Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 10. Rencana Perjodohan


__ADS_3

Setelah kejadian tadi pagi Nindy tidak mau keluar kamar. Dia sampai tertidur karena kelelahan menangis. Berulangkali Farah mengetuk pintu sang anak tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam.


Tok tok tok.


"Safa, buka pintunya sayang!"


Ini sudah kesepuluh kali Farah mengetuk pintu tapi tetap tak ada Jawaban.


"Safa bangun sayang ini sudah malam, kamu sedari pagi belum makan. Bunda tidak mau kamu sakit." Bunda Farah belum mau menyerah juga.


Karena tidak tega mendengar ibunya yang belum beranjak juga dari tempatnya sedari tadi, Nindy terpaksa membuka pintu.


"Waktunya makan malam sayang," ujar Farah tatkala Nindy menampakkan diri di pintu. Wajahnya terlihat kucel dengan mata yang sembab bahkan Nindy belum mengganti mantel mandinya dengan pakaian biasa.


Nindy hanya mengangguk kemudian beranjak ke ruang makan tanpa peduli dengan orang-orang sekitar. Terlihat Pras dan Lisfi sedang diam-diaman dan Pak Ramlan memandang datar ke arah Nindy.


Dengan cuek Nindy melangkah ke arah mereka, mengambil piring dan kemudian memasukkan nasi dan lauk-pauk yang ia inginkan ke dalam piring tersebut. Tanpa berkata sepatah pun ia melangkah kembali ke dalam kamar.


"Safa ayah mau bicara." Nindy memandang ke arah Lisfi, Pras kemudian ke wajah ayahnya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Buat apa? Walau sampai berbusa sekalipun aku bicara kalian tidak akan pernah percaya. Hanya membuatku lelah saja. Di sini Pras yang berkuasa, apapun yang dia katakan selalu percayalah, walaupun dia hanya pembohong belaka yang pandai memutar balikkan fakta."


"Safa kamu..." Pras tidak terima dengan perkataan Nindy ingin membantahnya namun Nindy segera mengangkat tangan agar Pras berhenti bicara.


"Selamat atas kemenanganmu dan aku selalu salut padamu." Nindy tersenyum mengejek lalu berbalik ke kamarnya.


Mereka yang tersisa di meja makan hanya memakan menu makan malamnya dengan malas. Mereka sama sekali tidak nampak berselera meski menunya bisa dibilang menu yang enak-enak.


Berbeda dengan Nindy yang makan di kamar dengan lahap. Dia tidak mau lagi memikirkan kejadian tadi pagi, baginya cukuplah air mata yang ia tumpahkan sedari pagi. Malam ini dia tidak ingin menangis lagi.


Hari berganti hari Nindy yang biasanya dekat dengan keluarga kini menjadi cuek dan dingin. Dia bahkan menghindar dari ayahnya dan hanya menjawab pertanyaan yang penting saja dari Farah.

__ADS_1


Melihat sang anak yang cuek apalagi ditambah mendengar informasi bahwa Nindy selalu bergabung dengan anak-anak motor membuat pak Ramlan menjadi geram.


Saat berada di kamar ia mencoba berdiskusi dengan istrinya. "Farah apa tidak sebaiknya kita terima saja tawaran dari teman kamu itu untuk menjodohkan Safa dengan putranya. Aku takut Safa terjerumus pada pergaulan bebas dan akhirnya hamil diluar nikah seperti halnya Lisfi."


"Tapi Mas apakah tidak terlalu terburu-buru kita mengambil langkah itu melihat Safa masih marah pada kita."


"Sampai kapan kita akan menunggu? Haruskah kita membiarkan dia bergaul dengan mereka di luaran sana. Bisa bahaya kalau ini tidak dicegah."


"Tapi Mas..."


"Percayalah ini adalah jalan terbaik untuknya. Katanya putranya itu sudah mapan dan terlebih dia dewasa jadi saya yakin dia akan mampu membimbing anak kita ke depannya."


"Apa mereka cocok Mas?Menurutku perbedaan usia mereka terlalu mencolok, terlalu jauh Mas. Putra jeng Ani umurnya sudah 31 tahun sedangkan Safa anak kita baru menginjak 22 tahun," ujar Farah merasa keberatan.


"Tidak apa-apa kok selama mereka bisa menyesuaikan diri. Lagipula aku tidak ingin dia masih mengharapkan Pas, apa kamu tidak malu kalau melihat anak-anak kita merebutkan satu pria?"


"Jadi Mas percaya dengan kejadian waktu itu kalau anak kita Safa yang bersalah?" Farah tidak habis pikir kenapa suaminya lebih percaya pada menantunya itu dibanding anaknya sendiri. Sudah jelas-jelas Pras menghamili Lisfi saat ia masih pacaran dengan Nindy. Apakah itu tidak cukup membuktikan kalau menantunya itu adalah orang bejat. Farah saja bersikap baik padanya hanya karena dia tidak mau Pras lepas tanggung jawab dan meninggalkan Lisfi begitu saja


"Ah terserah Mas sajalah mau ngomong apa yang penting jangan katakan itu di depan anak kita. Aku tidak mau dia kecewa lagi. Sudah cukup dia bersedih selama ini karena menganggap kita tidak ada satupun yang mempercayainya. Kalau untuk menjodohkan sama anak jeng Ani saya setuju saja sih kalau memang putra mereka orang baik-baik."


Prang.


Terdengar suara pecahan piring dari arah luar. Segera Farah membuka pintu kamar. Tampak Nindy terdiam sambil memandang ke arah mereka dengan sorot mata yang nampak kecewa.


"Mas lihat sendiri ulah Mas, dia pasti shock mendengar perkataan Mas tadi."


"Sudahlah Farah jangan terlalu dipikirkan."


Nindy menggeleng tidak percaya. Segera ia berlari menuju kamarnya. Sampai di dalam ia lalu mengemasi barang-barangnya untuk keluar dari rumah.


"Safa kamu mau kemana Nak?"

__ADS_1


"Safa mau pergi Bun, buat apa Safa masih tinggal di sini dengan orang-orang yang sama sekali tidak bisa mempercayai anak sendiri."


"Safa maafkan ayah Nak, percayalah bunda masih percaya kok sama Safa."


"Bunda bohong kalau tidak mana mungkin bunda setuju dengan ayah yang mau menjodohkan aku dengan aki-aki itu."


"Loh kok aki-aki? Dia masih muda loh dan kamu pasti suka karena orangnya tuh ganteng."


"Tetap aja dia sudah tua, sudah kepala tiga."


"Percayalah dia benar-benar ganteng dan hidupnya mapan lagi. Bunda yakin pasti dia bisa bahagiain kamu. Pras tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia." Niatnya ingin merayu namun membuat Nindy semakin marah kala mendengar nama Pras yang disebut sebagai perbandingannya.


"Tuh kan bunda ingin menjodohkan ku karena ingin agar aku menghindar dari Pras. Berarti bunda sama saja dengan ayah menganggap ku masih menyukai Pras."


"Bukan, bukan begitu sayang maksud bunda, tapi Bunda sudah kadung berjanji sama temen bunda itu untuk menjodohkan kalian," bohongnya. Padahal dia belum menyanggupi penawaran dari temannya itu. Farah berkata seperti itu hanya karena diwanti-wanti oleh sang suami tadi sebelum pergi ke kamar putri bungsunya.


"Pokoknya Safa tidak mau dijodohkan-jodohkan," tolaknya.


"Kamu harus mau." Pak Ramlan memaksa.


"Lebih baik aku mati saja kalau harus dijodohkan dengan orang tersebut."


"Bunda sarankan kamu temui saja pria itu baru kamu ambil kesimpulan apakah kamu mau atau tidak dijodohkan dengan dia." Farah memberi penawaran.


"Aku tidak mau." Nindy masih saja ngotot sambil menggelengkan kepalanya.


"Percayalah Nak ini yang terbaik untukmu." Pak Ramlan mencoba meyakinkan Nindy.


Mendengar kedua orang tuanya yang seperti mendesak untuk menerima perjodohan tersebut Nindy menjadi mantap untuk pergi dari rumah. Ia segera mengambil bajunya yang ia kemas tadi ke dalam tas dan membawanya keluar kamar.


Melihat putrinya memang benar-benar ingin pergi dari rumah Farah dan pak Ramlan segera berlari menyusul keluar dan memerintahkan pak satpam untuk mengunci pagar agar Nindy tidak bisa kabur.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2