bersamaan dengan itu Bi Sri datang membawakan minuman.


"Terima kasih," ucap pria tersebut sambil menenggak kopi di hadapannya.


"Kira-kira kapan mereka pulang?"


"Mungkin minggu depan mereka baru balik."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, minggu depan saya akan kembali ke sini lagi."


"Iya Tuan."


"Permisi." Annete hanya mengangguk dan pria itu beranjak ke luar rumah. Setelah memastikan pria tersebut keluar dari pekarangan rumahnya Annete kembali menemui Adel dan Adrian di ruang makan.


"Loh kok pada belum makan?" Annete melongo melihat keduanya hanya terdiam tanpa ada yang berbicara. Padahal kalau hari-hari sebelumnya Adel paling cerewet di meja makan dan Adrian kadang suka menggodanya sehingga suasana meja makan menjadi ramai. Namun kali ini ada terlihat sepi seperti ada kecanggungan diantara kedua. Annete yakin momen kemarin lah yang menjadi pemicunya.


"Mas ayo makan! Atau mau aku ambilkan lauk yang lainnya?"


"Ah iya, tidak usah biar aku ambil sendiri."


"Baiklah."


"Del ayo makan apa perlu bunda suapi?"


"Adel nggak selera Bun," tolak Adel.


"Ayolah makan, sini biar bunda suapi!" Adel tetap menggeleng. Annete mendekati Adel dan terus memaksanya untuk makan.

__ADS_1


"Makanlah Del nanti kamu sakit lagi. Tadi katanya mau nunggu bunda dan sekarang bunda kan sudah ada di sini. Jadi ayah minta kamu makan agar bunda tidak kecewa."


Adel mengangguk dan menunduk kemudian menerima suapan demi suapan yang disodorkan Annete.


"Nah gitu dong sayang itu baru namanya anak bunda. Adel bunda boleh minta tolong tidak?"


"Boleh dong Bun, minta tolong apa?"


"Tolong ambilkan obat sakit kepala bunda yang ada di laci di meja rias."


"Baik bunda." Adel pun berlalu pergi ke kamar orang tuanya.


Setelah Adel beranjak dari duduknya Annete mendekati Adrian.


"Mas Adri kalian harus melakukan tes DNA secepatnya!" pinta Annete.


"Lo kenapa sayang bukankah kamu kemarin juga setuju supaya nunggu Adel dan aku siap dulu."


"Tapi ini masalahnya sudah genting Mas."


"Genting gimana maksud kamu?"


"Tadi ada orang yang datang dan mengaku ayah dari Adel. Katanya Mbak Nisa yang lapor kalau Adel itu putri orang itu."


"Brengsek memang tuh Anisa. Apa sih mau dia yang sebenarnya?" Adrian gregetan dengan sikap Anisa.


"Sebenarnya keinginannya cuma satu Mas, dia ingin kembali sama kamu. Apa aku harus mengalah ya Mas sama dia."


"Maksud kamu?"


"Aku harus pisah sama Mas Adrian dan membiarkan dia kembali pada Mas Adri. Barangkali dengan begitu dia akan berubah baik dan menyayangi Adel seutuhnya. Kalau itu bisa membuat Adel bahagia aku bisa kok Mas berkorban."


"Kamu ngomong apa sih? Apapun alasannya aku tidak mau pisah sama kamu. Dan aku yakin Anisa tidak akan pernah bisa berubah. Dia sudah dari dulu tidak menginginkan Adel dan mungkin selamanya akan tetap seperti itu. Dan kamu tahu An Adel pasti akan sangat sedih kalau kamu melakukan itu semua."


"Kalau begitu Mas Adrian harus cepat membuktikan kalau Adel itu anak Mas Adri. Itulah cara satu-satunya untuk membuat keluarga kita tenang tanpa gangguan siapapun."


"Tapi kalau sampai Adel bukan putri saya bagaimana? Apakah laki-laki itu akan membawa Adel pergi?"


"Sebelum dia membawanya, kita akan lebih dulu membawanya pergi jauh dari sini. Jauh dari Anisa dan pria tersebut kecuali Adel yang meminta untuk bertemu mereka."


"Baiklah kalau memang itu cara yang terbaik, hari ini aku akan langsung membawa Adel ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA."


"Tes DNA Ayah?" Adel yang datang dengan menenteng obat terperanjat. "Bukankah kemarin Ayah bilang belum siap?"


"Iya kemarin ayah masih ragu tapi sekarang ayah sudah mantap karena yakin Adel memang anak ayah. Bagaimana Adel siap?"


"Iya Adel siap Ayah," jawab Adel sambil tersenyum ke arah Adrian.


"Oke kalau begitu kita berangkat sayang," ucap Adrian.


"Oke. Bunda nemenin Adel kan?"


"Pasti. Yuk!" ajak Annete. Adel hanya mengangguk.


"Pokoknya Adel harus yakin aja Adel itu anak ayah."


"Iya bunda."

__ADS_1


Bersambung......


Yang minta doble up mohon Maaf ya akhir-akhir ini update nya satu bab terus sebab sibuk di real dan kesehatan juga tidak menunjang. Mungkin lain kali kalau sudah fit bakal double up, Insya Allah. ๐Ÿ™


__ADS_2