Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 18. Keisengan Nindy


__ADS_3

Nindy menutup wajahnya. "Aaakh kenapa aku jadi malu?"


"Kenapa harus malu? Sudah ayo tidur! perintah Louis dan dirinya pun merentangkan karpet di lantai lalu ikut membaringkan tubuhnya di atas karpet tersebut.


"Tuan juga tidur di kamar ini?" tanya Nindy, dia merasa risih kalau harus tidur sekamar dengan laki-laki.


"Iya aku harus jagain kamu takut terjadi sesuatu lagi sama kamu. Kamu tenang saja aku tidak bakal ngapa-ngapain kamu," ujar Louis, setelah itu ia menguap dan langsung terlelap karena kelelahan.


"Tapi kan Tuan bisa tidur di kamar Tuan sendiri dan Tuan bisa melihat aku sekali-kali kalau memang khawatir," ujar Nindy namun tak ada jawaban dari Louis.


Nindy memiringkan wajahnya dan melihat ke bawah. "Udah tidur ternyata dia, pantesan sepi." Nindy membenarkan posisi tidurnya kembali lalu membenahi letak selimutnya. Sayang sekali sekarang ia malah tidak bisa tidur lagi. Apalagi beberapa saat kemudian dia mendengar dengkuran Louis yang terdengar begitu keras membuat keadaan berisik saja.


"Astaga bagaimana aku bisa tidur kalau begini," keluhnya.


Nindy nampak gelisah padahal suhu tubuhnya sudah normal. Ia miring kiri, miring kanan tak tentu arah hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencoba membetulkan posisi tidur Louis. Nindy mendorong punggung Louis agar tubuh pria tersebut tidur dengan posisi miring.


"Yes berhasil!" Nindy nampak senang melihat posisi Louis sudah miring dan dengkurannya sudah mulai terdengar lirih.


"Eugh..." Louis melenguh dan merentangkan tangannya kemudian kembali ke posisi semula yaitu telentang.


"Ya ampun susah-susah aku benahi posisi tidurnya malah balik ke posisi semula." Nindy mendengus kesal tatkala suara dengkuran Louis terdengar keras kembali.


"Bodoh, kenapa aku tidak pindah kamar saja?" Ia merutuki dirinya sendiri. Akhirnya Nindy memutuskan untuk pindah dari kamar tersebut.


Namun sebelum pergi dia nampak mengamati wajah Louis. "Tampan tapi sayang berisik." Ia terkekeh sendiri. Tiba-tiba ia melihat ponsel Louis yang ada di kantong celananya hampir terjatuh ke lantai.


Kasihan dia gara-gara aku dia sampai tidak sempat ganti baju bahkan menaruh ponselnya pun dia tidak sempat. Apakah dia benar-benar mengkhawatirkan keadaanku?


Nindy terenyuh melihat sikap Louis yang begitu peduli padanya padahal Nindy sadar dia bukan siapa-siapa Louis.


Nindy meraih ponsel tersebut, otak jailnya bereaksi. Muncul ide di kepalanya untuk merekam suara dengkuran Louis.


Ia menekan ponsel tersebut untuk mengambil rekaman sambil mulutnya cekikikan sedang yang direkam tidak sadar juga karena sudah benar-benar terlelap. Setelah merekam segera Nindy menyimpannya dengan diberi judul, 'Tuan suara Anda seksi' kemudian dibubuhi emoticon ngakak di belakangnya.


"Sudah," ujar Nindy bicara sendiri lalu meletakkan ponsel tersebut di meja kecil samping ranjang tempat Louis meletakkan obat dan gelas air minum tadi. Setelahnya ia keluar kamar dan kembali ke kamarnya sendiri namun sayang kamarnya sudah dikunci oleh Mira.

__ADS_1


"Apa aku harus kembali ke sana lagi?" Tapi kalau begitu aku tidak akan bisa tidur." Akhirnya Nindy memilih tidur di atas sofa di ruang tamu.


Pagi hari Louis menggeliat lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kalau bukan karena ingin menjaga Nindy mana mungkin dia mau tidur di lantai.


Louis menoleh ke atas ranjang ternyata gadis yang dijaganya sudah tidak ada. Louis mengerutkan keningnya. Matanya menyapu ruangan untuk mencari keberadaan gadis tersebut. Namun dia sama sekali tidak melihat keberadaan Nindy. Louis bangkit lalu mendekati kamar mandi karena berpikir gadis itu mungkin saja sudah bangun dan mandi. Namun karena tidak terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi, Louis mencoba mengetuk pintu kamar mandi tersebut takut-takut Nindy pingsan di dalam.


Tok tok tok.


"Nin apakah kamu di dalam?" tidak ada jawaban pertanda Nindy memang tidak ada di dalam. Louis membuka pelan pintu tersebut untuk memastikan ternyata dugaannya benar Nindy tidak ada di dalam sana.


"Kemana dia? Jangan-jangan dia kabur." Louis melangkahkan kakinya keluar kamar untuk bertanya pada Mira. Namun belum sampai ke kamar Mira ia sudah melihat penampakan Nindy yang tertidur di atas sofa.


Louis hanya geleng-geleng kepala kemudian berjalan mendekati Nindy.


Ternyata dia belum bisa percaya sama padaku. Dia pikir aku bakal ngapa-ngapain dia.


"Nin bangun!" Louis mengguncang tubuh Nindy.


"Eugh." Nindy melenguh kemudian langsung terduduk karena kaget melihat Louis ada di hadapannya.


"Pindah sana ke kamar! Kamu belum pulih benar, tidak baik tidur di luar." Selesai mengatakan itu Louis berbalik ke kamarnya sendiri dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum siap-siap pergi ke kantor.


Setengah jam berlalu, kini Louis sudah siap di meja makan sedangkan Nindy tampak meminta kunci kamar yang sebelumnya karena semua pakaian ganti miliknya ada di sana. Selesai berganti pakaian Nindy pun menghampiri Louis di meja makan. Seperti biasa mereka makan bertiga di meja makan.


Selesai makan Mira pamit untuk mengantarkan makanan kepada pak satpam sebelum akhirnya membereskan meja makan.


Sepeninggal Mira keduanya tampak canggung hanya memandang wajah satu sama lain tanpa ada yang berkata. Karena mengingat rekaman yang dia buat tadi malam Nindy seakan mau tertawa namun ia tekan sehingga hanya senyum terlihat di bibirnya.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" Louis merasa aneh seolah Nindy ingin menertawainya.


"Nggak, nggak ada apa-apa," kilah Nindy sambil terus tersenyum. Karena merasa ada yang tidak beres Louis mengambil ponselnya.


Hati Nindy menjadi dag-dig-dug takut Louis marah kalau melihat rekaman tersebut namun nyatanya Louis hanya menggunakan layar ponselnya untuk berkaca barangkali ada sisa-sisa makanan yang masih menempel di bibirnya.


"Tidak ada apa-apa." Nindy menjadi tergelak melihat Louis yang salah tingkah.

__ADS_1


"Ada apa sih sebenarnya, apa ada yang salah denganku?" tanyanya lagi pada Nindy untuk memastikan.


"Tidak ada Tuan, hari ini tuan terlihat keren," ujar Nindy membuat Louis ikut tersenyum.


"Ya sudah aku pergi dulu ya, ingat jangan kemana-mana. Kamu belum sehat betul. Jangan kabur kayak dulu!"


"Siapa sih yang mau kabur?" protes Nindy.


"Kali aja mau kabur kayak kemarin. Ingat ya kalau kabur lagi aku tidak akan menyelamatkan mu lagi kalau sampai kamu bertemu Pras."


"Iya bawel," jawab Nindy kesal membuat Louis terkekeh.


"Bagus, ya sudah aku berangkat." Louis membenahi letak dasinya lalu mengambil tas kerjanya. Setelah itu baru ia keluar dari rumah.


"Hati-hati," ujar Nindy ketika Louis sampai di depan pintu.


Louis berbalik. "Pasti, kamu juga hati-hati ya di rumah."


Nindy mengangguk sambil tersenyum dibalas senyuman pula oleh Louis kemudian melambaikan tangannya sebelum hilang dari pandangan Nindy.


Selepas Louis pergi Nindy segera membereskan meja makan kemudian membantu Mira membersihkan piring dan perabotan makan yang lainnya.


Selesai membersihkan peralatan dapur, kini Nindy bergegas membersihkan rumah.


"Nin lebih baik kamu istirahat dulu soalnya kamu kan baru sembuh, biar aku yang membereskan semuanya," cegah Mira.


"Tidak apa-apa mbak Mira aku sudah baikan kok. Lagipula aku hanya menumpang di sini, masa nggak mau bergerak sedikitpun untuk bantuin Mbak Mira. Lebih baik Mbak Mira kerjain tugas yang lainnya saja seperti mencuci baju misalnya."


"Nggak tahu aja mbak Mira kalau aku ada di sini hanya untuk membayar hutang," batin Nindy sambil menarik nafas panjang.


"Tapi Nin kamu kan belum sehat benar aku takut nanti aku malah dimarahin sama Mas Louis."


"Tidak akan Mbak, biar aku yang ngomong nanti kalau tuan Louis marahin Mbak Mira."


"Terserah kamulah kalau begitu," ujar Mira pasrah.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak biar Othor semangat. Love you all


__ADS_2