
"Sayang hari ini ada acara kemana?" tanya Zidane ketika menuruni tangga hendak menghampiri Isyana di meja makan hendak sarapan.
"Nggak kemana-kemana Mas di rumah aja bukannya kamu dan anak-anak pada libur ya!"
"Ia sayang tapi bukannya teman kamu si Vania sudah lahiran ya? Nggak mau jenguk?"
"Oh ya Mas? Aku kok nggak tahu ya, Mas kok nggak bilang sih!"
"Kata sekretaris ku sih ia makanya kemarin Dion izin tidak masuk. semalam mas kelupaan mau ngomong sama kamu. Si twins mana?"
"Masih mandi Mas, maklumlah kalau libur bawaannya mereka malas jadi habis sholat subuh tadi mereka tidur lagi. Jadi bagaimana kalau habis makan kita langsung ke sana?"
"Boleh tapi tunggu dulu aku mau hubungi Dion dulu sudah di rumah atau masih di rumah sakit." Zidane tampak mengeluarkan ponsel dan menelpon Dion. Sesaat kemudian tampak menutup teleponnya.
"Kata Dion mereka sudah di rumah, bentar ya aku hubungi si twins dulu biar langsung siap-siap."
"Kemana Pa?" tanya Nathan.
"Ke rumah Om Dion sebab tante Vania udah lahiran."
"Asyik kita jenguk dedek kecil."
Sesuai rencana sehabis sarapan setelah berpamitan pada opa dan omanya mereka langsung meluncur ke mall untuk membeli beberapa perlengkapan bayi dan beberapa pakaian baby lalu ke rumah Dion.
"Wah lucu ya Atan dedek bayinya cewek nanti kalau Mama punya dedek aku pengennya yang cewek juga," ujar Tristan pada Nathan.
"Ia ya Itan kalau adik cewek bajunya lucu-lucu terus nanti rambutnya bisa diikat macam-macam." Mereka berdua tersenyum membayangkan punya adik cewek yang lucu dan penurut pada mereka.
"Kalau pengen punya adik suruh tuh papa kalian giat bikinnya," goda Dion pada dua anak itu.
"Udah giat sih tapi entar biar aku kencangen lagi," jawab Zidane sambil mengedipkan sebelah matanya pada Istrinya dan Isyana hanya cuek saja karena tangannya kini sedang meraih bayi tersebut untuk digendong.
"Hai dedek genit!" ucap Tristan sambil memegang pipi bayi tersebut yang kini berada dalam pangkuan Isyana.
"Enak aja dedek genit dia tuh punya nama masa dipanggil begitu," protes Dion.
"Emang namanya siapa?" tanya Vania.
"Dia aku kasih nama Dilvara."
"La kan dia pas dalam kandungan genit bawaannya pengen dipeluk terus sama si twins." Kali ini Zidane yang menjawab.
"Tapi nggak seratus persen benar sih bisa saja mamanya yang genit buktinya baby nya sekarang sudah nggak minta dipeluk lagi." Mematahkan argumen sendiri.
"Kalau mamanya yang genit bukan minta si twins yang meluk tapi minta papanya yang meluk." Vania tak terima dengan perkataan Zidane. Mendengar perkataan Vania Dion terbelalak sedangkan Isyana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan sahabatnya yang sering kayak kucing dan anjing kalau sudah bertemu.
"Sudah ah Mas, kamu juga Vania lupa ya kalau kita semua dulu pernah jadi atasan dan bawahan."
"Kayak pakaian ya ada atasan dan bawahan," ujar Zidane.
"Ia sekarang kan sudah jadi rival," jawab Vania.
__ADS_1
"Rival di atas ranjang," jawab Dion sambil terkekeh.
"Kalian semua bicara apa sih?" protes Tristan tak mengerti.
"Kamu kalau pengen punya adik suruh papa mamanya bulan madu, entar kalau pulang dia bawa adik."
"Beneran Om tapi bulan madu itu apa ya?"
"Bulan sama madu."
"Mas ngasih tahu anak-anak tuh yang bener," protes Vania.
"Bulan madu tuh artinya papa sama mama kalian berlibur berdua untuk beberapa hari nggak boleh diganggu nanti kalau udah pulang mama kalian bisa saja dalam keadaan hamil."
"Ooh begitu ya Tante, nggak bisa dibikin di sini adiknya?"
"Nggak bisa harus di luar negeri," jawab Dion sekenanya.
"Tapi kata mama dan papa kok kami dulu dibikinnya di sini," protes Tristan.
Mendengar perkataan Tristan Dion garuk-garuk kepala sedang Zidane tersenyum mengejek ke arahnya.
"Kan kalian cowok tapi kalau pengen adik cewek bikinnya harus jauh kalau nggak ya nggak jadi."
"Oh gitu ya Om jadi kalau bikinnya di sini adiknya bakalan cowok."
Dion hanya mengacungkan kedua jempolnya sedang Zidane melotot ke arah Dion.
"Oke kalau begitu kami berangkat besok jadi tanggung jawab perusahaan untuk sementara aku serahkan padamu," ancam Zidane pada Dion.
"Ma tuh lihat adiknya tersenyum ke arah Atan," ucap Nathan yang sedari tadi tidak menggubris pembicaraan orang-orang di sekitarnya dirinya malah fokus memandang bayi dalam gendongan mamanya.
"Duh imut banget Ma," lanjutnya.
"Ia ya sayang mama jadi ingat waktu ngelahirin kalian. Mama waktu itu bahagia walau kadang menangis karena membayangkan kalian akan hidup tanpa ayah. Mama nggak nyangka keluarga kita bisa utuh kayak gini." Istana menitikkan air mata antara sedih dan terharu.
"Makasih ya sayang atas perjuanganmu waktu itu dan Mas minta maaf tidak ada di sampingmu saat melahirkan mereka," ucap Zidane sambil mengelus punggung Isyana. Zidane paham perjuangan istrinya pada waktu itu pasti berat.
"Sudah Ma mama jangan bersedih nanti Itan ikutan sedih."
Isyana mengangguk dan menghapus air matanya kemudian mencoba mengajak Dilvara bicara walau bayi itu belum bisa merespon.
Sepulangnya dari rumah Dion Tristan menempel terus pada Isyana bahkan ia meminta Isyana untuk tidur di kamar mereka.
"Brengsek si Dion ini pasti gara-gara ulahnya yang mengatakan kalau bikin di sini jadi adik cowok," umpat Zidane.
Keesokan harinya Zidane bangun kesiangan, dia buru-buru berangkat ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu karena hari ini ada meeting.
Sesampainya di kantor dia menyuruh Maura sang sekretaris untuk menyiapkan segala dokumen yang dibutuhkan. Setelah melihat jadwal ternyata rapatnya masih kurang satu jam lagi. Entah kenapa dia lupa bahwa rapatnya diundur satu jam karena salah satu pemilik saham tidak bisa hadir lebih awal padahal itu sudah atas seizin dirinya.
Zidane mengambil ponsel untuk menghubungi Maura agar memesankan dirinya makan tapi ternyata Isyana menelponnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sayang aku mengantar makanan untukmu dan sekarang aku sudah ada di bawah."
"Langsung naik ke atas aja, apa perlu aku menyuruh seseorang mengantar mu?"
"Tidak perlu biar aku sendiri. Apakah kamu tidak sedang meeting?"
"Nggak meetingnya masih diundir satu jam lagi."
"Ooh baiklah kalau begitu."
"Sayang aku kangen!" ucap Zidane sambil merentangkan kedua tangannya setelah Isyana menaruh rantang di atas mejanya dan Isyana pun masuk ke dalam pelukannya.
"Sudah ah Mas kayak nggak bertemu lama aja main kangen-kangenan. Mas makan aja ya mumpung masakannya lagi hangat," ucap Isyana sambil berusaha melepaskan pelukan Zidane namun Zidane menahannya.
"Biarkan seperti ini dulu sayang," ucap Zidane.
Isyana meremang dari nada bicara Zidane dia bisa menebak suaminya dalam mode on. Dan benar saja beberapa saat kemudian dia ******* bibir Isyana dan tangannya sudah meraba ke mana-mana.
"Mas ini kantor ucap Isyana mengingatkan."
"Biarin sayang."
"Mas makan dulu mas kan belum makan Mas lapar kan?"
"Ia Mas lapar tapi bukan ingin menyantap makanan itu tapi ingin menyantap mu."
"Astaga laki-laki kalau udah ada maunya nggak bisa dicegah," gumamnya dalam hati.
Akhirnya tanpa persetujuan Isyana Zidane menggotong tubuh istrinya ke kamar pribadi di ruangannya dan melahap habis istrinya.
Beberapa saat kemudian Dion memasuki ruangan ingin berbicara dengan Zidane namun Zidane tidak tampak di sana yang dia lihat hanya ada rantang di atas mejanya.
Dion memeriksa berkas yang ada di sana apakah sudah ditandatangani ole Zidane atau belum.
Saat itu ia malah mendengar suara-suara gaib dari balik ruang pribadi Zidane. Dion menelisik suara apakah itu namun mulutnya menganga tatkala mendengar suara ******* dan erangan dari ruangan tersebut.
"Kunci pintunya brengsek!" umpat Dion sambil meninggalkan ruangan. Dia terus saja mendumel apalagi dirinya sekarang lagi mode libur hingga Maura yang melihat Dion menggerutu mengerutkan dahinya karena penasaran.
"Ada apa Pak?" Akhirnya mberanikan diri bertanya.
"Bos Lu tuh kayak nggak ada tempat lain aja masa main begituan di kantor. Nggak cukup apa semalaman di rumahnya."
"Biasalah Pak namanya juga masih pengantin baru. Bapak dulu juga begitu sama mbak Vania."
Mendengar perkataan Maura Dion menjadi malu dan memalingkan mukanya kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Bagaima sudah disiapkan segala yang dibutuhkan untuk rapat nanti?"
"Sudah Pak."
"Baguslah kalau begitu," ucap Dion sambil berlalu masuk ke ruangannya sendiri.
__ADS_1
"Hemm dua atasan yang nggak ada bedanya," ucap Maura dalam hati. Untunglah dirinya sudah menikah jadi sudah tidak tabu dengan masalah begituan.
Bersambung....